Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Cinta. Tampilkan semua postingan
Gema Athaillah


Gue terpisah. Gue tersesat. Dan gue sendirian. Itu namanya sial pake banget.
Gara-gara ada rombongan ibu-ibu, bapak-bapak beserta anak-anaknya yang tiba-tiba aja mengepung kami. Sialnya pegangan tangan gue pada Zia malah terlepas begitu aja. Gue kehilangan dia di tengah jalan.
Bayangin aja, gue harus keliling Ragunan sendirian. Emangnya gue ke sini mau nyamain muka!? Sama badak loh ya bukan sama monyet. Soalnya spesies gue ya spesies badak. Kalo spesies monyet macamnya kayak gue, cewek-cewek pasti kelepek-kelepek setiap mampir ke Ragunan. Oke, gue mulai ngelantur.
Yang jelas sekarang gue bete berat dan nggak berniat untuk pergi ke mana pun selain duduk di kursi panjang yang disediain di sana.
"Atha?"
Gue mendongak dan mendapati sosok yang gue kenal tersenyum ke arah gue.
"Ngapain di sini sendirian?"
Gue tersenyum membalas sapaannya. "Jalan-jalan dong, Am. Masa iya mau nyamain muka."
Dia tertawa geli. "Boleh aku duduk di sini?" tanyanya.
"Oh boleh... boleh."
Amboi duduk di sebelah gue dengan anggun. Dia memakai gaun berwarna kuning cerah selutut dengan topi pikniknya yang unyu banget. Ah Amboi masih sama seperti dulu. Masih anggun, feminin dan manis.
"Am, kamu sendiri ke sini?"
"Tadi sih bareng sama Prisil. Tapi dia ngilang di tengah jalan."
Prisil? Di sini? Waduh! Gawat banget dong.
"Kenapa nggak nyoba hubungin aja?"
"Udah. Tapi nggak diangkat. Padahal udah aku telfon, sms, whatsApp, bahkan LINE, tetep aja nggak dibales ataupun baca." Dia menyodorkan ponselnya pada gue. "Liat deh."
Gue mengangguk-angguk. Amboi jujur. Lagi pula, Amboi sebenarnya baik kok. Nggak kayak saudara-saudaranya yang freak itu. Yang bikin gue bonyok-bonyok.
"Kamu sendiri di sini?"
"Enggak. Tadi sih bareng sama anak-anak. Tapi tadi aku kepisah gara-gara ada rombongan gitu." Gue bercerita.
Ngomong-ngomong gue dan Amboi masih bicara dengan aku-kamu karena kebiasaan. Dulu waktu kita masih temenan juga ngomongnya aku-kamu. Jadi agak aneh aja kalau tiba-tiba gue ngomong pake gue-elo.
“Zia ada di sini juga?” tanyanya.
Gue mengangguk untuk menjawabnya.
Dia hanya ber-oh ria dan tiba-tiba bangkit dari kursi. “Eng... Atha, aku kayaknya harus nyari Prisil lagi deh. Aku pergi dulu ya.”
Gue jadi ikutan berdiri. “Kenapa nggak cari bareng aja?” tawar gue.
Bukannya modus, tapi emang mending begitu kan? Yah, dari pada gue sendirian di sini kayak kambing conge, mending gue nemenin dia nyari Prisil.
“Nggak usah deh, Tha. Biar aku cari sendiri. Nggak enak kalau Zia liat dan salah paham.”
Ya ampun ni cewek bikin gue gemes. Masih aja mikirin perasaan orang lain? Amboi emang cewek baik deh. Kalau bukan karena saudaranya yang rada sinting, mungkin gue masih mempertimbangkan kembali untuk kembali sama Amboi. Eh, kok gue ngomongnya gitu? Gue kan udah punya Zia.
“Am, Zia nggak bakalan salah paham kok.” Gue menjelaskan. “Lagian aku kan bantuin kamu nyari Prisil. Bukannya kencan sama kamu.”
Amboi terdiam sejenak. “Mmm... iya deh.”
***
Ini bener-bener gila! Ini bukan gue yang gila. Tapi apa yang gue lihat bikin gue gila. Eh... sama aja ya?
“Dasar cewek murahan!” Prisil menjambak rambut Sakura dengan sekali tarik. Sakura meringis. Gue ikutan meringis. Pasti sakit banget tuh.
Sementara itu, di sebelah gue, Amboi menatap dengan mulut menganga. Cewek itu pasti syok banget terhadap perlakuan sepupunya yang kayak narapidana kelaperan. Eh, dia sih emang mantan narapidana.
Badai ke mana lagi? Kenapa cowok itu nggak ada? Ruth? Sial. Geu harus turun tangan.
Dengan langkah panjang, gue berlari ke arah mereka. Mendorong paksa cewek gila bernama Prisil itu dan langsung melindungi Sakura sebelum Prisil melukainya. Sakura berdiri di belakang punggung gue dengan wajah pucatnya. Gue jadi kasihan.
“Apa-apaan sih lo!? Nggak punya malu ya?” sentak gue marah.
“Elo nggak usah ikut campur. Ini urusan gue sama dia!” teriaknya kesal.
Sekumpulan orang mulai berbaris mengelilingi kami. Prisil emang jago banget nyari perhatian orang. Sekarang kita jadi tontonan banyak orang yang lewat sana.
“Gue perlu ikut campur. Dasar cewek gila!”
Masa bodoh deh dengan kenyataan bahwa dia itu cewek dan gue ini cowok. Yang jelas gue nggak bisa membiarkan tu cewek gila melukai Sakura seenak jidatnya. Emangnya Sakura salah apa sama dia?
“Prisil, udah dong. Malu diliatin orang...,” ucap Amboi dengan nada berbisik.
Prisil menepis tangan Amboi yang berusaha memegangnya. Cewek itu menatap tajam sepupunya, lalu menatap gue dengan tatapan yang sama.
“Tu cewek milik gue! Siniin nggak!?” Dia berteriak kalap.
“Gila ya lo!?” Gue mengernyit.
“Dia udah ngambil Badai dari gue!!!” teriaknya. “Dia bikin gue dan kakak gue dipenjara. Dia cewek murahan yang nggak tahu diri!!! Dia pantes mati!” Tiba-tiba Prisil mengambil pisau dari saku jaketnya.
Gila. Cewek ini kayaknya kesurupan jin apa gitu sampai-sampai bawa pisau ke tempat rekreasi kayak gini. Pisau buat ngiris buah sih nggak masalah, lah kalau pisau buat bunuh orang?
“Dia pacar gue sekarang. Jangan pernah salahin dia karna lo putus sama Badai. Itu bukan salah dia. Dia juga nggak ngerebut Badai dari lo. Badai yang nggak mau deket-deket sama lo.”
Ngomong apa gue tadi? Yah, dari pada Sakura kena jambak lagi.
“Dia pacar lo?” desis Prisil.
Ia maju mendekati gue. Otomatis gue mundur selangkah. Gila. Serem juga ya tu cewek.
“Tolong, jagain pacar lo biar nggak keganjenan lagi sama cowok orang!”
“Prisil?”
Kami menoleh bersamaan ke sumber suara. Badai. Akhirnya tu cowok muncul juga. Gue hampir kena serangan jantung gara-gara muka psiko-nya Prisil sambil bawa-bawa pisau begitu.
“Badai?” Prisil tergeragap. Ia langsung menyembunyikan pisau itu di punggungnya. “Badai...”
“Atha benar. Ara pacarnya. Ara juga bukan alasan gue buat ninggalin lo.” Badai menjelaskan tanpa diminta. Raut wajah cowok itu kelihatan murung. Ah... sejak di mobil tadi wajahnya emang begitu.
“Badai.... tapi Sakura...”
“Ara nggak salah apa-apa. Tolong jangan salahin dia.” Badai memotong ucapan Prisil. “Gue sama dia... cuma temen.”
***
Gara-gara ngaku jadi pacarnya Sakura, sekarang gue harus berakting di depan Prisil sebagai pacarnya Sakura. Tu cewek gila nggak mau pergi sebelum bener-bener yakin kalau gue ini pacarnya Sakura.
Gue juga jadi nggak enak sama Badai. Mukanya yang udah murung tambah murung lagi. Kayak ada badai di hatinya. Udah cocok banget tuh nama dia sama suasana hatinya.
Dan yang gue bisa lakukan sekarang adalah mengelus-ngelus puncak kepala Sakura dengan pelan, supaya cewek itu segera tersadar dari syoknya. Mukanya masih pucat banget dan dia nggak berani untuk mengangkat wajahnya.
Kalau gue tanya, dia cuma bisa ngangguk sama menggelengkan kepalanya. Gue jadi kasian. Ketemu sama Prisil aja kejadiannya udah begini, gimana nanti kalau dia ketemu sama Fabi? Eh... gila. Mana Sakura nggak tahu keberadaan Fabi yang sudah bebas, lagi. Gawat deh.
“Ra, mau minum lagi?”
Sakura menggeleng.
Tuh kan. Trus sekarang gue harus akting apa lagi nih kalau Sakuranya aja kayak begitu? Kalau begini, Prisil juga nggak akan pergi-pergi sebelum yakin gue sama Sakura beneran pacaran.
“Athaaaaaa....”
Ah. Suara Zia. Dan seketika sebuah tangan merangkul gue dengan mesra. Waduh, waktunya nggak tepat banget sih.
“Eh, Zia...” Gue menyapa balik dengan raut wajah kaku. Perlahan, tangan gue menurunkan tangannya dari pundak gue.
Reaksi Zia? Jelas dia terkejut. Dia bingung. Dan kayaknya dia bakalan marah besar sama gue. Tapi ini taruhannya rambut Sakura bakalan dijambak lagi loh. Bahkan mungkin tubuhnya Sakura bakalan ditusuk-tusuk. Zia juga nggak bakalan mau kalau Sakura digituin, kan!?
“Sil, sampe kapan mau di sini?” tanya Amboi dengan nada pelan.
Saat itu juga Zia baru menyadari kehadiran Amboi dan Prisil di sana. Kedua matanya terkejut.
“Prisil?”
Gue mendengar Awan menyebutkan nama prisil dengan kaku. Di sebelahnya muncul Ruth yang sedang minum es kelapa.
“Sampe gue yakin.” Katanya tegas.
Badai menunduk pasrah. Lalu dia melirik gue, memberikan tanda supaya gue menyelesaikan ini semua dengan cepat. Lah kenapa gue? Gue kan niat bantuin doang. Ini terjadi kan gara-gara si Badai juga.
“Ra, balik yuk ke mobil. Kamu istirahat di sana biar enakan. Di sini kan panas,” ucap gue sambil mengelus-elus rambut Sakura dengan sayang. Lalu setelah melihatnya mengangguk, gue membantunya berjalan sampai parkiran.
Tuhan. Sekarang Zia pasti cemburu banget. Meskipun Sakura adalah sahabatnya, Zia paling nggak suka ngeliat gue deket sama cewek lain, apalagi sampai perhatian kayak begini. Trus gue harus gimana dong?
***
Keadaan di dalam mobil sunyi kayak di kuburan. Bahkan kayaknya kuburan lebih menyenangkan dari pada suasana mobil ini. Badai diam. Zia diam. Sakura diam. Awan diam. Dan gue juga diam. Satu-satunya manusia yang nggak kena masalah hari ini ya cuma Ruth. Dia sih enak, nyanyi-nyanyi sambil makan keripik. Lah gue?
Gue menghembuskan nafas aja kayaknya udah berisik banget. Apalagi ikut makan keripik bareng sama Ruth? Lagian itu nggak mungkin sih. Kan gue nyetir nih. Udah gitu keripiknya ada di Ruth yang duduk di belakang. Tangan gue mana nyampe ke belakang buat ngambil keripik.
Mana pake macet segala, lagi. Kan tambah lama nyampenya.
Awan sibuk dengan lamunannya dan tangannya yang bergerak mengganti channel radio di mobil. Gue menengok ke belakang. Ruth dan Zia juga ketiduran. Tapi yang di belakang luar biasa sekali. Mata gue sampe membulat seperti bakso. Enak banget itu Badai. Si Sakura tidur juga, tapi tidur di pundaknya Badai. Udah gitu tangan si Badai pake ngelus-ngelus rambut Sakura, lagi.
Badai sendiri nggak sadar gue liatin. Soalnya dia lagi ngeliat ke luar jendela dengan pandangan kosong.
Di luar memang rintik-rintik tanda mau hujan. Jadi posisi paling enak adalah Badai. Dan posisi paling nggak enak adalah gue. Udah disuruh nyetir, dicuekin Zia, kelaperan nggak dapet makan, dan malah duduk sebelahan sama monster nyebelin kayak si Awan.
Duh... nasib... nasib...
***
Setelah sampai di rumah Ruth, semuanya turun. Kecuali gue, Zia dan Sakura. Tadinya Badai niat nganterin Sakura pulang, tapi kondisi kayak begini, mana mungkin Sakura mau. Awan rumahnya nggak searah sama Sakura. Jadi gue adalah satu-satunya orang yang bisa nganterin Sakura pulang.
Setelah Sakura turun dan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya pada gue, suasana mobil kayak di kuburan lagi.
Setiap kali gue ajak ngobrol, Zia cuma bisa menggumam atau nggak ngangguk doang. Gue yakin seratus persen kalau dia lagi marah sama gue. Mukanya udah bete berat dan berada di dalam satu mobil yang sama dengan gue bikin dia tambah bete lagi.
“Zi...”
“Hmmm?”
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Trus kok diem aja sih?” tanya gue dengan kening mengerut.
“Hmmm...”
Gila. Nggak niat banget jawabnya. Gini ya cewek, kalau ditanyain kenapa malah nggak jawab. Kalau nggak ditanyain makin ngambek. Pingin bunuh diri rasanya kalau begini.
“Zi...”
“Hmmm?”
“Kamu nggak jawab pertanyaan aku. Kenapa kamu diem aja?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Beneran? Muka kamu udah kusut banget kayak jemuran belom digosok.”
“Hmmm...”
Kampret. Diem aja deh gue. Ngomong lagi juga salah.
Sampai di depan rumah Zia, dia langsung turun begitu aja. Kalau masih baikan sih ya cipika-cipiki dulu lah ya. Kalau sekarang? Jangankan cipika-cipiki, senyum aja nggak dikasih. Mana pintunya dibanting, lagi.

Nasib hari ini sial banget kayaknya.
Ardiyanti Zia


Jalan sama Awan? Ya. Sekarang aku jalan sama Awan. Sadar nggak sih aku??? Ini Awan loh. Cowok yang pernah kutaksir dan bikin aku nangis kejer gara-gara tau dia sukanya sama Prisil.
Bukannya nggak mungkin aku jalan sama Awan, tapi yah... You know, aku udah punya Atha. Bisa mencak-mencak kalau dia tahu aku jalan sama cowok yang pernah kutaksir.
Tapi masa bodolah. Toh kita emang lagi berantem. Dia duluan sih yang nyulut api. Eh enggak deng.. Aku duluan. Gara-gara aku berpikiran sempit. Tapi serius deh... ini kan nggak semuanya salahku. Ini juga salah pak polisi dan Fabi. Yaaah you know what...
“Zia?”
“Hmmm?” Aku menoleh.
“Lo kenapa?”
“Gue?” Aku mengernyit. “Gue nggak kenapa-kenapa. Emangnya kenapa?”
Awan tersenyum simpul. “Dari tadi lo diem aja. Ada masalah?”
Ada sih. Masalahku sama Atha. Tapi nggak mungkin kan aku cerita-cerita sama Awan soal Atha? Mau ditaruh mana mukaku?
“Nggak ada kok.” Aku ikut tersenyum.
Drrttt.... drrtt...
Sial. Ponselku bunyi lagi. Ini pasti dari Atha.
Dengan malas, kurogoh tas kecil berwarna hijau di pangkuanku dan mengambil ponsel. Kulihat layar di ponselku. Tuh kan benar... dari Atha.
Aku lagi bete berat sama Atha gara-gara waktu terkahir kali dia mengantarkanku pulang, dia malah nyuekin aku. Aku tahu aku salah, makanya sehabis diantar Atha, aku langsung mengiriminya sms dan mengatakan bahwa aku menyesal, tapi tetap tidak bisa memberitahu Sakura soal Fabi. Bukannya dibalas, dia malah nyuekin aku. Makanya aku bete sekarang.
Sekali tekan, ponselku langsung begetar dan muncul gambar robot android berwarna hijau yang unyu banget. Lalu memasukkannya ke dalam tas lagi.
“Kenapa ponselnya dimatiin?”
Ups. Aku ketahuan. Aku nyengir dan melirik Awan dengan perasaan malu. “Eng... lagi nggak mau dihubungin orang aja.”
Awan langsung tertawa geli. “Ooooh.... ceritanya ini beneran kencan ya?” Awan menyeringai. “Akhirnya, kencan dari gue diterima juga.”
Mendengar itu, aku langsung menghela nafas panjang. Salah ngomong deh. Aku juga nggak bisa jujur soal Atha. Yah, biarin aja deh Awan menganggap bahwa ini kencan. Toh, nggak ada salahnya.
***
Setelah nonton film romantis-humor di bioskop, Awan malah menggiringku mengelilingi mall. Aku sih ikut saja, cewek mana yang nggak bersedia diajak mengelilingi mall untuk cuci mata?
Kami berhenti di sebuah toko pernak-pernik aksesoris. Awan menarikku ke deretan gelang. Lalu memilih-milih gelang dengan kening berkerut. Satu menit kemudian dia mengangkat tangannya dan menghela nafas panjang.
“Gue nyerah deh buat milihin gelang cewek. Semuanya bagus.” Awan menatapku. “Lo yang pilih, gue yang bayar.”
“Hah...?” Sesaat aku hanya bisa bengong.
Tapi tangan Awan langsung terulur padaku dan menyuruhku memilih ratusan gelang di depanku.
“Tapi...”
“Kenapa?” Awan menatapku bingung. “Nggak mau gelang? Apa mau kalung?”
“Nggak usah, Wan. Nggak usah dibeliin. Gue lagi nggak pingin beli aksesori kok.”
Raut wajahnya berubah menjadi masam. “Ayo dong!” rajuknya. “Satuuuu aja. Hadiah dari gue.”
“Hadiah?” Alisku menyatu.
“Lo lupa ya kalo sebentar lagi lo ulang tahun?” Awan menatapku lekat.
Sedetik kemudian aku langsung terdiam. Aku benar-benar lupa. Lagian ulang tahunku nanti nggak bakalan spesial gara-gara Atha nggak ada. Mana sekarang kita lagi berantem, mana sempet dia ingat hari ulang tahunku?
“Lo beneran lupa?” Awan menatapku tak percaya, sementara aku hanya bisa nyengir saja.
“Lagian nggak penting-penting amat kok.” Aku berusaha menanggapinya dengan santai. Meskipun di dalam hatiku, aku merasa sakit.
Awan hanya bisa menghembuskan nafas beratnya sambil menggandeng tanganku. Dia mengambil salah satu gelang di sana yang memiliki liontin huruf Z dan ada liontin bintang di sana.
Setelah itu, kami menuju kasir. Awan meminta dibungkus dengan kotak berwarna hijau dengan pita manis di atasnya.
“Jangan anggap ulang tahun lo nggak penting.” Awan berkata dengan nada beratnya. “Lo tau, hari itu adalah hari spesial buat lo. Jadi nggak mungkin hari itu bukanlah hari penting buat lo.”
Aku tertegun. Sorot mata Awan yang pernah kulihat dulu kini kembali lagi. Sorot mata yang kusukai sebelum sorot itu berubah saat mengenal Prisil.
Ya Tuhan... ada apa denganku? Ini tidak benar. Kenapa rasanya Awan begitu sangat baik denganku?
“Ini buat lo. Kado pertama dari gue.” Awan memberikkan kotak yang dibawanya pada gue. Dia tersenyum.
“Kado pertama?” Aku mengernyit.
Jangan bilang kalau Awan berniat untuk memberikan kado berikutnya? Ya ampun! Ini Awan loh. Awan kan temen kamu sekarang, Zi. Jangan macam-macam deh! Kalau Atha tahu...
Kalau Atha tahu? Aku langsung bete berat. Bodo amat deh kalau dia tahu. Salah siapa marah-marah sama aku!
“Kado selanjutnya, tunggu ya...” Awan tersenyum misterius. “Makan yuk! Laper nih.” Lalu tangannya menggenggam tanganku dan menggiringku menuju tempat makan.
Kenapa rasanya aneh ya? Ini rasa... apa bersalah? Atau... yang lainnya?
***
Mataku menangkap sosok yang sedang bersedekap dan menatapku dengan tatapan tajamnya. Tidak diragukan lagi kalau orang itu pasti kesal bahkan marah padaku. Tentu saja.
Dengan malas, aku berjalan menuju gerbang rumahku dan mengabaikan keberadaannya. Masa bodo banget deh. Yang penting sekarang aku mau tidur, karena mataku rasanya berat banget.
Tapi aku merasakan tanganku ditarik olehnya, membuatku terpaksa untuk mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam rumah.
“Dari mana?”
Aku mendesah panjang. “Kamu tau aku dari mana. Jadi nggak usah nanya.”
Genggaman tangannya di tangaku menguat. Dia pasti marah besar karena aku bersikap seperti itu.
“Kenapa kamu nggak angkat telfonku?” Suaranya mengeras. “Pake dimatiin segala, lagi!” desisnya kesal. “Seneng jalan sama Awan?”
Mataku menatapnya lekat. Seakan menantangnya. “Kalo aku seneng jalan sama Awan gimana!?” sentakku kesal.
Gerahamnya mengeras. Ia melepas genggamannya padaku dan menatapku dalam. “Kalo kamu lebih seneng sama Awan, kita putus aja.”
DEG.
Pu-putus? Apa dia bilang? Putus? Dia kira segampang itu mengatakan putus?
Aku yakin mataku sudah memerah. Rasanya aku pingin nangis sekarang juga. Tapi aku malu harus nangis di depan Atha. Apalagi gara-gara Atha bilang putus.
“Putus? Kamu kira ini salah siapa?” Aku memiringkan kepalaku.
“Kamu tau kamu salah.” Atha berkata datar.
“Iya, aku emang salah. Tapi kenapa kamu marah? Aku bohong sama Sakura, bukan sama kamu!” ucapku dengan nada gemetar. “Kamu suka sama Sakura?”
Itu adalah pertanyaan sebenarnya dari dalam lubuk hatiku. Aku terus bertanya-tanya perihal kemarahan Atha padaku. Aku memang salah, tapi dia sangat berlebihan. Jadi entah bagaimana, pikiranku langsung tertuju pada pemikiran bahwa Atha sebenarnya menyukai Sakura.
Itu tidak salah. Bahkan tidak mengherankan. Apalagi Sakura adalah teman sekelas Atha dulu. Sedekat apa mereka dulu, mungkin aku nggak tahu. Karena Sakura juga nggak pernah cerita soal Atha.
“Kamu ngomong apa sih!?” Atha mengernyit. “Aku suka Sakura? kamu gila ya?”
“Kalo emang kamu nggak suka sama Sakura, kenapa sih kamu selalu lebih mentingin perasaan dia dari pada perasaanku!?” cecarku frustasi.
“Aku nggak pernah mentingin perasaan siapa pun! Yang aku mau, kamu jujur!”
Sial. Aku malah menangis. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan emosiku sekarang.
Kuhapus setiap air yang berlinang di pipiku sambil sesenggukan. Kurasakan sebuah tangan terulur dan mendekapku ke dalam pelukan. Aku kembali menangis.
Aku nggak mau putus. Aku nggak mau putus sama Atha. Aku sayang banget sama Atha. Sayang banget....
“Maafin aku kalau aku terlalu keras sama kamu,” bisiknya di telingaku. “Tapi cukup nyuekin aku aja, tolong jangan kamu kasih perhatianmu itu ke Awan. Aku benci.”
Kedua tanganku langsung melingkari pinggangnya. Aku yakin sekarang kemejanya basah karena air mataku.
“Tapi aku belum siap bilang sama Sakura.”
“Aku tunggu...”
***
Tin... tin...
Ah! Itu klakson mobil Atha.
Hari ini kami dan yang lainnya janjian untuk jalan bareng ke ragunan. Entah mau apa. Yang jelas kami rasa kami perlu menghabiskan sedikit waktu yang kami punya untuk bersama.
Sambil berlari kecil, aku memakai jaket warna hijau lumutku dan tas kecil dari kulit kesukaanku.
Sampai di depan gerbang, kulihat Atha sudah siap dengan kemeja hitam rapinya. Rambutnya yang agak ikal disisir dengan rapi dan sebuah senyum tercetak di wajah manisnya. Uh! Atha ganteng banget sih.
“Hai.” Aku melambaikan tangan.
Atha langsung mencium pipiku seenak jidatnya. Menciptakan semburat merah di kedua pipiku.
“Ih, pake cium-cium, lagi!” desisku keki.
“Tapi suka, kan!?” gerlingnya nakal. “Yuk, pergi. Anak-anak udah kumpul di rumahnya Ruth.”
Aku mengangguk sambil menyambut Atha yang membukakan pintu untukku. Romantis banget sih dia pagi-pagi gini. Jadi pingin mukul, eh pingin meluk maksudnya.
“Sakura?” Kedua alisku menyatu.
“Sakura udah di rumah Ruth.” Atha menjawabnya dengan senyuman.
Baiklah. Rasanya kemarin aku berlebihan. Sampai membawa Sakura ke dalam permasalahanku. Padahal Sakura tak tahu apa-apa. Aku memang sahabat yang kurang baik.
Kami berenam memutuskan untuk memakai mobil Atha untuk pergi jalan-jalan. Entah ide siapa, yang jelas jadinya sih begitu. Meskipun Badai dan yang lainnya juga membawa mobil, tapi mobil mereka terpaksa diparkir di garasi Ruth yang lebar banget.
***
“Gue duduk di tengah bareng Sakura!” ucap Ruth saat kami sedang mendiskusikan tentang tempat duduk. “Anak cowok di belakang aja sana.”
Awan mendengus. “Nggak mau. Di belakang panas!”
“Lo kira mobil gue ini angkot!?” Atha mengomel. “Enak aja bilang mobil gue panas.”
“Maksud gue, kalo di belakang, gue nggak kebagian AC.” Awan menjelaskan dengan bibir mengerucut. “Elo sih enak. Duduk di depan. Bareng Zia, lagi.”
Waduh. Kenapa aku dibawa-bawa? Padahal kan dari tadi aku diam saja. Aku tak berniat mengganggu mereka mendiskusikan tempat duduk. Pokoknya hal yang sudah tertera jelas adalah aku duduk di depan bareng Atha. Titik.
Sakura menguap. “Lama-lama gue duduk di spion juga nih!” gerutunya.
“Ide bagus, Ra!” Aku langsung menjentikkan jari. “Sana gih duduk di spion. Biar Awan sama Ruth di tengah. Badai di belakang sendiri.”
“Duduk di belakang aja, Wan. Nggak usah permasalahin AC deh. Kayak lo bakalan mati aja kalo nggak dapet AC.” Badai berkata santai. Dia malah langsung nyelonong masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi paling belakang.
Dari tadi tingkah Badai memang aneh. Seakan pura-pura nggak peduli dengan yang ada di sekitarnya. Padahal dia jelas-jelas peduli.
“Nggak. Enak aja gue duduk di belakang!” Awan protes.
“Tapi gue nggak mau duduk bareng lo! Gue maunya duduk bareng Sakura!” Gantian Ruth yang protes.
Ruth memang rada-rada sebal dengan Awan saat kejadian lalu. Awan memang sinis banget sih waktu itu. Mana pake belain Prisil segala. Padahal Prisil kan pelaku kejahatan yang sebenarnya.
Setelah berdebat cukup lama dan panjang, akhirnya sebuah keputusan dipilih oleh kami serempak. Meskipun agak-agak aneh, tapi kami harus menerimanya dengan lapang dada.
Awan duduk bersama Atha di bagian depan. Aku dan Ruth di tengah. Tentu saja, Sakura dan Badai akhirnya di belakang.
Bukan apa-apa, sebenarnya tadi aku mau duduk bareng Badai di belakang, tapi si Manusia Badak malah ngomel-ngomel dan berkata aku tidak boleh duduk dengan cowok lain selain dirinya. Otomatis aku hanya punya dua pilihan, duduk bareng Sakura atau bareng Ruth.
Sementara itu, Ruth nggak mau duduk di belakang. Alasannya sama kayak Awan. Yah, meskipun mereka berantem terus, ternyata mereka tipikal yang sama. Takut nggak dapat AC.
Kalau Awan, udah tau sendiri dia nggak mau duduk di belakang dan nggak dapat AC. Ruth juga nggak bersedia duduk bareng dia. Otomatis Atha harus mengalah dengan membiarkan Awan duduk di sampingnya. Meskipun rada lucu, Atha tetap menjaga emosinya agar tidak terlihat cemburu-cemburu banget sama Awan.
Aku melirik ke belakang dengan ujung mataku. Sakura dan Badai sama-sama terdiam. Mereka terlihat canggung. Duh... aku jadi kasian sama Sakura.
"Badai?"
"Ya...?"
"Bisa geser sedikit?"
Lalu kudengar suara Badai menggeser posisinya.
"Badai...?"
"Ya...?"
"Maaf tapi sepatu lo nginjek sepatu gue."
"Ups. Sori."
Hening sebentar sampai aku tak mendengar suara dari belakang. Kufokuskan untuk melihat ke depan. Tapi fokusku hancur seketika saat Sakura mulai berbicara lagi.
"Badai...?"
Aku mendesah panjang. Gerah juga sama kecanggungan yang ada.
"Ra, coba nggak usah panggil-panggil nama Badai seolah lo baru kenal dia...," gerutuku kesal. "Kalo kenapa-kenapa, lo langsung jitak aja kepalanya."
"Hah?" Sakura malah melongo.
"Kamu tuh ya... feminin dikit kek kayak Sakura. Apa-apa langsung nyiksa orang."
Huh.. lagi-lagi si Manusia Badak membahas soal feminin. Baiklah, aku emang petakilan atau pecicilan, nggak ada femininya. Tapi Sakura nggak jauh beda kok sama aku.
Emang sih sifat dan sikap Sakura belakangan ini aneh banget. Yaaah... Sakura agak pendiam dan nggak bawel seperti dulu. Dia malah lebih suka diam di tempat padahal dulu dia nggak bisa berhenti bergerak bahkan dalam tidur.
"Iya deh. Kenapa kamu nggak pacarin Sakura aja?"
Hening seketika.
Aku keceplosan lagi deh. Abis kalau dibanding-bandingin kayak gitu siapa yang nggak risih dan kesel? Aku juga kan punya hati.
"Kalo gitu boleh dong gue pedekate sama lo?" Awan nyeletuk.
Atha langsung menggeram. "Lo berani pedekate sama cewek gue, gue bikin perkedel lo!" ancamnya.
"Kalian ini... udah tau ada cewek cantik nganggur di sini, malah godain yang udah punya pacar." Ruth mengerucutkan bibirnya. Kami menyambutnya dengan ekspresi mau muntah.
"Lagian Ara kan sukanya sama gue."
"Idih pede gila lo!" sembur Ruth pada Badai.
"Bener kok, Ruth." Sakura malah membela Badai. "Tapi dulu."
Lalu kami tertawa terbahak-bahak.
Badai malah terdiam. "Serius?" tanyanya dengan ekspresi serius.
Kami jadi terdiam karena reaksi Badai.
"Serius cuma dulu? Sekarang udah enggak?"
"Hmmm..." Sakura menggumam.
Aku tahu meskipun gumamman itu terdengar sederhana tapi luka yang durasakan Badai pasti besar kan? Ah aku ini ngomong apa. Badai kan sukanya sama Prisil. Tapi... belakangan ini Badai memang lebij perhatian sama Sakura. Apalagi sebelum perpisahan waktu itu. Apa itu cuma perasaanku saja ya?

***
Lucu.
Aku terjebak di keramaian dan terpisah dengan rombongan lain. Sekarang aku malah berduaan dengan Awan.
Sedari tadi Awan menggenggam tanganku. Katanya sih takut aku hilang juga. Padahal kalau aku hilang aku tinggal menghubungi yang lainnya. Nggak mungkin banget deh aku hilang di tengah-tengah perjalanan asik begini.
"Haus nggak?"
Aku hanya mengangguk lemah saat ditanya begitu. Sudah pasti aku haus, pake banget malah. Bayangin aja aku dari tadi mencari rombongan yang lain tapi nggak ketemu juga. Mana matahari sedang terik-teriknya, lagi.
"Eh di situ ada tukang es. Mau?"
"Mau!" jawabku dengan lantang.
Awan tertawa dan menggiringku ke tempat si tukang jualan es berada.
Uh... melihat warna merah dengab tetesan air di sekelilingnya membuatku jadi tambah haus bukan main. Rasanya aku ingin menyomotnya dari tukang es itu. Sayangnya itu punya orang lain. Anak kecil pula. Nggak mungkin kan aku berantem merebutin es itu sama anak kecil???
"Ini Neng esnya."
Saat tukang es itu menyodorkan segelas es aku langsung mengamitnya. Lalu menyedotnya hingga setengah gelas.
Lagi-lagi kudengar Awan tertawa geli melihat kelakuanku.
"Lucu banget sih."
Aku tersipu.
"Lo mau nambah minum lagi?"
Kontan aku menggeleng. Gila aja kalau aku nambah lagi. Bisa-bisa perutku kembung!
"Ya udah kalo gitu. Cari makan yuk!" ajaknya. "Kayaknya kita nggak bakalan ketemu sama anak-anak deh."
Duh... makan berdua sama Awan? Aku sih nggak menolak. Soalnya perutku emang lapar banget. Tapi kalo ketahuan Atha, gimana jadinya?
"Enggak ah. Kita nunggu anak-anak aja dulu."
Kriuk...
Sialan! Perut kurang ajar dan nggak tau diri! Bisa-bisanya di saat kayak gini malah membunyikan diri!? Malu, tau!
"Yakin?" gerling Awan menggodaku. "Kayaknya cacing di perut lo bentar lagi demo tuh."
"Tapi..." Aku menunduk pasrah.
"Elo takut sama Atha?" Awan terkejut. Sepertinya dia bisa membaca isi pikiranku.
"Dia bisa marah kalo..."
"Trus kalo lo nggak makan nanti lo pingsan, gimana!? Trus pingsannya lama banget dan otomatis tubuh lo nggak dapet asupan gizi yang cukup, trus organ tubuh lo berhenti kerja. Trus elo..."
"Awan!" Aku melotot. "Bisa nggak sih nggak bikin statement menakutkan kayak tadi!? Gue juga masih pingin hidup!"
"Makanya makan..."
"Tapi..."
"Aduh. Cium juga nih." Dia berkata keki lalu menarikku ke deretan tukang yang menjual makanan.
"Ketoprak atau gado-gado?" gumam Awan.
Aku melirik deretan tukang jualan di depan mataku. Gila! Ini sih dijamin enak banget deh.
"Gado-gado!" seru kami bersamaan. Kami saling memandang dan tertawa.
"Yuk masuk!" ajaknya. "Atha biar gue yang urusin."
Nggak pernah aku melihat Awan perhatian begini. Iya sih dulu kan perhatiannya cuma buat Prisil, tapi sekarang setelah mengetahui Prisil begitu kejam, pasti dong Awan nggak suka lagi sama Prisil. Lagian kan aku teman dekatnya, Awan harus baik-baik dong denganku.
"Bu es jeruknya dua ya!" seru Awan setelah kami memutuskan apa yang akan kami minum.
Lalu seorang bapak-bapak setengah baya, yang merupakan suami ibu tadi, datang menghampiri kami.
"Duh maaf Mbak, Mas, gado-gadonya tinggal buat satu orang."
Duh... ada aja ya cobaan kayak begini!?
Aku memandang Awan dengan raut wajah bingung. Lalu cowok itu tersenyum padaku.
"Ya udah, nggak apa-apa, Pak. Satu buat Mbak ini..."
"Wan?" Aku menatapnya dengab perasaan tak enak. "Masa kamu nggak makan sih!?"
Dia hanya mengangkat bahunya. "Perempuan itu harus diutamakan. Lagian lo kan lagi laper banget."
Lagi-lagi aku harus tersipu gara-gara perlakuan Awan yang kelewat lembut. Jadi inget sama Atha. Di mana dia sekarang? Kalau dia tau soal ini, marah nggak ya?  
Gema Athaillah


Marah. Tentu gue marah. Bisa-bisanya Zia punya pikiran sesempit itu dan juga seegois itu? Bagaimana bisa dia menipu sahabatnya sendiri yang sangat menyayanginya? Hanya karena keegoisannya semata?
Mungkin sikap gue udah keterlaluan, tapi mau bagaimana lagi? Gue paling nggak suka kebohongan. Bagaimana pun juga Sakura adalah teman gue. Gue juga nggak rela dong kalau teman gue ditipu begitu aja.
Argh masa bodo deh! Pusing mikirin begituan. Mending gue tidur aja.
***
Sialnya dua minggu lagi adalah hari ulang tahun Zia. Itu berarti gue nggak bisa nemenin Zia di hari ulang tahunnya. Bisa tambah kacau hubungan kita.
Dan gue juga bersikeras agar Zia jujur dulu, baru deh gue maafin dia. Masalahnya, kalau sampai sekarang Zia juga diemin gue, gue bisa apa?
“Atha?”
Gue terkejut dan langsung menoleh ke samping. Di samping gue ada Amboi. Wajah lugunya membuat gue tergelak. Sudah lama gue nggak ketemu dia dan sepertinya dia nggak berubah banyak.
“Eh, Amboi?”
Dia tersenyum. “Eng... soal yang lalu...”
Ah... Amboi selalu membahas soal yang lalu. Gue tahu Amboi pasti nggak punya pikiran sepicik itu. Amboi sebenarnya baik kok. Hanya saja sepupunya yang terobsesi sama Sakura itulah yang membuatnya jadi terjerumus pada hal yang tak benar.
“Jangan dibahas lagi deh. Lagian itu kan udah lalu. Udah bertahun-tahun lalu malah. Elo juga udah minta maaf sama yang lain, kan!?”
Amboi menunduk. Lalu menatapku dengan senyum manisnya. Masih sama seperti dulu. Senyum yang bisa meluluhkan hati seseorang.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya.
“Oh gue?” Gue mencari-cari alasan. “Cuma mau menghirup udara segar aja.” Padahal gue pingin melihat keadaan Zia yang tak ada kabarnya. “Kalo lo?”
Amboi hanya tersenyum. “Aku mau ke toko buku. Kalau gitu aku dulu ya... daaaah Atha...” Dia melambaikan tangannya pada gue sambil berlalu.
Baru saja gue berniat untuk membalikkan badan, sosok cewek yang gue cari muncul seketika di depan gue dengan tatapan marahnya. Oh-oh... apa tadi dia liat gue sama Amboi ngobrol? Tapi kan gue cuma ngobrol aja.
Seulas senyum sinis tercetak di wajahnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Jadi... begini ya? Lo marah sama gue dengan alasan gue nggak jujur sama Sakura. Lo memanfaatkan kondisi dengan bagus ya.”
Gue mengernyit. Kebingungan. Zia sudah menggunakan panggilan ‘gue-elo’ dan itu pasti dia sedang marah. Kenapa dia marah? Seharusnya kan gue yang marah sama dia?
“Kalo lo udah nggak tahan sama gue, tinggal bilang aja. Cara lo yang kayak gini tuh pengecut banget, tau nggak!?”
“Kamu kenapa sih?” Gue semakin bingung. “Kok marah?”
Dia mendengus. “Jangan berlagak kayak malaikat. Gue juga udah nggak tahan kok sama sifat lo itu. Mending kita udahan aja di sini.”
“Kamu minta putus?” Gue membelalakan mata gue tak percaya.
“Dari awal lo emang nggak bisa mutusin yang mana yang akan lo pilih. Saat lo dapat ancaman dari masa lalu, lo malah berniat ninggalin gue. Kalo bukan karena Sakura, lo nggak bakalan jadi pacar gue.”
“Zia... kok kamu ngomongnya gitu sih? Zia?” Gue mendekat, tapi Zia malah menjauh. “Zia...” Dia semakin memundurkan langkahnya dan tau-tau saja sebuah truk besar melintas dan menghantam tubuh Zia yang berdiri di sana.
“ZIAAAA....”
Gue terbangun dari mimpi buruk gue. Sialan banget itu mimpi.
***
“Lo kacau banget. Ada apa sih?” Badai menyeruput jus jeruk di depannya sampai tiga perempat gelas.
Gue hanya bisa menatap kosong sejak dapat mimpi itu. Apa itu pertanda buruk? sebelumnya gue nggak pernah mimpi seburuk itu. Apalagi yang berkaitan dengan Zia.
“Keliatannya lo lagi ada masalah dengan Zia. Kenapa? Berantem? Bukannya kalian selalu berantem dan satu jam kemudian langsung baikan?”
Yes. Gue dan Zia emang nggak tahan marahan. Jadi kalau sekarang kami marahan sampai sehari penuh itu adalah hal luar biasa.
Sepertinya Zia juga enggan untuk mengaku pada Sakura soal Fabi. Makanya dia juga nggak mau menghubungi gue, karena dia tahu gue nggak akan maafin dia sebelum dia ngasih tau semuanya sama Sakura.
Kenapa jadi begini sih?
“Dai, lo kasih tau Sakura soal Fabi?” Tiba-tiba mulut gue sudah mengeluarkan pertanyaan aneh itu.
“Bukannya dia udah tau?” Badai mengernyit. Lalu kedua bola matanya melebar kaget. “Zia nggak ngasih tau dia?”
Ah sial. Gue hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.
“Gila! Lo kira Sakura akan diem aja kalau nanti dia tau Fabi udah bebas dengan jaminan!?” sentak Badai kesal. Badai selalu terlihat emosi jika mengungkit soal Fabi dan Sakura.
“Lo yang kasih tau dia deh. Gue nggak berani.” Gue hanya bisa mendesah panjang. “Gue nggak ikut campur urusan ini. Gue tau watak Sakura. Dia nggak bakalan sudi balik ke Indonesia kalau tau Fabi bebas begitu aja.”
“Gue?” Badai menunjuk dirinya sendiri. “Lo mau ngumpanin gue?”
“Mau gimana lagi? Zia nggak mau ngomong. Dia nggak mau Sakura balik begitu aja ke Jepang dan membatalkan liburan dalam sebulannya di sini.”
“Giliran ada masalah kayak gini, yang lo umpanin selalu gue,” cibir Badai. “Gue sih nggak masalah, tapi kalo berhubungan dengan...”
“Sakura?” terka gue tepat sasaran. Raut wajahnya berubah total. Selama ini gue udah curiga dengan gelagatnya yang aneh. Apa lagi semenjak ditinggal Sakura. “Kenapa? Lo nggak mau berhubungan dengan Sakura karena takut nyakitin dia?”
Sepertinya gue udah berhasil memojokkan dia. Buktinya Badai hanya bisa terdiam dengan mulut terkatup rapat.
“Dari awal lo udah nyakitin dia. Kenapa sekarang lo malah pura-pura peduli sama dia?”
Sial. Kelepasan deh gue.
Hening sejenak. Lalu Badai tersenyum miring. “Ya. Dari awal gue udah nyakitin dia. Jadi buat apa juga gue peduli sama dia!?”
Setelah berkata seperti itu, Badai berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan gue sendiri.
Ah. Bego juga sih gue. Kenapa malah mancing-mancing kemarahan Badai? Mancing-mancing kesalahannya yang dulu, lagi! Kalau udah begini, siapa dong yang mau ngasih tau Sakura soal Fabi? Trus bagaimana hubungan gue dengan Zia kalau begini terus?
***
Gue mengeluh kesal untuk kesekian kalinya. Zia kayaknya ikutan marah. Buktinya, gue telfon dan sms, nggak ada satupun yang diangkat juga dibales. Gue kirim WhatsApp, cuma dibaca doang! Sakitnya tuh ya... di sini nih...
Dengan sabar dan juga gaya keren, gue berniat untuk mengunjungi rumahnya. Dia pasti di rumah.
Sampai di depan gerbang rumahnya, gue menghentikan laju mobil gue. Gue memilih posisi di kanan rumahnya, jadi orang lain bisa ngira gue tamu tetangganya, bukanya tamunya.
Gue turun dari mobil gue. Lalu berjalan dengan santai ke arah rumahnya. Tapi sesaat gue menyadari sesuatu yang aneh. Mata gue menangkap sebuah mobil berwarna hitam... tunggu dulu! Ini bukannya mobil.... Awan? Ngapain Awan ke rumah Zia segala?
“Iya, Ma, aku berangkat dulu ya.”
“Hati-hati. Awan, pulangnya jangan malam-malam ya.”
Saat mendengar itu, tubuh gue refleks langsung menyingkir kembali ke arah mobil gue. Bersembunyi di antara tiang dan belakang mobil gue. Dan di saat itu juga gue melihat Zia keluar bersama dengan Awan.
Gue nggak pernah melihat Zia senyum secerah ini untuk cowok lain. Di depan mata gue, lagi!
Eits... eits... itu si kampret kenapa pake gandeng-gandeng tangan Zia? Minta dihajar ya?
Hati gue langsung membara karena marah. Mata gue membelalak maksimal dan gue yakin, tangan gue siap banget buat mukul orang. Tapi... dibalik semua itu, hanya satu pertanyaan gue.

Jadi Zia lebih milih jalan bareng Awan dari pada ngangkat telfon gue?
Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram