Tampilkan postingan dengan label #Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Story. Tampilkan semua postingan


Sakura Fujiwara


Aku tertidur cukup lama setelah sesuatu menghantam kepalaku. Bukan sesuatu, tapi aku melihat tongkat besi yang diacungkan oleh cewek yang mukanya ditutup oleh topeng itu mengayun ke arahku. Dan sialnya, aku sedang diikat dan tak mungkin bagiku menghindar.
Suara sirine polisi membuatku tersadar, meskipun tidak sadar sepenuhnya, tapi aku masih bisa melihat orang-orang di sekelilingku. Aku melihat Zia menatapku dengan raut wajah khawatir. Dan aku melihat bayangan... Badai.
Setelah beberapa menit membuka sedikit mataku, aku langsung tertidur. Di dalam tidurku, aku bermimpi. Melihat Badai dan Zia datang ke arahku. Zia berlari mendekatiku dan memelukku. Tapi kulihat Badai mendekat perlahan dengan pisau di tangannya. Lalu... tiba-tiba aku melihat semuanya menjadi gelap.
***
“Pagi...”
Aku menyipitkan kedua mataku yang sudah sipit. “Ekh..” Aku merasakan suaraku berubah serak. “Mama...?”
“Sayang...” Mamaku langsung memelukku dengan erat. Ia mengusap-usap kepalaku dengan sayang, lalu melepaskan pelukannya. Beliau menatapku dengan tatapan teduhnya. “Kamu udah baikan? Ada yang sakit?”
“Aku...” Aku langsung berdeham. Gila, suaraku serak banget. “Aku udah merasa baikan kok, Ma.”
“Selamat pagi Sakura...”
Aku dan Mama langsung menoleh ke arah pintu. Zia masuk dengan sekeranjang buah di tangannya. Cewek itu tersenyum lebar dan langsung duduk di samping kiriku.
“Pagi, Zia. Terima kasih buahnya.” Mamaku tersenyum melihat Zia. Lalu tatapannya beralih padaku. “Tadi temanmu sudah minta maaf sama Mama. Mama tau dia orang yang cukup bertanggung jawab, tapi Mama tetap melarang kamu untuk sering-sering bergaul sama dia.” Mamaku memeringatkanku. “Zia, Tante harus pulang. Mau ambil baju ganti untuk Sakura. Kamu jagain Sakura di sini ya.”
Zia mengangguk dengan patuh.
“Dan jangan biarkan temannya menjenguk dia.”
Aku melihat wajah Zia yang berubah menjadi aneh. Tapi dia tetap mengangguk untuk mematuhi perintah mamaku.
Setelah mencium keningku dan mengucapkan selamat tinggal, Mama langsung pergi meninggalkan aku dengan Zia. Hanya berdua.
Aku tidak bisa tidak kepo dengan kalimat mamaku barusan. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Mama katakan. Tidak mungkin penculik itu tiba-tiba meminta maaf karena menculikku, kan? Dan menjelaskan pada mamaku bahwa aku diculik karena tidak mau jauh-jauh dari cowok yang dia sukai? Impossible.
“Tadi maksudnya apa, Zi?”
Zia langsung gelagapan saat kutanya begitu. Dia pasti merahasiakan sesuatu dariku.
“Mmm...” Zia menggaruk-garuk kepalanya. “Itu...”
“Zia, elo sahabat gue dari kecil. Kita nggak pernah punya rahasia. Apapun itu pasti gue cerita sama lo, dan lo juga begitu. Kenapa sekarang lo diem aja? Apalagi ini menyangkut gue.”
“Badai...”
Mendengar nama itu untuk pertama kalinya setelah aku bangun, membuat aku menjadi bertanya-tanya. Apakah Badai tahu kalau aku masuk rumah sakit? Apa Badai tahu bahwa aku diculik karena tidak mau jauh darinya?
“Dia bilang sama Tante kalo elo masuk rumah sakit karena jatoh dari motor.”
Hanya satu kalimat itu saja membuatku langsung menyadari semuanya.
“Badai bilang, dia yang ngebonceng elo.”
Aku langsung tersenyum perih. “Trus elo percaya?”
Kulihat Zia terdiam. Matanya menatapku dengan tatapan nelangsa. “Gue ada di tempat kejadian, Ra.”
Seketika aku tersentak. Oke. Seharusnya aku menyadari bahwa Zia yang menemukanku saat aku pingsan dengan darah mengucur dari kepalaku. Lalu... apakah Badai juga ada di sana? Apakah Badai dan Zia tahu kalau aku diculik karena tidak mau jauh dari Badai? Apakah mereka bertemu dengan penculik itu.
“Gue tau. Otak lo pasti bertanya-tanya.” Zia berkata maklum. Dia tersenyum simpul. “Gue akan jelasin secara singkat.”
“Apa yang terjadi?”
Zia menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir. Detil tanpa cacat dan kini aku menyadari bahwa beberapa temanku mengetahui bahwa aku diculik. Tapi kemungkinan besar mereka tidak mengetahui bahwa aku diculik karena aku tidak mau menjauh dari Badai.
Itu dibuktikan dari cerita Zia yang masih kebingungan mengapa aku mendapatkan surat ancaman di lokerku. Bahkan surat itu diselingi dengan boneka susan yang seram banget.
Ketika Zia selesai bercerita, ia menatapku dengan curiga. Sepertinya ia menyadari sesuatu.
“Kenapa elo nggak kaget pas tau kalo elo dapet surat ancaman?”
Aku hanya terdiam, menatap balik ke kedua matanya yang besar.
Zia melebarkan matanya. “Jadi elo udah tau?”
Sekarang aku jadi merasa bersalah. Tadi aku menggembor-gemborkan bahwa seharusnya tidak ada yang dirahasiakan di antara kami. Tapi aku sudah merahasiakan sejak lama perihal surat ancaman juga boneka susan itu.
“Kenapa lo nggak cerita?” Aku melihat raut wajah Zia berubah kecewa. “Lo nggak percaya sama gue?”
Aku langsung menggeleng. “Bukan.” Lalu aku mencoba tersenyum. “Selama ini gue selalu mendapatkan surat seperti itu.”
“Sejak kapan?”
“Sejak...” Aku mengingat-ingat kapan aku menemukan surat itu. “Ah! Lo tau saat gue sakit dan nggak masuk sekolah?” Zia mengangguk. “Sehari sebelum sakit, gue dapet surat itu. Karena kaget dan kepikiran, gue jadi sakit.”
Mulut Zia menganga lebar. “Selama itu?”
Aku hanya mengangguk pasrah.
“Apa yang sebenernya mereka mau?”
Aku tersenyum. “Hal nggak penting. Karena nggak akan gue lakukan meskipun gue diculik lagi.”
“Ra, jangan main-maian!” sentaknya. “Ini menyangkut nyawa lo! Kalo kemaren aja kepala lo sampe bercucuran darah, besok-besok apa lagi?”
“Gue baik-baik aja kok, Zi.”
“Apa yang mereka mau?”
Aku terdiam sejenak. Gelisah, antara ingin menceritakan juga enggan menceritakannya. Aku tidak tahu apakah Zia akan sepemikiran denganku.
“Gue harus ngejauhin Badai.”
Dan saat itu juga, aku melihat kedua mata Zia meredup. Emosinya menghilang dan kini ia hanya bisa menatapku dengan tatapan nelangsa.
***
Seminggu setelah aku dirawat di rumah sakit, akhirnya aku bisa keluar juga. Menghirup segarnya udara luar rumah sakit memang hal yang paling aku inginkan sejak merasakan bagaimana rasanya menginap di rumah sakit.
Kepalaku masih diperban, tapi dokter mengatakan bahwa aku tidak apa-apa. Meskipun besi yang membentur kepalaku itu cukup menyakitkan, aku tidak sampai lupa ingatan atau gegar otak.
Untungnya seminggu kemarin adalah waktu liburan sebelum masuk ke kelas sebelas. Jadi, aku benar-benar menggunakan liburanku dengan sangat baik. Di tempat yang sehat juga steril. Rumah sakit.
Oh ya, aku mendengar dari Zia bahwa orang-orang yang menculikku tidak dapat ditemukan. Kecuali satu orang yang mendapat pukulan dari Awan dan sengaja dikurung di ruang CCTV. Zia tidak mengenalnya, sepertinya dia orang bayaran.
Entah bagaimana berita tentang penculikkanku tidak sampai ke telinga kepala sekolah. Sehingga sekolah pun tidak membesar-besarkan masalah ini. Padahal polisi sempat mampir ke sekolah untuk menanyakan bagaimana sistem keamanan sekolah bisa dibobol begitu saja. Aku tidak tahu apa-apa lagi setelah itu. Yang aku tahu, kasusku ditutup dan sekolah tidak memberitahu kedua orang tuaku.
Hal pertama yang ingin kulakukan di sekolah adalah bertemu dengan Badai.
Meskipun sudah berkali-kali Zia menasehatiku agar lebih berhati-hati dan sedikit menjaga jarak dengan Badai, aku tetap tidak mungkin membatasi jarak yang sudah kami buat satu tahun yang lalu.
Setelah mendapat wanti-wanti dari mama, akhirnya aku bisa berangkat sekolah juga. Kali ini aku janjian bertemu dengan Zia di perempatan jalan menuju sekolahku. Katanya, Zia takut banget kalau tiba-tiba aku diculik lagi.
***
Tidak ada yang menyenangkan.
Itulah gambaranku saat memasuki 11-IPA 2. Kumpulan murid-murid pintar. Sekarang aku nyaris kelihatan seperti orang tolol yang tidak mengerti apa-apa di sini.
Kulihat mereka semua membaca buku. Waktu istirahat mereka gunakan untuk makan sambil membaca buku.
Rasanya aku ingin bunuh diri saat ini juga. Siapa sih guru yang tega-teganya memasukkan aku ke kelas menyeramkan ini?
Karena bosan setengah mati, kuputuskan untuk keluar dari kelas sebelum aku berubah menjadi jamur busuk yang tak kasat mata.
Tanpa sengaja, mataku melihat Badai sedang berjalan di koridor sendirian. Diam-diam aku tersenyum.
“BA...” Aku sudah mengangkat tanganku tinggi-tinggi, tapi panggilanku tak selesai.
Mataku melihat Badai menoleh ke belakang dan tersenyum pada seorang cewek manis yang memanggilnya lebih dulu dari aku.
BRAKK
Tiba-tiba aku terjatuh. Sungguh, itu bukan karena aku syok melihat Badai dengan cewek lain. Tapi karena ada yang menyenggolku dengan sangat kasar dan membuatku terjatuh. Untung saja aku jatuh di lantai. Bayangkan jika aku jatuh di tanah?
Aku menengadah, tapi tak sempat melihat wajah orang yang menabrakku. Yang aku tahu, orang itu adalah cewek.
***
“Ada apa sih, Ra? Senyum dong!”
Aku melihat Zia tersenyum lebar. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk tersenyum.
“Gimana rasanya sekelas dengan Awan dan Atha?” Aku langsung mengalihkan pembicaraan.
Zia terlihat berfikir. Lalu memonyongkan bibirnya. “Gue sih nggak masalah kalo sekelas sama Awan. Tapi... Atha itu loh.... minta digebok banget!”
“Gebok keahlian gue. Gue sih bersedia bantuin lo buat gebok tu anak, tapi badannya lebih gede dari gue. Jadi sori, gue nggak bisa bantu lo.”
Zia menatapku dengan bingung.
“Serius amat! Gue kan nggak minta lo buat gebok dia.” Zia mencibir. Lalu dia terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan bertanya. “Lo kenapa sih?”
“Enggak kenapa-kenapa.” Aku menggeleng. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan bahwa aku berada dalam ujung jurang. “Kenapa lo suka sekelas sama Awan?”
“Emang gue bilang begitu?” Salah satu alis Zia terangkat ke atas. “Gue kan cuma bilang kalo gue nggak masalah sekelas sama dia. Gitu loh...”
“Gue nangkepnya beda.” Aku berkata jujur.
Omigat! Kenapa sekarang aku jadi serius begini? Ada apa sih denganku? Apa pukulan di kepalaku itu membuatku menjadi seperti robot? Dingin dan tak berprasaan? Tak biasanya aku seperti ini.
Zia terlihat diam. Aku tahu dia sedang salting. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Pergerakkan bibirnya juga tak menentu. Aku kenal banget sifat Zia yang seperti ini. Jangan-jangan...
“Gue cuma... aneh aja sama dia...”
“Apa yang aneh?”
Zia diam. Lalu menghembuskan nafas beratnya. “Sifatnya dingin dan kadang nggak terduga.”
“Awan memang begitu. Jadi menurut gue itu nggak aneh.”
Omigat! Aku benar-benar jago banget membuat Zia jadi terpojok. Aku kan tidak berniat membuat Zia mengakui kebenarannya.
“Gue mau mastiin sekali lagi.”
“Untuk?” Aku memiringkan kepalaku ke kanan.
“Lo tau untuk apa.” Zia berkata pelan.
Dan aku tahu jawabannya, Zia.
Aku tidak menyuruhnya untuk melakukan itu, tapi aku hanya berdiam diri saja. Zia yang paling tahu tentang isi hatinya. Seheran apapun aku tentang hal ini, satu kebenaran yang tertera jelas di kedua mataku menjawab semuanya.
“Kenapa lo pingin ngegebok Atha?”
Zia langsung mencibir. Aku berhasil membuat suasana canggung tadi berubah menjadi kilauan menyebalkan.
“Dia tuh suka godain gue. Suka ngatain gue dan jail banget. Minta digebok banget. Mana dia sok kenal gitu sama gue.”
“Atha emang begitu.” Aku hanya tersenyum. “Suaranya cetar membahana. Siap-siap tutup telinga lo pas ngobrol sama dia.”
“Gue udah tau seperti apa suaranya.” Zia mendengus kesal.
***
Aku berbelok ke kanan kompleks perumahanku. Tak lama kemudian aku menemukan bendera kuning yang terpasang di sana.
Tanpa memerdulikan hal itu, aku terus berjalan. Pikiranku berputar-putar. Aku tidak sedang PMS dan aku tahu jelas bahwa tadi aku sangat-sangat serius saat mengobrol dengan Zia.
Baiklah, aku mengaku. Pemandangan Badai, suasana kelas baruku juga cewek yang menabrakku dengan sengaja itu membuat pikiranku kacau seketika. Dan aku tidak tahu jelas perasaan macam apa ini. Tapi aku merasa bahwa aku sedang dilanda sesuatu.
Beberapa belok lagi, aku sudah akan sampai rumah. Tapi sesaat aku baru menyadari bahwa aku melihat bendera kuning itu terpasang lagi di sekitarku.
Perasaanku berubah tidak enak. Ini bukan pertanda buruk yang harusku hadapi lagi, kan? Setelah semua kejadian hari ini? Hari pertama masuk sekolah yang sangat mengesalkanku?
Aku berbelok dan melihat bendera kuning itu terpasang persis di atas kepalaku. Degup jantungku seakan berhenti. Mataku yang sudah sipit kini seakan memaksakan diri untuk melebar.
Tubuhku melemas dan jantungku memburu. Lidahku sangat kelu dan aku yakin bahwa sebentar lagi aku akan tergeletak di tanah. Tapi sebuah tangan besar langsung menahanku. Aku melihat ayahku menatapku dengan tatapan sedih.
“Siapa?” Suaraku berubah serak.
“Kak Yasumi...”
Mataku terpejam dan aku merasakan kegelapan menyergapku.
***
Kakak angkatku... Yasumi Fujiwara. Dia diadopsi oleh keluargaku saat mereka masih tinggal di Jepang. Kedua orang tuaku tidak memeliki anak, jadi mereka mengadopsi Kak Yasumi. Setelah itu, beberapa tahun kemudian aku lahir.
Satu-satunya orang yang mendengarkan semua keluh kesahku. Satu-satunya orang pertama yang menyemangatiku saat aku sedang dalam keterpurukan.
Kini... aku sedang dalam keterpurukan. Mengapa ia tidak menjadi orang pertama yang menghiburku? Mengapa dia yang menjadi orang pertama yang meninggalkanku?
“Sakura?”
Aku hanya menggumam saat orang yang berada di seberang memanggilku.
“Kamu nggak apa-apa?”
“I’m okay.”
And I’m lying to you.
“Tidak ada yang perlu disesali. Semua orang punya hal yang tak bisa mereka sampaikan bahkan mereka wujudkan tapi hal tertentu sudah merubah hidup mereka. Sama sepertimu. Meskipun kamu merasa belum bisa membalas semua kebaikan kakakmu, sebenarnya apa yang kamu lakukan sudah cukup berarti baginya. Karena itu merubah sebagian kehidupannya.”
Aku hanya menunduk. Ponsel di telingaku memanas. Sial. Air mataku tumpah untuk kesekian kalinya.
“I just...” Aku menahan suaraku agar tak terdengar sedang menangis.
“Just crying... don’t hold it.”
Lalu aku benar-benar menyuarakan tangisanku. Aku pasti sudah membasahi ponsel di telingaku. Dan saat itu juga aku lega.
“Janji ini untuk terakhir kalinya kamu menangis. Kamu harus melepas dia pergi. Jangan biarkan dia harus tinggal karena kamu enggak melepasnya.”
“I’m not ready enough...”
“Ra, siap nggak siap, kamu harus mencobanya. Try it or you’ll regret it.”
Aku menepuk dadaku berulang kali. Berusaha menghilangkan sesak di dada juga kenjanggalan di hati.
“Jangan menangis lagi. Kamu harus kuat kalau kamu diterjang sama ribuan ombak. Kamu harus bisa bertahan meskipun kamu merasa sendirian. Karena sebenarnya kamu nggak pernah sendirian. Meskipun orang-orang meninggalkanmu, kamu harus tau pasti, mereka nggak berniat meninggalkanmu. Tapi itulah waktu mereka untuk pergi.”
Baiklah. Kalimatnya membuatku agak tenang juga sedikit bingung. Aku menghapus air mataku yang tersisa di pipi dan aku berhenti menangis.
Aku menarik nafasku dan menghembuskannya perlahan. Aku berusaha tersenyum. “Thank you for everything, Badai...”
Aku mendengar Badai menghela nafasnya. “Sekarang kamu tidur. Jangan tidur malem-malem. Besok sekolah. Oke?”
“Oke.”
***
Birunya langit juga segarnya udara pagi ini membuatku sedikit merasa tenang. Dari semuanya kekacauan yang ada di hidupku, kini aku tak tahu harus percaya pada siapa lagi. Bahkan pada Zia. Aku tidak tahu apakah aku harus memercayainya lagi. Hanya Zia-lah yang mengetahui kebenarannya.
Karena... semenjak malam itu, Badai tidak lagi menyapaku seperti dulu. Tidak menjahiliku seperti dulu.
Saat kami berpapasan, dia hanya melirikku dan langsung berbalik badan menjauhiku.
I’ll die slowly...


Gema Athaillah


Gue Atha. Nama panjang gue Gema Athaillah. Nama yang unik, kan? Iya dong. Dari kecil gue makannya banyak, makanya sekarang badan gue besar banget.
Gue sebenarnya nggak tau kenapa tujuan gue sekarang adalah sekolah. Setiap hari gue memang nggak punya tujuan. Bukan karena gue nggak punya rumah atau ternyata gue ini adalah gembel. Gue hanya bosan di rumah. Jujur  saja, rumah gue itu berada di kawasan elit di Jakarta. Orang-orang pasti mengatakan bahwa gue ini orang kaya kelas atas. Tapi untuk apa semua itu, kalau gue aja enggak bahagia.
Ketidakhadiran orang tua di dalam hidup gue ini memang cukup menyakitkan. Bukan berarti gue enggak punya orang tua atau orang tua gue sudah meninggal. Hanya saja... mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka. Sehingga gue, satu-satunya anak mereka, malah terabaikan.
Meskipun kehidupan keluarga gue enggak begitu menyenangkan, gue enggak berniat untuk berbuat macam-macam, apalagi di sekolah. Walaupun badan gue cukup besar dan pas untuk berantem, gue nggak akan melakukannya. Karena gue benci banget sama kekerasan.
Waktu kecil, gue menonton berita tentang kekerasan terhadap sesama pelajar. Semacam tawuran gitu deh. Banyak korban yang berjatuhan. Ada yang mati terpenggal kepalanya, ada yang mati tertusuk jantungnya, dan ada yang terikat lehernya. Gue melihat itu dengan ngeri. Orang-orang itu keji banget. Padahal, menurut gue, tawuran sama sekali nggak keren.
Jangan anggap gue ini cowok letoy. Gini-gini gue sanggup menggebok orang-orang. Dan kekuatan gue, omong-omong, tentu saja lebih besar dari pada cewek ganteng di kelas gue dulu. Sakura. Lagi pula, gue ini atlit kebanggan sekolah. Meskipun otak gue nggak pintar-pintar amat, tapi kekuatan gue nomor satu.
Gue jago banget dalam bidang olahraga. Gue juga sudah beberapa kali memenangkan pertandingan.
Kembali ke waktu sekarang. Gue sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Semua orang juga tahu, kalau pada malam hari, sekolahan memang menyeramkan banget. Tapi gue sih nggak takut hantu. Yang gue takuti hanya satu. Kadal. Nggak tahu kenapa, pokoknya gue sebal banget melihat kadal menggeliat di dekat gue. Apalagi nempel di tubuh gue.
Gue lihat gerbang sekolah nggak dikunci. Itu berarti ada orang di dalam. Karena gue adalah orang yang cuek dan nggak kepo, maka gue lebih memilih masuk ke dalam sekolah dan menuju pos satpam yang bisa gue masuki kapan pun gue mau.
Asal gue enggak membuat isi pos satpam berantakan, Pak Sardi, satpam sekolahan gue yang kumisnya kece abis itu, nggak akan memarahi gue atau melarang gue untuk datang ke sekolah selarut ini. Maklum, gue sudah jadi sahabat dekat Pak Sardi, makanya gue bisa memegang kunci gerbang sekolah.
Karena mengantuk, gue memutuskan untuk tidur di kursi dengan koran menutupi wajah gue.
***
“Hei, pintunya nggak dikunci nih.”
“Sssstt... suara lo bisa dikecilin dikit nggak sih!?”
“Emang suara gue kenceng banget ya?”
“Heran deh. Kalian tuh berantem terus. Konsentrasi sedikit dong! Kita mau nemuin Sakura, nggak!?”
Gue mendengar suara ribut-ribut. Tapi kepala gue yang pusing nggak bisa membedakan apakah itu dari mimpi gue, atau itu memang nyata.
“Sekarang kita harus periksa loker Sakura. Sepertinya Sakura memang nggak tau apa-apa tentang surat itu, makanya dia nggak takut pergi sendirian sampai sore.”
“Kenapa kalian nggak ngasih tau gue kalo Sakura diteror?”
“Emang lo siapanya Sakura?”
“Jadi, elo beneran suka sama Sakura?”
Berkali-kali gue mendengar nama Sakura membuat gue jadi merasa aneh. Jadi gue putuskan untuk membuka mata gue. Dan seketika mata gue melebar saat menemukan tiga orang penyelundup yang baru saja memasuki area sekolah.
Gue sipitkan mata gue agar bisa melihat jelas siapa mereka. Tapi nggak berhasil. Gue putuskan untuk melihat mereka menggunakan senter yang ada di pos satpam.
BLASH.
Mata gue langsung menangkap Badai, Awan dan seorang cewek yang gue kenali sebagai teman sekelas gue yang baru.
By the way, gara-gara kepala sekolah gue ganti, gue pindah kelas. Dari 10-IPA 3 menjadi 11-IPS 1. Kepala sekolah gue yang baru ini memang rada-rada nyebelin. Bayangkan pelajaran IPA yang sudah gue lahap mati-matian satu tahun penuh berganti menjadi pelajaran IPS yang nggak gue ketahui sama sekali.
Baiklah, gue memang nggak pintar-pintar amat. Jadi nggak seharusnya gue mengomel karena pindah kelas. Lagian gue masuk IPA karena kekayaan orang tua gue kok.
“ATHA!?” Mereka menyahut berbarengan
“Kalian ngapain di sini?”
“Sssttt...” Awan melototi gue. “Suara lo itu kecilin dong!”
Memangnya suara guebesar banget ya? “Iya... ini gue kecilin.” Gue berusaha berbisik.
“Ah! Sama aja. Mau lo bisik-bisik, suara lo tetep membahana.” Badai mencibir.
Oke. Suara gue memang besar banget dan gue rasa usaha gue tadi sia-sia saja. Tapi itu kan bawaan dari lahir. Jadi jangan salahkan gue jika suara gue membahana ke mana-mana.
“Tadi, gue denger-denger kalian nyebut nama Sakura. Kenapa?”
“Sakura diculik!”
Cewek itu berusaha berkata pelan, tapi sepertinya suaranya sama seperti gue. Sama-sama membahana. Yes, gue punya kembaran!
“Apa?” Sebenarnya nggak perlu gue tanyakan lagi. Toh, gue tadi mendengar percakapan mereka meskipun mengira itu mimpi.
“Kita harus segera ke lokernya. Waktu semakin malam nih!” Badai berseru seperti anak kecil yang kebelet pipis. Wajahnya khawatir banget. Atau jangan-jangan... gosip itu bener!? Kalau Badai suka sama Sakura?
“Benar! Ayo kita ke sana!” Si cewek kembaran gue itu mengangguk setuju.
Mereka pergi bergitu saja tanpa memerdulikan gue yang berdiri menatap mereka dengan wajah culun.
“Eh tunggu gue!!!” Lalu gue berlari mengikuti mereka.
***
Mata gue mendelik dan mulut gue menganga. Sial. Apaan tuh yang ada di dalam lokernya Sakura? Boneka? Asemeleh. Gue dari dulu nggak suka sama boneka. Apalagi boneka yang ada darahnya begitu. Mana kedua matanya melotot, bibirnya tersenyum lebar seperti akan melahap gue dan baju boneka itu compang-camping.
Gue mengenalinya dengan boneka susan. Meskipun terkenal karena lucu, kalau begini kondisi si boneka susan, gue juga nggak bakalan sudi bilang boneka itu lucu.
Gue lihat Awan mengambil secarik kertas yang terselip di boneka itu. Gue dan yang lain ikut membaca isi kertas itu dengan penasaran.

Sekarang waktu lo udah habis! Waktu lo pura-pura dengan muka busuk lo itu udah habis! Sore ini... gue akan menemukan lo di mana pun lo berada! Ingat, gue nggak main-main. CAMKAN ITU!

Gue nggak yakin mata gue normal sekarang. Itu surat ancaman? Asemeleh. Sakura si keturunan Jepang dengan matanya yang sipit itu diancam sama orang? Apa salah Sakura? Selama mengenal Sakura, dia baik-baik aja tuh sama gue. Dia memang bossy, tapi dia memang cocok dengan karakter itu. Dia punya jiwa mengatur orang untuk mengubahnya menjadi lebih baik.
“Ada yang tau kenapa Sakura dikirimi surat seperti ini?”
Gue dengar suara Badai yang serak dan kedua bola matanya yang mengelam. Gue baru melihat Badai seram begini. Padahal biasanya dia kocak abis.
“Gue juga nggak tau.” Cewek di sebelah gue menggeleng. “Selama ini Sakura nggak kelihatan punya musuh. Hidupnya juga tenang-tenang aja kok.”
“Yang pasti, Sakura ada di tangan pengirim surat kaleng ini.” Awan mengacungkan surat yang dipegangnya. “Ponselnya masih nggak aktif?”
Cewek kembaran gue itu menggeleng dengan pasrah. Sementara Badai langsung memeriksa ponselnya.
“Terakhir kali, ponselnya aktif jam lima sore.”
“Hei!” Gue menyikut Badai. “Kok elo tau ponselnya nggak aktif setelah itu?”
Badai melirik gue dengan raut wajah seperti maling yang sedang kepergok nyuri perhiasan. “Tau aja.”
“Ah...” Gue tersenyum meledek. “Lo habis telfon-telfonan sama dia ya?” terka gue.
“Enggak!” ketusnya. “Gue cuma sms biasa sama dia.”
“Ooooh, jadi lo beneran suka sama Sakura?”
“Badai, lo suka sama Sakura?”
Awan melipat kedua tangannya di depan dada. “Udahlah. Itu nggak penting sekarang. Yang penting sekarang adalah di mana keberadaan Sakura.”
“Kenapa nggak hubungi polisi aja?” usul gue.
“Sakura itu remaja. Bukan anak kecil. Lagi pula, ini belum 24 jam. Kita nggak bisa melapor.” Awan berkata pelan. “Mereka pasti mikir kalau Sakura akan segera pulang karena hanya main tanpa ijin.”
“Tapi bukti ini kan kuat, Wan!” Cewek kembaran gue berkata ngotot. “Kita bisa tunjukin sama polisi kalau Sakura diculik!”
NGING.
Asemeleh. Bunyi apaan tuh di sekolah. Jam segini pula. Gue dan yang lainnya sampai menutup telinga kami agar nggak pengang karena suara barusan.
“Aku tahu kalian di sini.”
Hei! Suara itu tertuju untuk kami? Tapi saat gue mendengar suaranya, gue nggak dapat mengenalinya. Jangan-jangan ia mengubah suaranya dengan alat di ruang siaran radio.
Yes. SMA Angkasa punya saluran radio sendiri untuk para siswanya. Hanya murid SMA Angkasa yang mengetahui bahwa sekolah kami punya saluran radio sendiri. Ini berguna untuk memberitahu kami jika ada pengumuman mendadak tentang sekolah. Keren kan sekolah gue?
Tapi gue rasa orang itu cukup pintar. Karena dia meminjam alat dari ruang siaran radio. Lalu memberitahu kami lewat saluran yang ada di ruang staf guru.
Sial. Dia bisa keluar masuk ruang staf guru! Ini namanya penjahat kelas kakap. Gue aja nggak bisa seenak jidat masuk sana. Dia bisa masuk sana seenak jidatnya!
“Kalian mencari Sakura, kan?”
“Siapa sih tuh, iseng banget!” Gue nyeletuk yang langsung dapat jitakan dari cewek kembaran gue.
“Berisik!”
Gue meringis.
“Jika kalian ingin Sakura tetap dalam keadaan baik-baik saja, ada syaratnya.”
“Syarat?” Awan mengernyitkan keningnya.
“Badai, kamu harus menyelamatkan Sakura sendiri.”
“HAH!?” Gue, cewek kembaran gue dan Awan terkejut.
Berbeda dengan Badai yang terlihat diam dan tenang. Aneh. Biasanya Badai nggak setenang ini. Badai selalu membuat kerusuhan dan selalu nggak bisa diam.
Terdengar suara cekikian ala nenek sihir. “Jika yang lain ikut membantu dan menghubungi polisi. Maka Sakura akan kuhabisi sekarang juga!” Asemeleh. Keji banget omongannya. “Jangan lupa, aku memerhatikan kalian di setiap sudut sekolah!”
Jadi orang ini benar-benar pintar. Dia bisa masuk ke ruang staf guru dan dia bisa masuk ke ruang CCTV yang sangat ketat penjagaannya.  Dan itu berarti, orang itu nggak hanya sendiri. Tapi bersama antek-anteknya yang lain.
Baiklah. Jika dia sepintar itu, maka gue akan lebih pintar darinya. Dia kira gue bodoh? Sori-sori aja ya, sebenarnya gue ini cerdas.
Gue melirik yang lain. “Ikuti gue!” perintah gue. “Badai, lo cari sendiri. Biar dia nggak curiga. Kita akan susun rencana dan muncul buat nolong elo juga Sakura.”
Setelah berkata itu, kami berpisah. Badai tampak tenang saja saat gue suruh mengikuti intruksi dari orang itu.
***
Gue membawa yang lain ke tempat tersembunyi. Di mana CCTV nggak dipasang. Yes, pos satpam. Karena mengarah ke gerbang, mereka pasti berfikir bahwa kami pulang duluan.
Bukan berarti  gue akan diam saja di pos satpam ini. Gue dan yang lainnya harus menyusun rencana, supaya nanti kita nggak tertangkap basah.
“Bagaimana selanjutnya?” Cewek kembaran gue bertanya dengan raut wajah pasrah.
By the way, gue belom tau nama lo. Lo siapa?”
“Zia. Ardiyanti Zia.”
“Gue Atha. Gema Athaillah.”
“Gue juga udah tau.”
Aselemeh. Cewek ini jutek banget. Mungkin karena gue memang terkenal banget, makanya dia tahu nama gue. Siapa tahu sebenarnya dia ini fans gue.
“Apa rencana lo?” Awan berkata dingin.
Ah... dari dulu Awan memang dingin. Satu kelompok dengan cewek jutek dan cowok dingin adalah hal yang paling menyebalkan. Kenapa gue malah mengikuti mereka tadi? Ah sudahlah. Sudah terlanjur. Lagi pula, nggak ada ruginya.
“Di saat Badai mencari di mana Sakura, kita harus mencari pelakunya.”
“Caranya?” tanya Awan dan Zia bersamaan.
“Gini, gue hafal banget sudut sekolah yang nggak terkena CCTV.” Gue menatap penuh keyakinan yang lainnya agar mereka percaya. “Pertama, kita mengendap-endap dari sini ke sudut kantin samping. Lalu kita bagi dua kelompok.”
“Oke.” Awan menyutujui. “Gue sama Zia. Elo sendiri.”
Sial. Padahal gue pingin berduaan sama Zia. Habis dia unik sih, sama seperti gue.
“Badan lo kan gede. Jadi bisa lawan musuh kalau lo kepergok.”
Baru saja gue ingin menyela, Awan sudah mengatakan fakta yang paling gue benci. Baiklah, gue memang seharusnya sendiri. Badan gue memang besar dan gue pasti bisa mengalahkan orang yang akan menerkam gue dari belakang.
***
Setelah selesai berdiskusi dan menyusun rencana sampai akhir, kami langsung bergerak. Gue berdiri paling belakang mengikuti yang lain untuk mengendap-endap ke arah kantin.
Sampai di kantin, kami berpisah. Sesuai dengan rencana. Awan dan Zia pergi ke ruang CCTV melalui lorong belakang kelas IPS dan setelah itu menghubungi polisi. Di sana pasti ada orang yang mengawasi kami. Sementara gue mencari keberadaan Badai sekaligus kalau kebetulan ketemu sama penjahatnya, gue harus menerkamnya. Ya begitulah kata Awan dan Zia.
Gue berjalan mengendap-endap ke lingkungan anak IPA. Di sana banyak ruangan untuk praktek. Gue jadi kebingungan untuk memilih tempat mana yang akan gue periksa.
Hei! Gue melihat Badai berjalan dengan santai menyusuri lorong kelas 12-IPA. Gayanya santai banget. Gue jadi curiga. Jangan-jangan Badai yang menculik Sakura. Asemeleh, tapi tadi dia kan khawatir banget pas tahu Sakura diculik. Jadi nggak mungkin Badai yang menculik, kan? Atau... dia cuma akting?
Tunggu! Sepertinya Badai melihat petunjuk yang mengarah ke tempat Sakura diculik. Dia memang terlihat santai, tapi matanya selalu tertuju ke bawah. Jangan-jangan di lantai tempatnya berjalan ada panah yang mengatakan akan mengantar ke tempat Sakura diculik.
Gue langsung berjalan mengendap di belakangnya. Seharusnya gue langsung menyapanya dan mengatakan bahwa gue akan membantunya. Tapi itu terlalu berisiko. Jika mereka tahu, Sakura pasti dalam bahaya.
Ah! Ternyata di telinga kiri Badai dipasang earphone. Badai juga bicara pelan tapi sangat dingin. Sesekali gue mendengar dia mengatakan ‘baiklah’. Sepertinya mereka menyuruh Badai mengikuti intruksi dengan menggunakan alat itu.
Lebih baik gue berpisah. Kalau gue mengikuti Badai terus, mereka bisa saja tahu keberadaan gue. Lagi pula, siapa tahu mereka ingin menipu Badai.
Setelah gue putuskan untuk berpisah dan mencari keberadaan Sakura atau penculik itu sendiri, gue berjalan ke arah laboratorium. Sementara Badai bergerak menjauh ke arah lingkungan taman.
“Jadi ini gara-gara gue nggak mau nurutin kalian buat ngejauhin Badai!?”
Gue langsung menoleh. Itu suara Sakura. Sepertinya di daerah laboratorium paling belakang yang nggak pernah dipakai.
“Yeps. Apa lo belom sadar juga? Kita udah beberapa kali ngirimin lo surat ke loker lo itu.” Terdengar suara cewek yang nggak pernah gue dengar sebelumnya. “Dan elo malah mengabaikannya.”
“Gue nggak takut sama surat lo! Gue juga nggak takut sama ancaman lo! Bunuh gue sekarang kalo lo berani!”
“Jangan bodoh! Mas nggak nyuruh buat ngebunuh lo.” Kali ini terdengar suara cowok yang nggak asing bagi gue. “Lagi pula apa bagusnya Badai sih? Lo bisa cari yang lain.”
“Sekarang Badai lagi nyariin lo.”
Gue mendekatkan telinga gue ke dinding. Suara cewek itu semakin mengecil.
“Tapi dia nggak tau, kalo ternyata dia lagi masuk perangkap kita.” Cewek itu tertawa sinis. “Padahal gue sayang sama Badai. Tapi dia harus kita singkirkan juga. Itu perintah Mas.”
“Siapa sih yang kalian bicarakan!? Siapa pemimpin kalian?”
“Atha...”
Gue menoleh. Jantung gue benar-benar hampir copot dan kedua mata gue langsung mendelik kaget. Badai berdiri di belakang gue.
“Badai, kok elo bisa ke sini?”
Badai menatap gue dengan bingung. “Tentu bisa dong!”
“Tadi kan elo lagi kena perangkap mereka. Lo disuruh muterin satu sekolahan, kan?”
Badai mengangguk. “Kok elo bisa tau?”
Gue langsung menunjuk laboratorium di belakang gue. “Mereka dan Sakura ada di dalam. Tadi gue denger mereka ngobrol tentang...”
Tiba-tiba saja Badai sudah menyenggol gue dan berlari masuk ke dalam laboratorium. Dasar anak pecicilan. Kenapa sih dia nggak nunggu gue selesai ngomong dulu? Atau seenggaknya dia harusnya bilang-bilang kalau mau menerobos masuk.
Gue mengikuti Badai. Masuk ke dalam laboratorium itu dengan gaya keren dan santai, tentunya. Tapi mata gue langsung mendelik saat melihat hanya Sakura yang kini duduk di sana dengan tubuh diikat dikursi dan kedua mata terpejam. Bajunya compang-camping dan beberapa luka terlihat di sekitar tubuhnya.
Gue menengok ke kanan dan kiri. Mencari keberadaan Badai. Tapi gue enggak menemukan keberadaannya.
“Sakura...” Gue mendekati Sakura yang tertunduk. Gue mengangkat wajahnya dan saat itu juga gue melihat darah mengalir dari keningnya. “SAKURAAAAAA!!!!”
Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram