Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Badai Kusuma Putra


"Ara! Badai mau motong rambut lo!"
Kami bertiga—Ify, Sakura dan gue—langsung menoleh ke arah Zia. Ow... Ow... gue tertangkap basah. Gue menoleh ke arah Ara yang sedang menatap jengkel gue. Gue menyeringai lebar dan langsung lari secepat mungkin.
Gue yakin seratus persen sekarang Ara mengejar gue dengan raut wajah yang sama sekali tidak ramah.  Wajahnya pasti merah padam sekarang. Ah! Wajah yang sudah puluhan kali gue lihat. Pasti lucu.
Gue berlari tak beraturan agar Ara nggak bisa mengejar gue. Tapi gue nggak menyangka bahwa Ara ternyata jago lari marathon. Buktinya dia berada pas di belakang gue. Dan sedetik kemudian dia menari kerah seragam gue dengan kasar.
“Badai!!!” desisnya kesal.
Gue malah tertawa lebar. “Sori. Bercanda.”
“Lo kira ini lucuuuuu?” Matanya melotot. “Ini rambut asli bukan rambut palsu!”
Melihat kedua mata yang sipit dan jelas-jelas nggak pantes banget untuk melotot, gue semakin tertawa lebar. Dia sama sekali nggak menyeramkan.
HUSH
Ow... ow... seseorang menabrak Ara secepat angin. Kedua mata gue melebar dan tangan gue refleks mencegah Ara jatuh ke tanah.
Gue menahan nafas sepersekian detik. Gila! Ini gila! Kenapa juga gue menyelamatkan Ara dan memilih memeluknya di depan umum?
Memang sih memeluknya nggak jadi masalah untuk gue, gue malah senang. Tapi melihatnya dari jarak yang begitu dekat seperti ini, gue nggak yakin lagi bisa menahan untuk tidak menggodanya.
Matanya... hidungnya... bibirnya...
Damn! She’s so adorable...
Gue menyeringai. “Are you okay, Ara?”
Dan saat itu juga detik demi detik yang tercipta antara gue dan dia untuk saling menatap, hancur seketika. Dia mendorong gue dengan kasar dan menatap gue dengan sinis.
“Crazy!”
Ara meninggalkan gue dan beberapa penonton dari kalangan kelas sepuluh.
Gue tersenyum geli, lalu mengikuti Ara yang kembali ke kelas dengan banyak mata yang masih mengawasi gue.
***
Kedua mata gue diam-diam memerhatikan soso manis di barisan kedua dari depan. Bagi gue, melihatnya dari sini udah cukup, asalkan gue melihat keberadaannya.
Gue tersenyum kecil dan tiba-tiba saja Awan menyenggol lengan gue dengan kasar. Dia tersenyum meledek seperti biasa dan melirik sosok manis itu. Tapi gue langsung bersikap acuh tak acuh. Gue kembali membaca buku biologi yang ada di tangan gue.
Meskipun begitu, gue nggak bisa menyembunyikan dengan baik apa yang sedang gue rasakan. Ya, gue nggak akan mampu untuk menyembunyikannya.
“Eng, Badai!”
Gue mendongak dan mendapati Ara berdiri canggung di samping tempat duduk gue.
Teman-teman satu kelas langsung ribut. Mereka menyerukan kata yang sama. Kata ‘ciye’ saat melihat adegan Ara mengahmpiri gue. Dasar anak-anak stress, memangnya kenapa kalau Ara dekat dengan gue? Kita kan juga teman.
“Bisa bantu benerin video ini?” Ara terlihat sedang mengacuhkan teman-teman yang berisiknya kayak ibu-ibu yang suka gosip. “Tadi malem gue udah edit, tapi tiba-tiba aja rusak. Bisa, kan!?”
Gue mengangguk saja dan menerima flashdisk kecil berwarna biru dari Ara.
“Makasih.” Ara berkata dingin.
Setelah mengatakan itu, Ara kembali ke tempat duduknya. Lalu gue melihatnya memegang kedua pipinya juga memukul keningnya kuat-kuat.
Belakangan ini sikap Ara agak berubah. Tadi juga. Dia memang nggak pernah marah-marah sama gue lagi, tapi sikapnya lebih aneh sekarang. Dia terlihat berusaha untuk menjaga jarak... atau menjadi orang lain.
***
Teman-teman sekelas memang kurang ajar. Gue nggak akan bisa nolak kalau situasinya kayak begini. Apalagi beberapa hari yang lalu gue melihat kondisi Ara yang nggak memungkinkan. Dia menangis. Entah kenapa, yang jelas Awan bilang sama gue kalo itu salahnya.
Ara sedang sibuk mengangkat barang-barangnya sementara gue berusaha untuk mengeluarkan motor dari parkiran sekolah.
Sebenarnya gue berniat untuk membantu Ara membawakan barang-barangnya. Tapi entah kenapa, gue ingin mengerjainya. Gue pingin melihat reaksi marah-marahnya seperti dulu. Kayaknya bakalan lucu.
Gue melihat Ara sempat mengobrol sebentar dengan sahabatnya, Zia, lalu dia melirik seseorang entah di mana. Setelah menyadari bahwa gue menunggu, dia langsung menghampiri gue.
Ara menaiki motor dengan bantuan gue dan memegang erat pundak gue.
“Ayo berangkat!”
Dia nggak marah.
Gue tertegun. Ara sepertinya memang nggak menyadari bahwa gue sedang mengerjainya. Atau.. dia memang nggak apa-apa saat gue mengerjainya? Bukannya dia akan marah?
***
“SAKURA MENGHILANG!”
Sejenak gue hanya bisa termangu dengan ponsel yang masih tertempel di telinga kanan gue. Sementara Awan masih mengoceh tentang keberadaan gue dan menyuruh gue untuk cepat-cepat ke sana.
“Badai, lo dengerin gue nggak!?” Awan berseru kesal. “Pokoknya lo harus ke sini!”
Setelah memberitahu tempat pertemuan, gue langsung mengendarai motor hitam gue dengan gila-gilaan. Nggak peduli dengan pertanyaan nyokap dan bokap yang menanyakan ke mana gue akan pergi. Yang jelas, Ara harus ditemukan!
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Bukannya tadi Ara dan gue saling mengirimi pesan? Mengapa tiba-tiba dia menghilang? Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.
Sampai di tempat tujuan, gue menghentikan motor gue. Di sana ada Zia dan Awan yang sedang berbicara serius. Gue mendekat.
“Trus kenapa harus Badai?”
Hei. Mereka lagi ngomongin gue?
“Ah!” Awan menjentikkan jarinya. “Karena Badai digosipin suka sama Sakura?”
Benar. Mereka lagi ngomongin gue... juga Ara. Dasar kebiasaan menggosip, sepertinya mulut mereka berdua harus disumpel kaos kaki.
“Siapa yang suka sama siapa?”
Baik Zia maupun Awan langsung menoleh. Wajah mereka, tentu saja, sangat terkejut.
“Kenapa diem?” tanyaku sok penasaran.
“Ah... enggak.” Zia menggeleng.
Awan menatap gue dengan tatapan datarnya. “Kita nggak bisa menghabiskan waktu untuk pertanyaan nggak penting. Sekarang Sakura berada dalam bahaya!”
***
“Badai, kamu harus menyelamatkan Sakura sendiri.”
Kalimat itu terus saja terngiang di telinga gue sejak tadi. Kini gue terpisah dengan yang lainnya dan terus melanjutkan pencarian Ara di dalam sekolah.
Seseorang menyuruh gue untuk mengambil earphone di dalam loker milik gue. Setelah memasangkan earphone ke telinga gue, orang itu menyuruh gue untuk terus berjalan.
Sampai di lorong kelas 12-IPA, gue merasakan ada yang mengikuti gue di belakang. Gue melirik dengan ujung mata gue. Ah... si Atha berada di belakang gue. Dia ternyata menemukan keberadaan gue.
Tapi beberapa meni kemudian, dia pergi ke arah yang berbeda. Sementara suara orang yang ada di earphone terus menyuruh gue untuk mengitari sekolah. Gue semakin curiga dengan apa yang ia perintahkan. Jadi gue memutuskan untuk pergi semau gue.
Sampai di sebuah laboratorium yang sudah tak terpakai, gue menemukan keberadaan Atha di sana. Gayanya seperti orang yang sedang menguping.
“Atha...”
Atha menoleh. Dia terlihat seperti terkejut karena gue tiba-tiba berdiri di belakangnya.
“Badai, kok elo bisa ke sini?”
Gue menatapnya dengan bingung. “Tentu bisa dong!”
“Tadi kan elo lagi kena perangkap mereka. Lo disuruh muterin satu sekolahan, kan?”
Gue mengangguk mengangguk. “Kok elo bisa tau?”
Gue langsung menunjuk laboratorium di belakang gue. “Mereka dan Sakura ada di dalam. Tadi gue denger mereka ngobrol tentang...”
Mendengar nama Ara dan mengetahui bahwa keberadaannya ada di dalam, gue langsung menyenggol Atha dan masuk begitu saja ke dalam.
BRAK
Mata gue terbelalak lebar saat melihat seseorang memegang tongkat besi dengan Ara yang sudah tak sadarkan diri di kursinya. Orang itu terkejut melihat keberadaan gue, tapi langsung disadarkan oleh komplotannya yang lain. Mereka kabur.
Tanpa pikir panjang, gue langsung menyusul mereka. Gue mengejar mereka secepat yang gue bisa. Ternyata mereka mengambil jalan keluar belakang sekolah.
Satu orang di antara mereka terjatuh dan tertinggal sementara orang yang badannya lebih tinggi itu berlari tanpa menyadari bahwa temannya terjatuh.
Gue mendekat dan langsung menariknya berdiri. Gue membuka topengnya dengan kasar dan jubah hitam yang dipakainya terjatuh ke lantai.
“Cessa?” Gue terkejut.
Cessa menatap gue ketakutan. Tangannya terlihat gemetaran.
“Kenapa...? Apa salah Ara sama lo?”
Cessa menggelengkan kepalanya. “Menyerahlah.” Cessa berkata pelan. “Menjauhlah dari kehidupan Sakura. Maka Sakura akan baik-baik saja.”
“Ini ancaman?” Gue mengernyit.
“Anggap aja begitu. Kamu nggak akan bisa melindungi Sakura. Kamu harus menyerah.”
“Kalo gue nggak mau?”
Cessa hanya menatap gue sedih. “Hal yang lebih buruk akan terjadi. Lebih baik kamu bawa Sakura ke rumah sakit sekarang atau Sakura akan mati karena kehabisan darah.”
Gue tercengang dengan kalimatnya.
Dia mengambil jubah dan topengnya. “Jangan pernah berfikiran untuk memberitahu hal ini kepada orang lain. Aku nggak akan segan-segan membuat Sakura mati.”
Cessa hendak pergi, tapi gue menahan tangannya. Menatapnya tajam. “Lo kira, gue akan menyerah begitu aja?”
Cessa hanya tersenyum. “Aku tau kamu nggak akan menyerah. Tapi kumohon jangan melawan. Lawanmu bukan lawan yang seimbang. Sakura akan mati, berikut orang-orang yang ada di sekitarmu. Jangan melawan. Menyerahlah.”
***
Semenjak kejadian itu, gue selalu menemukan boneka susan di dalam loker Ara. Tentu saja sebelum Ara membuka lokernya. Semakin hari gue semakin khawatir dengan kondisinya. Ara bisa mati kapan saja tanpa gue tahu.
Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk meninggalkan Ara, kakaknya baru saja meninggal dunia. Tapi gue nggak bisa mengundur waktu lagi. Waktu yang diberikan untuk gue sudah habis.
“Sekarang kamu tidur. Jangan tidur malem-malem. Besok sekolah. Oke?”
“Oke.”
Sambungan terputus. Rasanya itu akan menjadi percakapan terakhir gue dan Ara. Gue nggak akan lagi bisa mendekatinya.
Dan hari-hari berikutnya harus gue jalani dengan perasaan yang tertekan. Setiap kali melihat raut wajahnya yang tersenyum dan berniat untuk menyapa gue, gue langsung menghindar. Gue akan bersembunyi di balik dinding tebal yang tidak bisa dilalui oleh Ara.
Entah perasaan apa yang bisa membuat gue merasakan linunya tertusuk tombak tepat di jantung. Tapi setiap kali melihat Ara, rasanya ada ribuan tombak yang menghantam jantung gue.
***
“Badai... lo nggak apa-apa, kan?”
Gue tersadar dari lamunan panjang gue. Ara menatap gue dengan raut wajah khawatirnya. Gue hanya tersenyum tipis.
“It’s okay.” Gue menerima potongan buah apel dari Ara dan memakannya dengan lahap. “Denger-denger Atha dan Zia jadian ya?”
Ara tersenyum senang dan mengangguk. “Awalnya Atha mau ninggalin Zia, tapi gue langsung larang. Enak aja tu anak gantungin perasaan orang!” omel Ara dengan raut wajah kesalnya. “Cuma gara-gara ancaman dari masa lalu? Huh... apa hebatnya melindungi dari jarak jauh?”
Gue tertegun. Meskipun kalimat itu tertuju untuk Atha, entah kenapa, gue merasa tersindir.
“Lebih baik kalo dia menjaga Zia dari dekat. Selain bisa lebih leluasa mengawasi, mereka nggak akan menekan perasaan mereka. Iya, kan!?”
Mereka nggak akan menekan perasaan mereka.
Ya, itu yang gue lakukan beberapa waktu lalu. Menjaga Ara dari jarak jauh. Itu yang gue lakukan. Karena itulah gue menyesal.
Apakah gue masih punya kesempatan?
“Oh ya, kata dokter, lo bisa pulang besok. Gimana perasaan lo?” Dia tersenyum senang sambil menyodorkan potongan buah apel kepada gue.
Bukannya mengambil dengan tangan gue, gue memilih untuk langsung memakannya. Membuat adegan terlihat seperti Ara sedang menyuapi gue. Ara terlihat terkejut.
“Besok pulang dari rumah sakit, mau istirahat di rumah atau mau langsung adain perayaan?” tanyanya.
“Istirahat di rumah.” Gue mengundur waktu lebih lama lagi. “Kayaknya gue belum bisa ke mana-mana.”
“Oke. Nanti gue bilangin anak-anak.”
Sekarang... apakah terlambat jika memintanya untuk tetap tinggal? Bodoh. Gue memang selalu egois. Gue yang meninggalkannya, kenapa gue harus memintanya kembali? Mana mungkin dia mau.
“Badai, lo mau disuapin?”
Gue menggeleng. “Gue bisa sendiri kok.”
Ara tersenyum. “Kalo gitu gue pergi dulu ya. Gue ada janji sama Davi.” Ara berdiri dan mengambil tasnya. Ia melambaikan tangannya dan pergi begitu saja.
Idiot! Seharusnya gue meminta dia untuk menyuapi gue.
***
Ini hari kedua setelah gue kembali ke rumah. Gue nggak bisa menahan Ara lebih lama. Gue nggak bisa...
Akhirnya acara diadakan di halaman belakang rumah gue. Para cewek bertugas untuk memasak sementara cowok-cowok merapikan tempat yang akan digunakan.
Gue duduk bersama Awan dan Atha yang sedang menunggu makanan datang. Mata gue menatap kosong ke arah rerumputan. Memikirkan dengan baik-baik apa yang akan gue lakukan.
Ini kesempatan terakhir gue. Ya, ini kesempatan terakhir. Besok siang Ara berangkat ke Jepang.
“Badai, belakangan ini lo agak aneh.” Atha menatap bingung. “Emang tusukannya bisa bikin kepribadian lo berubah ya?”
Awan mendengus. “Dasar sarap!” makinya. “Tapi dia bener.” Awan membenarkan. “Lo agak aneh? Kenapa? Patah hati karena Prisil?”
Atha mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya. “Emangnya dia sayang banget sama Prisil ya?” tanyanya dengan raut wajah polos.
Gue berdiri. Melirik sebentar ke arah Ara, lalu berjalan pelan ke arahnya.
“Badai, lo mau ke mana? Nggak mau ngegosip dulu?” Atha berseru.
Tidak ada kesempatan lain selain ini Badai. Cegah dia. Cegah dia agar dia tidak pergi. Minta dia untuk tetap tinggal.
“Ara...”
Gue menoleh dan mendapati seorang cowok membawa sebuket bunga mawar sedang berjalan ke arah Ara. Gue tertegun. Dia...
“Davi...?” Ara terlihat terkejut.
“Gue yang ngundang.” Zia nyengir. “Nggak apa-apa, kan?”
Dan dunia gue terasa hancur seketika. Mungkinkah ini yang orang-orang sebut karma? Tidak. Gue nggak bisa membiarkan ini terjadi. Gue nggak bisa membiarkan momen-momen indah itu menjadi menyakitkan untuk Ara.
Selama acara gue hanya diam. Gue hanya bisa memerhatikan Ara diam-diam. Rasanya begitu menyakitkan saat melihat dia tersenyum dan tertawa untuk orang lain. Apalagi Davi itu benar-benar sok romantis!
“Ra, lo beneran mau pergi?” tanya Zia dengan raut wajah sedih. “Nanti yang dengerin curhatan gue siapa dong?”
Gue dan yang lainnya menunggu jawaban Ara. Cewek itu menatap Zia dengan kedua mata menyipit.
“Lo udah punya si Manusia Badak. Lo gangguin aja kehidupannya.” Ara melirik Atha. “Kalo nggak lo curhat sama Ruth.”
“Nggak. Nggak. Gue nggak menerima penampungan cerita!” Ruth langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ara tertawa. “Kalo begitu sama Awan aja.”
Atha langsung menggebrak meja. “Nggak boleh! Kalo kamu mau curhat sama Awan, aku balikan sama Amboi!” ancamnya.
Zia langsung mengenyit. “Balikan aja sana.”
“Zia....” Atha mengerucutkan bibirnya.
Mereka tertawa lebar melihat tingkah Atha yang aneh juga lucu. Tapi gue sama sekali nggak bisa mengikuti arus mereka. Arus gue tetap sama. Ara.
“Kalo gue curhat sama Badai boleh nggak?” tanya Zia menatap Ara.
Ara hanya mengangkat bahunya. Lalu menatap gue. “Boleh, nggak?”
Gue terdiam. Hanya menatapnya dalam diam. Apakah ini akan menjadi terakhir kalinya gue melihat senyum cerahnya? Apakah jika dia pergi, gue akan baik-baik saja? Mengapa malam ini terasa begitu saja menyakitkan?
“Badai... lo nggak kerasukan, kan?” Ruth melembai-lambaikan tangannya di depan wajah gue.
Gue tersentak. “Ah... kenapa?”
“Badai, lo masih ngerasa sakit?” tanya Ara khawatir.
Ya. Gue sakit karena lo.
“Atau... ada sesuatu yang lo mau?” tanyanya lagi.
Ya. Gue mau lo tetap di sini.
“Kayaknya Badai beneran kesambet atau kerasukan.” Atha mengenyit. Dia menghampiri gue. “Ayo ke dalam!”
***
Hari ini anak-anak ijin nggak masuk sekolah demi menemani kepergian Ara, termasuk gue juga. Gue baru tahu bahwa orang tua Ara pergi dua hari yang lalu ke Jepang sementara orang tua Davi tetap memilih tinggal di Indonesia.
Setelah saling memeluk dan mengucapkan kata-kata perpisahan, tinggal gue yang terakhir. Ara tersenyum manis ke arah gue. Senyuman yang mematikan tombol kehidupan gue.
Sebelum sempat memeluk duluan, gue langsung merengkuhnya ke dalam pelukan. Gue memeluknya erat seakan gue takut kehilangannya. Ya, gue takut.
“Ara...” Gue berbisik di telinganya. “I love you...”
Detik demi detik berlalu. Tubuh Ara terasa membeku. Gue tahu dia pasti sangat terkejut dengan apa yang gue katakan. Dia pasti nggak akan percaya dengan apa yang gue nyatakan.
Dia menepuk-nepuk punggung gue dan melepas pelukannya. Dia tersenyum lagi.
“Tapi kehidupan nggak selalu berjalan sesuai keinginan. Kalo kita jodoh, kita akan ketemu lagi. Sekarang, takdir berkata kita harus berpisah...,” ucapnya pelan sehingga hanya gue yang bisa mendengarnya.
Ara menarik pegangan kopernya ke atas. “Sampai jumpa...” Dia berbalik, berjalan menjauh dan menghampiri Davi yang menunggu di tempat antrian. Sejenak dia menghadap kami lagi dan melambaikan tangannya.
Zia tersenyum sambil menatap kerpegian Ara. “Udah ah yuk balik!”
“Main yuk! Kamu mau ke mana?”
Zia merangkul Atha dan tersenyum ceria. “Taman hiburan?”
“Apapun buat kamu...” Atha tersenyum.
“Badai... lo kenapa?” Awan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah gue. “Lo sakit? Sejak pulang dari rumah sakit lo jadi agak aneh.”
Dan yang lainnya langsung memperhatikan gue. Menunggu jawaban gue yang tak kunjung keluar dari mulut gue. Lalu gue memutuskan untuk berbalik badan dan meninggalkan bandara dalam sakit yang begitu dalam.
Gue memang bodoh. Gue malah membuka luka di hati gue sendiri. Gue membiarkan dia pergi. Dengan cinta, dengan harapan dan dengan beribu luka yang lebih menyakitkan. Gue tahu... dia nggak akan pernah kembali.

Gue? Gue sakit...

Sakura Fujiwara



Pistol itu mengarah ke arahku. Tepatnya ke arah kepalaku. Aku menatap Prisil dengan tatapan bingung. Sejujurnya aku tidak terkejut mengetahui bahwa Prisil adalah adik Fabi dan merupakan bagian dari tim penculikan ini.
Sebelum ke tempat ini, aku berada di gedung tua itu. Aku berusaha memancing percakapan dengan Fabi mengenai kematian kakakku. Aku harap teman-teman yang lain melakukan perintahku sesuai yang kuberikan pada Badai. Yaitu untuk merekam percakapan itu dan meminta pertolongan kepada polisi.
Di gedung tua itu, saat aku menanyakan keberadaan Prisil, Fabi membawa seseorang yang membuatku terkejut. Ya, dia Prisil. Dengan gaya santainya dan kelihatannya dia hidup enak, dia datang dan tersenyum padaku.
Dan parahnya lagi, dia memeluk Fabi sambil memanggilnya ‘kakak’. Saat itu aku sangat terkejut. Tapi aku tidak bisa apa-apa selain menuruti perintah mereka. Karena Prisil akan menjambak rambutku saat aku melawan.
Kulihat tangan Prisil gemetaran memegang pistol itu. Aku tahu Prisil pasti tidak berani menembak. Tidak mungkin kan...
“Aku tidak tahu bahwa perempuan ini begitu berarti untukmu. Aku bahkan tak ada secuilpun dari perempuan ini.” Prisil memeringkan kepalanya. Kedua matanya menatapku seakan sedang tersenyum mengejek.
“Prisil... kamu tahu... aku sama sekali nggak punya perasaan yang sama dengan Ara.” Badai mendekati Prisil perlahan. “Aku hanya merasa bersalah dengan dia.”
Saat itu juga, aku merasakan setiap pisau yang menusuk ke dalam jantungku. Aku merasakan ngilu yang tak bisa kutahan lagi.
“LO BENER-BENER NGGAK PUNYA HATI!”
Aku melirik Zia yang berteriak marah. Aku tahu bahwa Zia pasti tidak menyukai kenyataan bahwa Badai memang seperti itu. Badai memang tidak menganggapku. Badai hanya menyukai Prisil.
“Zia, tenang...” Kulihat Atha menepuk-nepuk pundaknya. Tapi langsung ditepis oleh Zia dan Atha langsung mendapatkan tatapan sinis dari Zia.
Aku sebenarnya sangat senang mengetahui bahwa Zia mulai dekat dengan Atha, tapi sepertinya sekarang tidak lagi. Aku sadar bahwa Zia kecewa karena Atha tidak memberitahunya tentang Amboi. Aku juga terkejut tadi.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara dari samping kananku. Oh tidak, apa itu? Aku menoleh dan mendapati Fabi sedang menggapai pisaunya yang terjatuh.
DUAR...
Aku tidak sempat berbuat apa-apa selain mendengar suara letusan dari luar dan melihat Fabi merangkak ke arahku untuk menusukku.
Rasanya aku ingin menangis karena aku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku tidak bisa berteriak dan berbuat apa-apa sekarang. Sepertinya ini waktu yang tepat bagiku untuk menyusul Kak Yasumi.
DUAR...
Kembali kudengar suara letusan, kali ini berasal dari orang yang ada di depanku. Aku memejamkan mataku dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku mematung.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Aku tidak merasakan apa-apa. Sakipun tidak.
Aku membuka mataku. Lalu terbelalak lebar saat melihat Atha sedang berusaha merebut pistol dari tangan Prisil. Ternyata Atha membuat tembakan itu ke atas, sehingga Prisil gagal menembakku.
Tapi... mengapa tubuhku merasa berat. Ada sesuatu yang menarikku hingga aku tertunduk jatuh...
Badai...
BRUK...
Aku menoleh dan mendapati Zia sedang memukuli Fabi. Mataku menangkap pisau yang terjatuh di dekatnya. Sudah berdarah.
DEG
Jantungku terasa berhenti berdetak. Aku melihat orang yang berada di pangkuanku dengan gemetar. Badai sedang memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.
Semuanya terlihat seperti bayang-bayang. Aku bahkan tidak dapat mendengar suara-suara orang di sekelilingku. Aku hanya bisa merasakan polisi datang bersama Ruth dan Awan. Mengejar Rado yang hampir kabur dan membantu Zia juga Atha untuk menangkap Prisil dan Fabi.
Aku mendongak. Mencari pertolongan. Zia melihatku dan langsung mendekat.
Ia melepaskan semua ikatan, di mulutku, di tangan dan juga ikatan longgar di kakiku.
Setelah semuanya lepas, aku langsung menatap Badai yang sedang memejamkan mata. Aku memegang tangannya yang menutupi perutnya. Aku melihat darah..
Tidak... tanganku sekarang penuh darah. Tanganku... darah... ini darah Badai?
***
“Operasinya sukses. Tidak ada organ yang terkena tusukan. Jadi, beberapa jam lagi dia akan sadar.”
Seorang dokter tua tersenyum manis dan menepuk pundakku. Dia pergi setelah menjelaskan bahwa operasi Badai sukses dan kondisi Badai baik-baik saja.
Orang tua Badai sangat terkejut saat menemukan anaknya tertusuk pisau. Meskipun tidak marah denganku, sebagai penyebab Badai terluka, aku tetap saja merasa bersalah.
Dari awal aku ingin mengatakan pada mereka bahwa seharusnya mereka memilih Prisil saja. Tapi tak ada satupun dari mereka yang mengerti tatapanku. Jika mereka memilih Prisil, tidak akan sesulit ini.
Aku tertunduk di lorong rumah sakit. Sekarang aku tidak berani mengunjungi Badai. Aku tidak punya nyali.
Ah... aku mendongak. Sejenak aku teringat tentang kedua orangtuaku. Mengapa mereka tidak menelfonku untuk menanyakan mengapa aku belum sampai? Aku mengganti nomorku sejak Zia berhasil diselamatkan saat penculikan lalu. Pasti orang tuaku sangat khawatir. Apakah mereka kembali ke Indonesia?
“Ara...?”
Aku menoleh ke belakang. Kedua mataku membelalak lebar saat mengetahui siapa orang yang memanggilku. Saat menyadari bahwa dirinya tidak salah orang, dia menghampiriku dengan langkah tergesa-gesa.
“Kamu ke mana aja selama ini?” tanyanya dengan raut wajah khawatir. “Aku nyariin kamu.”
Mulutku masih menganga lebar sangking kagetnya dan aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mataku melihat sosok di depanku.
Namanya Davidio. Aku memanggilnya Davi. Kami kenal karena Kak Yasumi mengenalkannya sebagai muridnya yang pintar.
Mengetahui bahwa aku masih cukup terkejut dengan kehadirannya, Davi mengajakku untuk pergi ke taman rumah sakit dan duduk di sana untuk berbicara.
“Kapan kamu pulang ke Indonesia?” tanyaku masih terkejut.
Dia tersenyum. “Seminggu yang lalu.” Dia menatapku. “Wajahmu kenapa?”
Ah... ini pasti karena lebam-lebam yang disebabkan penculikan lalu deh. Uh, menyebalkan sekali.
“Nggak apa-apa. Cuma jatuh.” Aku beralasan.
“Aku bertemu kedua orangtuamu.”
DEG
Oh tidak. Davi bertemu kedua orangtuaku? Bukankah mereka pergi ke Jepang?
“Aku nggak tau apa yang sedang terjadi. Tapi waktu itu mereka hampir dicelakai seseorang.” Dia menatapku dalam. “Kamu bener nggak kenapa-kenapa, kan?”
Aku terdiam. “Orang tuaku... di mana?”
Dia tersenyum simpul. “Di rumahku. Di rumahmu terlalu berbahaya untuk mereka berdua. Sebenarnya apa yang terjadi?”
Sejenak aku ragu untuk menceritakannya pada Davi. Bukannya aku tidak percaya dengan Davi, aku tahu Davi orang baik, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa membagi semuanya pada Davi.
Akhirnya kuputuskan untuk bercerita dengan Davi. Dimulai dari surat ancaman yang selalu ada di lokerku sampai bagaimana Badai menyelamatkan nyawaku.
Aku meliriknya saat ceritaku sudah selesai. Aku ingin melihat reaksinya. Apakah dia akan menjauh dariku? Sepertinya sekarang aku tahu mengapa Badai dulu menjauhiku. Dia pasti takut dengan surat ancaman itu. Dia tidak ingin terlibat denganku.
Davi mengangguk-angguk dan tersenyum lagi. “Sepertinya orang tuamu hampir celaka karena orang itu juga.”
Aku mengangguk setuju. “Kamu... nggak takut?”
Davi menatapku bingung. “Takut kenapa?” tanyanya.
“Aku... banyak orang yang mengincarku. Banyak orang yang membenciku.” Aku menahan air beningku keluar dari mataku. “Aku... nggak bisa hidup dengan orang yang aku sayangi. Termasuk orang tuaku...”
“Maksudmu...!?”
“Tolong bilang sama orang tuaku, aku akan pergi dari kehidupan mereka. Sehingga mereka nggak akan terluka.”
Setelah berkata itu, aku berdiri. Bersiap-siap untuk meninggalkan Davi. Tapi ia mencegahku pergi dengan memegang tanganku.
“Ayo kita mulai kehidupan baru di Jepang!” Davi tersenyum sementara aku menatapnya bingung. “Aku akan membujuk orang tuaku untuk pindah ke Jepang.”
“Tapi aku... nggak akan mau membuat orang-orang masuk ke dalam kehidupanku lagi. Kamu juga akan celaka.”
Davi menggeleng. Dia menggenggam tanganku erat. “Kalau begitu, kita hadapi bersama.”
***
“Kita perlu bicara.” Zia menatap sinis Atha yang berdiri tepat di depannya.
Atha hanya mengangguk dan mengikuti Zia.
Diam-diam aku mengikuti mereka berdua. Aku khawatir nanti Zia akan patah hati. Kalau Atha sampai membuatnya menangis, aku akan menghajarnya dengan gebokanku.
Zia sedang berdiri menghadap Atha. Matanya menatap tajam mata Atha. Tapi Atha hanya menatapnya dengan tatapan merasa bersalahnya. Aku jadi kasihan melihat Atha.
“Kenapa lo nggak pernah bilang sama gue kalo lo mantan pacarnya Amboi?”
Atha terdiam sejenak. “Kenapa gue harus bilang?”
Aku terkejut. Apa-apaan si Atha? Mengapa dia mengatakan hal seperti itu? Zia pasti sangat terkejut dengan kata-kata Atha barusan.
“Oke... gue emang bukan siapa-siapa.” Zia menggepal tangannya kuat-kuat dan masih menatap Atha dengan tatapan tajamnya. “Kalo gitu... lo seharusnya pergi jauh-jauh dari hidup gue! Jangan lagi mengganggu hidup gue!”
“Benar.” Atha mengangguk. “Seharusnya gue nggak mengganggu kehidupan lo.” Dia tersenyum simpul. “Maaf.”
Omigat! Barusan dia bilang apa? Dia benar-benar mau kugebok ya?
Tangan Atha bergerak merogoh saku jaketnya. Lalu mengeluarkan sebuah kalung cantik berwarna perak berbentuk kepala Mickey Mouse. Ada inisial ‘A’ di sana. Kalung cantik itu pasti dipesan khusus, tidak mungkin kan dia beli di sembarang tempat?
Kulihat Atha mengalungkan kalung tersebut ke leher Zia. Membuat tatapan tajam Zia meluruh dan kedua matanya menatap bingung ke arah Atha. Tapi Atha tidak menggubrisnya.
Atha tersenyum simpul setelah mengalungkan kalung tersebut. “Terimakasih telah mengisi hari-hari gue.” Atha berbalik dan berjalan menjauh.
Omigat! Omigat! Apa yang terjadi? Mengapa Atha meninggalkan Zia sendiri? Apa Atha menyerah untuk mendapatkan hati Zia?
Air bening itu mengalir dari kedua mata bulat Zia. Cewek itu memegang kalung itu dengan raut wajah sedih. Aku  tak tega membiarkannya sedih seperti itu. Sepertinya Zia memang sudah jatuh cinta pada Atha.
Baiklah. Ini saatnya aku menggebok Atha dan memberikan pelajaran untuknya! Enak saja dia mempermainkan Zia begitu saja.
“LO BILANG LO SUKA SAMA GUE!”
Langkahku terhenti saat mendengar Zia berteriak. Aku tertegun. Sepertinya untuk masalah ini kau tidak berhak ikut campur. Dan aku melihat langkah kaki Atha juga terhenti, tapi cowok itu tidak membalikkan badannya.
“LO BILANG GUE INI TUAN PUTRI LO!” Zia menghapus air matanya. “TAPI KENAPA LO MALAH LARI? KENAPA LO NGGAK TANGGUNG JAWAB!?” Zia menangis lagi. “KENAPA LO NGGAK TANGGUNG JAWAB SETELAH NGEBUAT GUE JATUH CINTA SAMA LO!? KENAPA?”
Tubuh Zia meluruh ke tanah. Tangan kanannya masih memegang erat kalung yang baru saja diberikan oleh Atha.
“Jangan pergi...,” lirih Zia. “Jangan tinggalin gue...”
Lalu aku melihat Atha membalikkan badannya. Menatap Zia dengan nanar dan melangkah secepat yang ia bisa. Mendekati Zia dan membantu Zia berdiri.
Atha menghembuskan nafas beratnya dan menatap Zia lekat. “Gue nggak mau nyakitin lo.” Tangannya menghapus air mata yang mengalir di pipi Zia. “Ingatan gue... gue nggak tau apa yang akan terjadi nanti setelah gue mengingat ini semua.”
Dengan satu gerakan tak terduga, Atha merengkuh Zia ke dalam pelukannya. Lalu mengelus-elus kepalanya dengan sayang.
Zia membalas pelukan itu. Dia mulai berhenti menangis. “Gue akan menunggu.”
Atha melepas pelukannya. Ia menatap Zia dan menggeleng. “Jangan menunggu.”
“Kenapa?” tanyanya bingung.
“Karena gue nggak tau apakah gue akan kembali.”
Melihat itu semua membuatku kesal. Ini sudah keterlaluan dan mau tak mau, aku harus ikut campur. Jadi kuputuskan untuk mendekati mereka berdua dan menyelesaikan ini dengan cepat.
BUK
Aku langsung menggebok Atha sehingga Atha terjerembab ke tanah dan meringis kesakitan. Tapi Zia malah menghampirinya.
“Hei Manusia Badak! Lo tau nggak, gue udah lama nggak nonjokin orang?” Aku melotot ke arahnya. “Sekarang lo pilih untuk tinggal atau pergi!”
“Ara...” Zia menatapku memohon.
Aku menggeleng. “Kalo lo pergi, gue akan matahin kaki lo!” Aku berkata keras. “Kalo lo tinggal dan bikin Zia nangis, gue bunuh lo!”
Atha berdiri dibantu oleh Zia. Cowok itu menyeringai seperti biasanya.
“Jangan nyengir!” Gue melotot.
“Ra, gue cuma nggak mau nyakitin Zia. Sekarang... gue bahkan nggak tahu harus apa untuk membuat Zia nggak tersakiti.” Raut wajah Atha berubah serius. “Apapun yang gue lakukan, pasti akan menyakiti Zia. Jadi gue nggak mau dia menunggu.”
Aku terpaku untuk setiap kalimatnya. Mengapa dia harus memilih sesuatu yang memberatkan keduanya?
Aku menarik kerah kemeja yang dipakai Atha dengan kesar. Aku menatapnya tepat di manik mata.
“Kalo lo cuma bisa berakhiran menjadi pencundang, seharusnya dari awal lo jangan memulai!” Aku membentaknya. “Hanya karena lo mengingat masa lalu lo dan mengetahui kebenaran bahwa pemilik gelang itu adalah Amboi, nggak seharusnya lo egois!”
Dan saat itu juga aku melihat raut wajah Zia maupun Atha langsung terkejut. Mereka sama-sama menatapku, membuat aku sedikit risih karena sepertinya aku mengeluarkan kalimat yang salah. Tapi... aku merasa benar kok.
“Lo seharusnya memikirkan perasaan Zia juga. Sebahaya apapun kondisi Zia... jangan tinggalin Zia sendiri.” Nadaku merendah. Aku mendorong Atha kuat-kuat dan pergi dari tempat itu secepatnya.
Baiklah. Ini agak aneh. Mengapa aku merasa bahwa barusan aku sedang curhat? Omigat! Seharusnya dari awal aku tidak ikut campur. Tapi aku hanya ingin melihat Zia tersenyum lagi.
“Sakura!”
Aku menoleh dan mendapati Zia sedang berpelukan dengan Atha. Omigat! Mereka mau pamer atau apa?
“Sepertinya lo harus ngomong sama Badai. Chemistry kalian masih cocok.” Atha menyeringai lebar ke arahku. Oh sialan! Apa katanya? Bicara pada Badai? Tidak mungkin.
***
Setelah mendengar dari polisi bahwa Fabi, Rado, Cessa, Amboi dan Prisil dipenjara, kami cukup tenang. Fabi mendapatkan masa hukuman yang paling panjang. Dia telah membunuh kakakku juga kakaknya sendiri.
Kedua orang tuaku sudah mengetahui tentang hal ini dan sangat marah besar pada Fabi. Mereka berniat akan menutut Fabi terus agar mendapatkan hukuman lebih berat lagi. Ah... mereka juga menceritakan tentang kecelakaan yang hampir terjadi jikalau tidak ada Davi. Dan aku sudah membicarakan dengan mereka bahwa kami akan pergi ke Jepang secepat mungkin.
Dua hari yang lalu Badai sadar, tapi aku belum menjenguknya. Aku sama sekali tidak punya nyali. Jadi kuputuskan hari ini untuk datang dengan yang lain sambil membawa sekeranjang buah.
Zia dan Atha yang diam-diam sudah jadian malah menyuruhku duduk di samping Badai, sementara mereka berdiri bersama Awan dan juga Ruth. Oh ya, Awan cukup terkejut dengan kenyataan bahwa Prisil juga komplotan dari mereka. Awan begitu menyukai Prisil sampai-sampai sempat membenci Badai.
Tapi... pasti perasaan Badai yang lebih kacau balau di antara kami, bukan? Dia sepertinya sangat menyayangi Prisil.
“Hai...” Aku tersenyum canggung ke arah Badai. “Mmmm... Badai...” Aku jadi bingung bagaimana harus mengucapkannya. Dan tiba-tiba saja Zia mendorongku memberikan tanda agar tidak ragu-ragu.
“Maaf karena membuat lo jadi begini dan... terimakasih karena telah menyelamatkan gue.”
Badai langsung mengacak-acak rambutku. Aku tertegun. Hal yang pernah dilakukannya dulu padaku. Hal yang tak pernah kulupakan sampai sekarang.
“Heh... itu kan gunanya teman?” Dia tersenyum tipis. Memamerkan lesung pipinya.
Ruth melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Badai serius. “Lo nggak apa-apa?” tanyanya.
“Untuk apa?” tanya Badai. “Kalau untuk Prisil... gue nggak apa-apa. Gue malah khawatir dengan Awan.” Dia melirik Awan dan tersenyum. “Kalo untuk kondisi, kayaknya gue perlu perawatan intensif.”
“Hah? Serius?” Aku langsung terkejut. “Masih sakitkah?”
Badai mengangguk dengan yakin. “Lo harus tanggung jawab buat ngurusin gue sampai gue sembuh!” peringatnya.
“Sampai lo sembuh?” Aku mengernyit.
Zia berdeham. “Mmmm... kalo gitu penerbangan lo ke Jepang akan diundur sampai Badai sembuh.”
“Penerbangan ke Jepang?” Badai mengernyit bingung. “Ara?”
Aku tersenyum. “Mmm, iya, sori gue belum sempet ngasih tau kalian kalau... satu minggu lagi gue akan pergi ke Jepang.”
“Oh sesuai dengan rencana awal lo dengan Fabi ya?” Atha mengangguk-angguk. “Tapi kan Fabi dipenjara.”
“Dia nggak pergi sama Fabi.” Zia melarat. “Tapi sama Davi.” Lalu raut wajah Zia berubah ceria.
“Lo berencana tinggal di sana?” tanya Awan terlihat cukup terkejut.
Aku mengangguk. “Tapi satu tahun sekali, gue pulang kok ke Indonesia. Jadi kalian nggak bakalan menderita karena kangen gue.”
Awan langsung mengerucut bibirnya. “Pede banget sih, Ra.”
“Kalo gitu... kesepakatan telah dibuat.” Ruth tersenyum senang. “Sakura pergi setelah Badai sembuh. Dan setelah itu, kita buat acara perpisahan untuk Sakura dan perayaan kesembuhan Badai.”
“Ide bagus tuh.” Atha langsung setuju. “Di mana? Di mana?”
“Gue punya rekomendasi restoran yang bagus.” Awan menyombongkan diri.
“Nggak... Nggak... gimana kalo kita bikin pesta di taman?” Zia mengajukan idenya.
“Zia, jangan irit-irit gitu deh.” Ruth tertawa.
“Gue nggak irit. Gue cuma mau nunjukin kalo gue itu pinter masak.”

Sementara yang lain berbicara sesuka hatinya, aku hanya terdiam terpaku dengan senyuman yang terpaksa. Bagaimanapun ini bukan ide yang cukup menyenangkan hatiku. Karena aku.. tidak akan bersedia untuk pergi.
Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram