Tampilkan postingan dengan label Teenlit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teenlit. Tampilkan semua postingan
Sekian lama kita pacaran, sekian lama kita jalan, sekian lama kita kenal, baru kali ini aku melihatnya marah padaku. Aku tahu aku salah. Tapi apa dia tidak berlebihan? Apa jangan-jangan dia menyukai sahabatku sendiri? Atau... dia sudah bosan denganku?
Kuputuskan untuk pura-pura tak peduli. Tapi mengapa akhirnya jadi begini? Mengapa aku merasa dicampakkan? Mengapa rasa sesak di dadaku tak kunjung hilang? Dan mataku seperti tertusuk duri saat melihatnya bersama orang lain. Ini salahku... ya, ini salahku...

Lalu apa yang akan terjadi dengan hidupku? Apakah hidupku baik-baik saja tanpanya? Atau seseorang akan datang untuk mengisi hari-hariku? Ah... aku tidak tahu. Aku tidak tahu...
Huhuhu, akhirnya kita mencapai ending. Semoga ending-nya sesuai dengan keinginan ya, dan semoga di buku aslinya nanti ending-nya juga sesuai dengan harapan :) terimakasih yang udah mau baca sampai akhir, komentar selalu ditunggu loh, dont be a silent reader... Happy reading all...

Sebesar apapun usaha Tari untuk terus bertahan dari keterpurukan, takkan mampu mengubah kenyataan yang ada. Karena... kenyataan yang ada adalah Ari pergi. Jauh disana. Dan dia takkan menoleh ke arah lain lagi kecuali di depannya. Membuat Tari benar-benar putus asa menghadapi kenyataan bahwa Ari tak lagi berada disisinya.
“Jadi... gimana?”
“Gini aja, Dho. Kita ngomong baik-baik sama dia. Bilang kalo sebenernya Tari cintanya sama dia. Bukan Ata. Supaya masalah ini juga cepet selesai!” tanggap Oji dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
Mata Ridho langsung berbinar ketika mendengar kalimat Oji barusan, “ternyata! Elo pinter ya, Ji. Bijak banget!!!”
Lagi-lagi Oji harus menghela nafas jengkel. Ridho pikir apa dia sebego itu ya!?
“Nggak. Lo nggak bisa ngelakuin itu begitu aja!” tegas Angga yang duduk bersebrangan dengan Oji dan Ridho. “Gue baru dapet berita dari Vero... Ata emang tau kalo Tari cintanya sama Ari. Cuma Ata nggak mau ngalah!”
“Ck!” Oji langsung berdecak kesal mendengar nama saudara kembar Ari itu. Bikin ribet aja! “Dia nggak mau ngalah banget sih!” desahnya kesal.
“Namanya dibutain sama cinta. Kayak elo aja, Ji. Kalo mata lo udah dibutain sama makanan, gue ditinggalin!!!” Ridho melirik Oji sambil menyeringai geli.
Sementara Angga menahan senyum geli saat dilihatnya wajah Oji yang langsung cemberut. “Udah ah! Sekarang kita fokusin, gimana caranya bikin Ata nyerah sama kenyataan! Karena... cewek-cewek udah berbaik hati mau bantu kita nih,”
“Bantu apaan?” kontan Oji dan Ridho berseru bersamaan.
“Nemenin Tari kemana aja! Nyadarin Tari kalo Ari emang udah nyerahin segalanya ke Ata dan memercayai gue sebagai orang yang bisa melindungi Tari. Tapi... ngasih tau Tari juga, kalo Ari itu nggak akan pernah pergi dari kehidupan Tari. Karena Ari cinta Tari!”
***
"Ta... sadar dong! Elo disini cuma sebagai seorang perusak aja!"
Tubuh Ata terdorong menjauh, ketika kedua tangan Angga mulai menghakiminya. Ata hampir saja jatuh, namun ia akan melawan dan takkan membiarkan Angga membuatnya kalah.
"Itu hak gue! Dulu... elo juga sama kayak gue!" gertak Ata, naik darah. ia tak mampu menyembunyikan kilatan amarah itu dari kedua bola matanya yang hitam pekat.
"Dulu itu gue melakukan hal berbeda! Gue cuma mau bikin Ari menderita karena dia udah bikin Anggun pergi! Tapi dalam hal ini gue emang salah besar. Itu semua takdir! Dan gue nggak bisa mengingkarinya!"
Ata langsung bertindak. Ia melawan habis-habisan cowok yang berada di hadapannya itu dengan segala usaha. Bahkan tinju pun ia layangkan. Membuat wajah Angga mulai menimbulkan lebam biru. Ada darah diujung bibirnya.
Angga tak tinggal diam. Ia juga berusaha melawan setiap serangan yang dilayangkan Ata untuk dirinya.
“LO NGGAK USAH IKUT CAMPUR URUSAN GUE SAMA SODARA KEMBAR GUE!”
Dengan suara yang menggelegar dan diringi bentakan, Ata melayangkan satu tinju yang lebih kasar dari sebelumnya ke arah perut Angga. Membuat cowok itu tiba-tiba terhuyung dan tak dapat menyeimbangkan tubuhnya.
“LO BUTA!”
Angga membalasnya dengan bentakan yang tak kalah menggelegar dan semua orang yang berada dalam keadaan jarak jauh dengan tempat kejadian tersebut, pasti mendengarnya.
“INI ANTARA MATAHARI!”
“TAPI INI URUSAN HATI! LO BUTA!”
Kembali Ata melayangkan tinjunya. Geram. Sangat amat ingin ia hancurkan sosok dihadapannya ini dengan kedua tangannya sendiri.
Sepertinya Angga memilih menyerah, karena ia benar-benar tak sanggup menahan setiap serangan Ata dan tak dapat membalasnya dengan serangan yang sama kerasnya. Tubuh Angga terjatuh. Ia tertunduk lemas sambil mengelap ujung bibirnya yang berdarah.
Sementara Ata masih berdiri dengan luka lebam biru yang tak kalah banyak dengan Angga. Ia masih menetralkan nafasnya yang terengah-engah akibat serangan yang ia lakukan secara langsung dan tanpa berpikir dua kali. Ia benar-benar geram. Ia takkan pernah mau mengalah dalam hal ini. Sudah cukup ia mengalah hidup dengan ketidak bahagiaan, kali ini ia takkan membiarkannya kalah lagi!
“Gue udah kasih tau lo! Tari tersiksa dan seharusnya... elo sadar itu! Kalo lo emang cinta sama dia, lo lepas dia demi kebahagiaannya! Bukannya memisahkannya.”
“Dia sendiri yang ngabulin, Ga. Gue minta dan dia kasih. Karena... semuanya udah dia yakinin dalam hati. Semua senyum yang ada di bibir Tari, dia bilang bukan buat dia, tapi buat gue!”
Angga mendongak, menatap Ata tajam. “Tapi kenapa nggak lo yakinin kalo Tari senyum buat dia! Bukan buat elo! Gue... yakin banget kalo lo tau hal itu!”
***
Mata Tari menatap ke langit biru, lalu matanya beralih ke sampingnya. Menatap kedua temannya. Fio dan Vero yang sedari tadi memerhatikan Tari, jadi ikut gelisah juga. Apalagi mereka berdua belum mengetahui perkembangan usaha para cowok untuk mematahkan usaha Ata.
Tari tersenyum menatap kedua temannya. Sedangkan mereka berdua hanya membalasnya dengan kening yang berlipat rapat. tak mengerti maksud Tari.
“Kalian tau nggak? Dia pernah bilang... gue dan dia adalah benda dan bayangan. Manis banget kan!?” ucapnya membuat kedua temannya itu menjadi tertegun dengan kalimat tersebut. “Tapi... sayangnya dulu gue nggak nganggep kalimat itu manis. Malah gue benci sama kalimat itu!”
Kali ini suaranya berubah menjadi menyesal, wajahnya murung lagi. Matanya menatap ke langit biru, lalu air matanya menetes, mengaliri pipinya yang tirus dan pucat pasi.
“Tar... jangan gini terus dong!”
Tari menoleh, menatap Fio dengan air mata yang terus mengalir. “Gue emang bodoh!” tangannya memukul kepalanya pelan.
Tangan Vero merangkul Tari, “Tar... dia pasti balik kok! Gue yakin banget. Dia sayang elo, Tar.”
“Ada dia dan nggak ada dia, sama aja. Hati gue terluka...,”
Keduanya tertegun. Apalagi ketika mereka menatap jelas Tari. Cewek itu berusaha tegar, namun tak bisa. Cewek itu berusaha berdiri, namun selalu terjatuh. Cewek itu menangis, tapi tak kentara. Air matanya terus mengalir, matanya memerah, wajahnya tetap wajah yang tirus akibat kelelahan. Tak hanya fisik, tapi juga batinnya.
***
“Gue nyerah! Gue mau serahin dia balik!”
Ridho, Oji dan Angga menoleh. Mereka mendapati Ata sudah berdiri di ambang pintu kelas. Cowok itu terlihat kacau balau. Bahkan mungkin, kini ia terlihat begitu mirip dengan Ari.
“Lo yakin?” tanya Ridho dengan alis yang terangkat ketika Ata sudah duduk dihadapannya. “Gue takut elo malah kalap lagi! Lupa lawan lo itu siapa.”
Ata mengangguk tegas, “gue yakin banget! Kita hubungin Ari sekarang!” tegasnya dengan tatapan yang kini sudah terliaht ketulusannya.
“Ponselnya mati. Nggak pernah nyala. Gue udah berusaha berkali-kali ngubungin dia. Tapi nggak ada tanggapan!” kali ini Oji menatap layar ponselnya dengan tatapan kecewa.
“Ke rumahnya?”
“Nggak. Nggak. Dia selalu nggak ada di rumah. Home schooling aja nggak jelas jadwalnya. Kita nggak bisa langsung mutusin ke sana. Masalahnya, tadi malem gue udah kesana, tapi dia emang nggak ada!” Angga langsung mejelaskan bahwa dirinya sudah berulang kali menghubungi Ari tapi tetap nggak bisa.
“Jadi... kemana?”
Ketiganya terdiam. Sama-sama memikirkan cara untuk menghubungi Ari. Hening. Tak ada satupun yang menemukan jawaban. Sementara Ata masih menatap ketiganya meminta jawaban.
Di dalam keheningan, suara ponsel Oji dan Ridho berdering kencang. Membuat semuanya langsung menoleh ke arah suara tersebut. Oji dan Ridho langsung saling tatap ketika muncul nama seseorang di layar ponsel mereka. Lalu keduanya mengangguk, seakan setuju untuk membukanya bersama.
Dan ketika ponsel tersebut membuka pesannya. Oji membelalakkan maksimal matanya. Sementara Ridho langsung menatap Angga dan Ata yang sedang menatap mereka dengan tatapan bertanya.
Lalu mata Ridho mengarah pada Oji, Oji mengangguk mengiyakan. Melalui isyarat itu Ridho mengerti.
“Kita terlambat!” ucapnya seperti tercekat. Suaranya sangat sulit untuk di keluarkan ketika ia membuka pesan singkat yang menghampiri ponselnya tadi.
“Maksudnya apa?” Angga jadi heran.
“Ari udah mutusin untuk benar-benar pergi dari kehidupan Tari...,” kali ini Oji yang menjawabnya.
“Jadi...?”
“Ari bilang dia mau pergi ke London. Soalnya, kalo di sini, dia nggak bisa menguasai dirinya untuk nggak ketemu Tari meskipun hanya dalam jarak jauh dan tak terlihat oleh Tari.” Ridho menatap Ata seperti ingin melahapnya karena sudah membuat keadaan tambah buruk.
“Kita harus cegah! Tadi dia ngirim SMS kan? Berarti ponselnya aktif!” Ata langsung berniat untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Ari.
Tangan Oji langsung mencekal tangan Ata, “bukan dia yang SMS. Tapi Raka, temen baiknya. Dia bilang Ari mau pergi ke London!”
Semua langsung menahan nafas. Tak tahu harus berbuat apa. Mereka sama sekali tak mengetahui kapan kepergian sosok itu dari Indonesia.
***
Di bawah pohon disana, di sore yang mengindahankan, Tar berdiri menghadap langit. Dari jarak jauh, Vero dan Fio memerhatikan Tari dengan seksama. Mata cewek itu bekaca-kaca, menandakan cewek itu akan menangis sebentar lagi.
Matahari mulai terbenam dan Tari mulai memejamkan matanya perlahan. Semburat jingganya mengingatkannya pada Ari. pada saat Ari menjadi Ata dan mereka berdua melihat matahari terbenam di atas gedung. Menikmatinya besama. Tapi kini tak lagi.
Terdengar suara derap langkah seseorang yang mulai mendekati Tari. Sebentuk senyum manis langsung terlihat di wajah Tari. Cewek itu mengharapkan apa yang ada di imajinasinya menjadi satu kenyataan. Ia langsung membuka matanya, lalu menoleh ke arah kanan, ke arah suara tersebut.
Harapan itu langsung sirnah ketika ia mengetahui siapa yang datang. Senyumnya langsung lenyap ketika menyadari itu hanyalah imajinasi dan bayang-bayang sementara. Karena kenyataannya buka itu. Angga menghampirinya dengan seulas senyum yang ia berikan untuk Tari, cewek itu tersenyum namun tak seindah yang tadi dan sedikit di paksakan.
“Udah mulai malam...,” ucapnya pelan sambil melihat ke arah langit yang mulai berubah warna dan memunculkan kegelapan.
“Gue udah tau, Ga...,” Tari menunduk lemah.
Angga menoleh, “tau apa?” alisnya terangkat sebelah.
“Dia... udah pergi. Dia mutusin untuk jauh-jauh dari gue. Gue sadar, Ga, gue emang...,”
“Tar... maksudnya Ari tuh gini...”
“Jangan. Jangan sebut namanya. Nama itu malah bikin gue mikir kalo gue dan dia itu terikat dan nggak akan bisa lepas lagi. Nanti gue berharap lagi, Ga. Jadi... tolong jangan sebut namanya. Nama itu malah bikin gue seakan berada di dunia mimpi lagi.”
Terdengar helaan nafas panjang Tari. Lalu cewek itu menatap Angga, tersenyum. Senyum pahit. Matanya berkaca-kaca lagi. Wajahnya masih sama seperti yang kemarin-kemarin. Pucat. Tirus dan seakan tak bertenaga dan tak berdaya.
Angga mengerti, bahkan sangat mengerti dengan perasaan Tari. Tapi Tari salah dalam mengkonstartikan apa yang ada dan yang terjadi. Apa yang di pahaminya sebenarnya tak sama dengan apa yang seharusnya ia pahami.
“Tar...,” panggil Angga pelan.
“Senjakala udah nggak ada lagi, Ga. Dia udah pergi. Keberadaannya tak mampu gue tembus hanya dengan mata telanjang. Hanya dengan kedua bola mata gue. Dia... memilih untuk pergi!” ucapnya. Suaranya bergetar hebat, seakan kalimat itu mampu menusuk jantungnya. Mampu mengkoyak setiap perasaan yang sudah tertata rapi di dalam hatinya.
Tertegun. Hanya itu yang dapat Angga lakukan. Cewek itu langsung menyandarkan kepalanya di bahu Angga. Dan Angga tak melarangnya. Ia membiarkan cewek ini untuk mencari penyangga, agar cewek ini tak akan terjatuh meskipun cewek ini sudah berulang kali jatuh dan terluka, bahkan hampir hancur karena kerapuhan.
Air menetes dari kedua bola mata Tari, cewek itu menangis. Terisak hebat, matanya mulai memerah. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Sementara tangan Angga memegangi kepala Tari. Membuat Tari benar-benar di dalam pelukan Angga.
“Gue ikhlas, Ga. Biarin dia pergi. Biarin dia memilih jalannya. Gue mau dia cari seseorang yang pasti lebih baik dari gue...,” ucapnya sambil terisak. “Karena dia... sebenarnya baik, Ga. Dia punya sisi kebaikan yang tak kasat mata. Dia baik saat kita melihatnya lewat mata hati kita, bukan kedua bola mata kita.”
***
Lebih memilih mana? Bisa melihatnya dengan orang lain dengan senyuman atau melihatnya bersama kita namun dengan kesedihan. Mungkin Ari akan memilih untuk membiarkannya bersama orang lain yang pastinya akan membuat hidup orang itu bahagia dengan ceria. Tapi tanpa Ari sadari itu malah mengacaukan kehidupan Tari.
“Maafin gue, Tar. Tapi gue nggak bisa...,”
Mata Ari menerawang. Tangannya memegangi koper besar yang sudah terisi semua baju. Di tangan satunya lagi, Ari memegangi tiket pesawat. Tubuhnya berdiri tegak menghadap jendela kamarnya. Semalaman ia tak dapat menutup matanya, setelah melihat Tari tersenyum sendiri di teras rumahnya.
Satu hal itu membuat Ari menjadi berfikir kalau Tari memang sudah dapat dilepasnya. Sudah dapat berbahagia tanpa kehadirannya. Lagi pula, sejak kapan Tari bahagia bila bersamanya? pikirnya sambil tersenyum pahit.
Namun pada saat itu, Ari tak menyadari, tangisan hebat mengiringi kepergiannya.
Kini ia hempaskan tubuhnya di kasur. Tangannya melepas pegangan koper, tapi tiketnya masih berada di genggaman tangannya. Ia menatap ke langit-langit. Ayahnya sudah menyetujui keputusan Ari, bahkan ayahnya sangat-sangat mendukung. Karena ayahnya akan menyekolahkannya disana, dan setelah lulus kuliah, Ari yang berhak memegang kendali di perusahaan.
Mamanya juga sudah menyetujui, hanya saja agak sedikit bimbang saat Ari mengutarakan keputusannya.
“Apa kamu yakin?” tanyanya waktu itu. Wajahnya memunculkan tanda bahwa ia serius.
Ari mengangguk, “lagi pula Ari kan disekolahin sama ayah disana...,”
Tangan mama Ari menepuk pundak Ari pelan, “mama tau. Bukan itu masalahnya. Ada masalah lain kan? ayo... cerita sama mama...,”
Ari tersenyum kaku, hatinya mengiyakan pendapat mamanya itu. Namun, yang keluar dari mulutnya berbeda. “Nggak, Ma...,” Ari menggeleng. “Ngak ada masalah lain,” ucapnya pelan. “Ini keputusan Ari. Ari mutusin sekolah disana,”
Mamanya hanya bisa pasrah dengan keputusan Ari tersebut. Ata sedang tidak ada di rumah, jadi Ata tak dapat mencegah kepergian Ari ini. Apalagi, setelah itu Ari benar-benar menghilang. Karena hari pertemuannya dengan Mamanya adalah hari dimana besoknya Ari akan benar-benar pergi.
Ujian baru selesai beberapa hari yang lalu. Ari sempat bertemu dengan teman-temannya, namun tak berbicara banyak. Terlebih lagi, dengan Ata, Oji dan Ridho. Ari berusaha sebisa mungkin tak bertemu tatap dengan mereka dan usahanya itu berhasil. Setiap kali ketiga orang itu mendekatinya, Ari akan langsung mencari jarak atau mengarang alasan dan masuk ke dalam kantor guru dengan tiba-tiba.
Angga juga sudah berusaha menghubunginya dengan berbagai cara, namun karena kesibukannya di Ujian, ia tak terlalu fokus untuk menghakimi Ari dengan berbagai macam pertanyaan dan ia tak mampu mengatakan apa-apa untuk mencegah kepergiannya.
***
Tangannya bergetar saat mendapat pemberitahuan dari Ridho bahwa Ari berangkat hari ini. Berita itu mengguncangnya, membuatnya kehilangan kesadaran. Membuatnya seolah tak mampu bernafas lagi.
Kenyataan itu membuatnya memikirkan satu hal, bagaimana jika ia tak dapat bertemu dengan Ari lagi? Bagaimana jika dia takkan pernah lagi melihat “matahari”-nya tersenyum seperti dulu? Bagaimana jika “matahari”-nya itu pergi bersama seseorang yang mampu mencabik-cabik hati Tari?
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir setiap kecurigaan yang ada di benaknya. Lalu matanya menatap ke langit yang masih cerah akibat sang mentari masih bersemangat untuk menerangi bumi.
“Tar...” Tari mendengar namanya di panggil. Kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati keenam orang itu hendak menghampirinya. Yang memanggilnya sudah pasti Angga. Suaranya begitu tegas namun mampu memberikan sejuta kenyamanan di hati Tari.
“Ari udah berangkat,” katanya setelah berdiri di damping Tari.
“Maafin gue, Tar. Gue tau selama ini gue salah, gue...,”
“Nggak apa-apa,” Tari langsung memotong perkataan Ata yang terdengar merasa sangat bersalah itu. “Gue ikhlas...,” ucapnya sambil memaksakkan seulas senyum. “Gue tau, dia emang lebih baik pergi dari kehidupan gue. Karena kalo dia ada di samping gue, gue malah nyakitin dia.”
“Tar, Ari pergi bukan karena...”
“Nggak usah mengelak dengan kenyataan yang udah ada, Ta. Gue nggak apa-apa kok. Gue ngerti, gimana rasanya mengejar lama, tapi dicampakkan begitu aja.”
Semua terdiam. Ikut sedih dengan keadaan Tari yang semakin lama semakin hancur.
***
Hari mulai sore. Namun, kaki Tari terasa berat untuk meninggalkan tempat ini. Tempat dimana jika kita melihat matahari “pulang” sungguh terasa indah. Ia kesini di antar Ridho tadi. Ridho bilang kalau ini adalah tempat kesukaan Ari dulu. Tempat dimana Ari memikirkan segalanya. Tentang masa lalunya dan di tempat ini lah Ari melihat keindahan alam yang nyata.
Nggak ada yang berani menunggunya disini. Semuanya sudah pulang seja tadi karena jelas-jelas Tari “mengusir” mereka dengan tatapan memohon dengan sangat amat bahwa dia memang sedang ingin sendiri. Urusan pulang, ia bisa naik taksi. Atau ia bisa menelpon salah satu diantara keempat cowok itu.
Tari tersenyum, senyum pedih.
“Kenapa sedih?”
Suara itu membuatnya menoleh, dan apa yang dilihatnya sama sekali seperti yang ada did alam bayangannya. Ari! Cowok itu berdiri tegak dibelakangnya sambil menyunggingkan seulas senyum yang manis.
Sebentar! Mungkin penglihatannya salah atau ia berimajinasi lagi!? Atau mungkin saja itu Ata bukan Ari! mereka kan mirip dan Tari tak bisa membedakkannya lewat cahaya yang mulai meredup.
“Kenapa diem aja?” kali ini cowok itu duduk disebelah Tari. Tangannya mengacak-acak rambut Tari. “Lo itu bisu atau gimana? Hmm?”
Tari tersentak. Matanya melebar ketika menyadari bahwa sosok dihadapannya ini benar-benar Ari bukan saudara kembarnya! Ia menggeleng kuat, menyadarkan penglihatannya yang mungkin agak salah.
“Kenapa?” kedua alis cowok itu terangkat.
Air mata Tari mengalir, matanya menatap cowok di sampingnya itu. lalu ia tersenyum... namun  sambil menangis!?
“Lucu kan gue!? Atau gue emang udah bego? Tapi lebih tepatnya sekarang gue udah gila!” suaranya seperti terluka dan tersakiti. “Sekarang gue malah bayangin dia di samping gue! Nggak jadi ke London, lalu duduk diamping gue sambil tersenyum. Trus... dia ngacak-ngacak rambut gue sambil ngomong nggak jelas!”
Kepalanya ia geleng-gelengkan. Kedua tangannya memegangi kepalanya dengan erat. Berusaha mengenyahkan imajinasi yang ada di sampingnya itu. Lalu matanya beralih lagi ke arah samping, tapi imajinasi itu tak kunjung hilang dari hadapannya.
“Tuh kan, gue udah gila! Dia masih aja ada disini,” cewek itu terisak hebat. Air matanya masih mengalir sambil memandangi wajah orang yang ada disampingnya. Wajah yang menimbulkan ekspresi bingung.
Tangan Ari langsung menghentikan tindakan Tari yang memukuli kepalanya sendiri. Lalu ia memaksakkan wajah cewek itu mengarah kepadanya. Kedua bola mata cokelatnya kini masih berkabut, sebagian air matanya telah menetes jatuh dipipinya. Dengan ibu jarinya, Ari menghapus air bening itu. “Ini gue, Tar!”
“Gue... minta maaf. Karena gue nggak bisa nepatin janji gue untuk nggak ngeliat elo. Karena, setiap kali gue jauh dan nggak bisa ngeliat elo, hati gue hampa, Tar.”
Lalu saat itu juga Tari tersadar, ini kenyataan! Sosok dihadapanya benar-benar riil! Kontan tangisnya semakin kencang. Lalu kedua tangannya memukuli tubuh sosok dihadapannya.
“Kenapa kalo lo bilang gitu!?” desisnya. “Kenapa elo bilang gitu, tapi elo mau pergi jauh dari gue!” Ia mulai histeris dan tak dapat terkendali. “Kenapa?”
Kenapa? Pertanyaan itu membuat kedua alis Ari terangkat. Ia juga tak mengerti kenapa, yang ia tahu hanyalah, cewek di hadapannya ini terlihat ceria saat menerima segalanya yang berhubungan dengan saudara kembarnya.
“Karena lo lebih bahagia sama Ata...,”
Kedua alis Tari terangkat, “Ata? Bahagia sama Ata?” ulangnya tak mengerti.
“Dari cara lo mandang dia, dari cara lo nerima hadiah dia, dari cara lo tersenyum, dari cara lo...,”
Ari memiringkan kepalanya, menatap Tari yang tak juga memberikan reaksi. Ia melihat seulas senyum terukir indah di wajah cewek itu. terpaksa ia memberhentikan kata-katanya sendiri.
Cewek itu terlihat tersenyum, “jadi lo kira gue suka Ata?”
Tak ada jawaban. Ari terdiam, masih menatap cewek itu dengan bingung.
“Boleh gue jujur?”
“Mungkin enggak,” ucapnya. “Karena kalo lo jujur, gue... gue...,”
“Tapi... gue mau jujur,” ucap Tari menahan senyum.
Ari terdiam. Cukup lama. Namun cowok itu langsung mengangguk, meskipun terlihat ragu.
Setelah menarik nafas panjang, Tari langsung mengatakannya. “Waktu gue nerima hadiah dia, gue senyum. Gue bahkan sempet ngelamun sambil senyum-senyum sendiri. Lo tau nggak kenapa?” Ari menggeleng. “Karena... gue inget, kalo dulu lo pernah melakukan hal yang sama. Gue inget gimana perasaan gue jumpalitan pas elo masang kalung di leher gue. Kalung ini...,” Tari menunjukkan kalung yang sedang dipakainya itu.
“Gue nggak tau kenapa lo bilang senyum gue beda saat liat dia. Tapi... jujur, saat gue liat Ata, yang ada di pikiran gue, justru elo. Gue malah menganggap bahwa... orang yang dihadapan gue saat itu adalah elo!”
Sekali lagi, Ari tertegun mendengar penuturan cewek ini. Ia diam dan tak dapat berkomentar apa-apa. Dia... benar-benar merasa... mungkin... senang!
“Secarik kertas yang ada di hadapan gue waktu itu juga ngebuat gue mikir sendiri. Tapi bukan mikir kalimat itu mampu menyentuh perasaan gue. Tapi... kalimat itu mengingatkan gue saat elo bilang bahwa kita itu adalah benda dan bayangan. Jadi... gue nggak bisa nahan senyum saat inget penuturan aneh lo yang... eng... gue suka.”
Ari menatap Tari, cewek itu mungkin benar. Apa yang ada di dalam pikiran Tari takkan pernah diketahuinya. Dan ia tak tahu apakah Tari bohong atau tidak padanya, yang jelas ia merasa... sangat senang! Kedua bola mata Tari memberikan senyum, membuat Ari mengetahui bahwa cewek itu tidak bohong. Cewek itu mengutarakan isi hatinya.
Ari tersenyum, lalu kedua tangannya merengkuh Tari kedalam pelukan hangatnya. “Gue sayang sama lo, Tar.” Mata Ari terpejam dengan senyum diwajahnya.
Kedua tangan Tari melingkat di leher Ari, tersenyum. “Gue juga...,” ucapnya senang.
Wajah Ari mulai mendekat dengan wajah Tari. Mata Tari langsung terpejam rapat. Tangan Ari mengangkat dagu Tari mendekat. Lalu Tari merasakan bibirnya di sentuh oleh bibir Ari. Rasa hangat langsung Tari rasakan di sekujur tubuhnya dan Tari yakin wajahnya sudah merah merona.
Matahari terbenam. Memunculkan warna-warna indah dilangit. Melukiskan sejuat perasaan yang berada di dalam kedua orang yang tengah duduk di saung itu. Tangan Ari merangkul Tari, sementara tangan Tari melingkar di pinggang Ari. Keduanya menatap ke arah yang sama. Ke arah matahari terbenam. Ini lah satu keindahan alam yang menyatukan keduanya.
***
“Gue rasa... usaha kita berhasil untuk menghasut Ari.”
“Kita nggak menghasut Ari, tapi kita bohongin Ari. Kita kan bilang kalo Tari sekarang mau coba bunuh diri...,” ralat Vero merubah kata-kata Angga.
“Ide siapa sih?” Ridho melirik ke semua orang yang ada di sekelilingnya. “Gila banget! Si Ari sampe pucet gitu pas tau,” ucapnya sambil tersenyum geli. “Tapi... tadi gue ngira si Tari juga bakal bunuh diri. Soalnya dia keliatan putus asa banget!”
Oji nyengir, “gue sama cewek gue dong!” ucapnya bangga. Tangan kanannya merangkul pundak Fio.
Cewek itu langsung melotot tajam, “apa? Cewek lo? Ngarep banget lo!” di pukulnya kepala Oji pelan dengan buku yang di pegangnya.
“Ya ampun, cintaku! Jahat banget sih!” Oji langsung manyun. Tangannya yang bebas mengelus-elus kepalanya yang sebenarnya nggak sakit. “Nah, Dho. Gue kan udah sama Fio nih. Si Bos juga udah dapet mataharinya. Lo mau sama siapa? Lo doang yang jomblo lho!” kepala Oji dijitak lagi sama Fio, tapi Oji nggak peduli.
“Si Angga sama si Ata juga jomblo!” ralat Ridho kesal.
“Oh tidak bisa! Angga sama Vero aja. Jadi... elo sisa aja yak!” ucapnya dengan seringai geli. “Elo sama... Ata!”

“APA???” seru kedua orang itu dengan mata yang terbelalak lebar.
Badai Kusuma Putra


"Ara! Badai mau motong rambut lo!"
Kami bertiga—Ify, Sakura dan gue—langsung menoleh ke arah Zia. Ow... Ow... gue tertangkap basah. Gue menoleh ke arah Ara yang sedang menatap jengkel gue. Gue menyeringai lebar dan langsung lari secepat mungkin.
Gue yakin seratus persen sekarang Ara mengejar gue dengan raut wajah yang sama sekali tidak ramah.  Wajahnya pasti merah padam sekarang. Ah! Wajah yang sudah puluhan kali gue lihat. Pasti lucu.
Gue berlari tak beraturan agar Ara nggak bisa mengejar gue. Tapi gue nggak menyangka bahwa Ara ternyata jago lari marathon. Buktinya dia berada pas di belakang gue. Dan sedetik kemudian dia menari kerah seragam gue dengan kasar.
“Badai!!!” desisnya kesal.
Gue malah tertawa lebar. “Sori. Bercanda.”
“Lo kira ini lucuuuuu?” Matanya melotot. “Ini rambut asli bukan rambut palsu!”
Melihat kedua mata yang sipit dan jelas-jelas nggak pantes banget untuk melotot, gue semakin tertawa lebar. Dia sama sekali nggak menyeramkan.
HUSH
Ow... ow... seseorang menabrak Ara secepat angin. Kedua mata gue melebar dan tangan gue refleks mencegah Ara jatuh ke tanah.
Gue menahan nafas sepersekian detik. Gila! Ini gila! Kenapa juga gue menyelamatkan Ara dan memilih memeluknya di depan umum?
Memang sih memeluknya nggak jadi masalah untuk gue, gue malah senang. Tapi melihatnya dari jarak yang begitu dekat seperti ini, gue nggak yakin lagi bisa menahan untuk tidak menggodanya.
Matanya... hidungnya... bibirnya...
Damn! She’s so adorable...
Gue menyeringai. “Are you okay, Ara?”
Dan saat itu juga detik demi detik yang tercipta antara gue dan dia untuk saling menatap, hancur seketika. Dia mendorong gue dengan kasar dan menatap gue dengan sinis.
“Crazy!”
Ara meninggalkan gue dan beberapa penonton dari kalangan kelas sepuluh.
Gue tersenyum geli, lalu mengikuti Ara yang kembali ke kelas dengan banyak mata yang masih mengawasi gue.
***
Kedua mata gue diam-diam memerhatikan soso manis di barisan kedua dari depan. Bagi gue, melihatnya dari sini udah cukup, asalkan gue melihat keberadaannya.
Gue tersenyum kecil dan tiba-tiba saja Awan menyenggol lengan gue dengan kasar. Dia tersenyum meledek seperti biasa dan melirik sosok manis itu. Tapi gue langsung bersikap acuh tak acuh. Gue kembali membaca buku biologi yang ada di tangan gue.
Meskipun begitu, gue nggak bisa menyembunyikan dengan baik apa yang sedang gue rasakan. Ya, gue nggak akan mampu untuk menyembunyikannya.
“Eng, Badai!”
Gue mendongak dan mendapati Ara berdiri canggung di samping tempat duduk gue.
Teman-teman satu kelas langsung ribut. Mereka menyerukan kata yang sama. Kata ‘ciye’ saat melihat adegan Ara mengahmpiri gue. Dasar anak-anak stress, memangnya kenapa kalau Ara dekat dengan gue? Kita kan juga teman.
“Bisa bantu benerin video ini?” Ara terlihat sedang mengacuhkan teman-teman yang berisiknya kayak ibu-ibu yang suka gosip. “Tadi malem gue udah edit, tapi tiba-tiba aja rusak. Bisa, kan!?”
Gue mengangguk saja dan menerima flashdisk kecil berwarna biru dari Ara.
“Makasih.” Ara berkata dingin.
Setelah mengatakan itu, Ara kembali ke tempat duduknya. Lalu gue melihatnya memegang kedua pipinya juga memukul keningnya kuat-kuat.
Belakangan ini sikap Ara agak berubah. Tadi juga. Dia memang nggak pernah marah-marah sama gue lagi, tapi sikapnya lebih aneh sekarang. Dia terlihat berusaha untuk menjaga jarak... atau menjadi orang lain.
***
Teman-teman sekelas memang kurang ajar. Gue nggak akan bisa nolak kalau situasinya kayak begini. Apalagi beberapa hari yang lalu gue melihat kondisi Ara yang nggak memungkinkan. Dia menangis. Entah kenapa, yang jelas Awan bilang sama gue kalo itu salahnya.
Ara sedang sibuk mengangkat barang-barangnya sementara gue berusaha untuk mengeluarkan motor dari parkiran sekolah.
Sebenarnya gue berniat untuk membantu Ara membawakan barang-barangnya. Tapi entah kenapa, gue ingin mengerjainya. Gue pingin melihat reaksi marah-marahnya seperti dulu. Kayaknya bakalan lucu.
Gue melihat Ara sempat mengobrol sebentar dengan sahabatnya, Zia, lalu dia melirik seseorang entah di mana. Setelah menyadari bahwa gue menunggu, dia langsung menghampiri gue.
Ara menaiki motor dengan bantuan gue dan memegang erat pundak gue.
“Ayo berangkat!”
Dia nggak marah.
Gue tertegun. Ara sepertinya memang nggak menyadari bahwa gue sedang mengerjainya. Atau.. dia memang nggak apa-apa saat gue mengerjainya? Bukannya dia akan marah?
***
“SAKURA MENGHILANG!”
Sejenak gue hanya bisa termangu dengan ponsel yang masih tertempel di telinga kanan gue. Sementara Awan masih mengoceh tentang keberadaan gue dan menyuruh gue untuk cepat-cepat ke sana.
“Badai, lo dengerin gue nggak!?” Awan berseru kesal. “Pokoknya lo harus ke sini!”
Setelah memberitahu tempat pertemuan, gue langsung mengendarai motor hitam gue dengan gila-gilaan. Nggak peduli dengan pertanyaan nyokap dan bokap yang menanyakan ke mana gue akan pergi. Yang jelas, Ara harus ditemukan!
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Bukannya tadi Ara dan gue saling mengirimi pesan? Mengapa tiba-tiba dia menghilang? Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.
Sampai di tempat tujuan, gue menghentikan motor gue. Di sana ada Zia dan Awan yang sedang berbicara serius. Gue mendekat.
“Trus kenapa harus Badai?”
Hei. Mereka lagi ngomongin gue?
“Ah!” Awan menjentikkan jarinya. “Karena Badai digosipin suka sama Sakura?”
Benar. Mereka lagi ngomongin gue... juga Ara. Dasar kebiasaan menggosip, sepertinya mulut mereka berdua harus disumpel kaos kaki.
“Siapa yang suka sama siapa?”
Baik Zia maupun Awan langsung menoleh. Wajah mereka, tentu saja, sangat terkejut.
“Kenapa diem?” tanyaku sok penasaran.
“Ah... enggak.” Zia menggeleng.
Awan menatap gue dengan tatapan datarnya. “Kita nggak bisa menghabiskan waktu untuk pertanyaan nggak penting. Sekarang Sakura berada dalam bahaya!”
***
“Badai, kamu harus menyelamatkan Sakura sendiri.”
Kalimat itu terus saja terngiang di telinga gue sejak tadi. Kini gue terpisah dengan yang lainnya dan terus melanjutkan pencarian Ara di dalam sekolah.
Seseorang menyuruh gue untuk mengambil earphone di dalam loker milik gue. Setelah memasangkan earphone ke telinga gue, orang itu menyuruh gue untuk terus berjalan.
Sampai di lorong kelas 12-IPA, gue merasakan ada yang mengikuti gue di belakang. Gue melirik dengan ujung mata gue. Ah... si Atha berada di belakang gue. Dia ternyata menemukan keberadaan gue.
Tapi beberapa meni kemudian, dia pergi ke arah yang berbeda. Sementara suara orang yang ada di earphone terus menyuruh gue untuk mengitari sekolah. Gue semakin curiga dengan apa yang ia perintahkan. Jadi gue memutuskan untuk pergi semau gue.
Sampai di sebuah laboratorium yang sudah tak terpakai, gue menemukan keberadaan Atha di sana. Gayanya seperti orang yang sedang menguping.
“Atha...”
Atha menoleh. Dia terlihat seperti terkejut karena gue tiba-tiba berdiri di belakangnya.
“Badai, kok elo bisa ke sini?”
Gue menatapnya dengan bingung. “Tentu bisa dong!”
“Tadi kan elo lagi kena perangkap mereka. Lo disuruh muterin satu sekolahan, kan?”
Gue mengangguk mengangguk. “Kok elo bisa tau?”
Gue langsung menunjuk laboratorium di belakang gue. “Mereka dan Sakura ada di dalam. Tadi gue denger mereka ngobrol tentang...”
Mendengar nama Ara dan mengetahui bahwa keberadaannya ada di dalam, gue langsung menyenggol Atha dan masuk begitu saja ke dalam.
BRAK
Mata gue terbelalak lebar saat melihat seseorang memegang tongkat besi dengan Ara yang sudah tak sadarkan diri di kursinya. Orang itu terkejut melihat keberadaan gue, tapi langsung disadarkan oleh komplotannya yang lain. Mereka kabur.
Tanpa pikir panjang, gue langsung menyusul mereka. Gue mengejar mereka secepat yang gue bisa. Ternyata mereka mengambil jalan keluar belakang sekolah.
Satu orang di antara mereka terjatuh dan tertinggal sementara orang yang badannya lebih tinggi itu berlari tanpa menyadari bahwa temannya terjatuh.
Gue mendekat dan langsung menariknya berdiri. Gue membuka topengnya dengan kasar dan jubah hitam yang dipakainya terjatuh ke lantai.
“Cessa?” Gue terkejut.
Cessa menatap gue ketakutan. Tangannya terlihat gemetaran.
“Kenapa...? Apa salah Ara sama lo?”
Cessa menggelengkan kepalanya. “Menyerahlah.” Cessa berkata pelan. “Menjauhlah dari kehidupan Sakura. Maka Sakura akan baik-baik saja.”
“Ini ancaman?” Gue mengernyit.
“Anggap aja begitu. Kamu nggak akan bisa melindungi Sakura. Kamu harus menyerah.”
“Kalo gue nggak mau?”
Cessa hanya menatap gue sedih. “Hal yang lebih buruk akan terjadi. Lebih baik kamu bawa Sakura ke rumah sakit sekarang atau Sakura akan mati karena kehabisan darah.”
Gue tercengang dengan kalimatnya.
Dia mengambil jubah dan topengnya. “Jangan pernah berfikiran untuk memberitahu hal ini kepada orang lain. Aku nggak akan segan-segan membuat Sakura mati.”
Cessa hendak pergi, tapi gue menahan tangannya. Menatapnya tajam. “Lo kira, gue akan menyerah begitu aja?”
Cessa hanya tersenyum. “Aku tau kamu nggak akan menyerah. Tapi kumohon jangan melawan. Lawanmu bukan lawan yang seimbang. Sakura akan mati, berikut orang-orang yang ada di sekitarmu. Jangan melawan. Menyerahlah.”
***
Semenjak kejadian itu, gue selalu menemukan boneka susan di dalam loker Ara. Tentu saja sebelum Ara membuka lokernya. Semakin hari gue semakin khawatir dengan kondisinya. Ara bisa mati kapan saja tanpa gue tahu.
Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk meninggalkan Ara, kakaknya baru saja meninggal dunia. Tapi gue nggak bisa mengundur waktu lagi. Waktu yang diberikan untuk gue sudah habis.
“Sekarang kamu tidur. Jangan tidur malem-malem. Besok sekolah. Oke?”
“Oke.”
Sambungan terputus. Rasanya itu akan menjadi percakapan terakhir gue dan Ara. Gue nggak akan lagi bisa mendekatinya.
Dan hari-hari berikutnya harus gue jalani dengan perasaan yang tertekan. Setiap kali melihat raut wajahnya yang tersenyum dan berniat untuk menyapa gue, gue langsung menghindar. Gue akan bersembunyi di balik dinding tebal yang tidak bisa dilalui oleh Ara.
Entah perasaan apa yang bisa membuat gue merasakan linunya tertusuk tombak tepat di jantung. Tapi setiap kali melihat Ara, rasanya ada ribuan tombak yang menghantam jantung gue.
***
“Badai... lo nggak apa-apa, kan?”
Gue tersadar dari lamunan panjang gue. Ara menatap gue dengan raut wajah khawatirnya. Gue hanya tersenyum tipis.
“It’s okay.” Gue menerima potongan buah apel dari Ara dan memakannya dengan lahap. “Denger-denger Atha dan Zia jadian ya?”
Ara tersenyum senang dan mengangguk. “Awalnya Atha mau ninggalin Zia, tapi gue langsung larang. Enak aja tu anak gantungin perasaan orang!” omel Ara dengan raut wajah kesalnya. “Cuma gara-gara ancaman dari masa lalu? Huh... apa hebatnya melindungi dari jarak jauh?”
Gue tertegun. Meskipun kalimat itu tertuju untuk Atha, entah kenapa, gue merasa tersindir.
“Lebih baik kalo dia menjaga Zia dari dekat. Selain bisa lebih leluasa mengawasi, mereka nggak akan menekan perasaan mereka. Iya, kan!?”
Mereka nggak akan menekan perasaan mereka.
Ya, itu yang gue lakukan beberapa waktu lalu. Menjaga Ara dari jarak jauh. Itu yang gue lakukan. Karena itulah gue menyesal.
Apakah gue masih punya kesempatan?
“Oh ya, kata dokter, lo bisa pulang besok. Gimana perasaan lo?” Dia tersenyum senang sambil menyodorkan potongan buah apel kepada gue.
Bukannya mengambil dengan tangan gue, gue memilih untuk langsung memakannya. Membuat adegan terlihat seperti Ara sedang menyuapi gue. Ara terlihat terkejut.
“Besok pulang dari rumah sakit, mau istirahat di rumah atau mau langsung adain perayaan?” tanyanya.
“Istirahat di rumah.” Gue mengundur waktu lebih lama lagi. “Kayaknya gue belum bisa ke mana-mana.”
“Oke. Nanti gue bilangin anak-anak.”
Sekarang... apakah terlambat jika memintanya untuk tetap tinggal? Bodoh. Gue memang selalu egois. Gue yang meninggalkannya, kenapa gue harus memintanya kembali? Mana mungkin dia mau.
“Badai, lo mau disuapin?”
Gue menggeleng. “Gue bisa sendiri kok.”
Ara tersenyum. “Kalo gitu gue pergi dulu ya. Gue ada janji sama Davi.” Ara berdiri dan mengambil tasnya. Ia melambaikan tangannya dan pergi begitu saja.
Idiot! Seharusnya gue meminta dia untuk menyuapi gue.
***
Ini hari kedua setelah gue kembali ke rumah. Gue nggak bisa menahan Ara lebih lama. Gue nggak bisa...
Akhirnya acara diadakan di halaman belakang rumah gue. Para cewek bertugas untuk memasak sementara cowok-cowok merapikan tempat yang akan digunakan.
Gue duduk bersama Awan dan Atha yang sedang menunggu makanan datang. Mata gue menatap kosong ke arah rerumputan. Memikirkan dengan baik-baik apa yang akan gue lakukan.
Ini kesempatan terakhir gue. Ya, ini kesempatan terakhir. Besok siang Ara berangkat ke Jepang.
“Badai, belakangan ini lo agak aneh.” Atha menatap bingung. “Emang tusukannya bisa bikin kepribadian lo berubah ya?”
Awan mendengus. “Dasar sarap!” makinya. “Tapi dia bener.” Awan membenarkan. “Lo agak aneh? Kenapa? Patah hati karena Prisil?”
Atha mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya. “Emangnya dia sayang banget sama Prisil ya?” tanyanya dengan raut wajah polos.
Gue berdiri. Melirik sebentar ke arah Ara, lalu berjalan pelan ke arahnya.
“Badai, lo mau ke mana? Nggak mau ngegosip dulu?” Atha berseru.
Tidak ada kesempatan lain selain ini Badai. Cegah dia. Cegah dia agar dia tidak pergi. Minta dia untuk tetap tinggal.
“Ara...”
Gue menoleh dan mendapati seorang cowok membawa sebuket bunga mawar sedang berjalan ke arah Ara. Gue tertegun. Dia...
“Davi...?” Ara terlihat terkejut.
“Gue yang ngundang.” Zia nyengir. “Nggak apa-apa, kan?”
Dan dunia gue terasa hancur seketika. Mungkinkah ini yang orang-orang sebut karma? Tidak. Gue nggak bisa membiarkan ini terjadi. Gue nggak bisa membiarkan momen-momen indah itu menjadi menyakitkan untuk Ara.
Selama acara gue hanya diam. Gue hanya bisa memerhatikan Ara diam-diam. Rasanya begitu menyakitkan saat melihat dia tersenyum dan tertawa untuk orang lain. Apalagi Davi itu benar-benar sok romantis!
“Ra, lo beneran mau pergi?” tanya Zia dengan raut wajah sedih. “Nanti yang dengerin curhatan gue siapa dong?”
Gue dan yang lainnya menunggu jawaban Ara. Cewek itu menatap Zia dengan kedua mata menyipit.
“Lo udah punya si Manusia Badak. Lo gangguin aja kehidupannya.” Ara melirik Atha. “Kalo nggak lo curhat sama Ruth.”
“Nggak. Nggak. Gue nggak menerima penampungan cerita!” Ruth langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ara tertawa. “Kalo begitu sama Awan aja.”
Atha langsung menggebrak meja. “Nggak boleh! Kalo kamu mau curhat sama Awan, aku balikan sama Amboi!” ancamnya.
Zia langsung mengenyit. “Balikan aja sana.”
“Zia....” Atha mengerucutkan bibirnya.
Mereka tertawa lebar melihat tingkah Atha yang aneh juga lucu. Tapi gue sama sekali nggak bisa mengikuti arus mereka. Arus gue tetap sama. Ara.
“Kalo gue curhat sama Badai boleh nggak?” tanya Zia menatap Ara.
Ara hanya mengangkat bahunya. Lalu menatap gue. “Boleh, nggak?”
Gue terdiam. Hanya menatapnya dalam diam. Apakah ini akan menjadi terakhir kalinya gue melihat senyum cerahnya? Apakah jika dia pergi, gue akan baik-baik saja? Mengapa malam ini terasa begitu saja menyakitkan?
“Badai... lo nggak kerasukan, kan?” Ruth melembai-lambaikan tangannya di depan wajah gue.
Gue tersentak. “Ah... kenapa?”
“Badai, lo masih ngerasa sakit?” tanya Ara khawatir.
Ya. Gue sakit karena lo.
“Atau... ada sesuatu yang lo mau?” tanyanya lagi.
Ya. Gue mau lo tetap di sini.
“Kayaknya Badai beneran kesambet atau kerasukan.” Atha mengenyit. Dia menghampiri gue. “Ayo ke dalam!”
***
Hari ini anak-anak ijin nggak masuk sekolah demi menemani kepergian Ara, termasuk gue juga. Gue baru tahu bahwa orang tua Ara pergi dua hari yang lalu ke Jepang sementara orang tua Davi tetap memilih tinggal di Indonesia.
Setelah saling memeluk dan mengucapkan kata-kata perpisahan, tinggal gue yang terakhir. Ara tersenyum manis ke arah gue. Senyuman yang mematikan tombol kehidupan gue.
Sebelum sempat memeluk duluan, gue langsung merengkuhnya ke dalam pelukan. Gue memeluknya erat seakan gue takut kehilangannya. Ya, gue takut.
“Ara...” Gue berbisik di telinganya. “I love you...”
Detik demi detik berlalu. Tubuh Ara terasa membeku. Gue tahu dia pasti sangat terkejut dengan apa yang gue katakan. Dia pasti nggak akan percaya dengan apa yang gue nyatakan.
Dia menepuk-nepuk punggung gue dan melepas pelukannya. Dia tersenyum lagi.
“Tapi kehidupan nggak selalu berjalan sesuai keinginan. Kalo kita jodoh, kita akan ketemu lagi. Sekarang, takdir berkata kita harus berpisah...,” ucapnya pelan sehingga hanya gue yang bisa mendengarnya.
Ara menarik pegangan kopernya ke atas. “Sampai jumpa...” Dia berbalik, berjalan menjauh dan menghampiri Davi yang menunggu di tempat antrian. Sejenak dia menghadap kami lagi dan melambaikan tangannya.
Zia tersenyum sambil menatap kerpegian Ara. “Udah ah yuk balik!”
“Main yuk! Kamu mau ke mana?”
Zia merangkul Atha dan tersenyum ceria. “Taman hiburan?”
“Apapun buat kamu...” Atha tersenyum.
“Badai... lo kenapa?” Awan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah gue. “Lo sakit? Sejak pulang dari rumah sakit lo jadi agak aneh.”
Dan yang lainnya langsung memperhatikan gue. Menunggu jawaban gue yang tak kunjung keluar dari mulut gue. Lalu gue memutuskan untuk berbalik badan dan meninggalkan bandara dalam sakit yang begitu dalam.
Gue memang bodoh. Gue malah membuka luka di hati gue sendiri. Gue membiarkan dia pergi. Dengan cinta, dengan harapan dan dengan beribu luka yang lebih menyakitkan. Gue tahu... dia nggak akan pernah kembali.

Gue? Gue sakit...

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram