CHANGED

0 Comments
Sebuah cerita untuk temanku, Achi. Udah lama nggak nulis dan ini cerita lama banget. Semoga suka :)

Achi menatap satu persatu temannya yang sedang serius belajar dan memperhatikan guru. Pikirannya masih kalut tentang kejadian tadi malam. Widhan, pacarnya, marah lagi. Entah kenapa cowok yang satu itu selalu membuat perasaannya jadi galau.
Kalau dipikir-pikir, Achi termasuk cewek cantik yang kalau mau cari cowok tinggal tunjuk aja. Tapi semenjak bertemu dengan Widhan, dia sama sekali nggak bisa berkutik. Hatinya nggak bisa berpindah ke lain hati lagi. Apalagi, Widhan merupakan cowok yang dia suka sejak SMP.
“Achi, elo ngelamunin apa sih?” bisik Ester yang duduk di sebelahnya dengan rasa penasaran.
Achi tersentak. Kepalanya kontan menoleh ke samping kananya. Terlihat Ester menatap guru yang sedang menjelaskan di depan. Tapi Achi tahu bahwa temannya yang satu itu mendengarkannya.
“Biasa. Mikirin Widhan...” ucap Achi lemah.
“Kenapa? Ribut lagi?” tanya Ester pelan. Kali ini kepalanya menoleh sedikit ke arah Achi. Soalnya yang sedang ngajar Bu Cica. Guru killer yang ngajar pelajaran Sosiologi.
“Iya. Aduh... pusing!!!”
Tanpa sadar Achi malah berseru keras sehingga satu kelas menoleh ke arahnya. Termasuk Bu Cica yang sedang mengajar.
Kontan Achi langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Baru sadar kalau ucapannya membuat satu isi kelas menoleh ke arahnya.
“Kamu pusing?” tanya Bu Cica sambil menghampiri Achi. “Kalo kamu pusing. Kamu keluar aja!!! Nggak usah ikut pelajaran saya...”
Mampus! umpat Achi di dalam hati. Merutuki kesialannya yang sepertinya tidak pernah berakhir.
“Tadi Achi kepalanya pusing, Bu. Bukannya pusing ngikutin pelajaran Ibu Cica...” ucap Ester sebelum Achi salah ngomong.
“Ooh, ya sudah. Kamu ke UKS saja sana. Kalau sudah baikan, kembali lagi ke kelas. Dari pada kamu pingsan di sini.”
Kali ini ucapan Bu Cica agak memelan dari pada sebelumnya.
Achi mengangguk pelan. Dengan ditemani Ester, ia menuju ke UKS. Untung saja Bu Cica percaya dengan ucapan Ester. Kalau tidak, bisa-bisa mati ditempat nih.
Ester nggak sepenuhnya bohong kok. Dia mengatakan bahwa kepala Achi memang pusing. Memang bukan karena pelajaran Bu Cica, tapi karena Widhan. Alasan yang tepat dan tak merugikan ataupun membahayakan.
“Thanks, Ter.” Achi menoleh ke arah Ester.
“You’re welcome.”

*** ~Rinstriwi~ ***

“Tadi elo beneran sakit? Sakit apaan?” tanya Jojo histeris.
“Biasa deh, Jo.” Achi langsung menutup telinga. Dia paling tahu kalau Jojo sudah mengeluarkan suara, pasti suaranya membahana ke mana-mana. Jadi cukup menyiapkan kapas atau earphone untuk menutupi telinga agar suaranya nggak merusak gendang telinga.
“Oke! Ini gue biasa. Jadi, elo sakit beneran tadi?” tanya Jojo dengan suara yang agak dipelankan.
“Iya, Jo...” ucap Achi dengan wajah sedih.
Sementara Ester cekikian sendiri di sebelah kanan Achi.
“Sakit apaan? Emangnya elo bisa sakit?” tanya Jojo dengan wajah angkuh. Meledek maksudnya.
Achi langsung cemberut. “Sakit hati, Jo.”
Semua yang memerhatikan, yang tadinya tegang luar biasa, jadi langsung menunjukkan wajah kesal.
“Gue kira apa!” cibir Diah. “Pasti Widhan lagi, kan!?” terkanya dan tepat sasaran.
Achi mengangguk. “Marah terus sama gue. Kayaknya semua yang gue lakuin nggak ada yang bener di mata dia. Capek!”
“Gue heran deh, Chi! Masalah kecil aja pasti dia gedein. Kali ini masalah apa lagi?” tanya Jojo penasaran.
“Gara-gara gue sms’an sama Riyan. Padahal cuma sms biasa. Nanyain tugas doang.”
“Kenapa sih nggak putus aja? Kita juga nggak sreg sama dia. Padahal elo bisa tunjuk cowok mana yang elo mau...” ucap Ester. “Yah, gue tau elo cinta sama dia. Tapi buat apa kalau begini terus?”
Achi terdiam dalam seribu kata yang berputar di otaknya.
“Nggak usah dipikirin sampe segitunya, Chi.” Sarah tersenyum simpul.

*** ~Rinstriwi~ ***

Hampa. Satu kata yang sedang mengisi hati Achi. Hari ini dia nggak pulang bersama Widhan. Dia sedang malas bertatap muka dan juga mendengar omelan Widhan.
Kakinya berjalan menelusuri gang bersama teman-temannya yang lain. Wajahnya menunduk menatap jalan beraspal itu. Langkahnya memang tertinggal dengan teman-temannya. Pikirannya yang membuat jalannya melambat.
Tiba-tiba tangannya di tarik dari arah belakang. Ia mendongak. Kaget. Achi melihat Widhan tengah memandanginya dengan tatapan datar. Tatapan yang selalu dimunculkannya setiap kali marah dengannya.
“Kamu pulang sama aku,” katanya pelan.
Nadanya seperti menahan gejolak amarah. Mungkin saja Widhan tidak ingin marah-marah di tempat umum seperti ini.
“Aku mau pulang sama temen-temen aku.” Achi menolak pelan.
Widhan menghembuskan nafas beratnya. Menahan rasa amarah. “Ada yang pingin aku omongin sama kamu. Tapi nggak di sini.”
Achi diam. Belum bisa mengambil keputusan. Widhan menatapnya terus, menunggu jawaban. “Bisa, kan!?”
Akhirnya Achi mengangguk. Seperti ada dorongan yang memintanya terus menuruti apa yang dikatakan Widhan padanya.
Perlahan, Achi menaiki motor Widhan. Dan saat melewati teman-temannya, ia melambai sambil berkata, “gue duluan ya!!!”
Yang lain sempat melongo melihat Achi yang tiba-tiba pulang bersama Widhan. Namun sedetik kemudian mereka menanggapinya. “IYAAA!!!” seru mereka kompak.
Motor Widhan melaju cepat membelah kota Jakarta. Membelah hiruk pikuk yang menjadi sebuah hal yang tak asing lagi di Jakarta.
Sampai di suatu tempat. Di mana banyak alang-alang tumbuh. Dengan nuansa langit biru dan matahari yang bersinar cerah. Udara yang bebas dari polusi serta keindahan tiada tara. Burung berkicau dengan nada-nada yang teratur.
Widhan menggenggam tangannya erat menelusuri alang-alang. Sampai di suatu tempat di mana terletak satu kursi taman berwarna putih, Widhan menghentikan langkahnya. Lalu mengajak Achi duduk bersama.
“Apa yang pingin kamu omongin?” tanya Achi pelan. Wajahnya menunduk tak berani melihat ke arah Widhan.
“Tentang kita, Chi.” Widhan terdiam sejenak. Ia memandang Achi yang masih saja menundukkan wajahnya. Lalu jari telunjuknya menyetuh dagu Achi. Menyuruhnya untuk menunjukkan wajahnya. “Aku nggak mau bertele-tele.”
“Omongin aja.”
“Aku cuma nggak suka aja kamu sms’an sama cowok lain selain aku...”
“Kamu juga suka sms’an sama cewek lain selain aku, kan!?” balas Achi sebelum Widhan menyelesaikan ucapannya.
“Iya. Aku emang sms’an tapi mereka itu temen aku...”
“Dia juga temen aku!” balasnya lagi.
“Dia emang temen kamu. Tapi udah keliatan banget kalau dia suka sama kamu! Makanya itu... aku takut.”
Kedua alis Achi bertatut. Bingung dengan kalimat Widhan.
“Aku takut aja kalo kamu berpaling sama yang lain. Aku takut kalau kamu...”
“Aku juga takut! Tapi kamu terlalu egois! Kamu mentingin diri kamu sendiri!”
Widhan diam. Matanya menatap Achi tak sabar. “Bisa, kan, kamu nggak potong ucapan aku dulu!? Aku belum selesai ngomong!”
“Lalu? Kalo kamu udah selesai ngomong, apa bakal kamu yang bilang kalau kamu salah!? Pasti aku, kan!? Selalu begitu!”
Emosi Achi sudah pecah. Meledak ke mana-mana. Tak dapat ia tahan rasa kecewa juga amarah. Namun, satu kata yang masih tetap di hatinya. Masih terbungkus rapi oleh balutan waktu. Yaitu, sayang. Dia masih sayang dengan Widhan meskipun Widhan egois.
“Di sini aku pingin menyelesaikan masalah aku dan kamu! Bukannya malah tambah memperumit masalah!”
“Kamu yang buat masalah ini semakin rumit!” Mata Achi sudah berkaca-kaca. Pikirannya benar-benar berputar. Penuh dengan masalah-masalah yang tak kunjung ia selesaikan.
“Aku nggak bikin masalah ini rumit, kalo kamu berhenti motong ucapan aku! Kamu bisa ngerti sedikit aja nggak sih!?” Gantian Widhan yang mengeluarkan emosinya. Dia juga sudah tak tahan menahan sabar.
“Aku mau pulang!” Achi baru saja akan melangkahkan kakinya. Namun tangannya dicekal erat oleh Widhan. Achi meringis kesakitan.
“Jangan lari dari masalah, Chi! Aku mau kita selesain sekarang!” ucap Widhan dengan amarah tertahan.
Achi berbalik. Matanya menatap mata Widhan tepat di manik mata. Dia tak sanggup menyembunyikan perasaannya. Perasaan di mana ia selalu bingung memilih jalan. Dia sudah cukup sabar dengan keegoissan Widhan sampai-sampai kesabarannya hilang. Namun ia sadar akan sesuatu, ia tidak ingin Widhan pergi meninggalkannya. Karena dia masih menyimpan perasaan itu.
Tanpa Achi sadari, dengan satu gerakan cepat, Widhan telah merengkuhnya ke dalam pelukan hangat.
“Aku sayang sama kamu. Makanya aku begini,” bisik Widhan lirih di telinga Achi.
Kehangatan akan kasih sayang itu kembali merasuki tubuh Achi. Di mana ia tidak dapat melepaskan Widhan begitu saja.

*** ~Rinstriwi~ ***

“Roman, romannya ada yang udah nggak berantem nih!” Jojo berseru saat melihat Achi datang dengan senyum sumringah di wajahnya.
“Hahaha, Jojo, tau aja kalo gue lagi seneng!” ucap Achi langsung duduk di sebelah Jojo. Tas dan buku ia letakkan di meja milik Jojo.
“Eeh, seneng sih seneng. Tapi ini meja Arrum,” sunggut Jojo sambil menyingkirkan tas dan buku milik Achi ke meja Achi.
“Ya ampun, Jo. Kan numpang dulu sebentar. Bel-nya juga masih lama,” cibir Achi.
Memang nggak bisa dipungkiri, hari ini Achi lagi senang dan nggak mungkin marah-marah. Dia nggak mau mood bagusnya hari ini rusak hanya karna masalah sepele.
Keduanya menoleh serempak saat ada yang masuk ke dalam kelas yang sepi. Karna isinya cuma ada Intan, Dita dan mereka berdua. Di depan pintu sudah muncul Riyan dengan jaket hitamnya. Ia menghampiri Achi yang duduk di sebelah Jojo.
“Chi, kok sms gue semalem nggak dibales?” tanya Riyan heran.
“Gue udah tidur. Jadi nggak bales sms elo deh,” jawab Achi.
“Gue kalang kabut, tau! Nanyain tugas sama elo tapi nggak elo bales. Gue kan takutnya tugas sosiologi dikulumpulin sekarang,”
Jojo mendelik, “heh! Lagian kenapa elo nggak nanya sama gue atau temen yang lain? Bisa, kan!? Jadi, nggak usah nyusahin Achi terus.”
“Iya, bener! Kalo nggak elo sms gue. Biasanya anak-anak kalo nanya tugas pasti ke gue. Lagian elo nggak punya jadwal apa!? Tugas kapan dikumpulin. Dasar modus!” sahut Dita.
“Mau banget apa gue sms kalian?”
Jojo dan Dita langsung kompakkan bilang, “songong ni anak!”
Dan tanpa ampun Jojo langsung melempar penghapus papan tulis ke arah Riyan. “Tuh! Buat orang songong. Awas kalo elo sms gue, nggak bakalan gue bales!”
Sementara Achi dan Intan hanya menyaksikan dengan tertawa geli.
“Siapa juga yang bakal sms elo? Nggak banget. Ngabisin pulsa kalo gue sms elo, Jo!” ucap Riyan sambil menjulurkan lidahnya. Lalu melangkah menuju tempat duduknya.
“Bener kurang ajar tuh anak!” sunggut Jojo kesal. Ia melirik ke arah Achi yang masih tertawa geli. “Tuh, kalo elo sampe jadian sama tu anak, gue yakin anak-anak pada gila semua!”
“Gue kan cuma suka sama...”
“Sama Widhan!? Oke, itu Kakak kelas kayaknya udah bikin elo kelepek-kelepek ya. Atau jangan-jangan elo dipelet. Tapi nggak mungkin juga sih ya. Zaman modern gitu!”
Achi tertawa puas.

*** ~Rinstriwi~ ***

Jam istirahat seperti ini waktunya Achi, Jojo, Diah, Dita dan yang lainnya makan puas di tukang bakso langganan mereka di depan sekolah. Kalau yang satu makan bakso pasti yang lainnya kompakkan ikut makan bakso. Buat mereka satu kepentingan yang harus mereka jaga dalam persahabatan. Solidaritas!
Mata Diah bergerak menelusuri jalan aspal di pinggirnya. Meneliti satu per-satu orang yang sedang lewat. Siapa tahu ada kakak kelas gebetannya yang lewat. Namanya Afa. Kakak kelas sebelas yang ada di jurusan IPS.
Tapi bukannya Afa yang dia lihat, tapi malah kakak kelas dua belas jurusan IPS yang ia lihat. Yap! Pacar Achi. Widhan.
“Chi, pacar lo tuh!” ucap Diah sambil menyikut lengan Achi pelan.
Achi menoleh. Tatapannya beradu dengan mata Widhan. Achi tersenyum, namun Widhan tidak. Wajahnya tetap datar, lalu ia memalingkan wajahnya. Berpura-pura tidak melihat Achi dan terus berjalan dengan teman-teman gerombolannya.
“Lho, Chi, pacar lo mau ke mana?” tanya Dita kaget saat melihat Widhan pergi pada saat jam istirahat keluar sekolah.
Achi menggeleng. Wajahnya yang semula ceria kembali menjadi wajah cemberut dan ditekuk rapat. “Bolos kali!” sahutnya kesal.
Lagi pula, Widhan tak pernah memberitahunya ingin pergi ke mana dan dengan siapa. Widhan selalu menjalankan sesuatu tanpa Achi ketahui. Satu sifat egois yang lagi-lagi tak Achi sukai.
“Eh, bukannya sekarang anak kelas dua belas foto-foto buat bikin buku kenangan?” seru Jojo baru teringat sesuatu. “Soalnya Kak Al nge-tweet bilang mau foto-foto buat bikin buku kenangan!”
Otak Achi berputar-putar mencari jawaban. Benar juga. Kakak kelas yang disukai Jojo itu kelas dua belas juga. Berarti benar. Widhan juga ikut foto-foto.
Inget, Chi. Cuma foto-foto aja kok. Jangan negatif thinking dulu, Achi berucap sabar dalam hati.
Melihat Achi terdiam seperti itu, Diah langsung angkat bicara. “Udah! Nggak usah dipikirin segitunya. Lo baru aja baikan sama dia, masa mau berantem lagi!?”
Achi menoleh ke arah Diah. Tersenyum simpul lalu mengangguk pelan. Achi dan yang lain melanjutkan acara makan-makannya. Meskipun nafsu makan Achi agak berkurang karna hal itu.

*** ~Rinstriwi~ ***

“Kenapa, Chi? Galau lagi? Mikirin Widhan?”
Achi tersentak saat satu suara menganggu lamunannya. Ia mendongak dan menatap orang itu. Ryan. Tangannya menyentuh pundak Achi pelan. Mencoba menanyakan masalah Achi.
“Yah, selalu dia.”
“Kayaknya tiap hari mikirin dia adalah aktifitas wajib lo ya? Bawa happy aja lah, Chi. Dia kalo emang sayang sama lo, dia pasti nggak akan ngelirik yang lain.”
Diam. Achi tak bisa mengeluarkan sepatah kata-pun. Dia sudah lelah terus begini. Awalnya, hubungannya dengan Widhan adem ayem aja. Tapi entah kenapa, belakangan ini malah sedang menuju konflik ketegangan.
Achi ingat jelas bagaimana dulu saat dia pertama kali menjadi pacar Widhan. Dimanja, disayang dan selalu diperhatikan.
“Makan kamu belepotan,” ucap Widhan saat dirinya dan Widhan makan di salah satu tempat makan.
Tangan Widhan bergerak menuju bibir Achi. Dihapusnya saus yang terletak di ujung bibir Achi dengan pelan. Lalu Widhan tersenyum. Sementara wajah Achi sudah merah padam seperti tomat.
“Makasih,” ucapnya malu-malu.
“Nggak usah malu gitu. Sama pacar sendiri kok!” ucap Widhan lembut.
“Tapi aku keliatan jelek,” ucap Achi sambil menunduk malu.
Jari Widhan menyentuh dagunya. Membuat wajah Achi terangkat dan menatap matanya.
“Aku nggak ngeliat kamu dari penampilan kamu. Buat aku, saus belepotan di bibir kamu aja bikin kamu keliatan manis.”
Dan saat itu senyum secerah matahari mengembang di bibir Achi setiap hari dan kini berubah menjadi senyum perih nan pahit yang harus di tampilkannya setiap hari untuk menunjukkan betapa putus asanya dia terhadap hubungannya dengan Widhan.
“Jangan kebanyakan ngelamun gitu!” seru Ryan tepat di telinga Achi.
Achi kembali ke pada dunia nyatanya. Dan bayangan masa lalu itu menghilang sekejap. Lalu Achi tersenyum menatap Ryan, senyum perih.
“Lo jelek kayak gitu!” ucap Ryan sambil tertawa. Tertawa prihatin.

*** ~Rinstriwi~ ***

Kmu udah makan belom? :3

Mata Achi terasa perih melihat salah satu sms yang di lihatnya dari inbox ponsel milik Widhan. Oke! Kalau itu berasal dari Achi, Achi bakalan biasa aja atau malah senyum-senyum nggak jelas kayak orang gila.
Sayangnya, sms ini berasal dari cewek cantik, pintar, manis, dan tajir! Dan satu kenyataan yang tak mungkin bisa dihilangkan dari cewek ini adalah statusnya. Mantan Widhan! Perlu diperjelas lagi bahwa dia, cewek itu adalah MANTAN WIDHAN! MANTAN!
Seorang mantan pasti memiliki kenangan. Pernah sama-sama memiliki perasaan yang sama. Pernah mengalami yang namanya waktu indah bersama yang tak mungkin dapat dilupakan. Dan hal itu tak luput dari bisa-aja-dia-balikan-lagi-sama-mantannya-yang-cantiknya-naudzubillah-itu.
Oke! Achi menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Terus, sampai perasaan emosinya sedikit mereda.
Sementara Achi duduk sendiri sambil memegang ponsel Widhan, Widhan sedang ke kamar mandi sebentar.
Achi sebenarnya mau marah-marah sama Widhan. Namun ia melihat kondisinya saat ini sangat amat tidak memungkinkan. Selain dia berada di mall besar dengan orang-orang yang berseliweran di dekatnya, dia juga kehabisan kata-kata untuk marah lagi.
“Hei, nggak lama, kan!?”
Widhan datang. Achi membalikkan badannya. Senyum tersungging di bibirnya. Senyum nggak ikhlas sih. Tapi mau gimana lagi!? Mau marah-marah di depan umum lalu diusir sama satpam? Nggak elit banget!
“Oh! Nggak lama kok!” ucap Achi agak dikeraskan.
“Kamu agak aneh. Kenapa?” tanya Widhan heran. Ia menyadari rupanya, perubahan sikap Achi terhadapnya dalam hitungan menit.
“Oh! Aku aneh? Apanya yang aneh?”
Achi masih memasang wajah polosnya, seperti mengatakan aku-nggak-apa-apa-cuma-syok-aja-liat-sms-kamu-yang-kelewat-romantis-banget-itu-sama-mantan-kamu.
“Wajah dan nada suara kamu?”
Tangan Achi langsung meraih tangan Widhan. Lalu menggandengnya. “Ah! Perasaan kamu aja. Mungkin karna aku lapar, jadi agak aneh kali ya...” ucapnya sambil tertawa.
Tentu saja. Tawa yang dipaksakkan.
Widhan yang bingung hanya dapat menuruti kemauan Achi hari ini. Lagi malas berantem juga sih.

*** ~Rinstriwi~ ***

Pagi harinya di sekolah, semua teman gempar karena kaget melihat wajah Achi. Untung waktu masih pagi, jadi belum ada anak cowok yang datang, yang pastinya bakalan nanya macam-macam sama Achi.
“ACHI MATA LO KENAPA!?” teriak Jojo nggak karuan.
Achi langsung menghambur ke pelukan Ester. Dia menumpahkan semuanya. Semua tangis akan sakit yang terus dirasanya. Lelah, letih dan segala macam perasaan yang terus menerus membuatnya seakan terjepit oleh sebuah keadaan di mana dia harus melepas sesuatu.
Semua kontan langsung mengerubutinya.
“Ada apa?” tanya Diah penasaran.
“Lo nangis semaleman?” tanya Dita ikut-ikutan.
“Pasti sama si Widhan lagi!” terka Putri.
“Udah-udah!” Ester menyudahi. “Biar Achi tenang dulu dong! Lo mau bikin dia tambah nangis kejer dengan nanya-nanya begitu!?”
“Ya ampun, Chi. Putusin aja deh si Widhan!” Dita langsung emosi melihat teman dekatnya itu penuh dengan air mata.
Saat itu juga dia hanya bisa menggeleng kecil. Kemudian jari jemarinya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Nggak mungkin,” ucapnya selirih angin.
“Apanya yang nggak mungkin sih!? Widhan tuh jelek ya, nggak jelek juga sih. Intinya dia nggak cakep-cakep amatlah. Udah gitu, sukanya nyakitin elo doang.” Putri ngomel-ngomel. “Apa lagi alasan yang ngebuat elo bertahan sama dia!?”
“Gue…” Achi langsung menunduk. “Gue udah terlanjur sayang sama dia.”
Semua yang mendengar itu langsung melengos dan geleng-geleng kepala. Heran dengan Achi yang masih saja mau bertahan sengan mahluk satu itu. Padahal masih banyak cowok ganteng dan baik hati di luar sana.
Jika dibandingkan dengan yang lain, Widhan itu nggak ada apa-apanya. Itu sih menurut teman-teman Achi. Tapi kalau nanyanya sama Achi, jawabannya pasti beda.
Widhan akan terlihat sangat menakjubkan dan baik hati seperti ibu peri ketika Achi menceritakan sesuai versinya.

*** ~Rinstriwi~ ***

Hari ini Achi memutuskan untuk pulang sendiri. Tidak bersama dengan teman-temannya juga tidak bersama Widhan. Pikirannya sedang kacau dan dia sangat ingin sendiri.
Pening di kepalanya tidak jua hilang sejak tadi pagi sehabis dia menangis habis-habissan. Jalannya mulai sempoyongan. Apalagi Achi belum makan dari tadi pagi karena nafsu makannya langsung hilang seketika saat teman-temannya malah mendukungnya untuk memutuskan hubungannya dengan Widhan.
Sepertinya tidak ada satu pun yang mendukung hubungannya dengan Widhan. Padahal seperti apa pun cowok itu, Achi tetap tidak bisa melepaskannya begitu saja sebelum Widhan yang memutuskan hubungan di antara mereka.
Alasannya sangat simple. Achi hanya ingin dirinya tidak menyesal dengan keputusannya jika dia memilih untuk memutuskan hubungannya dengan Widhan.
Matahari sedang bersinar terik dan perut Achi terasa keroncongan sekarang. Beberapa orang sedang bermain futsal di lapangan, berlari ke sana ke sini, membuat Achi pusing saat ingin berjalan di pinggir lapangan.
“Hei awas!”
Achi menoleh dan hampir saja terjatuh saat dirasakan tubuhnya sudah berada di dalam pelukan hangat seseorang. Matanya yang sudah tidak bisa melihat jelas siapa orang itu, akhirnya terpejam menahan rasa pening di kepalanya.
Lalu dirasakannya semua menjadi gelap seketika.



“ACHI SEJAK KAPAN LO DEKET SAMA COWOK SEKEREN ITU!?”
Jojo teriak histeris saat kemarin menemukan Achi sedang digendong ke UKS oleh seseorang. Cewek itu duduk di sebelah Achi meminta jawaban Achi.
Kening Achi mengernyit heran. Kepalanya masih terasa pusing karena kemarin pingsan dan kurang makan.
“Maksud lo apa sih?”
“Nggak usah pura-pura bego deh!”
Achi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Sumpah deh ya, gue nggak ngerti.”
“Kemaren elo kan pingsan tuh di lapangan. Dan elo digendong sama Kakak kelas yang gila banget kerennya.”
“Siapa, Jo? Gue aja nggak tau kalo dia itu gendong gue.” Tiba-tiba Achi memukul keningnya kuat-kuat. “Mampus! Kalo Widhan sampe tau gue digendong cowok lain, gue bisa matiiiii…”
“Bagus lah, Chi. Elo nggak perlu repot-repot mutusin tu cowok. Dia bakalan mutusin lo, dan kehidupan lo bakalan berubah menjadi indah.” Jojo tersenyum sambil memegang pundak Achi pelan. “Cahaya kebahagiaan sudah terlihat di ujung mata, Chi!”
Mata Achi menerawang. Bukan itu yang dia inginkan. Ada hal lain yang di hatinya yang tidak bisa ia tolak. Dia benar-benar masih menyayangi Widhan. Dan hal itu tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun dan dalam keadaan apa pun.
Raut wajah Jojo berubah seketika saat melihat tatapan kosong Achi. “Jangan bilang elo masih sayang banget sama Widhan!?”
“Gue emang masih sayang sama…”
“Stop!” Jojo langsung memotong. “Hey girl! He’s not the only one you have. Find the another boy that will give you everything without you asked! You know that your heart hurt because of the boy like Widhan.”
Jojo memang benar sepenuhnya. Tapi dia memang tidak bisa melawan hatinya sekarang. Setidaknya untuk sekarang. Semoga dia bisa terlepas dari sakit yang diderita hampir setiap hari karena Widhan.
Atau tidak, Widhan bisa berubah kembali seperti dulu. Bersikap manis padanya dan mau menerima teman-temannya juga.

*** ~Rinstriwi~ ***

Achi turun dari motor Widhan di tengah-tengah jalan raya. Matanya mengawasi Widhan yang sedang mendengus kesal akibat motornya yang tiba-tiba mogok di jalan.
“Kayaknya kita mesti naik kendaraan umum aja deh, Dhan. Sebentar lagi bel masuk.”
“Oh shit man!” rutuknya kesal. Lalu ditatapnya Achi dengan rasa bersalah. “Maaf ya, Sayang. Motor ini emang suka ngajak ribut. Kamu duluan ya, nanti aku nyusul. Aku takutnya kamu telat gara-gara aku.”
Achi tersenyum memaklumi. “Ya udah. Kamu buruan nyusul ya. Nanti kalo telat bisa kena hukum lagi. “
Setelah berbasa-basi sebelum pergi duluan, Achi mencari-cari kendaraan umum untuk sampai ke sekolahannya. Jarak ke sekolahannya lumayan jauh, dan dia masih di tengah-tengah jalan. Belum sampai di prapatan jalan.
Achi merutuki motor sialan itu. Dia bisa telat kalau begini. Dan jam-jam segini, selain angkutan jarang yang kosong, macetnya itu nggak bisa dihindari. Dan kemungkinan telat juga tidak bisa dihindari olehnya.
Hey girl! Do you want to take a ride with me?”
Kontan Achi menoleh saat ada orang yang menawarinya untuk menumpang. Keningnya mengernyit saat mendapati seseorang berseragam sama dengannya, menatapnya sambil tersenyum tipis.
Dan oh gila! Senyumannya manis banget. Kedua alis tebal yang terangkat sebelah. Hidung mancung seperti orang-orang Arab. Kulit kecoklatan, yang sumpah!, manis banget.
Kedua mata Achi terbelalak lebar. Cowok ganteng itu ngajak bareng? Ngasih tumpangan ke dia? It’s like an amazing dream!
“Hey! Kok malah ngelamun? Kita masih punya banyak waktu untuk sampai ke sekolah. Dan waktu itu nggak boleh kita sia-siakan. Atau nggak, kita berdua bakalan telat dan kena hukum sama Bu Husna. Dia piket hari ini.”
Achi langsung tersadar dari lamunannya. “Eng… boleh?”
Cowok itu tertawa renyah. “Tentu aja boleh. Tadi gue kan nawarin elo.”
Dengan kikuk, digaruk-garuknya kepala yang nggak gatal. Achi hanya bisa nyengir, menunjukkan deretan giginya. Kemudian mengangguk pelan dan langsung menerima uluran tangan cowok itu untuk naik ke atas motornya.

*** ~Rinstriwi~ ***

“Jadi… nama lo Achi?”
Achi mengangguk sambil tersenyum simpul.
Tadi mereka hampir saja telat. Tapi tetap saja, ada sedikit ceramah dari Bu Husna yang mereka dapatkan. Dan setelah itu, mereka janjian untuk bertemu lagi di kantin saat istirahat pertama.
“Gue Bagas. Dan gue rasa, gue udah membayar kesalahan gue sama lo, Achi.”
Kening Achi mengernyit heran. “Maksudnya?”
Wajah Bagas berubah bingung. “Loh? Elo nggak tau? Gue kan orang yang menyebaban elo masuk UKS. Gue orang yang nimpuk lo pake bola.”
“Serius?” Mata Achi membulat seperti bakso. “Gue malah nggak tau apa-apa tentang kejadian itu. Pas gue bangun, gue ngerasa pusing. Gue kira gue pingsan karena belum makan.”
“Oh sori. Waktu itu, setelah gue gendong elo ke UKS, gue langsung masuk kelas. Masalahnya, gue udah sering kena masalah sama guru belakangan ini. Dan gue harus memperbaiki itu semua dengan bersikap manis saat belajar. Jadi gue ninggalin elo di UKS sama anak-anak PMR.”
Achi mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis. “Oh, nggak apa-apa. Lagian kita impas, kan? Elo udah nyelametin gue tadi.”
“Tapi gue masih merasa bersalah sama lo. Pulang gue anter ya?”
Achi membeku seketika. Keberadaan Bagas di sebelahnya membuatnya melupakan Widhan. Apakah cowok itu telat atau tidak, dia tidak tahu. Dan dia harus pulang bersama Widhan atau tidak dia bisa mati!
“Eng…” Achi menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal. “Nggak usah. Gue udah ada barengan buat pulang. Lagian pertolongan elo tadi udah menebus kesalahan lo kok.”
“Serius?”
Achi mengangguk pelan. “Umm… udah mau bel. Kayaknya kita lanjutin lain waktu.”
Bagas berdiri. “Oke. Nggak masalah.” Cowok itu menunjukkan senyum manisnya lagi. “Nice to meet you, nice girl.”

*** ~Rinstriwi~ ***

“Gue bakalan tumpengan kalo sampe si Widhan berubah jadi baik dan mau ngenal kita!” seru Putri dengan menggebu-gebu.
Yang lainnya langsung ketawa ngakak. Sementara Achi memilih untuk cemberut saat mendengar penuturan temannya itu.
“Dan gue bakalan sujud syukur kalo ternyata elo jadian sama Bagas!” tegas Diah dengan raut wajah serius.
Dita menyikut lengan Achi pelan. “Kalo elo nggak mau sama Bagas. Buat gue aja deh, Chi. Ganteng gitu, sayang kalo dianggurin. Ya, nggak kawan!?”
“YO’IIIII!” Serempak menjawab Dita dengan persetujuan.
Achi menghembuskan nafas beratnya. “Elo semua bener-bener nggak ada yang mau dukung hubungan gue sama Widhan?”
Semuanya langsung terdiam. Sampai-sampai hanya suara jangkrik yang terdengar. Mereka tidak mungkin bilang iya, dan tidak mungkin bilang enggak. Masalahnya, membicarakan seseorang yang masih satu lingkungan dengan lingkungan keberadaan mereka itu membahayakan. Bisa-bisa orangnya tiba-tiba nongol di ambang pintu sambil menunjukkan muka masam dan tangan membawa golok.
“Oh ayolah! Widhan udah mau berubah kok. Dia nggak kasar lagi.”
“Di mata lo dia emang berubah. Tapi nggak di mata semua orang. Kadang, seseorang perlu melakukan perubahan, Chi. Agar mereka bisa bertahan. Elo nggak perlu memertahankan yang sebenarnya nggak perlu elo pertahankan. Elo seharusnya bisa melakukan perubahan.” Vidia menatap Achi lurus.
Semuanya langsung terdiam. Kalimat Vidia itu jarang-jarang keluar dari bibirnya yang mungil itu. Dan tiba-tiba saja Putri mengacaukan suasana keterkaguman itu.
“Perubahan? Gerakan perubahan? Kayak Partai Gerindra aja lo! Hahahaha…”

*** ~Rinstriwi~ ***

“Gue denger, elo deketin cewek gue.”
Kalimat itu bukanlah sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Kalimat itu adalah sebuah pernyataan. Pernyataan yang membuat Bagas langsung menghentikan langkahnya.
“Maksud lo?”
Bagas melirik Widhan dengan kesal. Cowok di hadapannya itu tidak tahu apa-apa dan sekarang membuat kesimpulan sendiri bahwa dirinya mendekati Achi.
“Nggak usah pura-pura bego. Gue tau semua belang lo.”
“Ehm…” Bagas berdeham pelan. “See, ternyata bener kata orang. Elo emang orang yang sangat amat freak.
“Bangsat!” Widhan langsung mendekati Bagas dengan langkah panjang. Dengan sekali gerakan, dipukulnya cowok itu tepat di bagian ginjalnya dan memukuli beberapa bagian tubuh Bagas. Membuat cowok itu meringis kesakitan. “Lo tau apa tentang gue, HAH!?”
Bagas berusaha bangun dengan sekuat tenaga. Ujung bibirnya berdarah akibat pukulan Widhan barusan. Cowok itu menahan ringisannya, dia tersenyum sinis.
“Gue tau, di belakang Achi, elo jalan sama mantan lo. Namanya Serena. Cewek yang paling digilai laki-laki di sekolah ini.” Bagas tersenyum meremehkan. “Dan sekarang, dengan muka baja, elo bilang gue deketin pacar lo? Apa nggak salah? Hmmm?”
Tangan Widhan menggepal. Terdapat bara api di kedua bola matanya yang hitam pekat. Ditariknya kemeja Bagas dengan kasar. Ditatapnya Bagas dari dekat tepat di manik matanya.
“Gue kasih tau sama lo ya, JANGAN PERNAH CAMPURIN URUSAN GUE!” ucapnya dengan penuh penekanan di setiap kata. “Gue ngomong fakta. Elo deketin cewek gue dan ngajak dia pulang bareng, kan!?”
Bagas berdecak kesal. “Ck…ck…ck… elo tau nggak? Selama ini, kalo gue boleh jujur, gue suka sama cewek lo. Suka banget.”
Kalimat itu malah membuat Widhan terpancing. Dia semakin mengetatkan tarikkannya pada kemeja Bagas. “Apa? Lo ngomong apa, HAH!?”
“Sekarang, biarin dia milih. Dan kita lihat. Siapa yang akan dipilih Achi nanti.”
“Lo ngajak duel sama gue, hmm?”
Bagas menggeleng pelan. “Gue nggak suka kata itu. Gue lebih suka dengan kata, “perang terbuka”. Lebih keren, kan!?” Salah satu alisnya terangkat ke atas. Senyum simpul tercetak di wajahnya yang tampan.

*** ~Rinstriwi~ ***

“ACHI! SUMPAH YA, ELO PAKE APAAN!? PELET!?”
Mendengar teriakkan membahana itu, Achi langsung menutup kedua telinganya rapat-rapat. Masalahnya, teriakkan itu mampu membuat telinganya langsung berdengung.
“Duh, apaan sih, Jo?”
“Widhan, Chi. Widhan!”
“Kenapa dia?” tanyanya malas-malasan. “Berantem?”
Jojo menggeleng. Pada saat itu juga, yang lainnya langsung ikut nimbrung dengan nafas terengah-engah. Mereka dan Jojo baru saja melihat pertunjukan luar biasa yang dilakukan oleh Widhan di tengah lapangan.
“Chi, sumpah. Ternyata bener kata lo, Widhan berubah. BERUBAH!” Putri langsung berseru heboh.
Kontan Achi langsung bingung. Dia berkata Widhan berubah pada waktu itu agar teman-temannya mau menerima Widhan. Tapi apa kata temannya sekarang? Widhan berubah? Itu kayaknya impossible banget deh.
“Lo tau nggak? Dia, di tengah lapangan, bawa-bawa puluhan bunga mawar sambil masang karton di dada dia dengan tulisan yang gedenya segede kingkong!” Ester ngoceh sangking takjubnya.
“Duh, gue nggak ngerti maksud kalian nih.” Achi mengernyitkan keningnya, bingung.
“Tulisan di kartonnya itu, “You’re my only one love, Achi.”. Gimana gue nggak syok!?” Dita langsung geleng-geleng.
Pada saat itu juga Achi langsung berdiri dari kursinya. Kemudian lari secepat mungkin ke arah lapangan. Matanya terbelalak lebar saat menemukan Widhan benar-benar di sana. Dengan ribuan bunga mawar merah dan karton yang tergantung di lehernya.
Mulutnya menganga lebar. Namun sedetik kemudian, dia langsung berlari mendekati Widhan. Masalahnya, lapangan mulai ramai dan dia nggak mau kejadian ini sampai ketahuan guru. Bisa-bisa dia kena masalah.
“Widhan! Kamu ngapain?” bisik Achi tertahan.
Widhan tersenyum tipis. “Buktiin sama kamu kalau aku benar-benar cinta sama kamu.”
Mata Achi langsung berkedip-kedip untuk membenarkan penglihatannya. Dia nggak salah lihat kok. Apa dia mimpi ya? Udah berapa lama dia nunggu kata-kata itu keluar dari mulut Widhan yang akhir-akhir ini tajam banget kayak silet.
“Kamu nggak ngelindur?”
Cowok itu menggeleng pelan. Lalu mengernyitkan keningnya. “Kalau pun aku ngelindur, pasti nggak jauh tentang kamu. Kamu selalu berputar-putar di kepala aku.”
Achi menghela nafas pelan. “Oke. Pembuktian cintanya sampai sini aja. Nggak perlu lama-lama. Lagian aku percaya kok kalau kamu cinta sama aku.” Tangannya memegang pelan tangan Widhan. “Sekarang, ayo pergi dari sini. Malu diliatin sama anak-anak.”
Senyum manis tercetak di wajah cowok itu. Dan tiba-tiba saja dengan satu kali gerakan yang tak terbaca, dia memeluk Achi.
“CIYEEEEEE!!!”
Dari kejauhan Bagas melihat itu dengan mata perih. Dia suka dengan Achi. Bahkan sudah sampai tahap menyayanginya. Seperti apa pun dia bertingkah laku di depan Achi, cewek itu tidak pernah menyadarinya. Di hadapan Achi ada Widhan. Ada cowok yang membuat Achi tidak dapat berpaling ke mana-mana.
Kalau bukan karena timpukan bola dan juga tumpangannya untuk Achi waktu itu, mungkin Achi tidak akan pernah menyadari kehadirannya.
Dia tahu, selama ini Achi tersiksa oleh sikap Widhan yang berubah. Dan Bagas tahu jelas mengapa Widhan seperti itu. Cowok itu sepertinya bosan dengan Achi dan dia ingin mencari cewek lain yang menarik perhatiannya.
Dilakukannya semua ini demi Achi. Ketika Bagas menggertak Widhan, cowok itu sangat amat marah. Dan Bagas yakin, dengan begitu, Widhan akan memertahankan cintanya pada Achi. Dan Achi tidak perlu tersakiti lagi. Karena setelah ini, setelah Widhan dapat berbuat baik kepada Achi lagi, dia akan menghilang dari pandangan Achi untuk selamanya.

*** ~Rinstriwi~ ***

“Achi…”
Achi menoleh dan mendapati wajah teman-temannya terlihat lesu. Keningnya langsung mengerut. Ada apa dengan teman-temannya yang ceria ini?
“Ya, kenapa?”
“Mentang-mentang gue kuli, yang disuruh bawa gue.”
Di saat yang lain datang dengan wajah lesu, Rindang datang dengan gerutuan sambil membawa sebuah kerdus besar yang dibungkus kertas kado berwarna hijau. Rindang langsung nyengir kuda saat teman-temannya melotot ke arahnya.
“Ada apa nih?” tanya Achi bingung. “Itu apaan lagi?”
“Ini buat elo, Chi.” Intan membuka pembicaraan. “Katanya dari seseorang penggemar rahasia lo.”
“Chi, maaf ya. Kita dari awal emang nggak sreg sama Widhan. Dan kita paling anti buat deketin dia. Dan ketika kemaren Widhan bikin sesuatu yang nggak mungkin banget, kita bener-bener syok. Sampai-sampai kita nggak sadar kalau misalnya ada seseorang yang seharusnya kita tahan karena pengorbanan dia.”
Santy menatap Achi lekat. Ucapannya itu mewakili yang lain juga. Mereka kaget saat melihat pagi-pagi Rindang sedang berbicara dengan seseorang sambil menerima kardus besar itu. Kardus yang ternyata berisi tentang hadiah-hadiah yang seharusnya diberikan kepada Achi.
“Dibuka, Chi. Ini semua dari Bagas.” Sumi mendorong kardus itu pelan.
Kedua bola mata Achi terbelalak lebar. Ditatapnya teman-temannya, tapi tak ada satu pun yang berani mengangkat suara lagi.
Perlahan, dibukanya kardus itu. Dari bungkusnya saja Achi sudah tertarik. Warna hijau. Apalagi saat Achi selesai membukanya. Matanya benar-benar tak dapat berkedip dan tak dapat memercayai isinya.
Di sana ada berbagai macam hadiah manis untuknya. Sekotak surat dengan warna hijau. Boneka, bunga mawar yang bahkan hampir mengering, bandana lucu, kalung cantik dan berbagai macam hadiah manis lainnya. Dan semuanya bernuansa hijau.
“Tadi pagi dia cerita sama gue semuanya. Dan dia ngucapin selamat tinggal buat lo, Chi.” Rindang tersenyum prihatin. “Katanya, dia mau pergi. Dan dia nggak janji bisa balik lagi, karena dia sebenernya mau balik lagi, tapi nggak bisa.”
Air bening menggantung di kedua bola mata Achi. Tiba-tiba hatinya terasa sesak. Semua itu, semua yang dikatakan Rindang membuatnya tak dapat mengeluarkan suara. Dia seperti kehilangan suaranya. Seperti kehilangan sesuatu di rongga hatinya yang paling dalam.
“Hei!”
Rindang menoleh dengan bingung. Lalu menghampiri Bagas yang memanggilnya tadi. “Ada apa?”
“Lo temennya Achi, kan?”
Cewek itu mengangguk. “Kenapa? Mau titip salam atau mau titip bayaran utang?”
Bagas langsung berdecak pelan. “Serius nih. Gue mau minta bantuan elo.” Tiba-tiba cowok itu memegangi bagian atas perutnya. Wajahnya seperti kesakitan. “Gue mau nitip sesuatu sama lo.”
“Apa? Ganja ya? Wah… gue nggak main yang begituan, Kak. Nggak berani.” Rindang langsung geleng-geleng kepala.
“Gue lagi serius ini. Elo mau lempar ke gunung Everest!?”
Rindang langsung mengangkat kedua tangannya tanda “damai”. “Ya deh, apaan?”
“Sebentar.” Cowok itu masuk ke dalam kelas. Lalu keluar dengan kardus yang terbungkus dengan kertas kado berwarna hijau.
“Apaan nih? Bom?”
“Lo itu bawel banget ya. Gue lempar oncom juga nih.” Bagas mendesis jengkel. Diberikannya kardus itu pada Rindang. “Bilang dari penggemar rahasianya.”
Cewek itu melongo sebentar. Lalu mengernyitkan keningnya. “Hey! Kenapa nggak bilang aja dari Kakak? Segini banyaknya cuma bilang dari penggemar?”
Bagas tersenyum manis. “Gue pingin ngasih ini tulus. Gue nggak mau dia tahu ini dari gue. Yang paling penting adalah isinya. Agar isinya berkesan buat dia.”
Mengingat perjuangannya selama ini, Bagas tergelak sendiri. Ya, demi cewek bernama Achi, dia rela melakukan apa saja. Demi membuatnya sadar akan kehadirannya selama ini. Demi membuat Achi bahagia dengan kehidupannya. Bagas akan melakukan apa pun demi Achi. Demi menghangatkan hatinya yang membeku.
“Elo sakit ya, Kak?”
Bagas tersenyum lagi. “Pembengkakkan hati.”
Kedua bola mata Rindang langsung membelalak lebar. “Gila! Elo sakit pembengkakkan hati dan dengan santainya elo senyum begitu?”
“Senyum terakhir kan nggak apa-apa.”
“Ngaco lo, Kak.” Rindang terdiam. Kali ini dia serius. “Trus elo mau menghilang begitu aja dari Achi? Setelah ngasih ini semua? Gila ya lo, Kak.”
“Cerewet lo. Udah, lo kasih ini sama Achi dan bilang dati penggemarnya.”
Rindang langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Buat ngasih ini sama Achi gue sih setuju, tapi kalo untuk nggak bilang dari siapanya gue nggak setuju. Lagian penyakit lo itu bisa disembuhin kok. Jangan ngomong yang enggak-enggaklah.”
Wajah cowok itu terlihat pucat, tapi dia masih berusaha untuk tersenyum. “Gue udah capek. Eh siapa nama lo?”
“Rindang.”
“Nah… gue udah capek, Rin. Lo tau kan rasanya minum obat setiap hari itu nggak enak? Kadang batuk darah dan gue harus bolak-balik masuk rumah sakit. Gue lelah dan gue merasa gue udah nggak bisa bertahan lagi. Gue milih buat nyerah.”
“Trus… sekarang lo mau ke mana? Bawa-bawa tas begitu.”
“Gue mau pergi ke rumah sakit buat yang terakhir kalinya. Siapa tahu nyawa gue masih bisa selamat, atau kalau pun enggak bisa, gue mau say goodbye sama suster di sana.”
“Sumpah! omongan lo itu ngaco semua. Berhenti ngomongin yang enggak-enggak.” Rindang nggak berani bercanda lagi.  “Trus? Achi gimana? Elo kan suka dia?”
Diceritakannya semua tentang rasa cintanya pada Achi kepada Rindang. Diungkapkannya smeua isi hatinya. Setidaknya, sebelum dia pergi untuk selamanya, ada orang yang menjadi saksi atas perjuangannya selama ini. Walaupun Achi tidak pernah tahu tentang hal itu.
“Jadi… jangan bilang itu dari gue.”

*** ~Rinstriwi~ ***

Achi berlari sekuat tenaga. Mencari kendaraan yang dapat mengantarkannya ke tempat tujuannya secepat mungkin.
Setelah mendapatkan kendaraan, dia segera menuju ke rumah sakit di mana Bagas dirawat. Hatinya yang terdalam tidak ingin kehilangan Bagas. Dia ingin Bagas ada di sampingnya. Dia ingin Bagas tidak meninggalkannya sendiri dan membuat luka di hatinya.
Matanya terbelalak lebar dan jantungnya seperti berhenti berdetak. Keadaan memang sedang macet, tapi pemandangan di hadapannya membuatnya benar-benar ingin loncat ke jurang sekarang juga.
Widhan sedang menoleh ke arah cewek di belakangnya sambil tersenyum. Salah satu tangannya menggenggam tangan cewek tersebut. Cewek yang diketahuinya bernama Serena. Cewek yang notabenenya adalah MANTAN WIDHAN.
Hatinya langsung panas seketika. Perjuangan apa yang dilakukan cowok bodoh seperti Bagas? Seperti apa pun Bagas berusaha membuat Widhan terlihat baik di hadapan Achi, tetap saja berujung yang sama. Cowok itu akan mengalihkan perhatiannya kepada cewek lain.
Sampai di tempat tujuan, Achi langsung berlari mencari kamar di mana Bagas dirawat.
Achi berlari ke mana-mana, tapi Bagas tidak ditemukannya. Cowok itu tidak ada di kamarnya, tidak pula di kamar mandi. Lalu ke mana cowok itu pergi? Kepalanya berputar-putar. Pening langsung menyergap kepalanya. Rasanya dia ingin pingsan sekarang juga.
Akhirnya Achi menyerah. Setelah berlari-lari tak tahu arah tujuan dan suster di sana pun tak tahu ke mana perginya Bagas, dia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jalannya melambat dan tak terburu-buru lagi.
Rasa sesak menyergap hatinya lagi. Rasanya dia tidak dapat bernafas lebih lama lagi. Kenyataan membawanya kepada sebuah kenyataan yang pahit. Di mana ada orang yang berjuang untuknya dan dia hanya melihatnya sekilas walau sempat takjub pada orang itu. Dia terus melihat Widhan, bukan orang lain.
“Achi!”
Achi menoleh dan mendapati Sarah berlari ke arahnya. Cewek itu sepertinya mengikuti Achi dari tadi.
“Elo salah arah. Kenapa malah berhenti di depan kamar mayat begini?”
Achi mengernyitkan keningnya, bingung. “Maksud lo?”
“Tempatnya di taman. Buruan! Elo mau bikin operasi Kak Bagas diundur, hmm?”
Achi langsung lari ke arah taman dengan Sarah di belakangnya. Entah kenapa hatinya terasa lega saat mengetahui bahwa cowok itu masih ada di sini.
Dan matanya langsung terbelalak lebar saat mendapati Bagas sedang duduk di kursi roda dengan dikelilingi teman-temannya. Semuanya memegang balon berbentuk hati.
Ada seorang suster yang membantu Bagas berdiri dari kursi rodanya. Cowok itu mengambil sebuah kotak kecil berwarna hijau, lalu mendekati Achi yang terpaku dalam kebisuan.
Bagas menatap Achi lekat. Kemudian membuka kotak itu perlahan. Dia tersenyum manis. “Sebelum gue menjalani operasi, elo mau nggak ngasih jawaban atas pernyataan gue?”
“Di sini…” Bagas menunjuk dadanya. “Tempat rawan yang udah elo sentuh dengan keajaiban. Dan sekarang mulai runtuh saat tahu elo memilih orang lain.” Bagas terdiam sejenak. “Gue sebenernya…”
Achi tidak dapat menahan isakkan tangisnya. Cowok di hadapannya ini mau operasi, dan demi apa pun, dia masih di sini menunda operasinya demi mengungkapkan cinta pada Achi.
Dipeluknya Bagas sambil menangis. Membuat Bagas menghentikkan kalimatnya.
“Nggak usah banyak ngomong. Gue juga suka sama lo. Tapi please, selametin diri lo dulu. Baru berbuat yang aneh-aneh.”

“Jawaban elo itu yang akan menyelamatkan gue dari penyakit gue.” Bagas tersenyum dan membalas pelukan Achi dengan erat.

~END~


You may also like

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram