Tampilkan postingan dengan label Sekuel Moments. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekuel Moments. Tampilkan semua postingan
Gema Athaillah


Gue terpisah. Gue tersesat. Dan gue sendirian. Itu namanya sial pake banget.
Gara-gara ada rombongan ibu-ibu, bapak-bapak beserta anak-anaknya yang tiba-tiba aja mengepung kami. Sialnya pegangan tangan gue pada Zia malah terlepas begitu aja. Gue kehilangan dia di tengah jalan.
Bayangin aja, gue harus keliling Ragunan sendirian. Emangnya gue ke sini mau nyamain muka!? Sama badak loh ya bukan sama monyet. Soalnya spesies gue ya spesies badak. Kalo spesies monyet macamnya kayak gue, cewek-cewek pasti kelepek-kelepek setiap mampir ke Ragunan. Oke, gue mulai ngelantur.
Yang jelas sekarang gue bete berat dan nggak berniat untuk pergi ke mana pun selain duduk di kursi panjang yang disediain di sana.
"Atha?"
Gue mendongak dan mendapati sosok yang gue kenal tersenyum ke arah gue.
"Ngapain di sini sendirian?"
Gue tersenyum membalas sapaannya. "Jalan-jalan dong, Am. Masa iya mau nyamain muka."
Dia tertawa geli. "Boleh aku duduk di sini?" tanyanya.
"Oh boleh... boleh."
Amboi duduk di sebelah gue dengan anggun. Dia memakai gaun berwarna kuning cerah selutut dengan topi pikniknya yang unyu banget. Ah Amboi masih sama seperti dulu. Masih anggun, feminin dan manis.
"Am, kamu sendiri ke sini?"
"Tadi sih bareng sama Prisil. Tapi dia ngilang di tengah jalan."
Prisil? Di sini? Waduh! Gawat banget dong.
"Kenapa nggak nyoba hubungin aja?"
"Udah. Tapi nggak diangkat. Padahal udah aku telfon, sms, whatsApp, bahkan LINE, tetep aja nggak dibales ataupun baca." Dia menyodorkan ponselnya pada gue. "Liat deh."
Gue mengangguk-angguk. Amboi jujur. Lagi pula, Amboi sebenarnya baik kok. Nggak kayak saudara-saudaranya yang freak itu. Yang bikin gue bonyok-bonyok.
"Kamu sendiri di sini?"
"Enggak. Tadi sih bareng sama anak-anak. Tapi tadi aku kepisah gara-gara ada rombongan gitu." Gue bercerita.
Ngomong-ngomong gue dan Amboi masih bicara dengan aku-kamu karena kebiasaan. Dulu waktu kita masih temenan juga ngomongnya aku-kamu. Jadi agak aneh aja kalau tiba-tiba gue ngomong pake gue-elo.
“Zia ada di sini juga?” tanyanya.
Gue mengangguk untuk menjawabnya.
Dia hanya ber-oh ria dan tiba-tiba bangkit dari kursi. “Eng... Atha, aku kayaknya harus nyari Prisil lagi deh. Aku pergi dulu ya.”
Gue jadi ikutan berdiri. “Kenapa nggak cari bareng aja?” tawar gue.
Bukannya modus, tapi emang mending begitu kan? Yah, dari pada gue sendirian di sini kayak kambing conge, mending gue nemenin dia nyari Prisil.
“Nggak usah deh, Tha. Biar aku cari sendiri. Nggak enak kalau Zia liat dan salah paham.”
Ya ampun ni cewek bikin gue gemes. Masih aja mikirin perasaan orang lain? Amboi emang cewek baik deh. Kalau bukan karena saudaranya yang rada sinting, mungkin gue masih mempertimbangkan kembali untuk kembali sama Amboi. Eh, kok gue ngomongnya gitu? Gue kan udah punya Zia.
“Am, Zia nggak bakalan salah paham kok.” Gue menjelaskan. “Lagian aku kan bantuin kamu nyari Prisil. Bukannya kencan sama kamu.”
Amboi terdiam sejenak. “Mmm... iya deh.”
***
Ini bener-bener gila! Ini bukan gue yang gila. Tapi apa yang gue lihat bikin gue gila. Eh... sama aja ya?
“Dasar cewek murahan!” Prisil menjambak rambut Sakura dengan sekali tarik. Sakura meringis. Gue ikutan meringis. Pasti sakit banget tuh.
Sementara itu, di sebelah gue, Amboi menatap dengan mulut menganga. Cewek itu pasti syok banget terhadap perlakuan sepupunya yang kayak narapidana kelaperan. Eh, dia sih emang mantan narapidana.
Badai ke mana lagi? Kenapa cowok itu nggak ada? Ruth? Sial. Geu harus turun tangan.
Dengan langkah panjang, gue berlari ke arah mereka. Mendorong paksa cewek gila bernama Prisil itu dan langsung melindungi Sakura sebelum Prisil melukainya. Sakura berdiri di belakang punggung gue dengan wajah pucatnya. Gue jadi kasihan.
“Apa-apaan sih lo!? Nggak punya malu ya?” sentak gue marah.
“Elo nggak usah ikut campur. Ini urusan gue sama dia!” teriaknya kesal.
Sekumpulan orang mulai berbaris mengelilingi kami. Prisil emang jago banget nyari perhatian orang. Sekarang kita jadi tontonan banyak orang yang lewat sana.
“Gue perlu ikut campur. Dasar cewek gila!”
Masa bodoh deh dengan kenyataan bahwa dia itu cewek dan gue ini cowok. Yang jelas gue nggak bisa membiarkan tu cewek gila melukai Sakura seenak jidatnya. Emangnya Sakura salah apa sama dia?
“Prisil, udah dong. Malu diliatin orang...,” ucap Amboi dengan nada berbisik.
Prisil menepis tangan Amboi yang berusaha memegangnya. Cewek itu menatap tajam sepupunya, lalu menatap gue dengan tatapan yang sama.
“Tu cewek milik gue! Siniin nggak!?” Dia berteriak kalap.
“Gila ya lo!?” Gue mengernyit.
“Dia udah ngambil Badai dari gue!!!” teriaknya. “Dia bikin gue dan kakak gue dipenjara. Dia cewek murahan yang nggak tahu diri!!! Dia pantes mati!” Tiba-tiba Prisil mengambil pisau dari saku jaketnya.
Gila. Cewek ini kayaknya kesurupan jin apa gitu sampai-sampai bawa pisau ke tempat rekreasi kayak gini. Pisau buat ngiris buah sih nggak masalah, lah kalau pisau buat bunuh orang?
“Dia pacar gue sekarang. Jangan pernah salahin dia karna lo putus sama Badai. Itu bukan salah dia. Dia juga nggak ngerebut Badai dari lo. Badai yang nggak mau deket-deket sama lo.”
Ngomong apa gue tadi? Yah, dari pada Sakura kena jambak lagi.
“Dia pacar lo?” desis Prisil.
Ia maju mendekati gue. Otomatis gue mundur selangkah. Gila. Serem juga ya tu cewek.
“Tolong, jagain pacar lo biar nggak keganjenan lagi sama cowok orang!”
“Prisil?”
Kami menoleh bersamaan ke sumber suara. Badai. Akhirnya tu cowok muncul juga. Gue hampir kena serangan jantung gara-gara muka psiko-nya Prisil sambil bawa-bawa pisau begitu.
“Badai?” Prisil tergeragap. Ia langsung menyembunyikan pisau itu di punggungnya. “Badai...”
“Atha benar. Ara pacarnya. Ara juga bukan alasan gue buat ninggalin lo.” Badai menjelaskan tanpa diminta. Raut wajah cowok itu kelihatan murung. Ah... sejak di mobil tadi wajahnya emang begitu.
“Badai.... tapi Sakura...”
“Ara nggak salah apa-apa. Tolong jangan salahin dia.” Badai memotong ucapan Prisil. “Gue sama dia... cuma temen.”
***
Gara-gara ngaku jadi pacarnya Sakura, sekarang gue harus berakting di depan Prisil sebagai pacarnya Sakura. Tu cewek gila nggak mau pergi sebelum bener-bener yakin kalau gue ini pacarnya Sakura.
Gue juga jadi nggak enak sama Badai. Mukanya yang udah murung tambah murung lagi. Kayak ada badai di hatinya. Udah cocok banget tuh nama dia sama suasana hatinya.
Dan yang gue bisa lakukan sekarang adalah mengelus-ngelus puncak kepala Sakura dengan pelan, supaya cewek itu segera tersadar dari syoknya. Mukanya masih pucat banget dan dia nggak berani untuk mengangkat wajahnya.
Kalau gue tanya, dia cuma bisa ngangguk sama menggelengkan kepalanya. Gue jadi kasian. Ketemu sama Prisil aja kejadiannya udah begini, gimana nanti kalau dia ketemu sama Fabi? Eh... gila. Mana Sakura nggak tahu keberadaan Fabi yang sudah bebas, lagi. Gawat deh.
“Ra, mau minum lagi?”
Sakura menggeleng.
Tuh kan. Trus sekarang gue harus akting apa lagi nih kalau Sakuranya aja kayak begitu? Kalau begini, Prisil juga nggak akan pergi-pergi sebelum yakin gue sama Sakura beneran pacaran.
“Athaaaaaa....”
Ah. Suara Zia. Dan seketika sebuah tangan merangkul gue dengan mesra. Waduh, waktunya nggak tepat banget sih.
“Eh, Zia...” Gue menyapa balik dengan raut wajah kaku. Perlahan, tangan gue menurunkan tangannya dari pundak gue.
Reaksi Zia? Jelas dia terkejut. Dia bingung. Dan kayaknya dia bakalan marah besar sama gue. Tapi ini taruhannya rambut Sakura bakalan dijambak lagi loh. Bahkan mungkin tubuhnya Sakura bakalan ditusuk-tusuk. Zia juga nggak bakalan mau kalau Sakura digituin, kan!?
“Sil, sampe kapan mau di sini?” tanya Amboi dengan nada pelan.
Saat itu juga Zia baru menyadari kehadiran Amboi dan Prisil di sana. Kedua matanya terkejut.
“Prisil?”
Gue mendengar Awan menyebutkan nama prisil dengan kaku. Di sebelahnya muncul Ruth yang sedang minum es kelapa.
“Sampe gue yakin.” Katanya tegas.
Badai menunduk pasrah. Lalu dia melirik gue, memberikan tanda supaya gue menyelesaikan ini semua dengan cepat. Lah kenapa gue? Gue kan niat bantuin doang. Ini terjadi kan gara-gara si Badai juga.
“Ra, balik yuk ke mobil. Kamu istirahat di sana biar enakan. Di sini kan panas,” ucap gue sambil mengelus-elus rambut Sakura dengan sayang. Lalu setelah melihatnya mengangguk, gue membantunya berjalan sampai parkiran.
Tuhan. Sekarang Zia pasti cemburu banget. Meskipun Sakura adalah sahabatnya, Zia paling nggak suka ngeliat gue deket sama cewek lain, apalagi sampai perhatian kayak begini. Trus gue harus gimana dong?
***
Keadaan di dalam mobil sunyi kayak di kuburan. Bahkan kayaknya kuburan lebih menyenangkan dari pada suasana mobil ini. Badai diam. Zia diam. Sakura diam. Awan diam. Dan gue juga diam. Satu-satunya manusia yang nggak kena masalah hari ini ya cuma Ruth. Dia sih enak, nyanyi-nyanyi sambil makan keripik. Lah gue?
Gue menghembuskan nafas aja kayaknya udah berisik banget. Apalagi ikut makan keripik bareng sama Ruth? Lagian itu nggak mungkin sih. Kan gue nyetir nih. Udah gitu keripiknya ada di Ruth yang duduk di belakang. Tangan gue mana nyampe ke belakang buat ngambil keripik.
Mana pake macet segala, lagi. Kan tambah lama nyampenya.
Awan sibuk dengan lamunannya dan tangannya yang bergerak mengganti channel radio di mobil. Gue menengok ke belakang. Ruth dan Zia juga ketiduran. Tapi yang di belakang luar biasa sekali. Mata gue sampe membulat seperti bakso. Enak banget itu Badai. Si Sakura tidur juga, tapi tidur di pundaknya Badai. Udah gitu tangan si Badai pake ngelus-ngelus rambut Sakura, lagi.
Badai sendiri nggak sadar gue liatin. Soalnya dia lagi ngeliat ke luar jendela dengan pandangan kosong.
Di luar memang rintik-rintik tanda mau hujan. Jadi posisi paling enak adalah Badai. Dan posisi paling nggak enak adalah gue. Udah disuruh nyetir, dicuekin Zia, kelaperan nggak dapet makan, dan malah duduk sebelahan sama monster nyebelin kayak si Awan.
Duh... nasib... nasib...
***
Setelah sampai di rumah Ruth, semuanya turun. Kecuali gue, Zia dan Sakura. Tadinya Badai niat nganterin Sakura pulang, tapi kondisi kayak begini, mana mungkin Sakura mau. Awan rumahnya nggak searah sama Sakura. Jadi gue adalah satu-satunya orang yang bisa nganterin Sakura pulang.
Setelah Sakura turun dan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya pada gue, suasana mobil kayak di kuburan lagi.
Setiap kali gue ajak ngobrol, Zia cuma bisa menggumam atau nggak ngangguk doang. Gue yakin seratus persen kalau dia lagi marah sama gue. Mukanya udah bete berat dan berada di dalam satu mobil yang sama dengan gue bikin dia tambah bete lagi.
“Zi...”
“Hmmm?”
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Trus kok diem aja sih?” tanya gue dengan kening mengerut.
“Hmmm...”
Gila. Nggak niat banget jawabnya. Gini ya cewek, kalau ditanyain kenapa malah nggak jawab. Kalau nggak ditanyain makin ngambek. Pingin bunuh diri rasanya kalau begini.
“Zi...”
“Hmmm?”
“Kamu nggak jawab pertanyaan aku. Kenapa kamu diem aja?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Beneran? Muka kamu udah kusut banget kayak jemuran belom digosok.”
“Hmmm...”
Kampret. Diem aja deh gue. Ngomong lagi juga salah.
Sampai di depan rumah Zia, dia langsung turun begitu aja. Kalau masih baikan sih ya cipika-cipiki dulu lah ya. Kalau sekarang? Jangankan cipika-cipiki, senyum aja nggak dikasih. Mana pintunya dibanting, lagi.

Nasib hari ini sial banget kayaknya.
Ardiyanti Zia


Jalan sama Awan? Ya. Sekarang aku jalan sama Awan. Sadar nggak sih aku??? Ini Awan loh. Cowok yang pernah kutaksir dan bikin aku nangis kejer gara-gara tau dia sukanya sama Prisil.
Bukannya nggak mungkin aku jalan sama Awan, tapi yah... You know, aku udah punya Atha. Bisa mencak-mencak kalau dia tahu aku jalan sama cowok yang pernah kutaksir.
Tapi masa bodolah. Toh kita emang lagi berantem. Dia duluan sih yang nyulut api. Eh enggak deng.. Aku duluan. Gara-gara aku berpikiran sempit. Tapi serius deh... ini kan nggak semuanya salahku. Ini juga salah pak polisi dan Fabi. Yaaah you know what...
“Zia?”
“Hmmm?” Aku menoleh.
“Lo kenapa?”
“Gue?” Aku mengernyit. “Gue nggak kenapa-kenapa. Emangnya kenapa?”
Awan tersenyum simpul. “Dari tadi lo diem aja. Ada masalah?”
Ada sih. Masalahku sama Atha. Tapi nggak mungkin kan aku cerita-cerita sama Awan soal Atha? Mau ditaruh mana mukaku?
“Nggak ada kok.” Aku ikut tersenyum.
Drrttt.... drrtt...
Sial. Ponselku bunyi lagi. Ini pasti dari Atha.
Dengan malas, kurogoh tas kecil berwarna hijau di pangkuanku dan mengambil ponsel. Kulihat layar di ponselku. Tuh kan benar... dari Atha.
Aku lagi bete berat sama Atha gara-gara waktu terkahir kali dia mengantarkanku pulang, dia malah nyuekin aku. Aku tahu aku salah, makanya sehabis diantar Atha, aku langsung mengiriminya sms dan mengatakan bahwa aku menyesal, tapi tetap tidak bisa memberitahu Sakura soal Fabi. Bukannya dibalas, dia malah nyuekin aku. Makanya aku bete sekarang.
Sekali tekan, ponselku langsung begetar dan muncul gambar robot android berwarna hijau yang unyu banget. Lalu memasukkannya ke dalam tas lagi.
“Kenapa ponselnya dimatiin?”
Ups. Aku ketahuan. Aku nyengir dan melirik Awan dengan perasaan malu. “Eng... lagi nggak mau dihubungin orang aja.”
Awan langsung tertawa geli. “Ooooh.... ceritanya ini beneran kencan ya?” Awan menyeringai. “Akhirnya, kencan dari gue diterima juga.”
Mendengar itu, aku langsung menghela nafas panjang. Salah ngomong deh. Aku juga nggak bisa jujur soal Atha. Yah, biarin aja deh Awan menganggap bahwa ini kencan. Toh, nggak ada salahnya.
***
Setelah nonton film romantis-humor di bioskop, Awan malah menggiringku mengelilingi mall. Aku sih ikut saja, cewek mana yang nggak bersedia diajak mengelilingi mall untuk cuci mata?
Kami berhenti di sebuah toko pernak-pernik aksesoris. Awan menarikku ke deretan gelang. Lalu memilih-milih gelang dengan kening berkerut. Satu menit kemudian dia mengangkat tangannya dan menghela nafas panjang.
“Gue nyerah deh buat milihin gelang cewek. Semuanya bagus.” Awan menatapku. “Lo yang pilih, gue yang bayar.”
“Hah...?” Sesaat aku hanya bisa bengong.
Tapi tangan Awan langsung terulur padaku dan menyuruhku memilih ratusan gelang di depanku.
“Tapi...”
“Kenapa?” Awan menatapku bingung. “Nggak mau gelang? Apa mau kalung?”
“Nggak usah, Wan. Nggak usah dibeliin. Gue lagi nggak pingin beli aksesori kok.”
Raut wajahnya berubah menjadi masam. “Ayo dong!” rajuknya. “Satuuuu aja. Hadiah dari gue.”
“Hadiah?” Alisku menyatu.
“Lo lupa ya kalo sebentar lagi lo ulang tahun?” Awan menatapku lekat.
Sedetik kemudian aku langsung terdiam. Aku benar-benar lupa. Lagian ulang tahunku nanti nggak bakalan spesial gara-gara Atha nggak ada. Mana sekarang kita lagi berantem, mana sempet dia ingat hari ulang tahunku?
“Lo beneran lupa?” Awan menatapku tak percaya, sementara aku hanya bisa nyengir saja.
“Lagian nggak penting-penting amat kok.” Aku berusaha menanggapinya dengan santai. Meskipun di dalam hatiku, aku merasa sakit.
Awan hanya bisa menghembuskan nafas beratnya sambil menggandeng tanganku. Dia mengambil salah satu gelang di sana yang memiliki liontin huruf Z dan ada liontin bintang di sana.
Setelah itu, kami menuju kasir. Awan meminta dibungkus dengan kotak berwarna hijau dengan pita manis di atasnya.
“Jangan anggap ulang tahun lo nggak penting.” Awan berkata dengan nada beratnya. “Lo tau, hari itu adalah hari spesial buat lo. Jadi nggak mungkin hari itu bukanlah hari penting buat lo.”
Aku tertegun. Sorot mata Awan yang pernah kulihat dulu kini kembali lagi. Sorot mata yang kusukai sebelum sorot itu berubah saat mengenal Prisil.
Ya Tuhan... ada apa denganku? Ini tidak benar. Kenapa rasanya Awan begitu sangat baik denganku?
“Ini buat lo. Kado pertama dari gue.” Awan memberikkan kotak yang dibawanya pada gue. Dia tersenyum.
“Kado pertama?” Aku mengernyit.
Jangan bilang kalau Awan berniat untuk memberikan kado berikutnya? Ya ampun! Ini Awan loh. Awan kan temen kamu sekarang, Zi. Jangan macam-macam deh! Kalau Atha tahu...
Kalau Atha tahu? Aku langsung bete berat. Bodo amat deh kalau dia tahu. Salah siapa marah-marah sama aku!
“Kado selanjutnya, tunggu ya...” Awan tersenyum misterius. “Makan yuk! Laper nih.” Lalu tangannya menggenggam tanganku dan menggiringku menuju tempat makan.
Kenapa rasanya aneh ya? Ini rasa... apa bersalah? Atau... yang lainnya?
***
Mataku menangkap sosok yang sedang bersedekap dan menatapku dengan tatapan tajamnya. Tidak diragukan lagi kalau orang itu pasti kesal bahkan marah padaku. Tentu saja.
Dengan malas, aku berjalan menuju gerbang rumahku dan mengabaikan keberadaannya. Masa bodo banget deh. Yang penting sekarang aku mau tidur, karena mataku rasanya berat banget.
Tapi aku merasakan tanganku ditarik olehnya, membuatku terpaksa untuk mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam rumah.
“Dari mana?”
Aku mendesah panjang. “Kamu tau aku dari mana. Jadi nggak usah nanya.”
Genggaman tangannya di tangaku menguat. Dia pasti marah besar karena aku bersikap seperti itu.
“Kenapa kamu nggak angkat telfonku?” Suaranya mengeras. “Pake dimatiin segala, lagi!” desisnya kesal. “Seneng jalan sama Awan?”
Mataku menatapnya lekat. Seakan menantangnya. “Kalo aku seneng jalan sama Awan gimana!?” sentakku kesal.
Gerahamnya mengeras. Ia melepas genggamannya padaku dan menatapku dalam. “Kalo kamu lebih seneng sama Awan, kita putus aja.”
DEG.
Pu-putus? Apa dia bilang? Putus? Dia kira segampang itu mengatakan putus?
Aku yakin mataku sudah memerah. Rasanya aku pingin nangis sekarang juga. Tapi aku malu harus nangis di depan Atha. Apalagi gara-gara Atha bilang putus.
“Putus? Kamu kira ini salah siapa?” Aku memiringkan kepalaku.
“Kamu tau kamu salah.” Atha berkata datar.
“Iya, aku emang salah. Tapi kenapa kamu marah? Aku bohong sama Sakura, bukan sama kamu!” ucapku dengan nada gemetar. “Kamu suka sama Sakura?”
Itu adalah pertanyaan sebenarnya dari dalam lubuk hatiku. Aku terus bertanya-tanya perihal kemarahan Atha padaku. Aku memang salah, tapi dia sangat berlebihan. Jadi entah bagaimana, pikiranku langsung tertuju pada pemikiran bahwa Atha sebenarnya menyukai Sakura.
Itu tidak salah. Bahkan tidak mengherankan. Apalagi Sakura adalah teman sekelas Atha dulu. Sedekat apa mereka dulu, mungkin aku nggak tahu. Karena Sakura juga nggak pernah cerita soal Atha.
“Kamu ngomong apa sih!?” Atha mengernyit. “Aku suka Sakura? kamu gila ya?”
“Kalo emang kamu nggak suka sama Sakura, kenapa sih kamu selalu lebih mentingin perasaan dia dari pada perasaanku!?” cecarku frustasi.
“Aku nggak pernah mentingin perasaan siapa pun! Yang aku mau, kamu jujur!”
Sial. Aku malah menangis. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan emosiku sekarang.
Kuhapus setiap air yang berlinang di pipiku sambil sesenggukan. Kurasakan sebuah tangan terulur dan mendekapku ke dalam pelukan. Aku kembali menangis.
Aku nggak mau putus. Aku nggak mau putus sama Atha. Aku sayang banget sama Atha. Sayang banget....
“Maafin aku kalau aku terlalu keras sama kamu,” bisiknya di telingaku. “Tapi cukup nyuekin aku aja, tolong jangan kamu kasih perhatianmu itu ke Awan. Aku benci.”
Kedua tanganku langsung melingkari pinggangnya. Aku yakin sekarang kemejanya basah karena air mataku.
“Tapi aku belum siap bilang sama Sakura.”
“Aku tunggu...”
***
Tin... tin...
Ah! Itu klakson mobil Atha.
Hari ini kami dan yang lainnya janjian untuk jalan bareng ke ragunan. Entah mau apa. Yang jelas kami rasa kami perlu menghabiskan sedikit waktu yang kami punya untuk bersama.
Sambil berlari kecil, aku memakai jaket warna hijau lumutku dan tas kecil dari kulit kesukaanku.
Sampai di depan gerbang, kulihat Atha sudah siap dengan kemeja hitam rapinya. Rambutnya yang agak ikal disisir dengan rapi dan sebuah senyum tercetak di wajah manisnya. Uh! Atha ganteng banget sih.
“Hai.” Aku melambaikan tangan.
Atha langsung mencium pipiku seenak jidatnya. Menciptakan semburat merah di kedua pipiku.
“Ih, pake cium-cium, lagi!” desisku keki.
“Tapi suka, kan!?” gerlingnya nakal. “Yuk, pergi. Anak-anak udah kumpul di rumahnya Ruth.”
Aku mengangguk sambil menyambut Atha yang membukakan pintu untukku. Romantis banget sih dia pagi-pagi gini. Jadi pingin mukul, eh pingin meluk maksudnya.
“Sakura?” Kedua alisku menyatu.
“Sakura udah di rumah Ruth.” Atha menjawabnya dengan senyuman.
Baiklah. Rasanya kemarin aku berlebihan. Sampai membawa Sakura ke dalam permasalahanku. Padahal Sakura tak tahu apa-apa. Aku memang sahabat yang kurang baik.
Kami berenam memutuskan untuk memakai mobil Atha untuk pergi jalan-jalan. Entah ide siapa, yang jelas jadinya sih begitu. Meskipun Badai dan yang lainnya juga membawa mobil, tapi mobil mereka terpaksa diparkir di garasi Ruth yang lebar banget.
***
“Gue duduk di tengah bareng Sakura!” ucap Ruth saat kami sedang mendiskusikan tentang tempat duduk. “Anak cowok di belakang aja sana.”
Awan mendengus. “Nggak mau. Di belakang panas!”
“Lo kira mobil gue ini angkot!?” Atha mengomel. “Enak aja bilang mobil gue panas.”
“Maksud gue, kalo di belakang, gue nggak kebagian AC.” Awan menjelaskan dengan bibir mengerucut. “Elo sih enak. Duduk di depan. Bareng Zia, lagi.”
Waduh. Kenapa aku dibawa-bawa? Padahal kan dari tadi aku diam saja. Aku tak berniat mengganggu mereka mendiskusikan tempat duduk. Pokoknya hal yang sudah tertera jelas adalah aku duduk di depan bareng Atha. Titik.
Sakura menguap. “Lama-lama gue duduk di spion juga nih!” gerutunya.
“Ide bagus, Ra!” Aku langsung menjentikkan jari. “Sana gih duduk di spion. Biar Awan sama Ruth di tengah. Badai di belakang sendiri.”
“Duduk di belakang aja, Wan. Nggak usah permasalahin AC deh. Kayak lo bakalan mati aja kalo nggak dapet AC.” Badai berkata santai. Dia malah langsung nyelonong masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi paling belakang.
Dari tadi tingkah Badai memang aneh. Seakan pura-pura nggak peduli dengan yang ada di sekitarnya. Padahal dia jelas-jelas peduli.
“Nggak. Enak aja gue duduk di belakang!” Awan protes.
“Tapi gue nggak mau duduk bareng lo! Gue maunya duduk bareng Sakura!” Gantian Ruth yang protes.
Ruth memang rada-rada sebal dengan Awan saat kejadian lalu. Awan memang sinis banget sih waktu itu. Mana pake belain Prisil segala. Padahal Prisil kan pelaku kejahatan yang sebenarnya.
Setelah berdebat cukup lama dan panjang, akhirnya sebuah keputusan dipilih oleh kami serempak. Meskipun agak-agak aneh, tapi kami harus menerimanya dengan lapang dada.
Awan duduk bersama Atha di bagian depan. Aku dan Ruth di tengah. Tentu saja, Sakura dan Badai akhirnya di belakang.
Bukan apa-apa, sebenarnya tadi aku mau duduk bareng Badai di belakang, tapi si Manusia Badak malah ngomel-ngomel dan berkata aku tidak boleh duduk dengan cowok lain selain dirinya. Otomatis aku hanya punya dua pilihan, duduk bareng Sakura atau bareng Ruth.
Sementara itu, Ruth nggak mau duduk di belakang. Alasannya sama kayak Awan. Yah, meskipun mereka berantem terus, ternyata mereka tipikal yang sama. Takut nggak dapat AC.
Kalau Awan, udah tau sendiri dia nggak mau duduk di belakang dan nggak dapat AC. Ruth juga nggak bersedia duduk bareng dia. Otomatis Atha harus mengalah dengan membiarkan Awan duduk di sampingnya. Meskipun rada lucu, Atha tetap menjaga emosinya agar tidak terlihat cemburu-cemburu banget sama Awan.
Aku melirik ke belakang dengan ujung mataku. Sakura dan Badai sama-sama terdiam. Mereka terlihat canggung. Duh... aku jadi kasian sama Sakura.
"Badai?"
"Ya...?"
"Bisa geser sedikit?"
Lalu kudengar suara Badai menggeser posisinya.
"Badai...?"
"Ya...?"
"Maaf tapi sepatu lo nginjek sepatu gue."
"Ups. Sori."
Hening sebentar sampai aku tak mendengar suara dari belakang. Kufokuskan untuk melihat ke depan. Tapi fokusku hancur seketika saat Sakura mulai berbicara lagi.
"Badai...?"
Aku mendesah panjang. Gerah juga sama kecanggungan yang ada.
"Ra, coba nggak usah panggil-panggil nama Badai seolah lo baru kenal dia...," gerutuku kesal. "Kalo kenapa-kenapa, lo langsung jitak aja kepalanya."
"Hah?" Sakura malah melongo.
"Kamu tuh ya... feminin dikit kek kayak Sakura. Apa-apa langsung nyiksa orang."
Huh.. lagi-lagi si Manusia Badak membahas soal feminin. Baiklah, aku emang petakilan atau pecicilan, nggak ada femininya. Tapi Sakura nggak jauh beda kok sama aku.
Emang sih sifat dan sikap Sakura belakangan ini aneh banget. Yaaah... Sakura agak pendiam dan nggak bawel seperti dulu. Dia malah lebih suka diam di tempat padahal dulu dia nggak bisa berhenti bergerak bahkan dalam tidur.
"Iya deh. Kenapa kamu nggak pacarin Sakura aja?"
Hening seketika.
Aku keceplosan lagi deh. Abis kalau dibanding-bandingin kayak gitu siapa yang nggak risih dan kesel? Aku juga kan punya hati.
"Kalo gitu boleh dong gue pedekate sama lo?" Awan nyeletuk.
Atha langsung menggeram. "Lo berani pedekate sama cewek gue, gue bikin perkedel lo!" ancamnya.
"Kalian ini... udah tau ada cewek cantik nganggur di sini, malah godain yang udah punya pacar." Ruth mengerucutkan bibirnya. Kami menyambutnya dengan ekspresi mau muntah.
"Lagian Ara kan sukanya sama gue."
"Idih pede gila lo!" sembur Ruth pada Badai.
"Bener kok, Ruth." Sakura malah membela Badai. "Tapi dulu."
Lalu kami tertawa terbahak-bahak.
Badai malah terdiam. "Serius?" tanyanya dengan ekspresi serius.
Kami jadi terdiam karena reaksi Badai.
"Serius cuma dulu? Sekarang udah enggak?"
"Hmmm..." Sakura menggumam.
Aku tahu meskipun gumamman itu terdengar sederhana tapi luka yang durasakan Badai pasti besar kan? Ah aku ini ngomong apa. Badai kan sukanya sama Prisil. Tapi... belakangan ini Badai memang lebij perhatian sama Sakura. Apalagi sebelum perpisahan waktu itu. Apa itu cuma perasaanku saja ya?

***
Lucu.
Aku terjebak di keramaian dan terpisah dengan rombongan lain. Sekarang aku malah berduaan dengan Awan.
Sedari tadi Awan menggenggam tanganku. Katanya sih takut aku hilang juga. Padahal kalau aku hilang aku tinggal menghubungi yang lainnya. Nggak mungkin banget deh aku hilang di tengah-tengah perjalanan asik begini.
"Haus nggak?"
Aku hanya mengangguk lemah saat ditanya begitu. Sudah pasti aku haus, pake banget malah. Bayangin aja aku dari tadi mencari rombongan yang lain tapi nggak ketemu juga. Mana matahari sedang terik-teriknya, lagi.
"Eh di situ ada tukang es. Mau?"
"Mau!" jawabku dengan lantang.
Awan tertawa dan menggiringku ke tempat si tukang jualan es berada.
Uh... melihat warna merah dengab tetesan air di sekelilingnya membuatku jadi tambah haus bukan main. Rasanya aku ingin menyomotnya dari tukang es itu. Sayangnya itu punya orang lain. Anak kecil pula. Nggak mungkin kan aku berantem merebutin es itu sama anak kecil???
"Ini Neng esnya."
Saat tukang es itu menyodorkan segelas es aku langsung mengamitnya. Lalu menyedotnya hingga setengah gelas.
Lagi-lagi kudengar Awan tertawa geli melihat kelakuanku.
"Lucu banget sih."
Aku tersipu.
"Lo mau nambah minum lagi?"
Kontan aku menggeleng. Gila aja kalau aku nambah lagi. Bisa-bisa perutku kembung!
"Ya udah kalo gitu. Cari makan yuk!" ajaknya. "Kayaknya kita nggak bakalan ketemu sama anak-anak deh."
Duh... makan berdua sama Awan? Aku sih nggak menolak. Soalnya perutku emang lapar banget. Tapi kalo ketahuan Atha, gimana jadinya?
"Enggak ah. Kita nunggu anak-anak aja dulu."
Kriuk...
Sialan! Perut kurang ajar dan nggak tau diri! Bisa-bisanya di saat kayak gini malah membunyikan diri!? Malu, tau!
"Yakin?" gerling Awan menggodaku. "Kayaknya cacing di perut lo bentar lagi demo tuh."
"Tapi..." Aku menunduk pasrah.
"Elo takut sama Atha?" Awan terkejut. Sepertinya dia bisa membaca isi pikiranku.
"Dia bisa marah kalo..."
"Trus kalo lo nggak makan nanti lo pingsan, gimana!? Trus pingsannya lama banget dan otomatis tubuh lo nggak dapet asupan gizi yang cukup, trus organ tubuh lo berhenti kerja. Trus elo..."
"Awan!" Aku melotot. "Bisa nggak sih nggak bikin statement menakutkan kayak tadi!? Gue juga masih pingin hidup!"
"Makanya makan..."
"Tapi..."
"Aduh. Cium juga nih." Dia berkata keki lalu menarikku ke deretan tukang yang menjual makanan.
"Ketoprak atau gado-gado?" gumam Awan.
Aku melirik deretan tukang jualan di depan mataku. Gila! Ini sih dijamin enak banget deh.
"Gado-gado!" seru kami bersamaan. Kami saling memandang dan tertawa.
"Yuk masuk!" ajaknya. "Atha biar gue yang urusin."
Nggak pernah aku melihat Awan perhatian begini. Iya sih dulu kan perhatiannya cuma buat Prisil, tapi sekarang setelah mengetahui Prisil begitu kejam, pasti dong Awan nggak suka lagi sama Prisil. Lagian kan aku teman dekatnya, Awan harus baik-baik dong denganku.
"Bu es jeruknya dua ya!" seru Awan setelah kami memutuskan apa yang akan kami minum.
Lalu seorang bapak-bapak setengah baya, yang merupakan suami ibu tadi, datang menghampiri kami.
"Duh maaf Mbak, Mas, gado-gadonya tinggal buat satu orang."
Duh... ada aja ya cobaan kayak begini!?
Aku memandang Awan dengan raut wajah bingung. Lalu cowok itu tersenyum padaku.
"Ya udah, nggak apa-apa, Pak. Satu buat Mbak ini..."
"Wan?" Aku menatapnya dengab perasaan tak enak. "Masa kamu nggak makan sih!?"
Dia hanya mengangkat bahunya. "Perempuan itu harus diutamakan. Lagian lo kan lagi laper banget."
Lagi-lagi aku harus tersipu gara-gara perlakuan Awan yang kelewat lembut. Jadi inget sama Atha. Di mana dia sekarang? Kalau dia tau soal ini, marah nggak ya?  
Ardiyanti Zia


Sudah bertahun-tahun lamanya aku melewatkan masa SMA tanpa Sakura. Dia memang selalu mengirimi kabar melalui e-mail. Tapi siapa sih yang nggak kangen sama cewek ganteng itu? Apalagi dia satu-satunya tempat yang bersedia untuk menjadi tempat sampahku.
Hubunganku dengan si Manusia Badak juga berjalan baik. Berkat Sakura yang menyadarkannya bahwa masa lalu tetaplah masa lalu. Dan seharusnya Atha sadar bahwa akulah yang menjadi masa depannya.
Kedengarannya agak aneh ya? Aku terlalu agresif. Tapi begitulah aku sekarang. Aku cemburu jika ada cewek yang berani mendekati bahkan menggoda Atha. Awas saja... akan kugebok cewek-cewek ganjen itu.
Aku tidak masuk universitas yang sama dengan Atha. Padahal aku berharap dia bersedia satu universitas denganku.
Atha memilih untuk masuk akademi kepolisian sementara aku harus masuk universitas ekonomi terkemuka karena ayahku ngotot aku harus masuk sana. Katanya sih aku nggak pantas jadi polisi wanita, padahal aku pingin banget jadi polisi wanita.
Kata orang-orang, hubungan kami ini LDR, Long Distance Relationship. Tapi kami nggak semenderita orang-orang yang LDR lainnya kok. Kami tetap bertemu diam-diam saat aku libur. Ngomong-ngomong universitasku itu mewajibkan aku untuk berada di asrama selama satu tahun. Makanya aku agak menderita selama dua semester waktu itu. Tapi sekarang aku sudah berada di semester ke enam dan aku cukup berhasil menjalankan LDR.
"Sakura udah take off?"
Aku tersentak dari lamunanku. Aku menoleh dan menggeleng. "Belum sih. Tapi setengah jam lagi dia take off kok."
Atha mendesah panjang sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah dua jam kami berada di sini. Aku yang ngotot supaya datang lebih awal agar bisa menyambut Sakura. Aku nggak begitu yakin kalau nanti aku dan Sakura masih bisa seakrab dulu.
Meskipun selalu mengirim kabarnya lewat e-mail, dia tidak pernah mengungkit-ungkit tentang Badai lagi. Aku tidak tahu kenapa, mungkin dia sudah melupakan Badai. Dia juga jarang mengungkit tentang Davi, cowok yang pergi bersamanya ke Jepang. Hal yang tak pernah dilakukan Sakura sebelumnya.
"Masih lama ya?" desah Atha tak sabaran.
Aku menyikut lengannya pelan. "Jangan gitu dong! Sakura pulang demi kita nih. Sebenernya dia kan nggak mau pulang." Oh tidak! Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat. Aku keceplosan.
"Dia nggak mau pulang?" tanya Atha bingung.
"Eng.." Aku tergeragap. "Ya gitu deh..."
"Kenapa?" Kedua alisnya bertaut.
Sial banget. Aku nggak tahu harus menjelaskan seperti apa. Yang jelas Sakura selalu menolak saat kuminta untuk kembali ke Indonesia. Padahal dulu dia bilang akan pulang satu tahun sekali ke Indonesia, tapi karena orang tuanya menyusul ke sana, ia tak punya alasan kuat untuk kembali ke Indonesia.
"Mungkin... Dia belum bisa ngelupain kejadian lalu."
"Fabi!?" desis Atha. "Cowok itu bebas begitu aja. Aku kalo jadi Sakura juga nggak bakalan sudi balik ke Indonesia. Dia udah ngebunuh dua orang dan masih aja bisa berkeliaran bebas."
Aku mendesah panjang.
Entah kenapa Fabi bisa berkeliaran di mana-mana sekarang. Kadang-kadang aku parno sendiri setelah mendengar Fabi sudah bebas berkeliaran ke mana-mana. Sakura tidak tahu sama sekali tentang Fabi karena Fabi baru saja dibebaskan minggu kemarin. Aku tidak memberitahunya karena aku benar-benar ingin bertemu dengan Sakura. Aku nggak rela Sakura membatalkan kepulangannya hanya karena si Fabi kurang asem itu.
“Soal Fabi... kamu... jangan kasih tau Sakura ya?”
Kedua bola mata Atha melebar. “Kamu nggak ngasih tau Sakura kalo Fabi bebas?”
Aku menggeleng pasrah. Mau bagaimana lagi? Aku kan kangen berat dengan Sakura. Aku juga nggak mau acara kangen-kangenanku diganggu hanya karena si Fabi nyebelin itu.
“Kamu egois banget, tau nggak!?”
Sejenak aku merasa jantungku tertohok. Aku tahu aku salah, tapi kenapa Atha malah mengataiku egois? Rasanya sakit banget mendengar dia menyebutkan salah satu kekuranganku. Dari dulu Atha selalu berprilaku baik padaku, nggak pernah marah-marah apalagi sampai mengataiku egois. Makanya aku syok banget saat mendengarnya berkata seperti itu.
“Kok kamu marah sih?”
“Jelas dong!” Suaranya meninggi. “Aku tau kamu kangen sama Sakura. Tapi kalau kamu nipu Sakura dengan cara ini supaya bisa ketemu Sakura, kamu salah!”
Aku rasa sekarang kami berdua menjadi pusat perhatian orang-orang. Ini bandara dan kami berdua bertengkar hanya karena masalah kecil. Tapi aku tetap tidak terima!
“Iya, aku tau aku salah! Aku mau ketemu Ara, tapi nggak ada cara lain! Aku emang egois. PUAS!?” Nafasku terengah-engah akibat emosi yang baru saja kukeluarkan.
Aku tidak peduli dengan puluhan tatapan orang yang memerhatikanku dan Atha bertengkar. Aku sakit hati jika Atha malah menyalahkanku. Atha tidak pernah begitu.
Dan... lima belas menit berlalu dengan keheningan antara aku dan Atha. Kami sama-sama diam dan menolak untuk berbicara. Untungnya Sakura datang saat aku mulai merasa gerah dan ingin berbicara.
“Maaf nunggu lama.” Sakura tersenyum dan aku langsung menghambur ke dalam pelukannya. Aku kangen dia banget.
“Nggak apa-apa.” Aku tersenyum. “Yuk langsung cabut!” Aku menggandeng tangan Sakura dan tak sengaja bertemu tatap dengan Atha. Cowok itu menatapku dengan tatapan datarnya. Sepertinya dia juga masih merasa marah.
***
Selama perjalanan aku dan Atha diam. Dan sepertinya Sakura mengetahui bahwa ada yang aneh antara aku dan Atha karena sedari tadi dia menanyakan hubungan kami tapi kami berdua selalu mengalihkan topik pembicaraan.
Jangan salahkan aku soal ini, ini semua salah si Manusia Badak itu. Salahnya memarahiku dan mengataiku egois. Aku kan tidak suka. Apa-apaan dia.
"Eng... Kalian kenapa sih?"
Sakura membuka pembicaraan lagi. Sepertinya dia gerah melihat atmosfir yabg tercipta antara aku dan Atha.
"Kalian lagi berantem?"
"Enggak kok!" jawab kami bersamaan. Aku dan dia langsung sama-sama melirik. Tatapan kami sama-sama tajam. Seakan kami adalah musuh bebuyutan yang sialnya duduk satu mobil.
Sakura kembali terdiam. Sepertinya dia enggan untuk menanyakan lebih lanjut. Padahal dulu Sakura sering ikut campur urusanku. Bukannya aku nggak suka, aku malah suka banget sama Sakura yang suka ikut campur urusanku. Itu berarti dia peduli padaku. Tapi kali ini Sakura benar-benar berbeda.
***
Setelah mengantar Sakura ke rumah lamanya, aku dan Atha pamit ijin pulang. Sebenarnya sih aku tidak mau pulang bareng sama Atha. Aku kan lagi bete-betean sama dia. Mana mungkin aku tahan duduk sebelahan sama Manusia Badak itu?
Mana gayanya sok keren gitu, lagi. Nggak biasanya Atha jadi pendiam. Biasanya dia cerewet dan juga nggak tahu malu. Apa mungkin pendidikannya di Akademi Polisi membuat kepribadiannya berubah ya?
“Seminggu lagi aku balik.” Atha berkata dengan nada datar.
Aku meliriknya. Wajahnya sama sekali nggak berekspresi dan aku tahu dia juga marah sama sepertiku. Tapi aku lebih marah lagi. Apa-apaan sih dia ngatain aku egois?
Ngomong-ngomong kami sedang liburan akhir tahun. Jadi Atha bisa pulang dan juga bisa bertemu aku.
“Masih marah?” tanyanya kali ini dengan nada lembut.
Aku langsung memasang wajah bete terbaikku. Biarin aja. Biar dia tau rasa karena sudah mengataiku egois. Memangnya aku nggak punya hati?
“Iya deh, aku minta maaf. Tapi kamu tau kan kalau kamu salah. Aku marah supaya kamu tuh nggak bertindak bodoh. Apalagi sampai nipu Sakura.”
“Aku kan udah bilang, aku itu kangen Sakura dan dari dulu, setiap kali aku minta Sakura balik ke Indonesia, Sakura nggak pernah mau. Kalau sampai Sakura tau Fabi bebas begitu aja, dia pasti nggak mau pulang.”
Atha tersenyum. “Iya, aku ngerti. Tapi lebih baik kamu jujur sama Sakura dari pada nanti Sakura marah sama kamu.”
Baiklah. Semua memang salahku. Seharusnya aku jujur dan berujung pada Sakura yang tidak sudi kembali ke Indonesia gara-gara Fabi yang nyebelin itu. Seandainya Fabi bisa lenyap dari dunia ini, mungkin aku lebih senang. Bahkan akan sangat sangat bahagia.
“Besok, kamu bilang sama Sakura yang sebenarnya.”
“Tapi...”
Atha menoleh. “Nggak ada tapi-tapian, atau aku marah sama kamu.”
Uh dasar Manusia Badak. Nyebelin banget sih.
***
“Lepasin!” Aku menjerit tak keruan saat seseorang berjubah hitam mengikatku dengan tali. Sementara ekor mataku mendapati Sakura yang berlumuran darah di kursinya. Matanya tertutup rapat dan bajunya compang-camping.
Rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya dan menonjoki semua orang yang ada di sana.
Meskipun mereka semua memakai topeng, aku tahu itu mereka. Aku tahu mereka adalah Prisil, Fabi, Rado, Amboi, dan Cessa. Aku tahu itu pasti mereka. Gelang milik Prisil dan Amboi yang kukenali dipakai di pergelangan tangan kedua orang di antara mereka.
Tidak salah lagi. Itu memang mereka.
“Lo apain Sakura!? lo apain!?”
“Salah lo. Kenapa dulu lo bikin Atha nggak kembali pada gue?” Aku mendengar suara Amboi tertawa licik. “Lo kira saat kami masuk penjara, kami nggak bisa keluar?”
“Sialan!” desisku kesal. “Gue nggak pernah bikin Atha nggak kembali sama lo! Dia emang udah nggak suka sama lo!”
“Lagi pula Sakura pantas mendapatkannya.” Kali ini terdengar suara Prisil yang tajam. “Dia memang pantas mati. Dia merebut segalanya yang ada di kehidupan gue. Dia pantas mati!!!”
“ENGGAK! LO YANG PANTAS MATI!!!” Aku berteriak kalap.
Tiba-tiba saja terdengar suara gesekan antara kursi dan lantai. Aku menoleh. Sakura sudah membuka matanya. Dia menatapku tepat di manik mata. Raut wajahnya tak seperti biasanya.
“Zia, tega-teganya lo bohongin gue. Tega-teganya lo bikin gue masuk ke perangkap yang sama. Lo benci gue, hmmm?”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku menangis sekencang-kencangnya. Aku tidak pernah berniat membohonginya. Aku tidak pernah berniat untuk membuat Sakura diculik lagi. Tidak...
“Enggak. Gue nggak begitu. Gue nggak berniat buat lo masuk ke perangkap yang sama.”
“Lo jahat, Zi. Lo jahat. Lo jahat sama gue.” Sakura tersenyum sinis. “Lebih baik gue mati aja dari pada gue harus berteman dengan lo lagi.”
Entah dari mana, Sakura memegang erat pisau tajam di tangan kanannya. Dia mengangkat tinggi-tinggi pisau itu. Aku membelalakkan mataku dan menangis sejadi-jadinya.
“Jangan....” isakku. “Jangan, Ara. Ara jangan, plis... maafin gue...”
“Selamat tinggal, Zia...” Sakura mengarahkan pisaunya ke jantung dan aku mendapati bajunya yang putih lusuh mulai memunculkan noda merah.
Kedua mata Sakura terpejam. Darahnya mengalir terus dan aku merasa bahwa aku akan mati saat itu juga. Karena yang dapat kulakukan hanyalah menatap tubuh Sakura yang melemah di kursi dengan kedua mata membelalak lebar. Aku terkejut bukan main.
“SAKURAAAAAAAA....” Aku berteriak sejadi-jadinya dan menangis sampai dadaku sesak.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Sakura tidak boleh mati. Sakura tidak boleh mati. SAKURA TIDAK BOLEH MATI.
“Zia?”
Aku membuka kedua mataku yang terpejam rapat. Peluh mengalir di keningku dan aku merasakan hawa dingin di sekitar tubuhku.
Tadi itu mimpi. Iya, kan?
Mataku mengerjap-ngerjap melihat Sakura menatapku bingung. Tanpa sadar, aku langsung merengkuhnya ke dalam pelukanku. Aku takut kehilangannya. Aku takut. Benar-benar takut.
“Hei, elo kenapa?” Sakura melepas rengkuhanku. Dia masih menatapku bingung. “Lo sakit ya? Wajah lo pucet banget.”
“Ra, jangan tinggalin gue ya. Plis, jangan mati.”
Sakura melongo. “Mati?” Ia langsung tertawa terbahak-bahak. “Gue mati? Kenapa gue mati?”
“Gue serius. Lo nggak boleh mati.”
Sakura langsung berhenti tertawa. Tatapannya sendu dan kedua bola mata coklatnya menatapku dengan aneh.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku. “Pokoknya, apapun yang terjadi, lo nggak boleh mati. Lo nggak boleh mati. Titik!”
Dan akhirnya, aku tetap tak berani menceritakan perihal Fabi sudah bebas dari penjara.
***
Untuk sejenak, aku berusaha melupakan mimpi buruk itu. Hari ini aku harus kelihatan ceria karena hari ini kami akhirnya berkumpul lagi. Setelah sekian tahun lamanya.
Biasanya kami sih suka ngumpul, tapi pasti nggak lengkap. Tidak ada Sakura karena dia di Jepang, tidak ada Atha karena harus mengikuti sekolah di akademi kepolisian dan Badai selalu saja menolak untuk ngumpul. Dia selalu memiliki alasan. Tapi dua tiga kali, dia pernah datang di acara ngumpul bareng sih.
“Akhirnya, sekian tahun lamanya kita bisa kumpul lagi.” Ruth tersenyum lebar.
Meskipun kami sangat berisik, suasana tegang antara Badai dan Sakura sangat terasa. Badai sedari tadi memerhatikan Sakura sementara Sakura malah melengos ke arah lain. Aku jadi aneh sendiri.
"Jangan urusin urusan orang deh." Atha berbisik di telingaku. "Biarin aja mereka begitu."
Aku mendengus. Aku ikut campur kan karena aku peduli. Aku juga peduli terhadap perasaan Sakura.
"Kamu udah bilang soal Fabi sama Sakura?"
Aku tergeragap. Aduh! Kenapa sih Atha ingat saja soal itu?
"Kok diem? Kenapa?" tanyanya pelan agar tak seorangpun mendengar percakapan kami. "Kamu belum bilang ya?" Kedua matanya melotot dan nadanya mengeras.
Otomatis yang lain langsung menoleh ke arah kami. Uh! Sial banget deh.
"Ada apaan sih? Kok kalian bisik-bisik gitu!?" tanya Ruth penasaran.
"Udahlah. Orang pacaran sih beda. Ngomongnya bisik-bisik gitu kan sebenernya modusnya si Atha aja biar deket-deket Zia." Awan seperti biasa bersikap angkuh dan sok.
Atha melotot. "Modus! Modus! Elo tuh modus sama Zia."
"Gue? Kenapa? Nggak suka gue modusin Zia?"
Atha makin naik darah. "Kampret! Tuan Putri tuh milik gue. Selamanya milik gue."
Duh! Aku jadi terharu begini diperebutkan oleh dua cowok.
Sebenarnya gara-gara perkumpulan dulu kami memainkan Truth or Dare dan sialnya rahasia tentang perasaanku pada Awan terkuak begitu saja.
Semenjak itulah Awan jadi care sama aku. Hahahaha karma. Tapi tetap dong hatiku hanya untuk Atha bukan untuk Awan lagi.
"Awan kenapa?" tanya Sakura padaku.
Aku hanya nyengir saja untuk menjawabnya
***
Aku menegakkan tubuhku saat Atha mendekat dan memasangkan seatbeltku. Sesaat aku menahan nafas karena tindakannya itu. Jujur, aku masih deg-degan setiap Atha berada sedekat ini denganku.
Atha menegakkan badannya. Matanya menatap lurus ke depan dan tangannya mulai memasukkan gigi mobil. Tak seperti biasanya.
Dia tidak bicara apa-apa dan tidak berbuat apa-apa selain mengendarai mobil. Aku menatapnya terus dari samping dan dia pasti sadar sudah kuperhatikan sejak tadi. Tapi kenapa dia masih diam saja?
"Kamu kenapa?" tanyaku hati-hati.
"Kamu tau aku kenapa." Dia menjawabnya dengan ketus.
Oh tidak! Dia marah padaku. Apa salahku? Perasaan tadi dia masih baik-baik saja tuh. Masih ceria malah. Tapi kenapa tiba-tiba dia marah padaku? Memangnya apa salahku?
"Kamu marah? Kenapa?" tanyaku masih dengan nada bingung.
"Kamu tau alasannya."
Uh rasanya aku pingin gantung dia di pohon toge deh. Sikapnya tuh nyebelin banget, jawabannya juga nyebelin banget tapi sayangnya dia ngangenin banget.
"Aku nggak ngerti kenapa kamu marah sama aku."
"Aku nggak minta kamu ngerti, cuma kamu tau aja."
Tuh kan nyebelin banget. Kalau aku nggak sayang dia dan kalau aja mukanya Atha itu jelek banget kayak pantat panci, aku pasti langsung marah dan ngamuk-ngamuk. Abis dia songong banget sih.
Setelah itu kami sama-sama terdiam. Dia nggak mau kasih tau alasannya marah padaku dan aku juga malas bertanya lagi. Karena dia pasti nggak akan menjawabnya.
Dasar cowok! Bisanya bikin orang sebel aja.
Sampai di depan gerbang rumahku, Atha menghentikan mobilnya. Dia membiarkanku keluar sendiri dan dia tetap di dalam mobil. Tidak seperti biasanya.
Biasanya dia mengantarku sampai depan rumah. Menyapa mama dan ayahku jika mereka ada di rumah. Atau mengulur-ngulur waktu agar bisa lebih lama denganku.
Aku membanting pintu mobilnya dengan kesal dan setelah mengetahui pintu mobilnya tertutup, dia langsung pergi begitu saja.

Dasar Manusia Badak!!!
Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram