Tampilkan postingan dengan label #Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Love. Tampilkan semua postingan


Gema Athaillah


Gue Atha. Nama panjang gue Gema Athaillah. Nama yang unik, kan? Iya dong. Dari kecil gue makannya banyak, makanya sekarang badan gue besar banget.
Gue sebenarnya nggak tau kenapa tujuan gue sekarang adalah sekolah. Setiap hari gue memang nggak punya tujuan. Bukan karena gue nggak punya rumah atau ternyata gue ini adalah gembel. Gue hanya bosan di rumah. Jujur  saja, rumah gue itu berada di kawasan elit di Jakarta. Orang-orang pasti mengatakan bahwa gue ini orang kaya kelas atas. Tapi untuk apa semua itu, kalau gue aja enggak bahagia.
Ketidakhadiran orang tua di dalam hidup gue ini memang cukup menyakitkan. Bukan berarti gue enggak punya orang tua atau orang tua gue sudah meninggal. Hanya saja... mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka. Sehingga gue, satu-satunya anak mereka, malah terabaikan.
Meskipun kehidupan keluarga gue enggak begitu menyenangkan, gue enggak berniat untuk berbuat macam-macam, apalagi di sekolah. Walaupun badan gue cukup besar dan pas untuk berantem, gue nggak akan melakukannya. Karena gue benci banget sama kekerasan.
Waktu kecil, gue menonton berita tentang kekerasan terhadap sesama pelajar. Semacam tawuran gitu deh. Banyak korban yang berjatuhan. Ada yang mati terpenggal kepalanya, ada yang mati tertusuk jantungnya, dan ada yang terikat lehernya. Gue melihat itu dengan ngeri. Orang-orang itu keji banget. Padahal, menurut gue, tawuran sama sekali nggak keren.
Jangan anggap gue ini cowok letoy. Gini-gini gue sanggup menggebok orang-orang. Dan kekuatan gue, omong-omong, tentu saja lebih besar dari pada cewek ganteng di kelas gue dulu. Sakura. Lagi pula, gue ini atlit kebanggan sekolah. Meskipun otak gue nggak pintar-pintar amat, tapi kekuatan gue nomor satu.
Gue jago banget dalam bidang olahraga. Gue juga sudah beberapa kali memenangkan pertandingan.
Kembali ke waktu sekarang. Gue sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Semua orang juga tahu, kalau pada malam hari, sekolahan memang menyeramkan banget. Tapi gue sih nggak takut hantu. Yang gue takuti hanya satu. Kadal. Nggak tahu kenapa, pokoknya gue sebal banget melihat kadal menggeliat di dekat gue. Apalagi nempel di tubuh gue.
Gue lihat gerbang sekolah nggak dikunci. Itu berarti ada orang di dalam. Karena gue adalah orang yang cuek dan nggak kepo, maka gue lebih memilih masuk ke dalam sekolah dan menuju pos satpam yang bisa gue masuki kapan pun gue mau.
Asal gue enggak membuat isi pos satpam berantakan, Pak Sardi, satpam sekolahan gue yang kumisnya kece abis itu, nggak akan memarahi gue atau melarang gue untuk datang ke sekolah selarut ini. Maklum, gue sudah jadi sahabat dekat Pak Sardi, makanya gue bisa memegang kunci gerbang sekolah.
Karena mengantuk, gue memutuskan untuk tidur di kursi dengan koran menutupi wajah gue.
***
“Hei, pintunya nggak dikunci nih.”
“Sssstt... suara lo bisa dikecilin dikit nggak sih!?”
“Emang suara gue kenceng banget ya?”
“Heran deh. Kalian tuh berantem terus. Konsentrasi sedikit dong! Kita mau nemuin Sakura, nggak!?”
Gue mendengar suara ribut-ribut. Tapi kepala gue yang pusing nggak bisa membedakan apakah itu dari mimpi gue, atau itu memang nyata.
“Sekarang kita harus periksa loker Sakura. Sepertinya Sakura memang nggak tau apa-apa tentang surat itu, makanya dia nggak takut pergi sendirian sampai sore.”
“Kenapa kalian nggak ngasih tau gue kalo Sakura diteror?”
“Emang lo siapanya Sakura?”
“Jadi, elo beneran suka sama Sakura?”
Berkali-kali gue mendengar nama Sakura membuat gue jadi merasa aneh. Jadi gue putuskan untuk membuka mata gue. Dan seketika mata gue melebar saat menemukan tiga orang penyelundup yang baru saja memasuki area sekolah.
Gue sipitkan mata gue agar bisa melihat jelas siapa mereka. Tapi nggak berhasil. Gue putuskan untuk melihat mereka menggunakan senter yang ada di pos satpam.
BLASH.
Mata gue langsung menangkap Badai, Awan dan seorang cewek yang gue kenali sebagai teman sekelas gue yang baru.
By the way, gara-gara kepala sekolah gue ganti, gue pindah kelas. Dari 10-IPA 3 menjadi 11-IPS 1. Kepala sekolah gue yang baru ini memang rada-rada nyebelin. Bayangkan pelajaran IPA yang sudah gue lahap mati-matian satu tahun penuh berganti menjadi pelajaran IPS yang nggak gue ketahui sama sekali.
Baiklah, gue memang nggak pintar-pintar amat. Jadi nggak seharusnya gue mengomel karena pindah kelas. Lagian gue masuk IPA karena kekayaan orang tua gue kok.
“ATHA!?” Mereka menyahut berbarengan
“Kalian ngapain di sini?”
“Sssttt...” Awan melototi gue. “Suara lo itu kecilin dong!”
Memangnya suara guebesar banget ya? “Iya... ini gue kecilin.” Gue berusaha berbisik.
“Ah! Sama aja. Mau lo bisik-bisik, suara lo tetep membahana.” Badai mencibir.
Oke. Suara gue memang besar banget dan gue rasa usaha gue tadi sia-sia saja. Tapi itu kan bawaan dari lahir. Jadi jangan salahkan gue jika suara gue membahana ke mana-mana.
“Tadi, gue denger-denger kalian nyebut nama Sakura. Kenapa?”
“Sakura diculik!”
Cewek itu berusaha berkata pelan, tapi sepertinya suaranya sama seperti gue. Sama-sama membahana. Yes, gue punya kembaran!
“Apa?” Sebenarnya nggak perlu gue tanyakan lagi. Toh, gue tadi mendengar percakapan mereka meskipun mengira itu mimpi.
“Kita harus segera ke lokernya. Waktu semakin malam nih!” Badai berseru seperti anak kecil yang kebelet pipis. Wajahnya khawatir banget. Atau jangan-jangan... gosip itu bener!? Kalau Badai suka sama Sakura?
“Benar! Ayo kita ke sana!” Si cewek kembaran gue itu mengangguk setuju.
Mereka pergi bergitu saja tanpa memerdulikan gue yang berdiri menatap mereka dengan wajah culun.
“Eh tunggu gue!!!” Lalu gue berlari mengikuti mereka.
***
Mata gue mendelik dan mulut gue menganga. Sial. Apaan tuh yang ada di dalam lokernya Sakura? Boneka? Asemeleh. Gue dari dulu nggak suka sama boneka. Apalagi boneka yang ada darahnya begitu. Mana kedua matanya melotot, bibirnya tersenyum lebar seperti akan melahap gue dan baju boneka itu compang-camping.
Gue mengenalinya dengan boneka susan. Meskipun terkenal karena lucu, kalau begini kondisi si boneka susan, gue juga nggak bakalan sudi bilang boneka itu lucu.
Gue lihat Awan mengambil secarik kertas yang terselip di boneka itu. Gue dan yang lain ikut membaca isi kertas itu dengan penasaran.

Sekarang waktu lo udah habis! Waktu lo pura-pura dengan muka busuk lo itu udah habis! Sore ini... gue akan menemukan lo di mana pun lo berada! Ingat, gue nggak main-main. CAMKAN ITU!

Gue nggak yakin mata gue normal sekarang. Itu surat ancaman? Asemeleh. Sakura si keturunan Jepang dengan matanya yang sipit itu diancam sama orang? Apa salah Sakura? Selama mengenal Sakura, dia baik-baik aja tuh sama gue. Dia memang bossy, tapi dia memang cocok dengan karakter itu. Dia punya jiwa mengatur orang untuk mengubahnya menjadi lebih baik.
“Ada yang tau kenapa Sakura dikirimi surat seperti ini?”
Gue dengar suara Badai yang serak dan kedua bola matanya yang mengelam. Gue baru melihat Badai seram begini. Padahal biasanya dia kocak abis.
“Gue juga nggak tau.” Cewek di sebelah gue menggeleng. “Selama ini Sakura nggak kelihatan punya musuh. Hidupnya juga tenang-tenang aja kok.”
“Yang pasti, Sakura ada di tangan pengirim surat kaleng ini.” Awan mengacungkan surat yang dipegangnya. “Ponselnya masih nggak aktif?”
Cewek kembaran gue itu menggeleng dengan pasrah. Sementara Badai langsung memeriksa ponselnya.
“Terakhir kali, ponselnya aktif jam lima sore.”
“Hei!” Gue menyikut Badai. “Kok elo tau ponselnya nggak aktif setelah itu?”
Badai melirik gue dengan raut wajah seperti maling yang sedang kepergok nyuri perhiasan. “Tau aja.”
“Ah...” Gue tersenyum meledek. “Lo habis telfon-telfonan sama dia ya?” terka gue.
“Enggak!” ketusnya. “Gue cuma sms biasa sama dia.”
“Ooooh, jadi lo beneran suka sama Sakura?”
“Badai, lo suka sama Sakura?”
Awan melipat kedua tangannya di depan dada. “Udahlah. Itu nggak penting sekarang. Yang penting sekarang adalah di mana keberadaan Sakura.”
“Kenapa nggak hubungi polisi aja?” usul gue.
“Sakura itu remaja. Bukan anak kecil. Lagi pula, ini belum 24 jam. Kita nggak bisa melapor.” Awan berkata pelan. “Mereka pasti mikir kalau Sakura akan segera pulang karena hanya main tanpa ijin.”
“Tapi bukti ini kan kuat, Wan!” Cewek kembaran gue berkata ngotot. “Kita bisa tunjukin sama polisi kalau Sakura diculik!”
NGING.
Asemeleh. Bunyi apaan tuh di sekolah. Jam segini pula. Gue dan yang lainnya sampai menutup telinga kami agar nggak pengang karena suara barusan.
“Aku tahu kalian di sini.”
Hei! Suara itu tertuju untuk kami? Tapi saat gue mendengar suaranya, gue nggak dapat mengenalinya. Jangan-jangan ia mengubah suaranya dengan alat di ruang siaran radio.
Yes. SMA Angkasa punya saluran radio sendiri untuk para siswanya. Hanya murid SMA Angkasa yang mengetahui bahwa sekolah kami punya saluran radio sendiri. Ini berguna untuk memberitahu kami jika ada pengumuman mendadak tentang sekolah. Keren kan sekolah gue?
Tapi gue rasa orang itu cukup pintar. Karena dia meminjam alat dari ruang siaran radio. Lalu memberitahu kami lewat saluran yang ada di ruang staf guru.
Sial. Dia bisa keluar masuk ruang staf guru! Ini namanya penjahat kelas kakap. Gue aja nggak bisa seenak jidat masuk sana. Dia bisa masuk sana seenak jidatnya!
“Kalian mencari Sakura, kan?”
“Siapa sih tuh, iseng banget!” Gue nyeletuk yang langsung dapat jitakan dari cewek kembaran gue.
“Berisik!”
Gue meringis.
“Jika kalian ingin Sakura tetap dalam keadaan baik-baik saja, ada syaratnya.”
“Syarat?” Awan mengernyitkan keningnya.
“Badai, kamu harus menyelamatkan Sakura sendiri.”
“HAH!?” Gue, cewek kembaran gue dan Awan terkejut.
Berbeda dengan Badai yang terlihat diam dan tenang. Aneh. Biasanya Badai nggak setenang ini. Badai selalu membuat kerusuhan dan selalu nggak bisa diam.
Terdengar suara cekikian ala nenek sihir. “Jika yang lain ikut membantu dan menghubungi polisi. Maka Sakura akan kuhabisi sekarang juga!” Asemeleh. Keji banget omongannya. “Jangan lupa, aku memerhatikan kalian di setiap sudut sekolah!”
Jadi orang ini benar-benar pintar. Dia bisa masuk ke ruang staf guru dan dia bisa masuk ke ruang CCTV yang sangat ketat penjagaannya.  Dan itu berarti, orang itu nggak hanya sendiri. Tapi bersama antek-anteknya yang lain.
Baiklah. Jika dia sepintar itu, maka gue akan lebih pintar darinya. Dia kira gue bodoh? Sori-sori aja ya, sebenarnya gue ini cerdas.
Gue melirik yang lain. “Ikuti gue!” perintah gue. “Badai, lo cari sendiri. Biar dia nggak curiga. Kita akan susun rencana dan muncul buat nolong elo juga Sakura.”
Setelah berkata itu, kami berpisah. Badai tampak tenang saja saat gue suruh mengikuti intruksi dari orang itu.
***
Gue membawa yang lain ke tempat tersembunyi. Di mana CCTV nggak dipasang. Yes, pos satpam. Karena mengarah ke gerbang, mereka pasti berfikir bahwa kami pulang duluan.
Bukan berarti  gue akan diam saja di pos satpam ini. Gue dan yang lainnya harus menyusun rencana, supaya nanti kita nggak tertangkap basah.
“Bagaimana selanjutnya?” Cewek kembaran gue bertanya dengan raut wajah pasrah.
By the way, gue belom tau nama lo. Lo siapa?”
“Zia. Ardiyanti Zia.”
“Gue Atha. Gema Athaillah.”
“Gue juga udah tau.”
Aselemeh. Cewek ini jutek banget. Mungkin karena gue memang terkenal banget, makanya dia tahu nama gue. Siapa tahu sebenarnya dia ini fans gue.
“Apa rencana lo?” Awan berkata dingin.
Ah... dari dulu Awan memang dingin. Satu kelompok dengan cewek jutek dan cowok dingin adalah hal yang paling menyebalkan. Kenapa gue malah mengikuti mereka tadi? Ah sudahlah. Sudah terlanjur. Lagi pula, nggak ada ruginya.
“Di saat Badai mencari di mana Sakura, kita harus mencari pelakunya.”
“Caranya?” tanya Awan dan Zia bersamaan.
“Gini, gue hafal banget sudut sekolah yang nggak terkena CCTV.” Gue menatap penuh keyakinan yang lainnya agar mereka percaya. “Pertama, kita mengendap-endap dari sini ke sudut kantin samping. Lalu kita bagi dua kelompok.”
“Oke.” Awan menyutujui. “Gue sama Zia. Elo sendiri.”
Sial. Padahal gue pingin berduaan sama Zia. Habis dia unik sih, sama seperti gue.
“Badan lo kan gede. Jadi bisa lawan musuh kalau lo kepergok.”
Baru saja gue ingin menyela, Awan sudah mengatakan fakta yang paling gue benci. Baiklah, gue memang seharusnya sendiri. Badan gue memang besar dan gue pasti bisa mengalahkan orang yang akan menerkam gue dari belakang.
***
Setelah selesai berdiskusi dan menyusun rencana sampai akhir, kami langsung bergerak. Gue berdiri paling belakang mengikuti yang lain untuk mengendap-endap ke arah kantin.
Sampai di kantin, kami berpisah. Sesuai dengan rencana. Awan dan Zia pergi ke ruang CCTV melalui lorong belakang kelas IPS dan setelah itu menghubungi polisi. Di sana pasti ada orang yang mengawasi kami. Sementara gue mencari keberadaan Badai sekaligus kalau kebetulan ketemu sama penjahatnya, gue harus menerkamnya. Ya begitulah kata Awan dan Zia.
Gue berjalan mengendap-endap ke lingkungan anak IPA. Di sana banyak ruangan untuk praktek. Gue jadi kebingungan untuk memilih tempat mana yang akan gue periksa.
Hei! Gue melihat Badai berjalan dengan santai menyusuri lorong kelas 12-IPA. Gayanya santai banget. Gue jadi curiga. Jangan-jangan Badai yang menculik Sakura. Asemeleh, tapi tadi dia kan khawatir banget pas tahu Sakura diculik. Jadi nggak mungkin Badai yang menculik, kan? Atau... dia cuma akting?
Tunggu! Sepertinya Badai melihat petunjuk yang mengarah ke tempat Sakura diculik. Dia memang terlihat santai, tapi matanya selalu tertuju ke bawah. Jangan-jangan di lantai tempatnya berjalan ada panah yang mengatakan akan mengantar ke tempat Sakura diculik.
Gue langsung berjalan mengendap di belakangnya. Seharusnya gue langsung menyapanya dan mengatakan bahwa gue akan membantunya. Tapi itu terlalu berisiko. Jika mereka tahu, Sakura pasti dalam bahaya.
Ah! Ternyata di telinga kiri Badai dipasang earphone. Badai juga bicara pelan tapi sangat dingin. Sesekali gue mendengar dia mengatakan ‘baiklah’. Sepertinya mereka menyuruh Badai mengikuti intruksi dengan menggunakan alat itu.
Lebih baik gue berpisah. Kalau gue mengikuti Badai terus, mereka bisa saja tahu keberadaan gue. Lagi pula, siapa tahu mereka ingin menipu Badai.
Setelah gue putuskan untuk berpisah dan mencari keberadaan Sakura atau penculik itu sendiri, gue berjalan ke arah laboratorium. Sementara Badai bergerak menjauh ke arah lingkungan taman.
“Jadi ini gara-gara gue nggak mau nurutin kalian buat ngejauhin Badai!?”
Gue langsung menoleh. Itu suara Sakura. Sepertinya di daerah laboratorium paling belakang yang nggak pernah dipakai.
“Yeps. Apa lo belom sadar juga? Kita udah beberapa kali ngirimin lo surat ke loker lo itu.” Terdengar suara cewek yang nggak pernah gue dengar sebelumnya. “Dan elo malah mengabaikannya.”
“Gue nggak takut sama surat lo! Gue juga nggak takut sama ancaman lo! Bunuh gue sekarang kalo lo berani!”
“Jangan bodoh! Mas nggak nyuruh buat ngebunuh lo.” Kali ini terdengar suara cowok yang nggak asing bagi gue. “Lagi pula apa bagusnya Badai sih? Lo bisa cari yang lain.”
“Sekarang Badai lagi nyariin lo.”
Gue mendekatkan telinga gue ke dinding. Suara cewek itu semakin mengecil.
“Tapi dia nggak tau, kalo ternyata dia lagi masuk perangkap kita.” Cewek itu tertawa sinis. “Padahal gue sayang sama Badai. Tapi dia harus kita singkirkan juga. Itu perintah Mas.”
“Siapa sih yang kalian bicarakan!? Siapa pemimpin kalian?”
“Atha...”
Gue menoleh. Jantung gue benar-benar hampir copot dan kedua mata gue langsung mendelik kaget. Badai berdiri di belakang gue.
“Badai, kok elo bisa ke sini?”
Badai menatap gue dengan bingung. “Tentu bisa dong!”
“Tadi kan elo lagi kena perangkap mereka. Lo disuruh muterin satu sekolahan, kan?”
Badai mengangguk. “Kok elo bisa tau?”
Gue langsung menunjuk laboratorium di belakang gue. “Mereka dan Sakura ada di dalam. Tadi gue denger mereka ngobrol tentang...”
Tiba-tiba saja Badai sudah menyenggol gue dan berlari masuk ke dalam laboratorium. Dasar anak pecicilan. Kenapa sih dia nggak nunggu gue selesai ngomong dulu? Atau seenggaknya dia harusnya bilang-bilang kalau mau menerobos masuk.
Gue mengikuti Badai. Masuk ke dalam laboratorium itu dengan gaya keren dan santai, tentunya. Tapi mata gue langsung mendelik saat melihat hanya Sakura yang kini duduk di sana dengan tubuh diikat dikursi dan kedua mata terpejam. Bajunya compang-camping dan beberapa luka terlihat di sekitar tubuhnya.
Gue menengok ke kanan dan kiri. Mencari keberadaan Badai. Tapi gue enggak menemukan keberadaannya.
“Sakura...” Gue mendekati Sakura yang tertunduk. Gue mengangkat wajahnya dan saat itu juga gue melihat darah mengalir dari keningnya. “SAKURAAAAAA!!!!”


Ardyanti Zia


Aku sudah mendengar cerita tentang Awan dari Sakura. Gila! Pacarnya, eh maksudku mantan pacarnya itu sadis banget. Aku tahu banget kalau Sakura sukanya sama Badai, bukan Awan. Jadi nggak mungkin kan tiba-tiba Sakura nikung jadi suka sama Awan.
“Oh ya, atlit di kelas lo juga masuk kelas gue.”
“Siapa?” Sakura menengadah. “Atha?”
“Yang mantan pacarnya kakak kelas itu loh.”
Sakura mengangguk sambil meminum es jeruknya. “Oh bener. Itu namanya Atha.”
Aku hanya mengangguk-angguk saja. Jadi, namanya Atha. Lumayan ganteng juga sih, udah gitu badannya bagus, lagi.
“Eh, gue pinjem novel lo dong! Besok kan mulai libur, pasti gue bete banget di rumah.”
Sakura mengulurkan tangannya padaku dan memberikan kunci lokernya. “Nih. Ambil sendiri. Tapi jangan lupa dibalikin ya.”
Aku tersenyum senang. “Oh itu sih pasti.”
***
Uh! Gara-gara aku pindah rumah, sekarang aku tidak pulang bareng sama Sakura lagi. Aku bukannya tidak berani pulang sendiri, tapi sekarang sekolahan terasa sunyi senyap dan gara-gara tadi mampir ke teman-teman kelas sepuluhku, aku jadi kesorean. Mana aku lupa ngambil novel di lokernya Sakura, lagi!
Sekarang aku berjalan sendirian di koridor sekolah. Jujur saja, aku takut banget sama hal mistis apalagi hantu. Dulu, aku pernah lihat makhluk halus seperti itu karena tak sengaja. Dan sekarang, aku jadi trauma.
Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri. Aku mulai merasakan ketakutan. Aduh! Jangan-jangan ada yang sedang membuntutiku? Jangan sampai deh! Aku sudah kapok melihat wajah aneh.
JRENG.
Aku tersentak. Kedua mataku membelalak lebar. Jantungku berdegup kencang seperti habis berlarian. Sial! Siapa tuh?
“Kau gadisku yang manis, coba lihat aku di sini... di sini ada aku yang sayang padamu...”
KAMPRET!
Gila! Tadi jantungku hampir keluar dan sekarang mataku yang hampir keluar. Itu semua gara-gara makhluk ajaib dan aneh bin sableng di sampingku. Bimo luar biasa sialan.
“Gila! Elo ngagetin gue aja! Liat-liat dong kalo mau ngamen! Ni sekolah udah sepi, jangan nyari ribut deh sama gue!” semburku tanpa basa-basi.
Bimo berhenti memainkan gitar juga bernyanyi. “Yah, gue kan niatnya menemani elo yang ternyata masih di sekolahan juga.”
Sial! Tampangnya Bimo pingin aku tendang. Mau tampangnya diubah jadi sedih banget, aku juga nggak bakalan sudi berbaik hati padanya. Aku hampir saja mengira jantungku copot atau bahkan mataku akan keluar dari tempatnya karena melihat makhluk-makhluk aneh. Ternyata yang kutemukan adalah raja dari makhluk aneh!
Mana kalau dia senyum diterangi cahaya remang-remang seperti ini tampangnya nyeremin banget. Betul kata Chelsea, teman sekelas Sakura dulu, Bimo ini mirip banget penculik kelas kakap.
“Tapi caranya nggak ngagetin gue gitu dong! Kalo gue tiba-tiba pingsan dan nggak ada yang nolongin gimana? Trus gue ternyata mati di tempat!?”
Agak lebay sih. Tapi kalau ngomong sama Bimo ya harus dilebay-in, kalau enggak Bimo yang bakalan lebih lebay dari pada aku.
“Maaf, Zi. Maaf banget deh...” Bimo menunjukkan ekspresi menyesalnya.
Dengan sikap bodo amat, aku langsung pergi meninggalkan Bimo sendirian dan menuju loker Sakura. Lebih baik jangan lama-lama di sekolah, dari pada nanti aku melihat yang aneh-aneh lagi.
Sampai di depan loker Sakura, aku melihat Awan yang baru saja keluar dari salah satu lorong. Mungkin dia nongkrong dulu, makanya nggak langsung pulang.
Kuputar kunci loker Sakura beberapa kali. Lalu kubukanya perlahan.
BRAK!
Mataku membelalak lebar saat aku menemukan beberapa bercak darah di sana. Mana ada boneka susan dengan mata belonya di dalam loker Sakura.
Tubuhku melemas tiba-tiba dan jantungku rasanya benar-benar berhenti berdetak. Gila! Itu bukan milik Sakura, kan? Sejak kapan Sakura jadi psikopat begitu?
“Hei, elo nggak apa-apa?”
Aku menoleh dengan susah payah. Kulihat Awan menatapku dengan raut wajah khawatir. Aku hanya menggeleng lemah untuk menjawab pertanyaannya.
Tanpa aku beritahu apa-apa, Awan berdiri dan melihat loker yang baru saja kubuka. Matanya juga membelalak lebar dan dia terlihat kaget. Tapi dia tidak separah aku. Hanya diam bergeming lalu menatapku penuh tanya.
“Itu loker Sakura, kan?”
Aku mengangguk.
“Kenapa lo buka?”
Aku menelan ludah susah payah sebelum menjawab. “Gue mau pinjem novel dari dia. Dia ngasih kuncinya ke gue.” Aku menunjuk kunci yang masih tergantung di loker.
Awan terlihat bingung. “Sakura nggak mungkin bikin lokernya kayak loker psikopat.” Awan mengulurkan tangannya padaku, membantuku berdiri. “Sakura kan lemah lembut.”
Lemah lembut? Aku hampir saja mau muntah. Aku tahu banget bagaimana busuknya Sakura. Dia kan memang tampangnya aja yang kelihatan lemah lembut, tapi kelakuannya coy, bener-bener orang takut!
Aku akui bahwa aku lebih lebih cerewet dari pada dia. Tapi sifat cowok yang kami miliki berdua, tentu saja Sakura yang paling memiliki sifat cowok dalam dirinya. Dia memang terlihat lemah lembut, tapi sebenarnya dia sama pecicilannya sama aku. Kekuatannya juga kekuatan cowok.
Lalu kulihat Awan memasukkan tangannya ke dalam loker. Diambilnya boneka seram itu dan diperhatikannya secara teliti. Gila! Aku takut banget sama boneka itu. Jadi aku langsung ngumpet di belakang tubuh Awan.
“Ada surat.” Awan mengambil secarik surat yang berada di ketiak boneka susan. Lalu boneka susan itu dikembalikannya lagi ke loker.
Aku mengintip agar bisa ikut membaca isi pesannya. Surat itu ditulis dengan potongan-potongan koran yang membuat aku maupun Awan langsung menyadari bahwa orang ini cukup cerdas dalam membuat surat kaleng seperti ini. Tidak mudah ditebak dan ditemukan.

Heh, cewek ganjen! Mau sampai kapan lo bertahan, hah!? Lo kira gue bakalan diem aja? Lo salah besar. Kalau lo masih sok tebar pesona, gue akan pastiin kalo lo akan... mati!!!

Ajigile! Itu surat buat Sakura? Serius? Sakura baru sekolah di sini satu tahun lebih dan selama mengenalnya, ia tidak pernah mendapat musuh seperti ini. Mana dianggap cewek ganjen, lagi! Aku memang sering bilang bahwa Sakura itu sebenarnya memang bukan cewek lemah lembut, melainkan cewek pecicilan yang kekuatannya kayak cowok. Tapi bagi cowok yang tahunya Sakura lemah lembut, pasti cowok itu hanya melihat tampangnya saja. Jadi, itu bukan kesalahan Sakura.
Tentu saja, sebagai sahabat yang baik, aku harus membela Sakura. Bagaimanapun cewek itu dihina, aku yang lebih mengenal Sakura, jadi aku yang lebih patut menghinanya jika Sakura sudah keterlaluan.
“Jangan kasih tau Sakura.” Awan berkata pelan. “Lebih baik kita beresin ini semua. Paling ini cuma surat gertakan aja. Besok-besok nggak bakalan ada pengaruhnya. Kasian kalau sampai Sakura tau, dia pasti kaget banget.”
Aku hanya memandangi Awan. Cowok itu perhatian banget terhadap perasaan Sakura. Aku saja tidak berfikir sampai segitunya. Tapi untuk menyetujui perintah cowok itu, aku hanya mengangguk.
***
“Kenapa sih senyum-senyum gitu? Kesambet?” Aku melirik Sakura yang duduk di depanku sambil memegangi ponselnya.
Mengingat kejadian kemarin, sesuai dengan perintah Awan, aku tidak memberitahu Sakura apa-apa tentang lokernya. Mungkin Sakura lebih berani daripada aku, karena aku takut setan. Tapi dia pasti lebih syok daripada aku saat menemukan lokernya penuh darah dicampur boneka seram yang memegang surat ancaman.
Lagi pula aku juga sama yakinnya dengan Awan kalau itu hanyalah surat gertakan saja. Buktinya Sakura masih sanggup menemuiku di sebuah restoran Indonesia yang paling termashyur sejagat raya. Rumah Masakan Padang.
Sakura tersenyum. “Ah, enggak.”
Aku langsung mencibir. Bohong banget kalau dia nggak kenapa-kenapa. “Lagi sms-an sama Badai ya?”
Dia hanya nyengir, yang menandakan bahwa tebakanku tidak meleset sama sekali. Melihat Sakura yang berbunga-bunga, aku jadi tambah kasihan kalau sebenarnya Badai sudah menjadi inceran banyak cewek di luar sana.
Aku juga mengingat percakapanku dengan Ify waktu itu. Ify juga menceritakan bahwa sebenarnya Badai banyak yang suka. Rata-rata dari satu angkatan yang sering melihat wajah Badai. Badai memang memiliki cengiran khas, nggak heran dia jadi taksiran banyak cewek.
“Gue udah selesai makan nih.” Aku mendorong piringku yang sudah bersih. “Elo buruan abisin makanannya. Jangan kebanyakan sms-an sama Badai! Ntar gue tinggal loh...”
Sakura langsung mengkat kedua jarinya tanda “damai”. “Iya. Elo tinggalin juga nggak apa-apa. Gue bisa pulang sendiri kok...”
“Biar sekalian, Ra.” Aku jadi merasa nggak enak. Dia pasti tersinggung. “Buruan. Gue tungguin kok.”
Sakura menggeleng. “Nggak apa-apa. Gue bisa pulang sendiri. Gue juga lupa, nyokap nitip beliin singkong di pasar. Lo duluan aja.”
“Yakin?”
Sakura mengangguk yakin.
Setelah merasa bahwa sebenarnya Sakura tak tersinggung, aku hanya menghela nafas panjangku dan berdiri.
“Ya udah deh. Hati-hati ya.” Aku mengambil tas cokelatku dan menentengnya. “Jangan sampe kesorean. Nanti nggak dapet angkot.”
“Iya, Zi. Tumben elo cerewet banget.”
Aku mencibir.
***
Di jalan pulang tadi, aku melihat Awan sedang keluar dari restauran cepat saji yang menyediakan ayam goreng. Tempatnya tidak jauh dari tempatku makan bersama Sakura. Mataku sempat menangkap Via sedang duduk di bagian luar tempat itu. Wajah cewek itu kelihatan suram banget dan jelas-jelas mau nangis. Sepertinya mereka habis ketemuan.
Ah! Sudahlah. Aku malas membahas mereka. Lagi pula, belakangan ini aku jadi mengabaikan perasaanku pada Raja. Yah, mungkin karena Raja memang seperti tak bisa digapai olehku.
Tambahan lagi, dia itu murid favorite para guru. Meskipun dia rada-rada bandel dan suka melanggar peraturan sekolah, cowok itu tetap jadi favorite para guru. Tebak kenapa? Apalagi kalau karena bukan wajahnya yang tampan juga karena dia pintar mengambil hati. Termasuk hatiku.
Tiba-tiba aku teringat novel yang kupinjam dari Sakura. Aku meminjam tiga novel sekaligus. Aku tidak tahu kapan aku akan menyelesaikannya. Yang jelas, aku harus pinjam duluan sebelum dipinjam orang lain.
Baru saja aku membuka salah satu novel yang berjudul Dia, Tanpa Aku, mamaku sudah memanggil-manggil namaku. Ah! Baru mau santai. Pasti aku disuruh mengangkat jemuran deh!
***
“Halo.”
“Halo, Tante.”
“Kamu tau Sakura ke mana?”
Aku mengernyit. “Tadi siang sih jalan sama aku, Tan. Trus dia bilang mau pergi ke pasar buat beli singkong. Katanya buat Tante. Jadi kita nggak pulang bareng.” Sepertinya ada yang aneh. “Memangnya kenapa, Tante?”
“Sakura belum pulang sampai sekarang.” Terdengar suara mendesah di seberang sana. “Tolong bantu cari ya! Ponselnya juga nggak aktif soalnya.”
Aku tersentak. Setelah berbasa-basi dan menutup telfon, aku langsung mencari-cari kontak Sakura. Kuhubungi nomor itu, tapi baru saja kutekan tanda panggil, suara mbak-mbak operator yang kadang nyebelin itu muncul. Ponselnya nggak aktif.
Ah! Atau jangan-jangan dia malah jalan sama Badai? Tadi dia kan sms-an sama Badai. Tapi apa hubungan mereka udah sejauh itu?
Tanpa babibu lagi, aku langsung mencari kontak Awan. Bukan apa-apa, Awan kan temannya Badai juga. Pasti tau nomornya Badai. Awan juga teman sekelasnya Sakura dulu kok, pasti bisa membantu sedikit-sedikitlah.
“Ya?”
“Ini gue Zia.”
“Oh, yang waktu itu hampir pingsan di depan loker Sakura ya?”
Sial! Kenapa dia mengingat hal-hal seperti itu tentangku? Kan cukup mengingat namaku dan wajahku. Tidak perlu mengingat hal yang memalukan itu.
“Iya, iya.”
“Ada apa?”
“Lo punya nomor Badai?”
“Badai?” Terdengar suara di seberang sana bingung. “Buat apa?”
“Buat nanyain di mana Sakura.”
Sejenak suara di seberang hening. “Emangnya Sakura ke mana?”
Aku menghela nafas. Kalau aku tahu juga aku nggak bakalan minta nomor Badai. Cowok ini memang rada-rada sinting dan sableng kayaknya. Tidak beda jauh dengan Badai atau si Bimo. Iyuh.
“Kalo gue tau, gue nggak akan nanyain nomor Badai buat nanya di mana Sakura.”
“MAKSUD LO, SAKURA MENGHILANG?” Suara Awan terdengar tersentak sampai berteriak seperti itu. Membuat aku jadi menjauhkan ponselku dari telinga.
“Yap. Elo bener banget.”
Lalu kami terdiam berdua. Sama-sama bingung mau ngomong apa. Aku juga jadi lupa ingin menanyakan apa. Lalu aku seperti mendapat sambaran petir. Aku mengingat loker psikopat itu. Loker Sakura yang penuh darah. Jangan-jangan....
“LOKER ITU!” Kami berdua berseru bersamaan.
Setelah merencanakan untuk ketemuan, aku menunggu Awan di depan kompleks perumahaanku. Maklum, rumah Awan memang searah dengan rumahku, dan karena ini sudah malam aku tidak mungkin minta ijin untuk pergi membawa motorku. Jadi, aku ijin beli gorengan di pojokan, dan langsung ngacir menunggu Awan yang akan menjemputku.
Beberapa menit kemudian, Awan datang dengan motor bebeknya. Aku mendesah, tidak ada yang lebih keren sedikit? Kita kan berencana untuk mencaritahu apakah Sakura benar-benar diculik atau tidak.
“Udah hubungi Badai?”
Awan mengangguk. “Dia nyusul sebentar lagi.”
Fyuh! Ternyata Sakura nggak bersama Badai. Aku juga curiga kalau tiba-tiba mereka jalan berdua. Benar-benar tak terduga jika sampai itu terjadi. Lagi pula Sakura kan orangnya gengsi, dan Badai nggak ada serius-seriusnya.
“Kita nunggu atau langsung?”
“Langsung aja deh. Nanti elo telfon Badai pake hape gue. Bilang sama dia buat ke sekolahan.”
Aku terdiam. Kata sekolahan selarut ini membuatku merinding. Ini sudah jam delapan malam dan aku harus pergi ke sekolah untuk mencari tahu apakah loker Sakura terdapat surat ancaman seperti kemarin. Jika ada, berarti ancaman kemarin itu tidak main-main. Dan Sakura pasti diculik!
“Eng... bawa senter?”
Awan nyengir. “Lupa. Nggak inget kalau sekolahan gelap banget kalo malem.”
“Ya udah, suruh Badai aja.”
Awan menggeleng. “Dia udah berangkat dari tadi. Karena rumahnya jauh dan pelosok, kemungkinan sampe sini agak lama.” Awan terdiam dan memandangiku. “By the way, kenapa Badai yang lo tanyain? Temen sekelas Sakura kan banyak?”
Duh! Aku nggak mungkin bilang kalau Sakura lagi pedekate sama Badai, kan? Bisa-bisa Sakura marah berat sama aku.
“Soalnya... gue kenal sama si Renata. Itu temen sekelas Sakura juga...”
“Iya gue tau si Rena. Trus?”
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang nggak gatal. “Tadi gue udah nelfon dia. Nanyain ada Sakura atau enggak, dia bilang nggak ada. Trus gue minta buat hubungi temen-temen cewek yang lain.”
“Trus kenapa nggak nanyain nomor anak cowok yang lain?” Ia memiringkan kepalanya. “Ada Rado, Dido, Atha, Septian...”
“Stop!” Aku menunjukkan wajah bete. “Nggak usah lo sebutin semua nama temen sekelas lo juga, kali!”
“Trus kenapa harus Badai?”
Aku terdiam. Aku hanya bisa memandanginya tanpa berkata-kata. Jujur adalah hal baik, tapi kalau aku jujur sekarang, aku akan koit di tangan Sakura.
“Ah!” Awan seperti menemukan sesuatu. “Karena Badai digosipin suka sama Sakura?”
DEG.
Aku nggak ngomong apa-apa, kan, tadi? Awan yang menebaknya sendiri, kan? Aku nggak ember, kan? Serius. Kalau barusan aku mengeluarkan suara hatiku, berarti aku baru saja membeberkan rahasia negera yang harus kujaga sampai mati.
“Siapa yang suka sama siapa?”
Aku dan Awan langsung menoleh. Sama-sama kaget saat menemukan Badai sudah datang dengan motor hitam gedenya. Duh! Mati deh aku mati. Bumi, plis telan aku sekarang juga. Aku benar-benar akan digebok sama Sakura kalau sampai Badai denger semuanya. HUAAAAAAA.... Sakura, di mana elo? Kenapa elo pake menghilang gitu sih? Kekuatan lo kan kayak cowok, kenapa elo bisa diculik?
Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram