Tampilkan postingan dengan label Jingga Untuk Matahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jingga Untuk Matahari. Tampilkan semua postingan
Huhuhu, akhirnya kita mencapai ending. Semoga ending-nya sesuai dengan keinginan ya, dan semoga di buku aslinya nanti ending-nya juga sesuai dengan harapan :) terimakasih yang udah mau baca sampai akhir, komentar selalu ditunggu loh, dont be a silent reader... Happy reading all...

Sebesar apapun usaha Tari untuk terus bertahan dari keterpurukan, takkan mampu mengubah kenyataan yang ada. Karena... kenyataan yang ada adalah Ari pergi. Jauh disana. Dan dia takkan menoleh ke arah lain lagi kecuali di depannya. Membuat Tari benar-benar putus asa menghadapi kenyataan bahwa Ari tak lagi berada disisinya.
“Jadi... gimana?”
“Gini aja, Dho. Kita ngomong baik-baik sama dia. Bilang kalo sebenernya Tari cintanya sama dia. Bukan Ata. Supaya masalah ini juga cepet selesai!” tanggap Oji dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
Mata Ridho langsung berbinar ketika mendengar kalimat Oji barusan, “ternyata! Elo pinter ya, Ji. Bijak banget!!!”
Lagi-lagi Oji harus menghela nafas jengkel. Ridho pikir apa dia sebego itu ya!?
“Nggak. Lo nggak bisa ngelakuin itu begitu aja!” tegas Angga yang duduk bersebrangan dengan Oji dan Ridho. “Gue baru dapet berita dari Vero... Ata emang tau kalo Tari cintanya sama Ari. Cuma Ata nggak mau ngalah!”
“Ck!” Oji langsung berdecak kesal mendengar nama saudara kembar Ari itu. Bikin ribet aja! “Dia nggak mau ngalah banget sih!” desahnya kesal.
“Namanya dibutain sama cinta. Kayak elo aja, Ji. Kalo mata lo udah dibutain sama makanan, gue ditinggalin!!!” Ridho melirik Oji sambil menyeringai geli.
Sementara Angga menahan senyum geli saat dilihatnya wajah Oji yang langsung cemberut. “Udah ah! Sekarang kita fokusin, gimana caranya bikin Ata nyerah sama kenyataan! Karena... cewek-cewek udah berbaik hati mau bantu kita nih,”
“Bantu apaan?” kontan Oji dan Ridho berseru bersamaan.
“Nemenin Tari kemana aja! Nyadarin Tari kalo Ari emang udah nyerahin segalanya ke Ata dan memercayai gue sebagai orang yang bisa melindungi Tari. Tapi... ngasih tau Tari juga, kalo Ari itu nggak akan pernah pergi dari kehidupan Tari. Karena Ari cinta Tari!”
***
"Ta... sadar dong! Elo disini cuma sebagai seorang perusak aja!"
Tubuh Ata terdorong menjauh, ketika kedua tangan Angga mulai menghakiminya. Ata hampir saja jatuh, namun ia akan melawan dan takkan membiarkan Angga membuatnya kalah.
"Itu hak gue! Dulu... elo juga sama kayak gue!" gertak Ata, naik darah. ia tak mampu menyembunyikan kilatan amarah itu dari kedua bola matanya yang hitam pekat.
"Dulu itu gue melakukan hal berbeda! Gue cuma mau bikin Ari menderita karena dia udah bikin Anggun pergi! Tapi dalam hal ini gue emang salah besar. Itu semua takdir! Dan gue nggak bisa mengingkarinya!"
Ata langsung bertindak. Ia melawan habis-habisan cowok yang berada di hadapannya itu dengan segala usaha. Bahkan tinju pun ia layangkan. Membuat wajah Angga mulai menimbulkan lebam biru. Ada darah diujung bibirnya.
Angga tak tinggal diam. Ia juga berusaha melawan setiap serangan yang dilayangkan Ata untuk dirinya.
“LO NGGAK USAH IKUT CAMPUR URUSAN GUE SAMA SODARA KEMBAR GUE!”
Dengan suara yang menggelegar dan diringi bentakan, Ata melayangkan satu tinju yang lebih kasar dari sebelumnya ke arah perut Angga. Membuat cowok itu tiba-tiba terhuyung dan tak dapat menyeimbangkan tubuhnya.
“LO BUTA!”
Angga membalasnya dengan bentakan yang tak kalah menggelegar dan semua orang yang berada dalam keadaan jarak jauh dengan tempat kejadian tersebut, pasti mendengarnya.
“INI ANTARA MATAHARI!”
“TAPI INI URUSAN HATI! LO BUTA!”
Kembali Ata melayangkan tinjunya. Geram. Sangat amat ingin ia hancurkan sosok dihadapannya ini dengan kedua tangannya sendiri.
Sepertinya Angga memilih menyerah, karena ia benar-benar tak sanggup menahan setiap serangan Ata dan tak dapat membalasnya dengan serangan yang sama kerasnya. Tubuh Angga terjatuh. Ia tertunduk lemas sambil mengelap ujung bibirnya yang berdarah.
Sementara Ata masih berdiri dengan luka lebam biru yang tak kalah banyak dengan Angga. Ia masih menetralkan nafasnya yang terengah-engah akibat serangan yang ia lakukan secara langsung dan tanpa berpikir dua kali. Ia benar-benar geram. Ia takkan pernah mau mengalah dalam hal ini. Sudah cukup ia mengalah hidup dengan ketidak bahagiaan, kali ini ia takkan membiarkannya kalah lagi!
“Gue udah kasih tau lo! Tari tersiksa dan seharusnya... elo sadar itu! Kalo lo emang cinta sama dia, lo lepas dia demi kebahagiaannya! Bukannya memisahkannya.”
“Dia sendiri yang ngabulin, Ga. Gue minta dan dia kasih. Karena... semuanya udah dia yakinin dalam hati. Semua senyum yang ada di bibir Tari, dia bilang bukan buat dia, tapi buat gue!”
Angga mendongak, menatap Ata tajam. “Tapi kenapa nggak lo yakinin kalo Tari senyum buat dia! Bukan buat elo! Gue... yakin banget kalo lo tau hal itu!”
***
Mata Tari menatap ke langit biru, lalu matanya beralih ke sampingnya. Menatap kedua temannya. Fio dan Vero yang sedari tadi memerhatikan Tari, jadi ikut gelisah juga. Apalagi mereka berdua belum mengetahui perkembangan usaha para cowok untuk mematahkan usaha Ata.
Tari tersenyum menatap kedua temannya. Sedangkan mereka berdua hanya membalasnya dengan kening yang berlipat rapat. tak mengerti maksud Tari.
“Kalian tau nggak? Dia pernah bilang... gue dan dia adalah benda dan bayangan. Manis banget kan!?” ucapnya membuat kedua temannya itu menjadi tertegun dengan kalimat tersebut. “Tapi... sayangnya dulu gue nggak nganggep kalimat itu manis. Malah gue benci sama kalimat itu!”
Kali ini suaranya berubah menjadi menyesal, wajahnya murung lagi. Matanya menatap ke langit biru, lalu air matanya menetes, mengaliri pipinya yang tirus dan pucat pasi.
“Tar... jangan gini terus dong!”
Tari menoleh, menatap Fio dengan air mata yang terus mengalir. “Gue emang bodoh!” tangannya memukul kepalanya pelan.
Tangan Vero merangkul Tari, “Tar... dia pasti balik kok! Gue yakin banget. Dia sayang elo, Tar.”
“Ada dia dan nggak ada dia, sama aja. Hati gue terluka...,”
Keduanya tertegun. Apalagi ketika mereka menatap jelas Tari. Cewek itu berusaha tegar, namun tak bisa. Cewek itu berusaha berdiri, namun selalu terjatuh. Cewek itu menangis, tapi tak kentara. Air matanya terus mengalir, matanya memerah, wajahnya tetap wajah yang tirus akibat kelelahan. Tak hanya fisik, tapi juga batinnya.
***
“Gue nyerah! Gue mau serahin dia balik!”
Ridho, Oji dan Angga menoleh. Mereka mendapati Ata sudah berdiri di ambang pintu kelas. Cowok itu terlihat kacau balau. Bahkan mungkin, kini ia terlihat begitu mirip dengan Ari.
“Lo yakin?” tanya Ridho dengan alis yang terangkat ketika Ata sudah duduk dihadapannya. “Gue takut elo malah kalap lagi! Lupa lawan lo itu siapa.”
Ata mengangguk tegas, “gue yakin banget! Kita hubungin Ari sekarang!” tegasnya dengan tatapan yang kini sudah terliaht ketulusannya.
“Ponselnya mati. Nggak pernah nyala. Gue udah berusaha berkali-kali ngubungin dia. Tapi nggak ada tanggapan!” kali ini Oji menatap layar ponselnya dengan tatapan kecewa.
“Ke rumahnya?”
“Nggak. Nggak. Dia selalu nggak ada di rumah. Home schooling aja nggak jelas jadwalnya. Kita nggak bisa langsung mutusin ke sana. Masalahnya, tadi malem gue udah kesana, tapi dia emang nggak ada!” Angga langsung mejelaskan bahwa dirinya sudah berulang kali menghubungi Ari tapi tetap nggak bisa.
“Jadi... kemana?”
Ketiganya terdiam. Sama-sama memikirkan cara untuk menghubungi Ari. Hening. Tak ada satupun yang menemukan jawaban. Sementara Ata masih menatap ketiganya meminta jawaban.
Di dalam keheningan, suara ponsel Oji dan Ridho berdering kencang. Membuat semuanya langsung menoleh ke arah suara tersebut. Oji dan Ridho langsung saling tatap ketika muncul nama seseorang di layar ponsel mereka. Lalu keduanya mengangguk, seakan setuju untuk membukanya bersama.
Dan ketika ponsel tersebut membuka pesannya. Oji membelalakkan maksimal matanya. Sementara Ridho langsung menatap Angga dan Ata yang sedang menatap mereka dengan tatapan bertanya.
Lalu mata Ridho mengarah pada Oji, Oji mengangguk mengiyakan. Melalui isyarat itu Ridho mengerti.
“Kita terlambat!” ucapnya seperti tercekat. Suaranya sangat sulit untuk di keluarkan ketika ia membuka pesan singkat yang menghampiri ponselnya tadi.
“Maksudnya apa?” Angga jadi heran.
“Ari udah mutusin untuk benar-benar pergi dari kehidupan Tari...,” kali ini Oji yang menjawabnya.
“Jadi...?”
“Ari bilang dia mau pergi ke London. Soalnya, kalo di sini, dia nggak bisa menguasai dirinya untuk nggak ketemu Tari meskipun hanya dalam jarak jauh dan tak terlihat oleh Tari.” Ridho menatap Ata seperti ingin melahapnya karena sudah membuat keadaan tambah buruk.
“Kita harus cegah! Tadi dia ngirim SMS kan? Berarti ponselnya aktif!” Ata langsung berniat untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Ari.
Tangan Oji langsung mencekal tangan Ata, “bukan dia yang SMS. Tapi Raka, temen baiknya. Dia bilang Ari mau pergi ke London!”
Semua langsung menahan nafas. Tak tahu harus berbuat apa. Mereka sama sekali tak mengetahui kapan kepergian sosok itu dari Indonesia.
***
Di bawah pohon disana, di sore yang mengindahankan, Tar berdiri menghadap langit. Dari jarak jauh, Vero dan Fio memerhatikan Tari dengan seksama. Mata cewek itu bekaca-kaca, menandakan cewek itu akan menangis sebentar lagi.
Matahari mulai terbenam dan Tari mulai memejamkan matanya perlahan. Semburat jingganya mengingatkannya pada Ari. pada saat Ari menjadi Ata dan mereka berdua melihat matahari terbenam di atas gedung. Menikmatinya besama. Tapi kini tak lagi.
Terdengar suara derap langkah seseorang yang mulai mendekati Tari. Sebentuk senyum manis langsung terlihat di wajah Tari. Cewek itu mengharapkan apa yang ada di imajinasinya menjadi satu kenyataan. Ia langsung membuka matanya, lalu menoleh ke arah kanan, ke arah suara tersebut.
Harapan itu langsung sirnah ketika ia mengetahui siapa yang datang. Senyumnya langsung lenyap ketika menyadari itu hanyalah imajinasi dan bayang-bayang sementara. Karena kenyataannya buka itu. Angga menghampirinya dengan seulas senyum yang ia berikan untuk Tari, cewek itu tersenyum namun tak seindah yang tadi dan sedikit di paksakan.
“Udah mulai malam...,” ucapnya pelan sambil melihat ke arah langit yang mulai berubah warna dan memunculkan kegelapan.
“Gue udah tau, Ga...,” Tari menunduk lemah.
Angga menoleh, “tau apa?” alisnya terangkat sebelah.
“Dia... udah pergi. Dia mutusin untuk jauh-jauh dari gue. Gue sadar, Ga, gue emang...,”
“Tar... maksudnya Ari tuh gini...”
“Jangan. Jangan sebut namanya. Nama itu malah bikin gue mikir kalo gue dan dia itu terikat dan nggak akan bisa lepas lagi. Nanti gue berharap lagi, Ga. Jadi... tolong jangan sebut namanya. Nama itu malah bikin gue seakan berada di dunia mimpi lagi.”
Terdengar helaan nafas panjang Tari. Lalu cewek itu menatap Angga, tersenyum. Senyum pahit. Matanya berkaca-kaca lagi. Wajahnya masih sama seperti yang kemarin-kemarin. Pucat. Tirus dan seakan tak bertenaga dan tak berdaya.
Angga mengerti, bahkan sangat mengerti dengan perasaan Tari. Tapi Tari salah dalam mengkonstartikan apa yang ada dan yang terjadi. Apa yang di pahaminya sebenarnya tak sama dengan apa yang seharusnya ia pahami.
“Tar...,” panggil Angga pelan.
“Senjakala udah nggak ada lagi, Ga. Dia udah pergi. Keberadaannya tak mampu gue tembus hanya dengan mata telanjang. Hanya dengan kedua bola mata gue. Dia... memilih untuk pergi!” ucapnya. Suaranya bergetar hebat, seakan kalimat itu mampu menusuk jantungnya. Mampu mengkoyak setiap perasaan yang sudah tertata rapi di dalam hatinya.
Tertegun. Hanya itu yang dapat Angga lakukan. Cewek itu langsung menyandarkan kepalanya di bahu Angga. Dan Angga tak melarangnya. Ia membiarkan cewek ini untuk mencari penyangga, agar cewek ini tak akan terjatuh meskipun cewek ini sudah berulang kali jatuh dan terluka, bahkan hampir hancur karena kerapuhan.
Air menetes dari kedua bola mata Tari, cewek itu menangis. Terisak hebat, matanya mulai memerah. Kedua tangannya menutupi wajahnya. Sementara tangan Angga memegangi kepala Tari. Membuat Tari benar-benar di dalam pelukan Angga.
“Gue ikhlas, Ga. Biarin dia pergi. Biarin dia memilih jalannya. Gue mau dia cari seseorang yang pasti lebih baik dari gue...,” ucapnya sambil terisak. “Karena dia... sebenarnya baik, Ga. Dia punya sisi kebaikan yang tak kasat mata. Dia baik saat kita melihatnya lewat mata hati kita, bukan kedua bola mata kita.”
***
Lebih memilih mana? Bisa melihatnya dengan orang lain dengan senyuman atau melihatnya bersama kita namun dengan kesedihan. Mungkin Ari akan memilih untuk membiarkannya bersama orang lain yang pastinya akan membuat hidup orang itu bahagia dengan ceria. Tapi tanpa Ari sadari itu malah mengacaukan kehidupan Tari.
“Maafin gue, Tar. Tapi gue nggak bisa...,”
Mata Ari menerawang. Tangannya memegangi koper besar yang sudah terisi semua baju. Di tangan satunya lagi, Ari memegangi tiket pesawat. Tubuhnya berdiri tegak menghadap jendela kamarnya. Semalaman ia tak dapat menutup matanya, setelah melihat Tari tersenyum sendiri di teras rumahnya.
Satu hal itu membuat Ari menjadi berfikir kalau Tari memang sudah dapat dilepasnya. Sudah dapat berbahagia tanpa kehadirannya. Lagi pula, sejak kapan Tari bahagia bila bersamanya? pikirnya sambil tersenyum pahit.
Namun pada saat itu, Ari tak menyadari, tangisan hebat mengiringi kepergiannya.
Kini ia hempaskan tubuhnya di kasur. Tangannya melepas pegangan koper, tapi tiketnya masih berada di genggaman tangannya. Ia menatap ke langit-langit. Ayahnya sudah menyetujui keputusan Ari, bahkan ayahnya sangat-sangat mendukung. Karena ayahnya akan menyekolahkannya disana, dan setelah lulus kuliah, Ari yang berhak memegang kendali di perusahaan.
Mamanya juga sudah menyetujui, hanya saja agak sedikit bimbang saat Ari mengutarakan keputusannya.
“Apa kamu yakin?” tanyanya waktu itu. Wajahnya memunculkan tanda bahwa ia serius.
Ari mengangguk, “lagi pula Ari kan disekolahin sama ayah disana...,”
Tangan mama Ari menepuk pundak Ari pelan, “mama tau. Bukan itu masalahnya. Ada masalah lain kan? ayo... cerita sama mama...,”
Ari tersenyum kaku, hatinya mengiyakan pendapat mamanya itu. Namun, yang keluar dari mulutnya berbeda. “Nggak, Ma...,” Ari menggeleng. “Ngak ada masalah lain,” ucapnya pelan. “Ini keputusan Ari. Ari mutusin sekolah disana,”
Mamanya hanya bisa pasrah dengan keputusan Ari tersebut. Ata sedang tidak ada di rumah, jadi Ata tak dapat mencegah kepergian Ari ini. Apalagi, setelah itu Ari benar-benar menghilang. Karena hari pertemuannya dengan Mamanya adalah hari dimana besoknya Ari akan benar-benar pergi.
Ujian baru selesai beberapa hari yang lalu. Ari sempat bertemu dengan teman-temannya, namun tak berbicara banyak. Terlebih lagi, dengan Ata, Oji dan Ridho. Ari berusaha sebisa mungkin tak bertemu tatap dengan mereka dan usahanya itu berhasil. Setiap kali ketiga orang itu mendekatinya, Ari akan langsung mencari jarak atau mengarang alasan dan masuk ke dalam kantor guru dengan tiba-tiba.
Angga juga sudah berusaha menghubunginya dengan berbagai cara, namun karena kesibukannya di Ujian, ia tak terlalu fokus untuk menghakimi Ari dengan berbagai macam pertanyaan dan ia tak mampu mengatakan apa-apa untuk mencegah kepergiannya.
***
Tangannya bergetar saat mendapat pemberitahuan dari Ridho bahwa Ari berangkat hari ini. Berita itu mengguncangnya, membuatnya kehilangan kesadaran. Membuatnya seolah tak mampu bernafas lagi.
Kenyataan itu membuatnya memikirkan satu hal, bagaimana jika ia tak dapat bertemu dengan Ari lagi? Bagaimana jika dia takkan pernah lagi melihat “matahari”-nya tersenyum seperti dulu? Bagaimana jika “matahari”-nya itu pergi bersama seseorang yang mampu mencabik-cabik hati Tari?
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir setiap kecurigaan yang ada di benaknya. Lalu matanya menatap ke langit yang masih cerah akibat sang mentari masih bersemangat untuk menerangi bumi.
“Tar...” Tari mendengar namanya di panggil. Kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati keenam orang itu hendak menghampirinya. Yang memanggilnya sudah pasti Angga. Suaranya begitu tegas namun mampu memberikan sejuta kenyamanan di hati Tari.
“Ari udah berangkat,” katanya setelah berdiri di damping Tari.
“Maafin gue, Tar. Gue tau selama ini gue salah, gue...,”
“Nggak apa-apa,” Tari langsung memotong perkataan Ata yang terdengar merasa sangat bersalah itu. “Gue ikhlas...,” ucapnya sambil memaksakkan seulas senyum. “Gue tau, dia emang lebih baik pergi dari kehidupan gue. Karena kalo dia ada di samping gue, gue malah nyakitin dia.”
“Tar, Ari pergi bukan karena...”
“Nggak usah mengelak dengan kenyataan yang udah ada, Ta. Gue nggak apa-apa kok. Gue ngerti, gimana rasanya mengejar lama, tapi dicampakkan begitu aja.”
Semua terdiam. Ikut sedih dengan keadaan Tari yang semakin lama semakin hancur.
***
Hari mulai sore. Namun, kaki Tari terasa berat untuk meninggalkan tempat ini. Tempat dimana jika kita melihat matahari “pulang” sungguh terasa indah. Ia kesini di antar Ridho tadi. Ridho bilang kalau ini adalah tempat kesukaan Ari dulu. Tempat dimana Ari memikirkan segalanya. Tentang masa lalunya dan di tempat ini lah Ari melihat keindahan alam yang nyata.
Nggak ada yang berani menunggunya disini. Semuanya sudah pulang seja tadi karena jelas-jelas Tari “mengusir” mereka dengan tatapan memohon dengan sangat amat bahwa dia memang sedang ingin sendiri. Urusan pulang, ia bisa naik taksi. Atau ia bisa menelpon salah satu diantara keempat cowok itu.
Tari tersenyum, senyum pedih.
“Kenapa sedih?”
Suara itu membuatnya menoleh, dan apa yang dilihatnya sama sekali seperti yang ada did alam bayangannya. Ari! Cowok itu berdiri tegak dibelakangnya sambil menyunggingkan seulas senyum yang manis.
Sebentar! Mungkin penglihatannya salah atau ia berimajinasi lagi!? Atau mungkin saja itu Ata bukan Ari! mereka kan mirip dan Tari tak bisa membedakkannya lewat cahaya yang mulai meredup.
“Kenapa diem aja?” kali ini cowok itu duduk disebelah Tari. Tangannya mengacak-acak rambut Tari. “Lo itu bisu atau gimana? Hmm?”
Tari tersentak. Matanya melebar ketika menyadari bahwa sosok dihadapannya ini benar-benar Ari bukan saudara kembarnya! Ia menggeleng kuat, menyadarkan penglihatannya yang mungkin agak salah.
“Kenapa?” kedua alis cowok itu terangkat.
Air mata Tari mengalir, matanya menatap cowok di sampingnya itu. lalu ia tersenyum... namun  sambil menangis!?
“Lucu kan gue!? Atau gue emang udah bego? Tapi lebih tepatnya sekarang gue udah gila!” suaranya seperti terluka dan tersakiti. “Sekarang gue malah bayangin dia di samping gue! Nggak jadi ke London, lalu duduk diamping gue sambil tersenyum. Trus... dia ngacak-ngacak rambut gue sambil ngomong nggak jelas!”
Kepalanya ia geleng-gelengkan. Kedua tangannya memegangi kepalanya dengan erat. Berusaha mengenyahkan imajinasi yang ada di sampingnya itu. Lalu matanya beralih lagi ke arah samping, tapi imajinasi itu tak kunjung hilang dari hadapannya.
“Tuh kan, gue udah gila! Dia masih aja ada disini,” cewek itu terisak hebat. Air matanya masih mengalir sambil memandangi wajah orang yang ada disampingnya. Wajah yang menimbulkan ekspresi bingung.
Tangan Ari langsung menghentikan tindakan Tari yang memukuli kepalanya sendiri. Lalu ia memaksakkan wajah cewek itu mengarah kepadanya. Kedua bola mata cokelatnya kini masih berkabut, sebagian air matanya telah menetes jatuh dipipinya. Dengan ibu jarinya, Ari menghapus air bening itu. “Ini gue, Tar!”
“Gue... minta maaf. Karena gue nggak bisa nepatin janji gue untuk nggak ngeliat elo. Karena, setiap kali gue jauh dan nggak bisa ngeliat elo, hati gue hampa, Tar.”
Lalu saat itu juga Tari tersadar, ini kenyataan! Sosok dihadapanya benar-benar riil! Kontan tangisnya semakin kencang. Lalu kedua tangannya memukuli tubuh sosok dihadapannya.
“Kenapa kalo lo bilang gitu!?” desisnya. “Kenapa elo bilang gitu, tapi elo mau pergi jauh dari gue!” Ia mulai histeris dan tak dapat terkendali. “Kenapa?”
Kenapa? Pertanyaan itu membuat kedua alis Ari terangkat. Ia juga tak mengerti kenapa, yang ia tahu hanyalah, cewek di hadapannya ini terlihat ceria saat menerima segalanya yang berhubungan dengan saudara kembarnya.
“Karena lo lebih bahagia sama Ata...,”
Kedua alis Tari terangkat, “Ata? Bahagia sama Ata?” ulangnya tak mengerti.
“Dari cara lo mandang dia, dari cara lo nerima hadiah dia, dari cara lo tersenyum, dari cara lo...,”
Ari memiringkan kepalanya, menatap Tari yang tak juga memberikan reaksi. Ia melihat seulas senyum terukir indah di wajah cewek itu. terpaksa ia memberhentikan kata-katanya sendiri.
Cewek itu terlihat tersenyum, “jadi lo kira gue suka Ata?”
Tak ada jawaban. Ari terdiam, masih menatap cewek itu dengan bingung.
“Boleh gue jujur?”
“Mungkin enggak,” ucapnya. “Karena kalo lo jujur, gue... gue...,”
“Tapi... gue mau jujur,” ucap Tari menahan senyum.
Ari terdiam. Cukup lama. Namun cowok itu langsung mengangguk, meskipun terlihat ragu.
Setelah menarik nafas panjang, Tari langsung mengatakannya. “Waktu gue nerima hadiah dia, gue senyum. Gue bahkan sempet ngelamun sambil senyum-senyum sendiri. Lo tau nggak kenapa?” Ari menggeleng. “Karena... gue inget, kalo dulu lo pernah melakukan hal yang sama. Gue inget gimana perasaan gue jumpalitan pas elo masang kalung di leher gue. Kalung ini...,” Tari menunjukkan kalung yang sedang dipakainya itu.
“Gue nggak tau kenapa lo bilang senyum gue beda saat liat dia. Tapi... jujur, saat gue liat Ata, yang ada di pikiran gue, justru elo. Gue malah menganggap bahwa... orang yang dihadapan gue saat itu adalah elo!”
Sekali lagi, Ari tertegun mendengar penuturan cewek ini. Ia diam dan tak dapat berkomentar apa-apa. Dia... benar-benar merasa... mungkin... senang!
“Secarik kertas yang ada di hadapan gue waktu itu juga ngebuat gue mikir sendiri. Tapi bukan mikir kalimat itu mampu menyentuh perasaan gue. Tapi... kalimat itu mengingatkan gue saat elo bilang bahwa kita itu adalah benda dan bayangan. Jadi... gue nggak bisa nahan senyum saat inget penuturan aneh lo yang... eng... gue suka.”
Ari menatap Tari, cewek itu mungkin benar. Apa yang ada di dalam pikiran Tari takkan pernah diketahuinya. Dan ia tak tahu apakah Tari bohong atau tidak padanya, yang jelas ia merasa... sangat senang! Kedua bola mata Tari memberikan senyum, membuat Ari mengetahui bahwa cewek itu tidak bohong. Cewek itu mengutarakan isi hatinya.
Ari tersenyum, lalu kedua tangannya merengkuh Tari kedalam pelukan hangatnya. “Gue sayang sama lo, Tar.” Mata Ari terpejam dengan senyum diwajahnya.
Kedua tangan Tari melingkat di leher Ari, tersenyum. “Gue juga...,” ucapnya senang.
Wajah Ari mulai mendekat dengan wajah Tari. Mata Tari langsung terpejam rapat. Tangan Ari mengangkat dagu Tari mendekat. Lalu Tari merasakan bibirnya di sentuh oleh bibir Ari. Rasa hangat langsung Tari rasakan di sekujur tubuhnya dan Tari yakin wajahnya sudah merah merona.
Matahari terbenam. Memunculkan warna-warna indah dilangit. Melukiskan sejuat perasaan yang berada di dalam kedua orang yang tengah duduk di saung itu. Tangan Ari merangkul Tari, sementara tangan Tari melingkar di pinggang Ari. Keduanya menatap ke arah yang sama. Ke arah matahari terbenam. Ini lah satu keindahan alam yang menyatukan keduanya.
***
“Gue rasa... usaha kita berhasil untuk menghasut Ari.”
“Kita nggak menghasut Ari, tapi kita bohongin Ari. Kita kan bilang kalo Tari sekarang mau coba bunuh diri...,” ralat Vero merubah kata-kata Angga.
“Ide siapa sih?” Ridho melirik ke semua orang yang ada di sekelilingnya. “Gila banget! Si Ari sampe pucet gitu pas tau,” ucapnya sambil tersenyum geli. “Tapi... tadi gue ngira si Tari juga bakal bunuh diri. Soalnya dia keliatan putus asa banget!”
Oji nyengir, “gue sama cewek gue dong!” ucapnya bangga. Tangan kanannya merangkul pundak Fio.
Cewek itu langsung melotot tajam, “apa? Cewek lo? Ngarep banget lo!” di pukulnya kepala Oji pelan dengan buku yang di pegangnya.
“Ya ampun, cintaku! Jahat banget sih!” Oji langsung manyun. Tangannya yang bebas mengelus-elus kepalanya yang sebenarnya nggak sakit. “Nah, Dho. Gue kan udah sama Fio nih. Si Bos juga udah dapet mataharinya. Lo mau sama siapa? Lo doang yang jomblo lho!” kepala Oji dijitak lagi sama Fio, tapi Oji nggak peduli.
“Si Angga sama si Ata juga jomblo!” ralat Ridho kesal.
“Oh tidak bisa! Angga sama Vero aja. Jadi... elo sisa aja yak!” ucapnya dengan seringai geli. “Elo sama... Ata!”

“APA???” seru kedua orang itu dengan mata yang terbelalak lebar.
Yuhuuu... ini adalah part menuju yang terakhir ._.v maaf ya kalau ceritanya emang nggak jelas, yang nulis juga nggak jelas sih *duh... jangan lupa buat komentar yaaaa :D

Senyum merekah tampak di wajah Tari saat dilihatnya seseorang yang ia tunggu tengah duduk diatas motor hitam legamnya dengan helm yang melekat dikepalanya. Dengan langkah cepat, Tari menghampiri cowok itu dengan senang.
“Haiii Kak A...”
Ucapan Tari terhenti saat cowok itu membuka helmnya, lalu menunjukkan tampilan yang berbeda dengan apa yang Tari inginkan. Cowok ini bukan cowok yang ada di pikirannya. Bukan Ari! Tapi Ata!
“Kenapa, Tar?” alis Ata bertaut saat disadarinya senyum di wajah Tari berubah.
“Enggak,” Tari menggeleng dengan otomatis. “Ngapain Kak?” tanyanya.
“Jemput elo lha! Masa iya gue nungguin penumpang! Emang gue tukang ojek!!!”
Tari nyengir kuda. “Hehehe... berangkat sekarang nih?”
“Enggak,” Ata menggeleng. Lalu melihat jam di pergelangan tangannya. “Kayaknya sih, lima abad atau perlu empat belas abad lagi kita berangkatnya. Gimana?” alisnya terangkat sebelah. Mimik wajahnya sangat serius.
“Ih... gitu aja di bawa serius!” Tari langsung menyikut lengan Ata. “Oh ya, kok bawa motornya Kak Ari? Emang dia nggak bawa motor?”
“Ini udah jadi kepemilikan gue, lagi! Bukan dia.” Ata mengulurkan tangannya pada Tari, membantu Tari untuk menaiki motor besarnya itu.
Tapi Tari tetap bergeming, tak menghiraukan uluran tangan itu. ia masih heran, bingung dicapur aneh. “Trus Kak Ari naik apa sekolahnya? Taksi? Angkot? Bus? Mikrolet? Atau malah bajaj?”
Ata tertawa geli, lalu tangan yang terulur dan tak tersambut itu langsung mengacak-acak rambut Tari. Cewek ini!!! Ata menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa sadar. “Mana mungkin Ari pake bajaj! Ada-ada aja lo!” ucapnya. “Tau deh! Bareng sama si Ridho atau Oji, mungkin.”
“Kenapa nggak sama lo aja, Kak?”
“Kan gue jemput elo! Special, just for you!” ucapnya sambil mengedipkan matanya.
“Ih... genit deh!”
Kembali, Ata tertawa geli. Lalu mengulurkan tangannya lagi, dan baru disambut oleh Tari yang langsung menaiki motor besar yang dibawa Ata itu.
***
Disekolah, Tari mengelilingi setiap koridor, setiap ruang kosong, di akmar mandi, di setiap kantin, dan dimana-mana saja. Tapi tak kunjung ia temukan sosok yang membuatnya mengernyitkan kening saat itu. Saat sosok itu mengatakan “selamat tinggal” padanya malam itu.
Disebelahnya, ada Fio yang meggerutu karena jadi korban akibat kelakuan Tari yang sok jadi dektektif. Untung aja Tari nggak ajdi detektif conan! Hanya mengintai dibeberapa tempat yang pastinya dipastikan tak ada sosok senior galak yang mampu menerkam mereka kapan saja.
“Tar... ada nggak sih disini? Kaki gue udah pegel banget nih!” Fio mengeluh sambil memijat-mijat kakinya.
“Nggak ada, Fi.” Tari menoleh ke arah Fio sambil cemberut. “Padahal ini kan kantin anak kelas dua belas. Tapi dia tetep nggak ada!”
“Eh... masih mending yah kita nggak keliatan sama senior. Kalo keliatan, gue nggak tau besok gue ke sekolah pake apa. Kursi roda, atau pake tongkat, atau malah gue nggak bakal masuk sekolah untuk beberapa hari, atau malah juga untuk selamanya!!!”
Sambil berjalan menyusuri koridor lagi, Tari menjitak kepala Fio dengan jengkel. “Nggak separah itu, Fi! Lo kira mereka teroris gitu!? Hiperbolis banget deh!”
Fio langsung meringis kesakitan sambil menyeringai geli. Baru sadar bahwa apa yang dikatakannya memang diluar nalar manusia.
“Tanya Kak Oji gih!” Tari memerintahkan dengan nada seorang bos-nya.
Fio langsung melirik Tari, “apa-apaan tuh! Udah jadi korban sampe kaki gue pegel-pegel gini. Lo mau ngorbanin gue ke tu anak!?” Fio mendengus jengkel. “Oo... tidak bisaaa,” diikutinya gaya Sule di Opera Van Java.
“Ya ampun, Fi! Kali ini aja deh! Gue kasih cokelat selusin deh... gue bener-bener nggak enak hati nih nggak liat tu pentolan sekolah!” pintanya dengan nada memelas.
“Ha? Pentolan korek?” Fio pura-pura budeg.
“Ih... pentolan sek...”
“Ooh, pentolan bakso!” Fio memotong dengusan Tari. “Iya-iya gue ngerti. Di kantin tuh banyak banget pentolan bakso yang gede-gede. Habis itu mantap banget lagi rasanya!!!” kepala Fio mengangguk-angguk, lalu saat menjelaskan tentang bakso, lidahnya seperti mengatakan, “lezat!!!”
Tari langsung bertola pinggang, “BILANG DONG KALO LAPER!!!” serunya dongkol. Dari tadi di potong mulu ucapannya. Dimintain tolong, malah nggak mau. Emang ngajak ribut ni anak!
“Hehehe... lagian elo kagak mikirin gue sih! Dari istirahat pertama sampe istirahat kedua ini, gue belom makan sama sekali cuma gara-gara disuruh nemenin lo ngintai Kak Ari!” Fio jadi ketawa geli sendiri.
“Iya, sori. Sori. Gue kan kuatir banget sama tu anak!”
“Kuatir sama siapa, Tar?”
Tari dan Fo kontan menoleh, dan mendapati kakak kelas nan sangar itu sedang menatap keduanya dengan lembut. Vero!
“Kak... Vero!?” pekiknya tanpa sadar.
“Nggak perlu takut, Tar. Cerita aja sama gue... gue nggak akan nyakitin elo lagi kok. Gue sadar, kalo tindakan gue itu kekanak-kanakkan banget. Jadi... kita berteman sekarang?”
Keduanya menatap Vero, lalu tersenyum tanpa sadar. Senyum persahabatan!
***
 “Fi... buruan dong! Telfon Kak Oji!!!” tangan Tari menggoyang-goyangkan tubuh Fio. “Udah gue beliin bakso, juga!”
Fio nyengir, “iya, iya. Sabar dong!” ucapnya sambil merogoh sakunya, mencari alat elektronik baru itu. setelah berhasil menemuka barang itu, ia dekatkan ke telinganya.
“Halo...,” diseberang sana suara Oji terlihat bingung dengan satu nomor yang memanggilnya itu.
“Halo, Kak. Ini gue... Fio.”
Diseberang sana, Oji ternganga lebar, lalu tersenyum. “Oh... hai sayang! Ada apa telfon-telfon? Kangen ya? Kok elo tau nomor gue sih?”
Fio langsung menghembuskan nafas panjangnya, diliriknya Tari dengan jengkel. Gara-gara Tari, dia harus ngomong sama Oji. Sabar, sabar! ingatnya dalam hati. “Eng... itu Kak. Gue mau tanya... Kak Ari hari ini masuk nggak?”
Kontan Oji mengerutkan keningnya, “lo nyariin Bos gue? Elo jatuh cinta ya sama dia? Ha? Nggak boleh. Lo harus sama gue!!!”
Iih! keluhnya. Kok ada orang yang maksanya kayak gitu ya? Emang dia siapanya Fio? Dengan sabar, ia hela nafas panjangnya. “Bukan. Gue nggak jatuh cinta sama dia. Tapi, ada orang yang nyariin dia dari tadi. Sampe ngorbanin kaki gue. Gara-gara cuma nyariin Bos elo itu, kaki gue pegel-pegel! Mana gue kelaperan, lagi! Udah di kasih makan sih, tapi kan nggak cukup buat perut gue! Sumpah deh, rasanya pingin banget gue cekek Bos lo itu supaya nggak bikin gue jadi korban!”
Tanpa sadar, Fio langsung marah-marah sama Oji yang kini sedang ternganga lebar. Kaget! Sumpah deh! Dia kan nggak tahu apa-apa, dan tiba-tiba Fio nyerocos gitu sama dia!? Bikin keningnya jadi keriting aja!
“Fi... Fi... elo kalo ngambek gitu jangan ke gue dong!”
“Biarin aja! Pan elo temennya Kak Ari. Biar elo ngerasain juga akibatnya Bs elo kagak ada!”
Mereka berdua jadi ngobrol sendiri. Membuat Tari yang disebelahnya kontan melotot ke arah Fio. mengingatkan kalau tujuan utamanya itu nanyain Ari, bukan ngedumel dan ngadu sama si Oji!
“Heh... melenceng amat sih! Buruan tanya!” Tari melotot.
Fio malah nyengir kuda, “eh... buruan jawab. Kak Ari dimana?”
Diseberang sana Oji makin aneh. Ni anak galak amat! “Duiiileee... galak mata, Jeng! Dia nggak masuk. Katanya, dia mau liburan dulu sebelum pusing mikirin UN. Oh ya... dia juga udah bilang, kalo Tari itu urusannya Ata sekarang. Bukan urusannya dia.”
“HAAAHHH!!!???” kontan Fio berteriak kaget. Diseberang sana, Oji sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya. Lalu mengusap-usap telinganya. Gara-gara suara bombastis Fio, telinganya jadi sakit.
“Eh... biasa aja, Neng! Elo mau bikin gue masuk rumah sakit bagian THT.”
“Hehehe... sori, sori. Gue kaget. Elo serius nih?” Fio langsung merendahkan suaranya.
“Enggak!” diseberang sana Oji menggelengkan kepalanya tanpa sadar. “ Gue nggak suka band Serius. Gue sih sukanya SMOSH atau enggak Udin Sedunia. Kocak!!!”
“Iih... gue serius, KAK OJIII!!!”
“Iya, iya. Serius gue!”
Fio yang nggak tahu harus ngomong apa, langsung mematikan hubungannya dengan Oji. Dia menatap Tari yang duduk disebelahnya dengan nanar. Nggak sanggup ngasih tau Tari kalau Ari sekarang lepas tangan dan menyerahkan semuanya sama Ata. Saudara kembarnya.
“Gimana, Fi? Gimana? Dia masuk? Atau... dia nggak masuk?”
“Enggak masuk,” lirih Fio dengan gelengan.
“Trus... elo tau kenapa dia nggak masuk? Males belajar? Mau tawuran atau dia lagi sakit???”
“Dia... dia... dia mau liburan dulu, Tar. Mau nenangin pikiran dia sebelum UN, katanya.”
Tari langsung mengerutkan keningnya, “kemaren-kemaren dia juga udah liburan deh! Sampe dua minggu lebih! Dan... sekarang dia ngilang lagi!?” Tari geleng-geleng kepala nggak percaya. “Oh ya... dia nitip pesen ke Kak Oji buat gue nggak?”
Bohong lebih baik, Fi! peringatnya dalam hati. “Enggak. Dia bilang itu aja kok.”
***
Bunyi bel tanda pulang sekolah, berdering kecang!!! Berteriak bahwa itu adalah tanda para murid bebas lepas dari yang namanya guru, pelajaran dan juga sekolah! Bel itu nyaring, memekakan telinga Tari yang sedang berjalan terburu-buru di koridor sekolah.
Sekarang yang ingin ia pastikan Ari ada di depan gerbang, sama seperti dulu. Meskipun nggak masuk sekolah, cowok itu pasti menjemputnya. Namun, satu harapan itu langsung musnah ketika dilihatnya Ata sedang bertengger manis diatas motornya dengan helm hitam yang melekat dikepalanya.
Senyum secerah mentari pagi itu lenyap seketika, digantikan oleh kening yang berlipat rapat. Bukannya nggak suka kalau Ata menjemputnya. Namun, ia kecewa. Apa yang terjadi sama sekali tak sama dengan apa yang ia harapkan. Ia mengharapkan orang itu. Ari. Bukan Ata. Bukan saudara kembarnya. Tapi orangnya langsung.
Terpaksa hari ini Tari pulang bersama Ata. Nggak sama Fio juga. Fio sudah pulang bersama Oji tadi, saat ia memutuskan untuk mencari Ari di parkiran.
***
Angga berjalan ditengah keramain dan kepadatan kota Jakarta. Ia menghentikan motornya tadi dan menitipkannya pada salah satu orang yang sudah dikenalnya akrab. Suara bising ini mampu membuat kepalanya tambah pusing.
Sudah berkali-kali ia mencari sosok yang pernah menjasi musuhnta itu. tapi cowok itu tak terlhat lagi setelah kata-kata yang di lontarkan cowok itu sebelum akhirnya cowok itu benat-benar menghilang. Blas! Seperti di telan bumi. Dan... kali ini Ari benar-benar hilang! Dengan kata-kata yang membuatnya masih tercengang sampai sekarang.
“Jaga Tari ya. Dia gue titipin sama Ata. Gue nggak bisa jaga dia. Dan... yang gue percaya elo bukan Ata. Jadi, kalo Ata bikin Tari nangis. Lo boleh mukul dia sampe mati!” ucapnya ketika itu dengan kedua bola mata yang mengelam.
Dan saat ditanya maksudnya, Ari malah tersenyum  samar sambil memegang pundak Angga. Cowok itu langsung memeluk Angga erat.
Thanks, udah mau maafin gue. Padahal gue tau banget, kesalahan gue nggak akan pernah bisa dimaafin. Tapi... elo terlalu baik sama gue.” Dilepaskannya pelukan hangat, namun dingin. Menyakitkan namun juga menyenangkan. Di tatapnya Angga dengan kedua bola mata yang masih mengelam. “Sekali lagi, maafin gue!” ucapnya sebelum akhirnya dia benar-benar menghilang dari hadapan Angga saat itu juga.
Kejadian itu masih saja terus terbayang di kepala Angga. Apalagi, setelah memberitahu Tari tentang kejadian itu tadi sore. Dan... saat itu juga Angga langsung melihat wajah pucat pasi serta tangis haru yang mendalam di diri Tari. Cewek itu kehilangan!
“Ga... Ga... ANGGA!!!” teriak seorang gadis di hadapan Angga sambil melambai-lambaikan telapak tangannya dihadapan wajah Angga. Cowok itu terdiam dari tadi, tubuhnya menyender ke tembok tua yang berada di pinggir jalan.
“VERO!?” pekiknya tak menyangka.
“Elo dari tadi gue panggilin. Bengong mulu!” ucapnya sambil ikut menyenderkan tubuhnya di tembok tua yang sama dengan Angga.
“Gue mikirin...,”
About Tari, Ari and Ata? Or something else?” potong Vero sambil menatap Angga lekat-lekat. “Ga... gue tau semuanya kok. Tapi... menurut gue, elo biarin Tari nenangin dirinya dulu. Kasian dia.”
Angga menoleh ke arah Vero, “thanks, Ver. Elo selalu ngasih jalan yang terbaik saat jalan gue udah buntu. Elo selalu ada, saat gue butuh. Elo... kayak Anggun.”
Disebelahnya, Vero tertawa geli. “Gue nggak kayak adek lo itu. Gue nggak sepolos itu. Lo kan tau sendiri, gimana gue. Gue itu orang jahat, Ga. Nggak kayak Anggun. Dia itu orang baik,”
Tangan Angga mengacak-acak rambut panjang Vero, lalu tersenyum manis. “Ver, itu elo yang dulu. Elo yang sekarang... jauh banget. Berbeda. Karena... elo sebenernya emang baik. Cuma elo belom mengetahui sisi baik lo itu, kemaren-kemaren.”
Vero tertegun. Baru kali ini ada orang yang mengatakn hal itu. Lalu ada perasaan menyelinap begitu saja di dalam hatinya. Membuat debar yang tak karuan.
***
Bukankah ini benar-benar tak adil? Bukankah disetiap kesabaran itu ada batasnya? Mengapa semuanya terjadi seperti ini? Tak seindah yang dibayangkannya? Mengapa harus ia jalani kisah hidup trgais seperti ini? Sendirian? Tak ada satupun yang mampu menyelinap ke dalam hatinya karena hatinya hanya milik satu orang. Satu orang yang kini mungkin benar-benar telah lenyap dikehidupannya.
Disaat semuanya merasakan satu kebahagiaan tiada tara, ia malah mendapatkan kesedihan yang tiada tara! Ari. Cowok itu memilih home schooling. Dan nggak pernah terbesit dibenaknya untuk belajar langsung di SMA Airlangga seperti dulu. Cowok itu tlah menentukan jalannya. Pergi jauh-jauh dari kehidupan Tari. Dan takkan mengganggu setiap detik kehidupan Tari.
Setiap kali, Tari terdiam. Melamun hingga tanpa sadar dirinya mungkin sudah seperti mayat hidup. Menangis. Tertawa. Tersenyum. Mengeluh. Berbicara. Selalu sendiri. Bahkan dirinya sudah tampak seperti orang gila.
“Tar... makan dulu. Mamam udah masakin, masakan kesukaanmu.”
Tetap saja Tari diam. Tak bergeming dari tempatnya. Ia tetap menatap ke luar jendela. Menatap embun yang menempel di kaca akibat hujan lebat tadi. Menatap kekosongan di luar sana. Yang sama persis dengan apa yang ia rasakan.
“Tari... makan sedikit aja. Dari pulang sekolah, kamu belum makan, sayang. Mamam kuatir kamu malah sakit.”
Sama seperti tadi. Tari tetap diam. Tak menggubris perkataan mamanya. Ia hanya menatap keluar dengan tatapan kosong.
“Tar...” mamanya sudah hampir menyerah. “Ada Ari di luar...” ucapnya tanpa di pikir dua kali.
Bukan sahutan yang mama Tari dapatkan. Bukanlah senyum cerah gembira yang di dapatkannya. Namun, tangisan histeris Tari. Cewek itu memegangi kedua kepalanya. Mengacak-acak rambutnya yang tergerai indah. Tangisannya meledak. Tak sanggup dibendung. Nama “keramat” itu di sebutkan mamanya, dan itu malah membuat keadaannya tambah buruk karena ia harus mengingat cowok itu lagi.
Akhirnya mama Tari memilih menyerah dari pada anaknya tambah mengeluarkan air matanya. Ia tinggalkan Tari sendiri dengan kesedihannya.
“Lo tega! Lo tega! Gue benci elo!!! Kenapa elo giniin gue!?”
***
Bahkan di sekolah sekalipun. Semuanya menjadi merasa nelangsa terhadap Tari. Disetiap kehadirannya, selalu ada Ata. Padahal yang ia butuhkan hanyalah Ari. Ari. Ari dan Ari. Dia butuh Matahari Senja-nya sekarang.
Tari sangat ingat jelas, bagaimana Ari memeluknya, saat Ari mencium keningnya, saat Ari memberikan rasa nyaman pada dirinya. Semuanya! Kenangan-kenangan indah itu mulai bermunculan di kepalanya, tanpa peduli rasa sakit yang kini sedang menghadang hatinya dan mencoba untuk merobek setiap helai kesabarannya.
Sesaat di mulai keletihannya, Tari benar-benar menyerah. Ia tak tahu harus berbuat seperti apa lagi. Cukup disini kesabarannya menunggu sosok yang tak pernah ada.
Kini, ia paksakan senyum itu untuk semua orang disekitarnya. Kepergian Ari yang membuatnya semakin terpuruk. Senyumnya yang tulus berubah menjadi senyuman paksaan. Apalagi, kini Ata melihatnya dengan jelas. Cewek itu terlihat tegar, padahal hatinya sedang runtuh. Cewek itu terlihat santai saja saat dirinya mengajak pergi, padahal ia menerimanya untuk melupakan Ari.
Di sisi ini, Ata mengerti satu hal. Cintanya hanya sebatas cinta sebagai seorang Kakak. Nggak lebih. Karena, Tari takkan mungkin menyambutnya dengan senyuman, bahkan dengan senyuman paksaan sekalipun. Memang hanya Ari-lah yang mampu mengisi hati Tari. Bukan dirinya.
Senyum manis itu, rona merah itu, ia berikan bukan untuk Ata. Namun, Ari. Karena apa yang dilihatnya sangat berbeda jauh dengan apa yang terjadi sebenarnya. Tari begitu mencintai Ari. Lebih dari yang ia bayangkan. Cinta itu bertahan, meskipun dirinya sudah mencoba untuk masuk ke dalamnya. Ari terlalu berarti untuk Tari. Untuk cewek yang kini di landa kesedihan akibat ulahnya sendiri.
“Tar, jangan gini dong!” keluh Fio.
“Gue... kangenn bangett sama Kak Ari,” ucapnya tanpa sadar. Tatapannya mengarah ke arah papan tulis. Kosong!

Lagi-lagi Fio harus menghela nafas sabar. Setiap kali dirinya mengajak bicara Tari, cewek itu hanya akan mengeluarkan kata, “gue kangen Kak Ari”, “dia dimana ya?”, “salah gue apa sih?”. Dan itu lagi-lagi membuat Fio dan yang lainnya harus menindak lanjuti urusan ini.
Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram