Embun pagi yang paling aku suka. Ketika matahari bersinar malu-malu dan udara dingin masih menyelimuti kulit. Ketika jejak kaki tertinggal di atas tanah di dekat taman sekolah. Ketika pintu kelas telah di buka oleh salah satu teman dan teman yang lain menyapa di pintu kelas dengan senyuman sumringah. -- Di saat mereka memanggil nama ku dan mengajak ku masuk ke dalam kelas. Berbincang-bincang tentang apa yang mereka lakukan kemarin dan apa yang aku lakukan kemarin. Sama-sama berbagi cerita. -- Keramaian selalu menyelimuti keadaan kelas ini. Di saat murid-murid membuat lelucon lucu yang membuat yang lain tertawa. Bahkan guru sekalipun, meskipun kadang tidak tepat waktunya sehingga guru marah. -- Saat yang paling aku nantikan adalah bangun pagi dan menyambut teman-teman yang lain. Teman-teman yang sudah ku kenal di saat susah dan senang. Di saat kami kehabisan ide untuk mengerjakan tugas. Di saat kami mencari akal untuk menyelesaikan semuanya. Di saat kami memutuskan urat malu kami untuk menghibur satu dengan yang lainnya. -- Dan di saat perpisahan, kami sama-sama tidak secepat itu melepaskannya. Satu tahun penuh makna. Dari MOPD sampai sekarang. Dari awal hingga kini. Dari berbagai macam sekolah. Dari berbagai macam sifat dan akhirnya kami mengenal satu sama lain. Memahami sifat mereka. Mengetahui harus berbuat dan bertindak seperti apa. -- Kami memang tidak akan selalu bersama. Tapi kenangan yang ada selalu menyertai kami. Selalu terbayang. Kadang kita merasa tidak ada semangat karna kita tidak satu lagi, tapi suatu saat nanti, mungkin kita bisa menerimanya. -- Aku tidak menyesal telah mengenal mereka. Meskipun terkadang terjadi perselisihan di antara kami. Itu berarti kami peduli. Kami saling mengenali. -- Kehangatan saat yang lain memerdulikan yang lain dengan cara yang tak kasat mata. Namun dengan tindakan yang mungkin dianggap menyebalkan. Mereka ada. Untukku di saat aku butuh teman. Di saat aku merasa sepi. Di saat aku kehilangan ide. Saat aku berada di ujung batas kesabaran. -- Jika ada bintang jatuh, satu permohonanku. Bisakah kami bersama lagi? Di dalam satu kelas menghabiskan waktu kami bersama? -- Bisakah kita kembali ke masa yang dulu? Atau mempertahankan kebersamaan ini sampai akhir? Bisakah? -- Entah~ karna kita akan terpisah dua tahun untuk selamanya~ Dengan penuh cinta...
Kenapa sih judulnya We're the One and Never Change? Yup! Ini adalah kalimat yang tertera lebar di baju kelas. Kelas X-6, kelas gue. Melihat betapa perjuangan yang kita lewati sebagai kelas dengan predikat terburuk, gue sempet terharu. Dari anak-anak yang lebih banyak bikin huru-hara ada di kelas gue, tapi sesaat sebelum itu semua hilang, huru-hara itu dirindukan. Huru-hara itu menjadi sebuah hiburan yang membuat kita sekelas tersadar, bahwa kita cuma punya satu tahun untuk bersama. Diawali dengan MOS yang super kejam karna ketat banget. Dari hukuman-hukuman yang selalu menerjang kelas kita sebagai kelas yang sangat amat pasif dalam kebaikan dan sangat amat aktif dalam membuat kekacauan. Awalnya, gue merasa gue bener-bener dapet kelas yang WAW ANCUR BANGET! Tapi di balik itu, kelas yang gue anggap ancur itu ternyata lebih baik dari yang gue kira. Mereka nggak pilih-pilih teman~~~ yah, beberapa harus diakui kalau ada yang berteman karna ingin memanfaatkan. Kelas yang penuh canda tawa, luapan kegembiraan, kerja sama, dan berbagai hal yang cukup mampu diacungi jempol. Yeah, waktu MOS kelas kita dapat predikat sebagai kelas TER-KOMPAK! yeah, kompak banget bikin kerisuhan. Di mata guru-guru, mungkin kelas ini seperti kelasnya para evil-evil. Tapi evil imut, hahaha. Yang ini bercanda, oke serius. Kita nggak mungkin dibilang evil imut kayak si maknae Kyu Hyun -_-". Kita disebutnya evil yang benar-benar evil. Istilah kasarnya, setan sih. Kelas ini menyimpan sejuta kenangan, meski kita masih dalam satu sekolah, kita nggak bisa pungkiri kalau kita pasti amat sangat jarang ngobrol. Alasannya pasti satu yang utama, tugas numpuk dan biasanya kita yang selalu bersama untuk menyelesaikannya sekarang nggak bisa bareng-bareng lagi. Hidup ini memang nggak adil. Mau seperti apapun do'a kita buat bersama lagi, kalau jalannya sudah begini, pasti kita juga bakalan pisah. Suatu saat mungkin kita semua bisa bareng lagi. Nggak sekarang, mungkin saat takdir menyatukan kita kembali. Untuk segala perbuatan, segala tingkah laku, tutur kata yang sengaja maupun tak disengaja, maafin ya. Nggak maksud kok buat melakukan hal itu, mungkin karna terbawa emosi sesaat atau semacamnya. Kita nggak benar-benar terpisah kok. Kita nggak terpisah sejauh Negara Indonesia ke Negara Amerika. Kita hanya berbeda jarak beberapa meter. Kita hanya berbeda kelas, berbeda guru dan berbeda hal-hal kecil. Nggak sampai berbeda negara ataupun berbeda presiden. Kita masih bisa bertemu, bertegur sapa, tersenyum dan lain-lain. Kenangan tetap kenangan. Mungkin bagi beberapa orang mudah untuk melupakannya, tapi semoga untuk kita tidak. Meskipun~~ melewati waktu tanpa kalian. Gue pasti kangen celotehan kalian. Yang sering ngebully gue -_-". Yang kompakkan cinloknya juga. Hahaha, untuk yang satu ini saya hanya cukup diam. We're the One and Never Change. With Love, RRP... ":)"
Sesaat aku menatap rumah yang dulu sering kumasuki. Yang sering kulewati. Yang sering kulihat setiap hari. Namun, itu dulu. Berbeda dengan sekarang. Rumah itu sangat amat jarang kulihat seperti dulu. Berubah karena ada sang waktu.

Dan sepertinya pemilik rumah itu ikut berubah, bukan secara fisik, namun secara perasaan. Perasaan yang dulu tercurah akibat pertemanan yang terjalin di antara satu dengan yang lain menimbulkan perasaan tersendiri. Ada yang masih merasa itu adalah persahabatan, namun ada yang menganggapnya itu bukanlah perasaan biasa.

Dulu aku terpaku dalam kebisuan. Memilih di antara dua orang yang dulu kuanggap sebagai teman. Aku diam. Lidah kelu tak mampu mengucapkan satu patah katapun hingga akhirnya aku memang harus benar-benar memilih. Tapi... apa yang kupilih bukan salah. Melainkan ini memang takdirnya.

Aku terlalu buta. Tak seharusnya aku memilih meski aku kini mengharapkan salah satu di antara mereka. Aku buta akan kasih sayang. Aku haus. Aku menginginkannya. Seharusnya aku berkata TIDAK untuk menyelesaikan semua masalah.

Jika aku mengatakannya, mungkin kini kami masih bersama. Bersahabat seperti dulu. Dekat. Bermain bersama. Saling ejek dan tersenyum bahagia. Menyeruakkan nada-nada dari gitar. Menyanyi bersama hingga akhirnya berakhiran bahagia.

Kesalahan yang terletak pada diriku. Kesalahan itu sebenarnya tak harus kusesali, namun harus kuambil hikmahnya. Kini yang terpenting, kepekaanku terhadap perasaan orang lain yang ada di dekatku.

Aku mungkin akan diam untuk menyimpan segala kegundahan yang setiap hari menggerogoti hatiku.
Hey, I come back #loh?
Hope you'll like this guys! :D

“Bisa anterin aku masuk?”

Ata menatapnya bingung.

“Aku takut nggak kuat saat aku masuk dan melihat Mama dalam keadaan kacau. Dan Papa marah-marah.”

Ata terdiam, lalu mengangguk.

Dengan perlahan, Ata membuka pintu yang satunya lagi sehingga terbuka lebar. Dan saat kedua sampai di ruang tamu, mereka medengar hal yang tak pernah mereka inginkan.

“Kalo begini terus, Mentari nggak akan tahu kalau Mentari adalah adik dari Matahari Senja dan Matahari Jingga!” ungkapnya dengan nada tegas. Kedua orang di hadapannya sedang terdiam membeku saat menyadari sesuatu.

“Mentari...” gumam mamanya. Kedua tangannya menutup sebagian wajahnya.

Tante Lidya menoleh. Bukan kaget biasa. Dia lebih kaget lagi saat melihat Mentari berada di pelukan Ata.

Mentari diam membeku. Masih di tempat dan masih berada di pelukan Ata. Keduanya tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dan menunggu yang lain untuk menjelaskan.

***

“Mama kamu...”

“Selingkuh?”

Tante Lidya hanya mengangguk.

“Dengan Ayahnya Ata?”

Tante Lidya diam. Ia menatap Mentari nelangsa. Tidak ia sangka kalau Mentari malah berpacaran dengan kakak tirinya. Meskipun bukan secara hukum.

“Kenapa Tante nggak bilang dari awal pas ketemu sama aku?”

“Tante pernah mau kasih tau kamu, tapi kamu nolak. Karena kamu merasa nggak perlu tau. Dan Tante juga ngira kalau kamu sama Ata hanya sebatas teman kecil.”

Sekarang gantian Mentari yang diam. Entah perasaan apa yang kini ada di hatinya. Rasa yang tidak dapat di artikannya dengan s ebuah kata-kata.

Perasaan yang muncul di saat ia mulai mensyukuri kehadiran Ata di dalam hidupnya dan mencoba menepis perasaannya dengan laki-laki lain.

“Aku nggak tau harus gimana...” Mentari menggelengkan kepalanya berkali-kali.

“Sekarang yang penting bukan hubungan kamu sama Ata, tapi hubungan orang tua kamu. Kalau urusan yang itu selesai, otomatis urusan kamu sama Ata akan terselesaikan.”

***

“Eh, adek...”

“Nggak usah nyindir gue bisa nggak?”

“Gue nggak nyindir lho, Men. Gue kan pingin terbiasa aja manggil elo adek gue.”

Mentari menatap Ari dengan bingung. Cowok itu kini terdiam. Tatapannya lurus ke depan. Memfokuskan ke satu arah yang Mentari nggak tahu dimana fokus itu berada. Yang dilihatnya adalah tatapan sinis. Dingin. Terkendali.

Cowok itu berusaha untuk mengendalikan perasaannya. Mentari tahu, karena dirinya-lah yang menyebabkan orang tua Ari bercerai.

“Maaf...”

“Untuk apa?”

“Kalo gue nggak pernah ada, mungkin orang tua elo nggak bakal bercerai.”

“Ini bukan salah elo.”

“Ini salah gue.”

“Nggak ada yang salah. Ini takdir. Nggak semestinya kita melawan takdir atau bahkan menyesalinya. Karena itu memang sebuah takdir. Takdir yang sudah di tentukan dan nggak mungkin berubah. Kadang, gue sadar... takdir nggak selalu sempurna,”

Mentari diam.

“Ata pasti nggak bisa terima...”

Mentari menoleh. Di tatapnya Ari dengan tanda tanya.

“Dia terlalu suka sama elo. Dia sayang. Dia... cinta sama elo. Sangking cintanya, dia pernah bilang, nanti kalau selesai kuliah, dia mau lamar elo.” Ari menghembuskan nafas berat. “Gue sama Ata sama. Kalau udah suka sama orang, nggak bisa ngelepas orang itu begitu aja. Apapun alasannya. Dan nggak mungkin bisa lupain orang itu buat selamanya.”

Ini bahkan bukan sesuatu informasi yang terdengar baik di telinga Mentari.

Kini ia menyadari, begitu keegoisan itu tampak pada dirinya. Ia mencintai orang lain saat ada orang lain yang sudah di milikinya begitu mencintainya, dan ia tak membalasnya dengan perasaan yang sama lagi.

“Gue tau dari awal kalo elo nggak perlu berat-berat ngelepas Ata.”

“Maksud elo?”

“Perasaan suka lo sama Ata udah ilang semenjak elo kenal Oji.”

Mentari diam. Kaget dengan tubuh yang menjadi kaku.

***

“Mentari!”

Mentari menoleh dan mendapati Oji sedang berlari ke arahnya. Namun, ia sadar akan sesuatu. Jadi, ia balik badan dan meneruskan jalan dengan cepat. Namun, tangannya di cekal Oji dengan cepat.

“Jangan pergi!”

“Gue udah bilang untuk anggap kita nggak pernah ada hubungan!”

“Elo udah nggak punya alasan untuk nyuruh gue kayak gitu!”

Kali ini Mentari menoleh. “Apa maksud elo?”

“Gue tau kalo Ata itu adalah kakak tiri elo. Bukannya mau buka aib atau apa, gue cuma pingin elo tau kenyataan itu. Elo dan dia nggak bisa bersatu!”

“Oji! Gue nggak perlu kata-kata kasar elo itu!”

Mentari jadi merasa kalau Oji yang di hadapannya bukanlah Oji yang ia kenal sebenarnya. Cowok itu tampak beda dengan sikapnya.

Dengan kuat, Mentari menepis tangan Oji.

“Tar, elo itu nggak akan bisa bersatu sama Ata. Sadar! Sadar, Tar!”

“Ji, elo kenapa sih? Gue nggak kenal elo yang begini! Elo yang gue lihat sekarang bukan Oji yang gue kenal!”

PLAK! Mentari menampar Oji. Membalikkan badannya, lalu pergi.

Dan saat itu juga, Oji sadar sesuatu. Apa yang ia lakukan tadi? Itu bukanlah dirinya. Dirinya bukanlah seseorang yang memaksa orang lain untuk membalas perasaannya. Dirinya adalah orang yang mencintai dan rela di sakiti untuk orang lain.

Kedua tangan Oji mengepal keras. Lalu kedua tangannya mengacak-acak rambutnya dengan kesal.

“Maaf, Tar. Gue emosi...”

“Kadang elo salah mengartikan tatapan seseorang, Ji.” Tangan itu menepuk pundaknya.

Oji menoleh dan mendapati Ridho sedang menatap ke arah koridor yang lenggang itu dengan tatapan aneh.

“Dho, bukannya elo nggak...”

“Gue emang nggak suka sama dia dari awal. Tapi gue nggak suka ngeliat elo berubah begini, Ji. Elo kasar. Walaupun gue nggak suka sama Mentari, tapi gue nggak suka liat elo berubah kasar ke orang. Meskipun orang itu Mentari.”

***

“Sekarang, elo cari cara untuk ngancem Hera.”

“Maksud, Bos?”

“Elo bilang sama Hera. Celakain tu cewek! Karena kesempatan dia buat ketemu sama Oji malah lebih besar sekarang!”

“Kok bisa?”

“Jangan banyak tanya! Kebanyakan tanya, gue potong upah lo!”

“Ehhh... jangan, Bos. Iya, iya...”

“Dan jangan sampe Hera lengah karena orang itu Mentari.”

Anak buahnya hanya mengangguk, lalu pergi.

***

“Maafin gue, Tar!” Oji menggenggam tangan Mentari dengan erat. Takkan membiarkan cewek itu pergi.

Dari kejauhan, Ata melihat itu. Melihat Mentari yang kini sedang mencoba melepaskan diri dari Oji.

“Lepasin dia!” bentak Ata dengan mata yang mulai memunculkan bara api kemarahan.

“Ta, gue cuma mau...”

“Gue nggak perlu alasan elo! Dari mata gue, gue tau. Elo maksa dia!”

Dengan satu gerakan, tangan Ata menghantam perut Oji dengan kasar. Oji meringis, tapi tak mencoba untuk melawan. Ia tidak ingin melawan Ata.

“Ata... ata... udah...”

“Dia maksa kamu!” Mata Ata melirik Mentari yang kini bingung harus berbuat apa-apa. Ata salah paham!

Satu pukulan lagi. Ia arahlan ke arah wajah Oji. Tetap saja, Oji tidak melawan. Tidak akan pernah melawan.

“Elo punya Fio! Inget itu, Ji!”

“Gue tau... gue cuma mau minta... maaf...” katanya dengan terbata-bata.

Ata melepaskan cekalan tangannya pada kerah Oji. Ia diam dan menatap Oji. Mencari sebah kebohongan. Ia tidak akan pernah rela kalau Mentari di sakiti.

“Gue nggak percaya!” Lalu di pukulnya lagi Oji dengan hentakan yang lebih keras lagi. Membuat Oji terhempas di tanah begitu saja.

Di tariknya Mentari pergi dari tempat itu. Tidak akan ia biarkan Mentari untuk yang lain. Mentari hanya miliknya meski ia tahu bukan sebagai seseorang yang spesial seperti dulu. Karena sudah ada tembok besar yang memisahkan mereka berdua. Membuat jarak yang bahkan mungkin tak dapat bisa di tembus kecuali dengan sebuah ingkaran.

Keduanya terdiam.

Yang ada di dalam pikiran Ata adalah Mentari harus jauh dari Oji. Mentari harus bersamanya, meski dalam hubungan yang tak lebih. Meski ia harus merobohkan batas itu.

Jangan begini, Ta. Jangan... aku nggak mungkin menyimpan kemunafikkan ini lagi. Aku nggak mau kamu sakit. Aku nggak mau kamu tau bahwa hatiku memang bukan untukmu. Aku nggak mau membuat kamu malah merobohkan setiap batas yang terlentang di antara kita berdua. Aku... nggak mau.

“Sebagai.... eng... Kakak, gue harus tau keadaan lo, Tar. Elo wajib cerita!”

Mentari menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Sementara Ata langsung menoleh saat di rasanya Mentari tak mengikutinya berjalan.

“Ada apa?”

“Eng... eh... nggak, Kak. Sori, gue enggak cerita apa-apa tentang ini sama Kakak.”

“Kenapa Ari yang selalu adi tempat lo bersandar?”

“Apa?”

“Ari tau tentang elo. Semuanya! Dia tau masalah lo, dia ngerti gimana elo, dia tau keadaan lo... tapi, gue enggak!”

Mentari menatapnya bingung. Ia bahkan enggak pernah cerita apa-apa pada Ari. Dia selalu menutup semuanya begitu rapat.

“Karena elo nggak peka, Ta.”

Keduanya menoleh ke arah suara. Tampak Ari dengan kedua tangan yang terlipat di dada merapat menatap mereka dengan tatapan datar.

“Elo nggak pernah peka dengan apa yang Mentari rasain!”

“Maksud lo?”

“Elo bahkan nggak pernah ngerti perasaan Mentari. Apa dia udah berubah, atau dia masih tetap sama. Apa dia butuh elo, apa dia butuh orang lain, elo nggak pernah tau itu.”

“Gue nggak minta pendapat lo tentang gue!”

“Kenyataan, Ta. Kadang gue berfikir sisi positif ada di elo dan negatif ada di Mentari. Tapi... ternyata salah. Keduanya memiliki positif dan negatif. Mentari nggak salah, elo juga. Ini takdir, Ta. Elo tau? Seharusnya elo udah ikhlasin hubungan itu.”

***

Kasar.

Terasa kasar di mana-mana. Sikap, sifat, keadaan, perasaan, semuanya! Tiada yang mampu membuatnya merasa nyaman. Ia harus merasakan kekasaran hidup yang terlalu berliku. Terlalu berliku hingga ia bahkan tak dapat menerobos jalan yang lurus.

Kerapuhan semakin lama semakin muncul. Namun, kadang membuat keyakinan untuk mengakhiri hidup.

Mentari berdiri di halte bis yang sedang kosong. Hujan lebat turun tak henti-hentinya. Meneteskan setiap mili air yang ada. Membasahi setiap tikungan kota.

“Tragis. Hidup gue begitu tragis. Nggak ada harapan.”

“Hidup kamu memang tidak ada harapan lagi, Mentari!”

Mentari menoleh dan mendapati sosok cewek dengan jubah putihnya. Cadar putih menutupi sebagian wajahnya. Membuat Mentari tak mengenali sosok itu dengan jelas.

“Dan tidak pantas untuk di pertahankan! Mianhe,”

Mentari memejamkan mata saat sosok itu mengacungkan pisau tajamnya. Tubuhnya tidak mau melawan atau bergerak menjauh. Tubuhnya menginginkan goresan.

“LEPAS! GILA YA LO!”

Saat itu juga Mentari membuka matanya. Seseorang berdiri membelakanginya. Tinggi, tegap, dan sosok itu sedang mencekal tangan seseorang yang ingin membunuhnya.

“Ridho...”

Terlihat Ridho berusaha membuat orang itu tidak kabur. Mencekalnya dengan kuat saat orang itu mulai mencari cara untuk kabur.

Dan saat ia membuka perlahan cadar putih yang menutupi sebagian wajah putih itu, Ridho terbelalak lebar tak percaya.

“Hera???”

Bahkan Mentari tak dapat memercayainya itu. Seorang sahabat yang ia kenal, namun kadang tak ia akui itu membuatnya tergores. Bukan di fisik melainkan di batinnya. Di kejiwaannya. Perasaannya yang paling peka.

“Hera? Nggak mungkin!” Mentari mengkilah dengan gelengan kuat saat Ridho mengatakan siapa cewek itu.

“Dia Hera, Tar!” desis Ridho tak percaya. “Gue nggak nyangka elo begini! Maksud elo mau bunuh Mentari apa!?” Matanya menyipit ke arah Hera.

Hera merasa tubuhnya dingin. Detak jantungnya terpacu begitu cepat. Darahnya bergejolak. Ia bungkam seribu bahasa. Tak dapat di keluarkannya satu alasan yang sedang mengancamnya.
Bibirnya sudah terbuka, namun kalimat itu tak terungkap.

“Bilang sama gue, kalo ini bukan ide lo? Iya kan, Ra?” Mentari mendekati Hera, namun malah di cekal oleh Ridho. Cowok itu langsung menyembunyikan Mentari di belakang punggungnya.

“Ma... maaf, Hye Ri.”

“Nggak salah lagi. Elo cemburu sama Mentari karena dia deket sama Oji?” Ridho melirik sinis Hera.

“Awalnya aku pikir ini ide yang bagus. Hanya untuk menggertakmu, Hye Ri. Mencoba menabrakmu, dan kini hampir membunuhmu. Tapi saat aku urungkan niatku, ada seseorang yang membuatku terancam.”

“Terancam?” gumam Mentari.

“Lo ikut gue!” Tunjuk Ridho pada Hera. Kini ia genggam erat tangan Mentari yang mendingin. Ia bawa keduanya pergi dengan mobilnya.

***
Sekarang, Mentari menatap ke depan. Yah, ke arah Ata. Bukan waktunya untuk menginginkan apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu tidak mungkin. Sesuatu yang sangat tidak mungkin untuk keduanya.

Apa yang Mentari lakukan? Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan dulu. Bahkan ia sempat merasa hampa saat mengetahui teman kecilnya sudah memiliki “matahari” lain, bukan dirinya. Kenapa Mentari tidak mensyukuri semuanya?

Setelah apa yang ia inginkan menjadi miliknya?

Terlalu egoiskah dirinya? Atau memang waktu yang memaksanya untuk bersikap egois.

“Kamu kenapa, Tar?”

Mentari langsung menyadarkan dirinya. “Ah, iya? Kenapa, Ta?”

“Aku tanya, kamu kenapa? Bukan aku...” Kedua tangan Ata memegang wajah Mentari.

Ia terdiam. Bola matanya menatap lurus ke arah bola mata Ata. Lalu ia tersnyum dan menggeleng. “Enggak, Ta. Aku cuma ingin bersyukur.”

“Bersyukur?” Ata jadi bingung.

“Karena aku bisa milikin kamu. Itu sesuatu yang mungkin aku nggak sadari.”

Ata tersenyum lalu memeluk Mentari, dan Mentari membalas pelukannya dengan hangat.

Kali ini, ia mencoba mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Begini lebih baik, daripada melukai hati orang lain bahkan Fio, teman kecilnya.

“Aku sayang kamu, Tar.”

“Aku juga...”

***

“Rhaujiii...”

Hera berlari kecil ke arah Oji yang sedang membaca isi mading.

“Eh, hai Hera...” Oji menoleh dan tersenyum pada cewek itu.

“Lagi ngapain?”

“Cuma liat-liat aja kok, Ra. Kamu tumben baru keliatan? Kemana aja?”

“Oh...” Hera terdiam. “Nggak kemana-kemana kok, Ji. Aku lagi males keluar, jadi aku di apartemen terus.”

“Sebentar ya, Ra. Aku mau ke Ridho dulu. Mau ambil pesenanku. Sebentar kok, nanti aku balik ke sini lagi!” katanya.

Hera mengangguk. Sementara Oji sudah pergi dan menghilang di ujung koridor.

“Kemaren-kemaren elo males keluar?”

Hera menoleh kaget saat Ari sudah ada di sebelahnya sambil mengatakan hal itu. Apa Ari tau sesuatu???

“Iya.”

“Atau elo takut ketauan karena udah bikin temen lo hampir kecelakaan?”

“Maksud kamu apa, Ri? Aku nggak ngerti,” Hera merasa tubuhnya panas dingin. Ia merasa Ari benar-benar tahu sesuatu.

“Nggak usah pura-pura bego deh, Ra! Gue tau, elo yang bikin Mentari hampir aja ketabrak kan, waktu itu!? Gue tau elo nggak suka kalo Mentari deket-deket sama Oji? Tapi seharusnya elo liat kenyataan!”

“Tapi aku...”

Saat itu Oji sudah kembali, namun saat ia melihat Hera sedang berbicara dengan Ari, ia lebih memilih untuk mendengarkannya di balik dinding.

“Mentari menganggap Oji hanya sebatas teman! Dan elo harus tau, kalo elo nggak suka Mentari deket-deket sama Oji, elo bilang baik-baik sama dia! Lagi pula Oji udah punya pacar! Dan dia Fio.”

Oji masih mendengarkannya di balik dinding. Satu kenyataan yang membuatnya terdiam lebih lama di balik dinding itu. Bahwa Mentari hanya menganggapnya sebatas teman!

“Ari... aku...”

“Gue nggak nyangka elo jadi temen yang begitu kejam! Gue tau kok, elo bohong kan tentang penculikan itu. Bukan Mentari yang nyulik elo. Sekarang gue baru tau, elo adalah cewek jahat! Elo tau, kalo Oji bisa milih, itu Mentari atau Fio. Keduanya cewek baik!” Ari menatap Hera tepat di manik matanya. “Inget itu, Ra!”

Kemudian Ari langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Hera yang masih tercengang atas kedatangan cowok itu. Ari benar-benar tau sesuatu tentang dirinya dan tentang apa yang ia lakukan.

“Hera! Udah lama nunggu?” Oji keluar dari persembunyiannya di balik dinding.

“Eh...” Hera langsung tergeragap. Bingung akan melakukan apa. “Eng... enggak kok, Ji.”

“Habis ngobrol apa sama Ari?”

Telak! Hera langsung terdiam membisu akibat pertanyaan itu. Ia tak mungkin mengungkapkan semuanya pada Oji. Itu terlalu berbahaya untuk dirinya.

“Emmm... dia cuma nanyain kabar aku aja kok. Soalnya dia jarang liat aku,” ungkapnya berbohong.

“Ooh!”

Hanya itu tanggapan Oji, karena Oji tahu jelas kalau Hera sedang berbohong dan itu menambah keyakinannya kalau bukan Mentari yang melakukan penculikan itu.

Ia harus meyakinkan Mentari baik-baik saja. Karena mungkin Mentari akan dicelakai Hera atau orang lain yang mungkin membencinya.

***

“Mentari!” Oji memanggil Mentari dari kejauhan.

Yang di panggil langsung menoleh. Saat Oji tersenyum, Mentari membalasnya dengan senyuman juga. Dengan cepat, Oji menghampiri Mentari yang masih berdiri di dekat pohon.

“Hei!” sapa Oji agak gugup. “Apa kabar?”

Mentari langsung tertawa cekikian. “Baik,” katanya sambil tersenyum geli. “Heran deh, tiap hari kita ketemu tapi elo masih aja nanya kabar gue gimana. Padahal elo tau kalo gue baik-baik aja.”

Oji langsung terdiam. Malu.

“Emmm... gue kan pingin tau aja keadaan lo. Bukan secara fisik aja, tapi secara perasaan elo juga.”

Tanpa sadar Oji malah mengatakan apa yang seharusnya tidak ia katakan. Karena itu membuat Mentari goyah dan terdiam beberapa saat sebelum menjawab.

“Gue baik-baik aja, Ji. Secara fisik dan perasaan. Gue selalu baik-baik aja.”

“Yakin?”

“Ya iyalah...”

“Lo belom baikan sama Hera?”

“Ya begitulah,” Mentari mengangkat bahunya. “Dia nggak mau kasih gue penjelasan dan nggak mau percaya kalo bukan gue yang nyulik dia.”

“Dia terlalu jahat buat elo, Tar.”

“Maksud lo?” Mata Mentari mendelik. Perasaannya terpancing. Marah. Jelas, Hera kan teman baiknya selama ia tinggal di Korea dan rela pindah negara hanya untuk menemani Mentari yang kesepian. Dan haus akan kasih sayang.

“Elo emang nggak tau apa pura-pura nggak tau?”

Mentari jelas nggak ngerti maksud Oji. Tiba-tiba bilang kalau Hera terlalu jahat untuk dirinya. Padahal dia yang awalnya jahat pada Hera karena sudah berani-beraninya mencari tahu tentang masalah keluarganya.

“Tar,”

“Hmmm...”

“Jawab!”

“Gue nggak ngerti. Sumpah!”

“Dia yang hampir nabrak elo waktu elo lagi nunggu Ata jemput elo di depan kampus.”

“Ha? Kok elo tau tentang kejadian gue hampir di tabrak? Siapa yang kasih tau?”

Mentari heran. Dia selalu tutup mulut terhadap masalah-masalah seperti itu. Masalah kecil baginya. Dan dia juga percaya kalau Ari orangnya nggak ember. Tau sendirilah kalau cowok, apalagi cowok macam Ari. Yang pertama kali ia lihat adalah kelembutan.

“Gue nggak sengaja denger percakapan Hera.”

“Gue nggak percaya.” Mentari geleng-geleng kepala.

“Tapi itu nyata, Tar!” Oji bersikeras agar Mentari dapat memercayainya.

“Udah! Gue juga nggak peduli sama masalah itu. Udah lewat, Ji. Sekarang yang terbaik, elo urusin urusan elo dengan Fio dan urusan gue dengan Ata. Kita jalan sendiri-sendiri!”

Oji terdiam. Tetap mendengarkan apa yang di katakan oleh Mentari.

“Gue tau, perasaan ini nggak akan mungkin pernah bisa menyatu.”

***

“Mau es krim?”

“Enggak.”

“Mau coklat?”

“Enggak.”

“Trus kamu maunya apa?”

“Kamu...”

Mentari langsung mencubitr lengan Ata dengan genit. “Nggak usah gombal deh!”

“Jadi nggak mau di gombalin nih sama aku? Ooh, aku maunya di gombalin sama si Ari?” Ata terkekeh geli.

“Udah deh, waktu itu kan aku nggak tau kalo itu sodara kembar kamu. Dan anggap dia teman kecil aku yang udah bikin janji sama aku.”

“Gantengan mana aku sama Ari?”

Mentari bengong.

“Pertanyaaan kamu aneh deh. Kamu kan kembar sama Ari. Muka kamu sama. Jadi, bedain gantengnya gimana?” Bola mata Mentari membesar. “Sebenernya yang bloon siapa sih!?”

“Kamu ngatain aku bloon?”

“Enggak. Cuma... bego!”

Dengan gerakan cepat Ata mencium pipi kanan Mentari.

“Ata...” desis Mentari sambil mengusap-usap pipinya.

“Sekali lagi kamu katain aku bego, aku bakal cium bibir kamu.”

“Di depan semua orang?” Mata Mentari membulat. “Enggak ah!”

“Jadi maunya di tempat sepi? Oke deh!” Ata menyeringai nakal.

“Iih, aku kan bercanda ngatain kamu bego. Kamu nggak bego kok, cuma... cara pikir kamu itu aneh!”

“Duh, yang dewasa. Aku ngaku kalah deh...” Ata mencubit pipi Mentari dengan gemas.

“Iih, nggak usah pake cubit-cubit deh!”

“Itu kan tanda sayang...”

Gantian Mentari mencubit pipi Ata. Kalo Mentari nyubit orang, pasti pake tenaga kuli. “ARGH!” Ata menjerit. “Sakit, tau!”

“Itu kan tanda sayang...” Mentari tersenyum meledek.

***

Dari balik kaca, meskipun jaraknya agak jauh, Oji masih bisa melihat kemesraan di antara Ata dan Mentari. Dua orang yang kini benar-benar terlihat serasi di matanya. Dia mengakui, ada luapan marah. Luapan yang tak bisa ia keluarkan begitu saja di hadapan Mentari dan Ata.

Respon yang di terima pasti adalah penolakan. Penolakan tajam yang sangat pahit untuk Oji. Untuk semua luapan marahnya.

Pintu toko roti itu terbuka. Dan keluarlah sosok Fio yang mengenakan dress selutut dengan warna biru. Ia tersenyum gembira ke arah Oji sambil menenteng bungkusan yang berisi roti.
Fio membuka pintu mobil.

“Aku beliin kamu roti rasa cokelat, dan Chocolate panas.” Fio tersenyum sambil membukakan pintu.
“Makasih, Fi.”

Sekarang, keadaan memang benar-benar sangat berubah. Hubungan Oji yang sekarang mungkin lebih agak melembut karena sebelumnya, Oji masih tidak bisa menerimanya. Hanya bisa menerima Fio karna kasihan.

“Nanti kita lihat sunset bareng di danau? Ya, kan?”

Oji terdiam. Sunset itu biasanya ia lihat bersama Mentari. Paling tidak, kalau bukan Mentari, ia masih bisa melihatnya bersama Ridho atau Ari. Apalagi Ari yang penggila sunset. Sesuai dengan namanya.

“Oke!” Oji tersenyum. Senyum yang di paksakan.

“Oji...”

“Ya?”

“Elo masih kayak dulu kan?”

Oji tahu pertanyaan itu membunuh. Pertanyaan yang setiap kali ia dengar, ia takkan bisa menjawabnya. Karena sebenarnya, hatinya sudah berlabuh pada Mentari. Sosok yang ada saat Fio mencampakkannya.

“Masih kok, Fi.”

Dan Fio tersenyum senang dan menang!

***

Mentari membuka pintu rumahnya dengan perasaan kacau balau. Suara pecahan barang-barang beling terdengar nyaring sampai ada suara yang membuat Mentari terdiam membeku.

Di dekat pagar masih ada Ata yang sedang menunggunya untuk masuk. Saat Mentari menoleh, Ata hanya dapat tersenyum sarat pengertian.

“Kalian mau sampai kapan begini?” Suara Tante Lidya membuat Mentari dan Ata juga terdiam. “Kasihan Mentari. Dan sampai kapan kalian mau sembunyiin tentang status Mentari kalau Mentari bukanlah anak kandung ayahnya.”

Kedua tangan Mentari menutupi setengah wajahnya. Air mata tak tertahankan itu langsung tumpah. Tanpa menunggu semua terkuak.

Ata berdiri mematung di pinggi mobil Everestnya. Mobil yang Ari bagi dengannya. Bahkan Ata tak tahu tentang pertengkaran kedua orang tua Mentari. Ia hanya tahu Mentari selama ini baik-baik saja tanpa ada masalah.

Yang membuatnya lebih kaget adalah suara Tante Lidya disana. Entah untuk apa ia disana, mungkin untuk menyelesaikan semua yang terjadi.

“Untuk apa kalian bertengkar terlalu lama? Ini sudah bertahun-tahun. Kalian tahu, Cinta memang di takdirkan untuk tidak hidup lebih lama.”

Ata yang mendengar setiap perkataan itu mulai mendekati Mentari. Dan saat ia lihat cewek itu sedang menahan isak tangis yang memburu.

“Cinta... siapa?” Ata bertanya pelan.

“Dia...” Mentari terdiam di tengah-tengah isakan tangisnya. “Adik aku yang udah meninggal...”

Ata diam.

“Dia selingkuh, Lid!” Suara Ayah Mentari terdengar lantang.

“Masih persoalan yang dulu? Kenapa? Kenapa masih kamu ungkit, padahal di kedua belah pihak udah setuju untuk tidak mempermasalahkan ini lagi!”

Yang paling menyakitkan telinga Mentari adalah saat mamanya menangis menangis tersedu-sedu.

“Kasihan Mentari nggak tau kalo dia punya saudara lain. Meskipun enggak satu keluarga.”

Ata merengkuh Mentari ke dalam pelukan. Membuat cewek itu merasa lebih tenang.

“Bisa anterin aku masuk?”

Ata menatapnya bingung.

“Aku takut nggak kuat saat aku masuk dan melihat Mama dalam keadaan kacau. Dan Papa marah-marah.”

Ata terdiam, lalu mengangguk.

Dengan perlahan, Ata membuka pintu yang satunya lagi sehingga terbuka lebar. Dan saat kedua sampai di ruang tamu, mereka medengar hal yang tak pernah mereka inginkan.

“Kalo begini terus, Mentari nggak akan tahu kalau...”
Semakin lama, semakin gaje... Biarkanlah #loh? hahaha


“Maafin aku ya, Tar...” Ata menggenggam tangan Mentari erat dengan tatapan dalam kasih sayang.

Mentari tersenyum. “Nggak apa-apa, Ta. Mungkin emang seharusnya kamu percaya temen-temen kamu daripada aku. Aku baru di kehidupan kamu...”

“Tapi aku udah kenal kamu dari kecil...”

“Tapi aku juga baru masuk ke dalam kehidupan kamu lagi. Aku pernah pergi, Ta. Apa kamu nggak takut ada yang berubah dari aku?”

“Apapun yang berubah dari diri kamu, aku percaya perasaan kamu enggak.”

Mentari terdiam. Entah kenapa dengan perasaannya sekarang. Berbeda jauh saat ia menantikan bertemunya ia kembali dengan sosok Ata. Berbeda jauh saat ia mengucapkan janji saat itu. Saat ia belum bertemu dengan Ata kembali.

“Jadi, apapun yang orang lain katakan, aku nggak akan percaya sebelum melihat sendiri!” tandasnya dengan mata yang berkilat penuh keyakinan.

***

“Udah baikan sama Ata?” tanya Ari yang sedang membantu Tari menyelesaikan tugas kimianya.

“Kita nggak marahan...” ucap Mentari.

“Kemaren elo ngapain pergi-pergi? Itu namanya apa? Marah? Sebel? Jengkel? Atau apa???” Alisnya terangkat sebelah.

“Itu namanya gue nggak kuat ngedengerin temen lo yang satu itu ngomong!” tandas Mentari. “Masuk ke hati, tau!”

“Gue percaya kok, kalo elo nggak...”

“Enggak apa?”

“Enggak ngelakuin itu lah... masa gue nggak percaya kalo elo cowok... eh... cewek!”

“Dih... pingin di hajar ya lo? Maksud lo apa?”

“Lagian jadi cewek manis dikit napa, Men. Kayak cewek gue...” Ari merangkul Tari yang langsung mengernyitkan keningnya. “Serba oranyeee...”

“Gue juga serba iteeemmmm...” Mentari nggak mau kalah!

“Tapi elo keliatan kayak cowok, tau!” ucap Ari. “Liat deh, masa cewek rok satu-pun nggak punya! Dasar cowok.. eehhh...”

Mentari langsung menjewer telinga Ari. “Apa maksud elo??? Menghina gueee???”

Tari malah ketawa ngikik. Apalagi melihat Ari meringis kesakitan karna di jewer sama Mentari.

“Tari, elo bantuin gue kek! Belain gue kek!” ucap Ari kesal.

“Males ah!” ucap Tari. “Tau nggak? kalian itu kayak kakak-adik yang lagi berantem. Hahahaha...”

Keduanya langsung berhenti bertengkar dan memandang satu sama lain. Lalu dengan serempak mereka katakan... “AMIT-AMIT DEH!”

***

Lagi-lagi nungguin Ata dulu di dekat gerbang kampus. Sudah sore pula! Kali ini Oji nggak mungkin muncul sebagai tukang ojek lagi, soalnya tadi Mentari melihat Oji sudah pulang duluan. Aktifitas barunya semenjak resmi jadi ceweknya Fio.

Kalau bukan untuk menghargai Ata, Mentari sudah naik taksi atau ojek atau becak juga boleh, yang penting langsung pulang deh! Capek banget dengan materi yang di kasih dosen tadi. Bikin mau muntah.

Mentari memang cukup pintar, sayangnya dia kalau sudah tidak ada mood, sori-sori saja buat dosen yang akan ngasih materi panjang lebar. Terutama kalau disuruh nulis dan itu dosen nge-dikte-in! Bisa-bisa Mentari langsung keluar kelas, dan ngebolos seenak jidatnya.

TIN... TIN... TIN... TIN...

Mentari menoleh ke belakang, ada mobil, ia langsung meminggirkan badannya.

TIN... TIN... TIN...

Perasaan Mentari udah geser badan deh!? Ya udah lah, Mentari geser lagi posisinya.

TIN... TIN... TIN...

Emang minta di ajak ribut ya itu mobil! Udah minggir beberapa kali masih aja di klakson! Kurang ajar! Mentari menoleh dan...

“MENTARI, AWAS!!!”

Mentari tergeletak di tanah dengan tubuh seseorang yang menindihnya dari atas. Sedangkan mobil itu sudah melaju dengan kencang. Sepertinya mobil itu memang sengaja ingin mencelakai Mentari.

“Lo nggak apa-apa?”

Mentari membuka matanya perlahan. “He? Gue masih idup?”

Orang yang menyelamatkan Mentari itu langsung menoyor kepala Mentari. “Ya iyalah, bego! Kan udah gue tolongin!” cibirnya.

Mentari langsung menoleh. “Ari?” gumamnya tanpa sadar.

“Iya, kenapa gue? Nggak bilang makasih nih? Udah gue tolongin juga...”

Berarti tebakannya nggak salah! Untung tadi dia nggak bilang kalau itu Ata, perbedaan yang mulai terlihat dari fisik mereka berdua membuat Mentari dapat membedakannya sekarang.

“Makasih ye, adik!” katanya dengan mengusap-usap rambut Ari.

“Dih... emang gue mau jadi adik lo? Emangnya elo bakal nikah sama Ata gitu?” Ari malah ngawur kemana-mana.

Belum sempat Mentari memberikan tanggapan Ari yang ngawur itu, ponselnya berbunyi keras. Ia kira itu Ata, jadi langsung angkat saja meskipun itu dari private number.

“Halo...”

“Ini belum seberapa...”

“Ha?”

“Ini belum seberapa atas tindakan lo...”

Ari yang ikut penasaran langsung mengambil ponsel yang tadinya di pegang Mentari. Ia loadspeaker hubungan itu. Pasti Ata mau ngomong romantis-romantisan, pikirnya.

“Ini belum seberapa, Mentari. Kejadian tadi cuma untuk sebagian kecil akibat yang elo lakuin. Gue peringatin, semakin elo deket sama Oji, semakin elo mencari mati!”

TUT!

Ponsel mati.

“Men...” Ari menoleh ke arah Mentari yang kini sedang duduk menyender ke pohon dengan wajah pucat dan juga tatapan kosong.

Ari mengerti. Walaupun Ridho atau yang lainnya mengatakan cewek ini jahat, cewek ini tak mungkin sejahat yang mereka katakan. Ari yakin, cewek ini sedang dalam bahaya.

“Men...”

“Gue nggak tau! Gue nggak tau apa-apa!”

“Men...”

“Ya Tuhan!” Mentari menutupi wajahnya.

Ari merangkul Mentari. “Udah, Tar. Gue tau elo nggak tau apa-apa. Gue juga yakin kok kalo yang nyulik Hera bukan lo. Gue yakin sama lo sepenuhnya!” tandas Ari yakin.

“Apa salah gue?? Gue nggak tau apa-apa. Gue cuma temenan sama Oji. Gue nggak nyulik Hera. Gue nggak dendam sama siapapun. Gue kehilangan adik gue. Gue kehilangan rasa kekeluargaan gue. Gue...”

“Sssttt... udah. Jangan dipikirin lagi, Tar. Gue ngerti perasaan lo.”

Entah mengapa, panggilan “Tar” lebih menyejukan di hati Mentari. Dan Ari berarti sedang serius sekarang!

***

“Kalo aja waktu itu gue percayain hati gue buat liat elo, mungkin dulu gue nggak kehilangan elo.” Fio memeluk Oji dari samping. “Cowok itu emang brengsek! Masa dia cuma mainin gue doang!”

“Udah! Nggak usah di inget lagi...” Oji mengelus-elus rambut Fio. Lalu mencium puncak kepalanya sambil menatap ke arah tumbuhan yang tertanam rapi di depannya.

“Elo beneran sayang gue kan, Ji?” tanyanya menatap ke arah Oji.

Oji diam. Tatapan matanya kosong. “Kalo gue nggak sayang sama lo, gue nggak mungkin mau terima elo lagi setelah caci maki itu.” Katanya dengan tatapan yang masih kosong dan terus kosong sampai keduanya pulang.

***

“Sepertinya pekerjaan tu cewek bagus, Bos!” ucap seorang pengawal kepada bos-nya yang sedang menatap ke arah jendela markas.

“Dia emang harus kerja bagus. Kalo enggak, gue mesti nyuruh elo semua buat nangkep dia dan meringatin dia.”

“Tapi, Bos, apa nggak bahaya? Dia udah tau siapa bos sebenarnya...”

“Buat apa? kalo sampe dia ngadu, tinggal gue giring aja ke sini. Dan gue yakin, nggak ada satupun orang yang akan percaya tentang apa yang Hera katakan tentang gue...”

“Sekarang tugas kita apa?”

“Nggak ada. Elo udah nyuruh seorang cewek buat nelfon dia atas kejadian kemarin kan?”

“Udah, Bos.”

“Bagus!”

“Tapi dia diselametin cowok yang kembar itu, Bos. Apa nggak apa-apa?”

“Tenang. Itu malah bagus, ngebuat Mentari Theresia berpikir ulang untuk mendekati Rhauji.” Orang itu terseyum licik dan sinis.

***

Sekarang, Mentari memandang langit gelap itu lagi. Namun dengan perasaan yang berbeda dengan yang ia rasakan dulu, sayangnya dengan suasana yang sama. Papa dan Mama yang masih bertengkar dengan dua alasan. Yang pertama karena kematian adiknya, Cinta. Dan yang kedua, Mentari tidak tahu jelas tentang itu. Tante Lidya ingin memberitahukannya pada Mentari, tapi Mentari sedang tidak ingin mendengar alasan itu.

Karena Mentari yakin, alasan yang kedua adalah alasan yang paling utama hingga mereka bertengkar. Dan itu pasti suatu kenyataan.

“Aneh!” runtuknya lebih kepada hatinya sekarang. “Kenapa gue beginiii!???” Menatri menggeleng-gelengkan kepalanya. “Inget Ata! INGETTT!?” ucapnya kepada dirinya sendiri. “Inget Fio? Tau Fio siapa kan? Selain dia pacarnya dia, Fio juga temen lo Mentariiii….”

“Kalau bukan karena kamu! Aku nggak akan marah-marah!”

Lagi? keluh Mentari. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja. Ia pejamkan mata dan mulai tidur.

“Apa karena kamu minta maaf sama aku, itu ngerubah kenyataan kalau Mentari bukan anak kandung aku!? Ha? Dan bisa membuat Cinta yang sudah tidak ada, hidup lagi!???”

Mentari membuka matanya lagi. Sepertinya ia tidak bisa tidur malam ini. Karena setiap papanya mengatakan itu, ia pasti bermimpi buruk.

***

Baru beberapa langkah saja, Fio mengeluh kelelahan keliling Ragunan. Oji bukannya nggak perhatian dengan gendong-gendong Fio. Tapi, masa dia gendongin Fio di depan banyak orang sih!? Menjadi pusat perhatian orang gitu!?

“Udah, istirahat dulu yuk!” kata Oji menawarkan duduk di bawah pohon yang masih rimbun.

“Tapi gue mau terus liat-liat...” Fio keukeuh nggak mau berhenti. Udah tau itu tandanya cewek minta di gendong! Malah di ajak duduk di bawah pohon, lagi! Bikin bete aja.

“Katanya elo capek, Fi. Mendingan kita istirahat daripada elo pingsan nanti!”
Nah! Ini dia, ide cemerlang langsung muncul di kepala Fio.

“Gue baik-baik aja kok! Nggak bakal pingsan!” katanya dengan wajah yang langsung memancarkan semangat.

“Tapi elo bilang capek kan!?” Oji jadi bingung sendiri.

“Udah enggak kok! Elo ngajak ngobrol gue sih, Sayanggg. Jadi guenya semangat lagi! Dan nggak bete diem-dieman mulu dari tadi.” Katanya dengan gerlingan nakal.

Oji agak geli ngedenger panggilan itu. “Ya udah. Lanjut nih?” tanyanya pada Fio dan di jawab dengan anggukan kepala Fio. “Sip deh!”

Baru saja satu belokan mereka berjalan, Oji langsung was-was pas liat Fio jalannya agak miring. Seperti orang yang mau pingsan.

“Gue kok...”

BRUKKK!

Dengan sigap Oji langsung menahan tubuh Fio agar tidak jatuh ke tanah. Kekhawatirannya ternyata benar. Fio pingsan! Ini nih yang bikin Oji paling males kalau jalan berdua. Kalau situasinya begini gimana?

Kalau perasaan yang dulu masih sama, mungkin Oji langsung kaget dan cepat-cepat menyelematkan Fio. Menggendongnya lalu menungguinya dengan sabar hingga sadar.

Sayangnya, sekarang untuk menggendong saja malas. Apalagi sampai menungguinya dengan sabar dan setia!

“Fi...” Oji agak mengoyangkan tubuh Fio sedikit. Tapi Fio tidak memberikan reaksi. Terpaksa Oji harus menggendongnya dan cepat membawanya ke tempat terdekat. Ingat ya, TERPAKSA!?

Setelah mendapatkan tempat nyaman untuk Fio di sebuah ruangan terdekat yang diberi tahukan oleh seorang penjaga, Oji langsung menelpon seseorang untuk membantunya. Males juga kali nunggu sendirian, bete!

“Tar, elo dimana?”

Anehnya, malah Mentari yang dia telfon. Bukan Hera, Tari, Ari, Ridho atau Ata gitu. Pikiran utamanya langsung ke cewek itu.

“Di kampus. Kenapa, Ji?”

“Ke Ragunan ya?”

“Ngapain? Nyamain muka sama sodara lo? Gue sih mukanya nggak sama ya!”

“Duh! Ngaco banget sih lo!” Oji jadi kesal. “Fio pingsan nih! Keadaaan gawat. Gue mau cepet-cepet bawa dia pulang.”

“Nanti juga sadar sendiri, Ji. Kasih aja minyak kayu putih supaya cepet sadar!”

“Kok bego sih lo!? Gue bilang kan gue mau pulang cepet-cepet. Kasian dia juga kali, kelamaan disini. Tempatnya itu lho...”

“Ya udah, entar gue nyuruh si Ari dateng.”

“Gue kan nelfonnya elo! Jadi gue maunya elo!”

“Dih, guenya nggak mau. Kenapa gue? Ari aja sono. Atau gue telfon Tari atau Ata?”

“Gue bilangnya mau sama elo. Ya sama elo!” Oji ngomel.

“Tapi guenya nggak mau, Ji! Malesss...”

“Dasar bawel! Cerewet! Dasar cewek! Buruan kesini. Titik! Nggak pake koma apalagi tanda tanya!” Oji langsung mematikan ponselnya.

Tidak lama kemudian, Mentari datang dengan kepalanya yang celingukan ke kanan dan ke kiri. Mencari sosok Oji.

Mengetahui itu, Fio yang pura-pura pingsan langsung bete! Dan buru-buru sadar. Kenapa harus bawa-bawa cewek lain sih!?

“Oji!” seru Mentari menghampiri Oji yang sedari tadi duduk sambil memandang ke luar. Oji yang di panggil langsung menoleh.

“Kak Oji, aku dimanaaa?”

Perhatian Oji yang tadinya ke arah Mentari langsung berpindah ke arah Fio yang ternyata sudah sadar.

“Di ruangan semacam UKS gitu, Fi. Elo udah sadar?”

Fio mengangguk pelan dan menunjukkan wajah letihnya. “Kak, kita pulang yuk?”

“Eh, Fi, udah sadar? Tuh kan, Ji, kasih minyak kayu putih pasti langsung sadar!” kata Mentari.

Fio melirik sinis lewat ujung matanya. “Kakak sayanggg, pulang yuk!?” ajaknya dengan manja.

“Iya, Fi. Kamu minum teh anget dulu nih!” Oji memberikan segelas teh hangat yang tadi di dapatnya oleh seorang petugas.

Fio menegaknya sampai habis. “Kak, gue pingin denger elo ngomong “sayang” ke gue sekaliii aja. Biar gue cepet sembuh dan kita pulang!”

“Ha? Enggak ah!”

“Kenapa? Elo nggak sayang gue? Kalo gitu gue nggak mau pulang!”

Pasti gara-gara ada Mentari di sini, jadi Oji nggak mau Fio suruh panggil sayang.
Oji sempat melirik Mentari yang sedang menatapnya dengan wajah datar. Lalu cewek itu memalingkan wajahnya untuk tidak melihat wajah Oji.

“Iya, Sayanggg. Kita pulang ya?”

“Sekaliii lagiii... yang kenceng!”

“Oke, Sayanggg. Kita pulang ya, Fio Sayanggg!”

Mentari diam, sementara Fio tersenyum puas sambil menggandeng Oji keluar dari sana.

***

Sialnya Mentari tadi ke sana pakai taksi, sehingga Oji memaksanya untuk ikut ke dalam mobilnya. Yeah, Oji terpaksa bawa mobil karena Fio ngomel-ngomel nggak mau kena sinar matahari. Itu maksudnya apa!?

Setelah mengantarkan Fio, tinggal Oji dan Mentari yang ada di dalam mobil. Oji memaksa Mentari pindah ke depan, biar nggak terkesan seperti supir. Tadinya Mentari nggak mau, tapi karena langsung di sinisin sama Oji, akhirnya dia nurut juga.

“Jangan pulang dulu ya!” kata Oji pada Mentari.

“Kenapa? Gue jalan kaki aja deh, Ji. Deket kok dari rumah Fio.”

“Gue nggak mau elo pulang, Tar!” tandasnya.

“Kenapa?”

“Temenin gue. Gue mau liat matahari terbenam bareng elo di danau. Kayak dulu...” katanya sambil menggenggam tangan Mentari erat.

Mentari melirik tangannya yang di genggam oleh Oji. Ia tersenyum dalam hati. Seperti ada sengatan lebah di hatinya. Ia merasa sangat senang! Sayangnya ia nggak bisa munculkan itu di wajahnya.

“Ji...”

“Tar, seandainya keadaan yang sekarang berbeda.”

Alis Mentari menyatu. “Maksudnya?”

“Elo nggak sama Ata dan gue nggak sama Fio. Mungkin lebih baik...” ucapnya pahit.

“Ji...”

“Lupain aja, Tar! Gue tau kok elo suka sama Ata. Suka banget. Karena kalian temen kecil...” katanya mulai menyalakan mesin mobilnya.

Gue juga suka elo, Ji. Gue suka. Asal elo tau, gue nggak punya perasaan apa-apa sama Ata lagi. Udah beda, Ji! teriaknya dalam hati. Ia tak mungkin bisa mengungkapkan itu pada Oji. Tidak akan pernah mungkin.

Jadi Mentari hanya bisa tersenyum pahit dan ikut terdiam dalam keheningan yang mulai merambat ke hatinya juga. “Elo salah,” gumamnya pelan. Bahkan mungkin tak mungkin dapat Oji dengar. Suaranya selirih angin yang berhembus.
Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram