Love Song 4

0 Comments
Kalau di pikir-pikir lagi, berita yang diterima Ari dari Ridho menandakan kalau dalam waktu dua minggu ke depan, Oji nggak akan jadi pindah ke Australia. Menurut pemberitahuan Ridho, Mentari yang membuat Oji berubah yang biasanya diam jadi lebih aktif lagi. Kali ini bukan aktif karena bodoh, ya!

Meskipun begitu, Ridho masih belum berani mengatakan tentang keheranannya pada Mentari yang sempat menanyakan Ari padanya. Ridho masih ingin mencari tahu.

“Dho, Tar, gue cari minuman dulu ya...” kata Oji sambil menepuk pundak Mentari pelan dan kemudian menghilang di ujung koridor kampus.

“Menurut lo, dia gimana?” tanya Ridho pada Mentari.
Cewek itu menoleh dan mengernyitkan keningnya. “Maksudnya?” tanyanya bingung.

“Yah, menurut lo, Oji itu orangnya gimana?”

“Menurut gue...” Mentari tampak berfikir. “Dia baik, gokil, kadang iseng, nyebelin tapi ngebuat gue nggak bisa marah sama dia.”

“Tapi kenapa pas pertama kali ketemu sama dia, elo marah-marah sama dia?” tanya Ridho bingung.

“Soalnya, waktu itu Oji mau sok nolongin Hera. Padahal nih ya, waktu itu gue cuma mau gertak dia, supaya dia nggak ngebocorin tentang keluarga gue yang ancur!” katanya dengan senyuman. Mengingat masa waktu itu, membuatnya tegelak sendiri. “Dan waktu itu, Oji bilang kalo gue adalah cewek jahat. Dan gue akuin, kalo gue emang jahat.”

“Kok elo malah ngasih tau gue tentang keluarga lo?”

“Soalnya, masalah itu nggak berpengaruh lagi bagi gue. Karna kata Oji, meskipun banyak masalah, nggak seharusnya kita limpahin ke orang lain. Kita malah harus hibur orang lain...” katanya.

“Hubungan elo sama Ari?”

DEG! Mentari merasa lidahnya kelu seketika. Ia tak mungkin bisa mengatakan apapun pada teman barunya ini. Teman yang menjadi teman Ari juga. Jujur, tapi berbahaya untuk hubungannya dengan Ari.

“Hey!” Tiba-tiba Ari mendekat. “Eh Mentari ya?” Mentari mengangguk. “Oh, salam kenal ya. Elo mirip sama tetangga kecil gue,” katanya. Lalu tatapannya beralih ke Ridho. “Oji mana?”

“Kantin. Katanya mau beli minuman...”

“Oh, gue nyusul Oji ya!?” katanya pada Mentari dan Ridho. “Entar gue balik lagi...”
Setelah Ari pergi, perhatian Ridho kembali pada Mentari yang kini diam terpaku dan terus menatapi Ari dari kejauhan.

Dia ingat, hati Mentari seakan teriak. Dia ingat tentang masa kecilnya, tapi kenapa hanya sebatas itu?

“Elo tetangganya Ari waktu kecil?” tanya Ridho. “Pantes! Elo ngeliatnya sampe segitunya,” tambah Ridho tanpa memerdulikan jawaban Mentari. Dia sudah yakin kalau Mentari nggak akan ngaku. “Oh ya, elo kenal Fio? Anak SMA Airlangga?”

“Oh, kenal. Kenapa?”

“Dia juga kenal Ari, dia juga tau siapa Ari.” Katanya dengan datar. Pasti akan ada masalah antara hubungan Ari dan Tari kalau begini caranya. “Gue cuma mau kasih tau, Ari udah punya cewek!” tambahnya dengan datar. Lalu berdiri dari tempat duduk dan kemudian pergi.

Saat itu juga Mentari merasa pikirannya tiba-tiba kosong dan jiwanya entah pergi kemana.

***

“Tar, elo kenapa sih? Belakangan ini jadi aneh banget!” Oji melihat Mentari dari atas sampai bawah, dari kiri sampai kanan dan depan ke belakang.

“Nggak kenapa-kenapa,” jawabnya pelan.

“Gue nggak yakin!” ungkap Oji. Yeah, dari wajahnya Mentari saja sudah menunjukkan kalau cewek itu ada masalah.

Mentari tetap tidak memerdulikan kebingungan Oji, yang ia rasakan saat ini hanyalah seuntai harapan yang telah di hancurkan oleh sebuah kenangan. Dia tidak sanggup lagi membendung air matanya. Kalau saja Ari tahu bahwa dia memang tetangga kecilnya, apa Ari akan memilih dia daripada Tari?

Mungkin tidak. Atau mungkin, iya. Entahlah!

“Gara-gara Ari kah?” tanya Oji yang mampu membuat Mentari langsung tersentak dan gelagapan untuk menjawabnya.

“Maksud lo?”

“Gue tau kok, kalo elo tetangga Ari waktu kecil. Gue juga tau kalo elo punya kenangan sama dia kan? Gue tau kok, teman kecil yang selalu elo ceritain itu adalah Ari.” Oji tersenyum miris. Entah kenapa, dadanya terasa sesak.

“Elo tau???”

“Dari awal elo liat Ari. Dari tatapan elo, dan pas elo teriak nama Matahari.” Katanya dengan suara yang sebisa mungkin dibuat wajar. Rasa hatinya kini begitu bergejolak.

“Maaf...” ucap Mentari pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Untuk apa?”

“Gue nggak jujur sama elo dari awal. Padahal elo temen deket gue,” katanya.

“Ari udah punya cewek, namanya Tari. Jingga Matahari,”

“Gue udah tau,”

“Karena itu-kah elo sedih? Karena elo nggak punya harapan lagi bersama masa lalu lo?”

“Nggak tau lah, Ji.” Mentari berjalan dengan cepat. Mendahului Oji. “Nggak perlu di bahas lagi. Dia pasti udah dapet yang terbaik dan nggak seharusnya gue inget akan janji itu.”

“Janji?”

“Udah, lupain!”

“Nggak bisa gitu!” Oji mencekal tangan Mentari. “Kalo urusannya udah janji. Elo nggak bisa diem aja kayak gini...” katanya dengan raut wajah serius. “Ini masalahnya adalah janji. Janji adalah sesuatu yang kalo nggak ditepatin pasti bakal ada akibatnya. Kalo janji itu nggak di putus oleh keduanya.”

“Nggak usah sok tau!” Mentari mengibaskan tangannya di hadapan Oji. “Sekarang yang gue perlu cuma elo!” Telunjuk Mentari menunjuk ke arah wajah Oji.

“Gue?” Oji menunjuk dirinya sendiri.

“Iya.” Mentari mengangguk. “Elo harus hibur gue! Soalnya elo udah bikin gue tambah galau hari ini,” katanya.

“Lho?”

“Ayooo!!!” Mentari menarik Oji ke lapangan parkir. “Kita bolos uliah hari ini!” katanya dengan senyuman yang di arahkan pada Oji.

***

“Ji, kita dimana? Rumah siapa ini?” Mentari tampak kebingungan saat Oji menghentikan motornya di salah satu rumah besar bertingkat dengan cat berwarna biru awan di dindingnya.

“Kan elo yang minta gue hibur lo!” katanya sambil melepas helm dan mengajak Mentari masuk.

“Tapi masa perginya ke rumah? Elo nggak mau ngapa-ngapain gue kan!?” terka Mentari curiga.

“Emang gue mau ngapa-ngapain elo kok!”

“OJI! Serius gue nih!” Mentari menggetok kepala Oji dengan kesal.

Oji malah nyengir. “Gue nggak punya pikiran segitunya kali, Tar. Lagian, di dalem ada pembantu, satpam, banyak kok yang menghuni. Tapi keluarga gue emang lagi nggak di rumah aja.”

Mentari terpaksa mengikuti langkah Oji masuk ke dalam rumah.
Rumah itu tampak sepi. Ya sesuai kata Oji, keluarganya sedang tidak di rumah. Rumah ini juga cukup luas dengan pernak-pernih barang mewah di sekitarnya.

“Trus kita disini mau ngapain?” tanya Mentari bingung saat Oji menaiki tangga rumah.

“Kita nonton di atas!” kata Oji dengan senyuman. “Tenang, di dalem kamar gue, gue udah ngundang temen-temen kok! Ada Hera sama Ridho di atas.”

“Seriusss???” Mentari membelalakkan matanya. Oji mengangguk. “Eh, ngomong-ngomong, hubungan elo sama Hera gimana?” tanyanya dengan penasaran.

Oji tersenyum miris lagi. Dadanya memang tak sesesak tadi, tapi hatinya menolak untuk menjawab. “Nggak ada apa-apa.” katanya dengan polos saat membuka pintu sebuah ruangan yang cukup besar.

“Nggak ada apa-apa gimana?” tanya Mentari tambah penasaran.

“Nggak ada apa-apa, Tar. Nggak ada hubungan apa-apa. kita temen!” tegas Oji dengan gerlingan. Mencoba meyakinkan cewek di hadapannya ini lalu terdiam cukup lama saat acara di mulai.

***

Hera memeluk Oji tiba-tiba dari belakang. Kebiasaan yang pasti sudah biasa banget buat Oji dan Ridho yang melihatnya. Tapi bagi Mentari? Dia terkejut! Terkejutnya pake banget, lagi!

Baru kali ini dia melihat Oji dipeluk Hera semesra itu, tapi Oji nggak membalas. Mau ngomong, Mentari juga bingung mau ngomong apa.

“Ji, makasih ya. Kamu mau mengundang aku ke sini,” ucapnya dengan pelukan yang semakin erat. Kepalanya sudah menyender ke punggung Oji.

“Iya, Ra...” kata Oji sambil berusaha melepas pelukan Hera dengan sopan.

“Kamu tau nggak? Kamu itu baik sekali,” Hera malah mengencangkan pelukannya.
Ridho yang melihat tampang Oji yang pingin banget cepet-cepet lari itu malah nahan ketawa. Sementara Mentari merasa ada yang ganjil gitu.

“Goo Ha Ra, sudahlah. Jangan kau peluk sembarangan Rhauji! Kalau dilihat orang lain rasanya tidak enak!” peringat Mentari dengan bahasa Koreanya. Membuat Ridho dan Oji mesti mengkribokan keningnya karena nggak ngerti.

Setelah mendengar peringatan itu, Hera langsung melepaskan pelukannya pada Oji dengan perlahan. Rasanya sih nggak enak juga ngelepas gitu, tapi mau gimana lagi? Daripada di kira yang enggak-enggak sama orang lain.

Oji langsung melirik Mentari yang kini sedang melamun di pinggir kolam renang. Dia sangat berterimakasih sekali pada cewek itu. Kalau cewek itu nggak memperingatkan Hera, mungkin Hera bakalan meluk Oji sampe pagi lagi.

Dari belakang, Oji akan memberikan Mentari kejutan. Mendorongnya dari belakang supaya tersungkur ke kolam. Satu... Oji semakin dekat, untung saja Ridho lagi sibuk memanggang ikan bersama Hera. Dua... Oji tinggal selangkah lagi. TIGA! BYURRR!!!

Mentari langsung masuk ke dalam kolam renang dengan sukses! Oji di atas langsung ketawa cekikian. Sementara Mentari langsung mencari oksigen untuk bernafas.

Oji rasa, Oji salah langkah. Mata Oji menangkap Mentari yang lagi tenggelam karena nggak bisa renang. Waduh! Gaswat, eh gawat! Oji nggak tau kalo Mentari nggak bisa renang.

Hera dan Ridho langsung menatap Oji dengan wajah murka. Dengan cepat, Oji langsung terjun ke kolam renang dan berusaha menyelamatkan Mentari.

“Tar, Mentari...” bisik Oji di telinga Mentari saat ia sudah menemukan tubuh Mentari yang sudah lemah. “Bangun, Tar...” Ridho membantu Oji menaikkan Mentari ke atas.

Pertolongan pertama dengan cara gaya menekan dada sudah Oji lakukan berulang kali. Tapi mata Mentari tetap tertutup.

“Nafas buatan, Ji!” kata Ridho.

“Aku saja!!!” Hera langsung menawarkan diri. Dia nggak rela banget kalo Mentari dicium sama Oji.

“Kamu tuh perempuan!” Ridho dan Oji berkata kompak.

“Cepet!” Ridho nggak sabar. Takut anak orang kenapa-kenapa.

Oji nahan nafas. Tarik nafas, keluarkan. Lalu menutup hidung Mentari dan mendekatkan mulutnya ke arah mulut Mentari. Cara menyelamatkan orang tenggelam dengan Mouth to Mouth.

Dan saat Oji mulai mendekatkan mulutnya.

“Hahahaha...” Tawa Mentari meledak di depan wajah Oji yang sangat dekat dengan wajah Mentari.

Dunia seakan berhenti berputar. Suara yang terdengar di telinga Oji hanyalah tawa Mentari dan suara aneh yang bunyinya begini... dag, dig, dug, dag, dig, dug... terus berulang sampai Mentari terdiam dan merasakan hal yang sama.

Saat itu Oji tersadar dan ingin cepat-cepat bangun, salahnya Oji malah keplesat dan terjatuh menimpa Mentari. Bibir Oji mencium pipi kanan Mentari!

“OJIIIIII!!!”

***

“Aku suka kamu!”

“He?”

“Serius! Aku suka sama kamu!”

“Tapi...”

“Kamu yang buat aku betah tinggal di Indonesia!”

“He?”

“Kamu yang ajarin aku bahasa sini, supaya aku lebih terbiasa!”

“He?”

“Kamu mau kan jadi pacar aku?”

Oji bengong. Baru kali ini ia di “tembak” duluan sama cewek. Biasanya dia yang ngejar. Masalahnya Oji menganggap Hera hanya teman. Ingat!? Teman. Walaupun masih ada sedikit rasa untuk Fio, tapi di pastikannya lebih baik enggak nerima Hera ataupun ngejar Fio lagi.

“Hera, aku... aku...”

“Butuh waktu kah untuk kamu berfikir? Kalau iya, akan aku berikan waktu untuk kamu.
Selama yang kamu mau, aku akan nunggu kamu!” katanya dengan yakin.

“Hera...”

“Aku akan nunggu kamu...”

Mata mentari nggak salah liat, nggak buta ataupun rabun ayam. Dia lihat jelas kok, tangan Hera menggenggam tangan Oji dengan mesra sambil menatapnya dalam dan mengatakan sesuatu yang sangat amat serius.

Telinga Mentari juga enggak budeg atau semacamnya, secara taman ini sepi dan ini sudah malam. Mentari dapat mendengar jelas apa yang mereka bicarakan di taman itu dengan serius.

Nggak tahu kenapa, suatu ide muncul di kepala Mentari. Suatu kebiasaan semenjak ia pindah ke Korea. Berbuat jahat. Dan disisi lain, ada mata lagi yang melihat mereka berdua.

***

“Mau apa kalian?” Hera melihat ke sekelilingnya. Semua orang itu adalah laki-laki dengan badan yang besar.

“Ooh, kita cuma mau kamu...” kata salah satu laki-laki bertubuh besar dengan rambut gondrongnya.

“Kalian jangan macam-macam ya!” peringatnya.

“Kita nggak akan macam-macam sama kamu kalo kamu juga nggak macam-macam sama Bos kami!” terangnya dengan senyuman licik. Kali ini yang mengatakannya adalah seseorang dengan badan yang tinggi, besar tapi memakai anting di salah satu telinganya.

“Siapa Bos kalian?”

“Tari...”

“Tari? Siapa Tari? Aku tidak mengenalnya!”

“Bohong kamu! Sekarang kamu ikut kami!” Salah satu laki-laki itu menggeret Hera masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi.

“Rhauji, tolong aku...”

***

“Oji...” panggil Mentari keesokkan paginya di kampus.

“Apa?” tanya Oji sambil berjalan ke kanan dan ke kiri terus-menerus udah kayak gosokan aja.

“Ngapain sih dari tadi mondar mandir nggak jelas?”

“Nyari Hera...”

“Buat apa?” Tiba-tiba suara Mentari menjadi ketus. “Oh iya ya, elo kan pacarnya Hera!” sindirnya.

“Ah elo! Waktu itu kan niatnya gue mau nolongin dia!” kata Oji berhenti mondar-mandir. Lalu di tatapnya Mentari dengan bingung. Nggak biasanya cewek itu bersikap seperti itu, kecuali saat pertama kali mereka bertemu.

“Ji...” panggil Mentari lagi.

“Apa?” Kali ini Oji duduk di sebelah Mentari.

“Elo suka sama cewek jahat?” tanyanya.

“Maksud lo?” Oji jadi bingung.

“Yah... elo suka nggak sama cewek yang punya sifat jahat!? Maksud gue, misalnya elo suka seorang cewek, elo taunya dia baik. Tapi pas tau dia jahat, apa yang elo lakuin?”

“Ngerubah dia... itu pun kalo gue bener-bener suka sama dia.”

“Jadi, kalo elo nggak bener-bener suka, elo nggak akan ngubah dia?”

“Nggak juga.” Oji jadi tambah bingung. “Yah, gue bakal ubah dia. Gue orangnya kalo udah suka, ya pasti suka banget. Nggak mungkin-lah gue mainin aja, meskipun cewek itu mainin gue!”

“Yang bener?” Mentari mencolek Oji.

“Ya iyalah! Masa gue boong.”

“Trus? Kalo cewek itu nggak mau berubah karena dia nggak suka elo? Gimana?”

“Apa sih lo? Pertanyaannya tuh aneh-aneh aja!” Oji mencibir. “Yah, bodo amat sih! Gue kan lagi nggak suka sama siapa-siapa. Kecuali... ada seseorang.”

“Siapa?” tanya Mentari penasaran.

“Mau tau?”

“Mau-lah!” Mentari menyenggol siku Oji dengan gemas.

Tiba-tiba ponsel Oji berbunyi. Tertera di layarnya kontak bernama Fio. “Bentar ya, Tar.” Mentari mengangguk dan Oji langsung menjauh dari Mentari.

“Halo, Kak.”

“Apa, Fio?” tanggapnya meski aneh rasanya Fio menelfonnya? Ada apa kah?

“Kakak, bisa jemput Fio sekarang nggak?”

“Kenapa, Fi?”

“Gue butuh elo sekarang, Kak. Bener-bener butuh!” katanya dengan suara memelas. “Gue mau ngomong sesuatu dan minta maaf atas prilaku gue yang kemaren-kemaren...” tambahnya.

“Ooh, oke, Fi!” Oji melihat ke arah Mentari yang sedang memainkan gantungan ponselnya yang berbentuk daun hijau yang imut.

“Tar, gue pergi dulu ya! Ada masalah! Entar kalo sempet, gue jemput elo!” katanya. Lalu tanpa menunggu jawaban Mentari, Oji langsung menggas motornya.


You may also like

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram