Gema Athaillah


Rasanya gue mau menonjok muka M alias Fabi sekarang juga. Apa maksudnya berkata seperti itu? Dia menyuruh kami memilih!? Mana mungkin!
Kami datang dan bertindak sejauh ini untuk menyelamatkan keduanya. Mana mungkin kami menyerahkan salah satu dari mereka berdua untuk dikorbankan!? Apa cowok ini benar-benar psikopat?
“Apa-apaan lo? Kita ke sini buat nyelametin Sakura dan Prisil!” Gue berkata ngotot.
Tapi cowok psikopat itu malah tertawa. Seakan-akan apa yang gue katakan barusan adalah hal lucu yang patut ditertawakan.
“Nggak bisa. Kalian pikir kami semudah itu kalian permainkan?”
Gue dan yang lainnya langsung menoleh ke sumber suara.
Gotcha! Ini dia anak buah M yang membuat gue nggak habis fikir. Rado. Ya, dia memang teman satu kelas gue waktu kelas sepuluh.
Sebenarnya permasalahan yang terjadi antara Badai dan Rado tidak rumit. Bahkan cenderung hal biasa. Tapi Rado menyimpan dendam sebegitu hebatnya sampai sekarang.
Dulu, waktu kelas sepuluh, Badai dikenal dengan anak jail. Sakura juga merasakan bagaimana rasanya dijailin sama Badai. Meskipun sering marah-marah, Sakura tidak melampiaskan kemarahannya dalam bentuk dendam. Berbeda dengan Rado yang menyimpannya sebagai dendam.
Waktu itu Badai menempelkan kertas bertuliskan ‘GUE MAHO’ di belakang punggung Rado. Perbuatan Badai membuat Rado malu setengah mati, karena hampir seisi sekolah melihat Rado berjalan dengan kertas tersebut menempel di punggungnya.
Setelah itu Rado mulai tidak menyukai Badai.
Kejadian-kejadian berikutnya sebenarnya tidak sengaja dilakukan Badai. Tapi Rado menganggapnya serius.
Seperti saat Badai tidak sengaja menumpahkan es jeruk ke seragam Rado, tidak sadar telah menginjak-injak lantai yang baru saja dipel oleh Rado, dan menghilangkan flashdisk yang berisi tugas penting.
Badai juga pernah tak sengaja melempar contekan ke arah Rado, padahal tujuannya adalah Reno. Akibatnya, Rado yang mendapatkan ceramah dari guru karena mencontek.
Sebenarnya Badai sudah menggantikan flashdisk yang hilang, meminta maaf karena tidak sengaja menumpahkan es jeruk ke seragam Rado dan meminta maaf karena telah membuat Rado diomeli guru. Tapi Rado tidak menggubrisnya sama sekali.
“A-Amboi...?”
Suara Zia membuat gue menoleh. Zia sedang menatap ke arah kanannya dengan kedua mata membelalak lebar tak percaya. Gue ikut menoleh dan menemukan sosok gadis mungil dengan kedua mata sendu.
Wajah itu tidak asing bagi gue. Gue pernah berhadapan dengan wajah itu. Dengan mata sendu itu. Gue bahkan merasakan dèja vu saat melihat mata sendu itu.
“Mungkin bukan gue yang harus mengatakan siapa pemilik gelang itu. Tapi elo, Tha.”
Tunggu! Kata-kata Badai sebelumnya seharusnya membuat gue terasadar siapa cewek pemilik gelang itu. Tapi siapa dia? Kenapa sekarang kepala gue terasa sangat pusing? Kenapa bayangan hitam di otak gue terus berkelebat dan memukuli kepala gue tanpa ampun!?
BUK.
Gue merasakan tubuh gue meluruh ke lantai. Mata gue berubah buram dan bayang-bayang Zia sedang menyentuh pundak gue menanyakan keadaan gue seakan mulai menghilang.
“Atha... lo nggak apa-apa?”

Hari mulai sore dan gue sebenarnya malas pulang ke rumah. Tapi kalau gue nggak pulang, gue mesti tinggal di sekolah sampai besok pagi. Dan gue nggak mau satpam sekolah menguncikan gue di sekolah.
Koridor sekolah benar-benar sepi saat ini. Gue bukannya takut hantu, tapi gue merasa seperti ada yang mengikuti gue. Perlahan, gue menoleh ke belakang. Berusaha untuk mengetahui siapa yang ada di belakang gue.
“Amboi?” Gue mengernyitkan kening saat melihatnya berjalan di belakang gue.
“Atha...” Dia bergumam lirih. Matanya berkaca-kaca dan raut wajah sedihnya membuat gue merasa sedih. “Apa kita...”
“Enggak.” Gue menggeleng.
“Aku mohon kasih aku satu kesempatan lagi.” Amboi menatap gue memohon.
Sial. Gue nggak akan bisa tahan untuk nggak memeluknya sekarang. Tapi rasa sakit di hati gue lebih dalam dari pada yang dia tahu.
Mata gue melirik cincin perak di jari manisnya. Gue tersenyum miris.
“Cincin kamu bagus. Sepertinya aku nggak perlu memberimu satu kesempatan lagi. Ini sudah berakhir.” Setelah berkata itu dengan nada yang menyakitkan, gue berbalik badan.
Sebisa mungkin gue harus menghindari tatapan sedihnya. Sebisa mungkin gue harus menjauh darinya agar gue nggak memeluknya. Sebisa mungkin, gue harus melupakannya...
“Aku cuma sayang sama kamu!” seru Amboi dengan isakan tangisnya.
Gue berhenti. Gue pejamkan kedua mata gue dan menghembuskan nafas terberat gue. Gue berbalik dan menatapnya tajam.
“LALU KENAPA KAMU HARUS MENGKHIANATI AKU!?” Gue membalasnya dengan berteriak. Gue udah nggak bisa menahan emosi yang ada di hati gue. “KENAPA KAMU BUAT AKU SEPERTI ORANG BODOH YANG SANGAT MENCINTAI KAMU!?”
Amboi menangis kencang. Tubuhnya meluruh dan tertunduk di lantai.
“Aku salah. Aku salah. Aku salah. Aku tau aku salah!” isaknya.
“Lebih baik kita nggak usah ketemu lagi.”
Gue tersenyum miris. Mendekatinya perlahan dan memberikannya sebuah gelang berwarna perak yang sebenarnya ingin gue berikan sebagai hadiah untuknya.
Gue menyentuh tangannya. Tangan yang begitu dingin. Lalu gue memakaikan gelang berwarna perak itu di pergelangan tangan Amboi.
“Sebagai ucapan perpisahan. Besok aku pindah sekolah ke Bandung.”
Setelah mengatakan itu, gue bangkit dan berjalan menjauh. Gue mendengar isakan tangis Amboi semakin mengeras, tapi gue harus mengabaikannya. Gue harus mengabaikannya agar gue bisa bertahan untuk kehidupan baru gue.
Gue berjalan terus semakin menjauh dan tiba-tiba saja gue melihat seseorang di ujung mata gue. Gue berhenti dan melirik. Badai sedang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tapi dia hanya menatap gue dengan tatapan datarnya.
Merasa Badai tidak akan mengatakan apa-apa, gue beranjak pergi dari tempat itu.
Gue mengendarai motor hitam gue dengan gila-gilaan. Nggak peduli dengan suara klakson yang terus meneriakkan agar gue berhati-hati.
Setelah itu yang gue sadari adalah gue mengambil jalur yang salah. Sebuah mobil berjalan ke arah yang berlawanan di depan mata gue. Dan gue enggan untuk menghindar meskipun si pemilik mobil sudah menyalakan klakson berkali-kali.
Dan semuanya berubah hitam...

“Atha...”
Gue mengerjap-ngerjapkan kedua mata gue. Berusaha untuk memfokuskan pandangan gue. Seorang cewek mungil mendekat dengan senyum sendunya.
“Atha... maaf...”
“Atha, lo kenal Amboi?” Suara Zia membuat fokus mata gue teralih. Zia menatap dengan tatapan tanyanya. “Atha...?”
“Bagaimana dengan ingatanmu? Apakah sudah kembali?”
Gue melirik tajam M yang tersenyum sinis ke arah gue. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
“Dia sepupuku.” M menunjuk Amboi.
Mata kami mebelalak lebar. Sialan. Kenapa begitu banyak kejutan yang dibuat oleh M untuk kami? Mengapa semua ini membuat tali setiap kejadian menjadi berhubungan dengan tali yang lain?
“Jika kalian tidak ingin mereka berdua terluka, kalian hanya bisa memilih satu... di antara Sakura dan Prisil.” M tersenyum miring. “Jadi... siapa yang kalian pilih?”
Gue, Zia dan Badai menoleh. Melihat Sakura dan Prisil dengan perasaan kacau balau. Sakura terus menatap kami seakan ingin menangis sambil menggelengkan kepalanya. Sementara Prisil sudah menangis keras sejak tadi.`````
“Ada tiga syarat yang harus kalian penuhi jika kalian ingin memilih Sakura.” M berkata santai. “Jika kalian memilih Prisil, kalian hanya perlu memenuhi satu syarat.”
“Apa syaratnya?” Gue melihat geraham Badai mengeras menahan emosi.
“Jika kalian memilih Prisil... Atha hanya perlu...” M menggantungkan kalimatnya. Menatap gue dengan senyum sinis di matanya. “Kembali pada Amboi.”
Itu tidak mungkin! Itu tidak akan mungkin gue lakukan.
“Jika kami memilih Sakura!?” Zia bertanya dengan nada emosi.
“Pertama, kalian akan dikeluarkan dari sekolah.” M mendekati Sakura. menarik Sakura untuk berdiri. “Kecuali... Atha.”
“Kenapa gue nggak dikeluarkan?”
M tersenyum licik. “Karena syarat kedua tetap sama. Atha harus kembali menjadi milik Amboi.”
“Kenapa harus Atha!?” seru Zia kesal. “Atha nggak menyukai Amboi. Kenal juga enggak! Kenapa Atha dipaksa untuk menyukai Amboi!?”
M tertawa lebar seperti psikopat. “Ah... Zia, kamu nggak tau bahwa Amboi adalah mantan pacar Atha saat SMP?” M menyeringai saat melihat Zia membelalakkan kedua matanya.
Zia menatap gue dengan tatapan yang terlihat begitu terluka. Gue tertegun. Zia pasti begitu terkejut dengan kenyataan-kenyataan yang bermunculan.
“Syarat ketiga... Prisil akan mati.”
Setelah syarat ketiga diucapkan, kami langsung mengetahui kemungkinan besar orang yang akan kami pilih.
“Cessa, Amboi, kalian bisa pergi dari ruangan ini...” M melirik ke arah Cessa dan Amboi.
Setelah keduanya pergi, Rado menggiring Sakura dan Prisil ke depan mata kami. Tangannya memegang sebilah pisau tajam, yang gue yakin, kalau mengenai kulit pasti akan tersobek dengan mudah.
“Apa... Sakura akan baik-baik saja jika kami memilih Prisil?” tanya Badai.
“BADAI!” Zia berteriak marah. Dia menangis sekarang. “Lo akan mati di tangan gue kalo lo membiarkan Sakura bersama cowok sialan itu!”
“Tentu saja Sakura akan baik-baik saja.” M membelai pipi Sakura sementara Sakura langsung meliriknya dengan sinis. “Karena aku sangat mencintainya...” ucapnya pelan. “Ah... tambahan, jika kalian ingin memilih Sakura, Badai harus sujud di kaki Rado.”
Ini benar-benar tidak adil. Gue menatap M dengan marah. Rasanya gue ingin menonjoknya sekarang. Tapi tidak ada cara lain selain memilih Prisil. Pilihan yang paling aman adalah Prisil.
Gue memegang pundak Zia pelan. “Zi, Prisil...”
Dia langsung menepis tangan gue di pundaknya. Dia menatap sinis. “Jangan sekali-kali lo nyaranin gue untuk milih Prisil!” teriaknya dengan isak tangis. “Gue... nggak akan biarin kalian memilih Prisil!”
“Tapi Zi...”
PLAK...
Dia langsung menampar gue.
“Berhenti mengatakan omong kosong!”
“DIAM DI TEMPAT! LOKASI KALIAN SUDAH KAMI KEPUNG! DUA ORANG ANGGOTA KALIAN SUDAH KAMI TANGKAP. KALIAN TIDAK AKAN BISA KE MANA-MANA.”
Gue tersenyum lega.

“Iya deh. Emang kita mau pergi ke mana sih?”
Gue melihat Ruth langsung tersenyum misterius.
“Ke kantor polisi.” Ruth berkata enteng.
Kami berempat terkejut bukan main.
“Kita nggak bisa melaporkannya tanpa bukti!” ucapku bingung.
Ruth mengangkat ponselnya tinggi-tinggi dan memutar sebuah rekaman. Percakapan Sakura dan M tentang kematian kakak Sakura. Wah... dari mana Ruth bisa mendapatkannya?
“Kita punya dua bukti. Satu bukti percakapan Badai dan Cessa, satu bukti lagi percakapan Sakura dan Fabi. Polisi akan percaya.” Ruth berkata senang.
Kami menatapnya penuh tanda tanya dan Ruth langsung menunjukkan wajahnya yang sok.
“Gue menyelinap masuk ke dalam saat anak buah Fabi berurusan dengan kalian. Yah... anggap aja gue lagi beruntung, gue bisa masuk dan merekam percakapan itu.”
“Kita akan terpisah, bagaimana kalian akan menemukan lokasi Sakura dan Prisil sekarang?” tanya Zia bingung.
Ruth mengangkat bahu. “Kami pasti akan menemukannya. Hanya saja, perjalanan ke sana akan memakan waktu banyak.”
“Kalian berdoa aja, gue dan Ruth datang bersama polisi tepat waktu.”

“Kalian menghubungi polisi!?” M menggeram marah. “Rado!” M menatap Rado memberi tanda.
Rado mengangguk.
Mereka langsung berlari ke ruang bawah tanah.
Kami terkejut dan langsung mengejarnya. Sialan. Kami tidak mengetahui bahwa ada jalan ke ruang bawah tanah.
Sesaat setelah memasuki ruang bawah tanah, kami terkejut bukan main. Sakura berada di tangan M. Cowok sialan itu memegang pisau dan mengarahkannya ke leher Sakura. sementara Rado mengambil alih Prisil yang kini berhenti menangis. Oh-oh, dari mana Rado mendapatkan pistol itu?
“Kalian akan melihat kematian Sakura sekarang juga!” geramnya marah. “Salahkan diri kalian. Mengapa kalian menghubungi polisi dan membuat hal ini semakin sulit!?”
Badai mendekat perlahan. “Bisa kita berbicara baik-baik?” tanyanya pelan. “Ini belum terlambat untuk mengakui kesalahan lo.”
“Jangan mendekat!” larangnya. “Kalian tidak tahu kalau aku bisa membunuh Sakura meskipun aku mencintainya?” Dia tersenyum licik. “Aku saja bisa membunuh kakaknya! Aku bahkan membunuh kakakku sendiri!”
“Kak Fabi...?”
Gue melihat Prisil melepaskan kurungan Rado. Rado hanya menurut saja saat Prisil melakukan itu. Prisil juga melepas ikatan di mulutnya juga di tangannya dengan bantuan Rado.
Dan apa barusan gue nggak salah dengar? Kenapa Prisil memanggil Fabi alias M itu dengan sebutan ‘Kak’?
“Kakak membunuh Kak Ferdi!?”
“Prisil...” Pegangan Fabi pada Sakura mengendur. Dia memerhatikan Prisil dengan raut wajah bersalah. “Nggak. Kakak nggak bunuh Kak Ferdi. Nggak, itu salah. Kamu salah dengar.”
Prisil menatapnya tajam. “KENAPA? KENAPA KAKAK BUNUH KAK FERDI!?” bentaknya. “Apa... karena posisi ketua yayasan?”
Oh-oh... adegan macam apa ini? Prisil adiknya Fabi? Lalu...?
BUK...
Tanpa kami sadari, Badai sudah maju dan menerjang Fabi. Membuat Fabi tersungkur jatuh. Badai langsung menarik Sakura menjauh.
Lalu dengan gerakan cepat, Prisil mengambil pistol dari tangan Rado. Mengarahkannya pada Fabi. Cewek itu menangis.
“Kakak membunuh Kak Ferdi karena posisi yayasan!? Jawab aku!!!” Prisil berteriak. “Aku bisa membunuh Kakak kapan aja!”
Fabi menggeleng-gelengkan kepalanya. “Prisil... Kakak nggak bermaksud seperti itu. Kakak nggak berniat untuk membunuh Kak Ferdi...”
“Bohong!” Prisil menodongkan pistolnya ke arah Fabi.
“Tidak... Kakak hanya ingin... hanya ingin Ara melihat ke arah Kakak. Jika Kakak mempunyai segalanya, dia pasti akan melihat Kakak. Bukan Badai...”
Lalu pistol itu terarah pada kepala Sakura. Gila! Kalau cewek itu tidak dihentikan, maka akan ada korban.
“Lagi-lagi kamu!” Prisil menatap marah ke arah Sakura. “Kamu tidak hanya merebut hati Badai, kamu juga membuat Kakakku membunuh Kak Ferdi!?”
“Prisil... kamu...” Badai mendekati Prisil. Tapi Prisil malah menjauh. “Kamu...”
“Ya... kenapa? Aku bagian dari mereka! Aku tidak diculik dan aku merencanakan ini agar aku tahu apakah kamu benar-benar mencintaiku!” Prisil menatap Badai kesal. “Tapi kamu malah memilih untuk menyelamatkan perempuan menyebalkan itu!”

Oh tidak... jadi... usaha kami untuk menyelamatkan Prisil... sia-sia?


Holaaa... part yang ini kayaknya agak-agak gimana gitu ya, soalnya part ini tentang past in painful. Jadi part inilah alasan kenapa Angga bisa benci sama Ari *versi gue kekekek* Oke, happy reading,, guys.


Sudah lama cewek itu mengagumi kakak kelasnya yang mempunyai kemisteriusan tingkat tinggi. Cewek itu suka setiap gerakan yang dilakukan kakak kelasnya itu. Dia suka caranya berbicara, menghibur teman-temannya dan tertawa. Dia sangat suka semua hal yang ada pada diri cowok itu. Namun tak ada sedikitpun keberanian untuk mendekati kakak kelasnya itu. Sayangnya, ia tak mengetahui nama cowok itu. Dia hanya sering mendengar cowok itu bernama Ari.
Cewek yang bernama Anggun itu tersenyum puas saat mendapati kakak kelasnya itu masuk sekolah. Karena biasanya kakak kelasnya itu paling males yang namanya masuk sekolah. Kerjaannya hanya bikin huru-hara dimana-mana. Tapi prestasinya itu nggak bisa ada yang nyangka. Sebandel apapun dia, dia tetap bisa meraih lima besar setiap kali ulangan semester.
“Lagi liat siapa?”                
Anggun menoleh dan mendapati sosok Angga dibelakangnya sedang mengikuti apa yang Anggun lalukan. Mengintip diam-diam.
“Dia,” telunjuk Anggun menunjuk cowok yang sedang duduk di kantin bersama teman-temannya itu.
“Lo suka dia?” tanya Angga dengan kening berkerut. “Sejak kapan?”
Rona merah di wajah Anggun langsung tampak. Ia tersenyum malu pada Angga. Lalu ia mengangguk pelan.
“Ciee... sekarang udah jatuh cinta nih.”
Anggun tersenyum malu. “Dia itu spesial banget, Kak. Beda deh sama cowok lain,” ucap Anggun sambil menegakkan tubuhnya.
Cewek ini terlalu polos. Terlalu membuat hati Angga seakan tersenyum saat cewek ini juga tersenyum. Dia adalah bagian hidupnya. Dia adalah satu orang yang mampu membuat hari-harinya tak harus bermasalah. Karena cewek ini segalanya untuk Angga. Dunia Angga.
***
“Namanya Matahari Senja. Si Ari.”
“Serius?” mata Anggun langsung melebar seketika ketika mengetahui Angga menyebutkan nama cowok yang sedang di taksirnya itu. “Nama panjangnya bagus banget!” serunya.
Angga mengangguk, “Lo beneran naksir dia? Atau lo hanya sekedar suka tampangnya doang? Dia kan anak bandel!”
“Aku tau kok,” Anggun mengangguk. “Tapi aku suka dia. Dia orangnya bener-bener mampu bikin jantung aku mau lompat.”
Angga mengangguk lalu berdiri dari tempat duduknya. “Nanti gue cari tau tentang dia,” ucap Angga lalu tersenyum tipis pada Anggun.
“Emm... jangan kasih tau orangnya ya!?”
“Mana mungkin gue kasih tau dia. Gue nggak sekelas sama dia. Gue juga nggak kenal akrab sama dia.”
Anggun tersenyum malu. Lalu mengaduk-aduk minumannya lagi. Angga hanya dapat melihatnya dengan senyum tipis yang mengembang diwajahnya.
Dia ingin Anggun bahagia. Bila Ari-lah orangnya, dia pasti akan mengabulkannya. Apapun caranya. Apapun hal itu, akan dilakukannya demi Anggun. Demi cewek yang memiliki sifat polos dan lugu. Demi cewek yang bisa tersenyum semanis madu.
***
Tangan Anggun memegang erat kotak berwarna oranye yang berisi cokelat manis yang berasal dari toko cokelat termahal. Dia rela menghabiskan uang tabungannya demi membeli cokelat ini. Hanya untuk Ari, kakak kelas yang kini mulai membuat hatinya berbunga-bunga.
Kepala Anggun menoleh ke kanan juga ke kiri, memeriksa area kelas sembilan itu. lalu ditemukannya orang yang ia cari. Ari sedang menyender ke bangku sambil menatap buku-buku yang ada di hadapannya.
“Hmm... hai,” dengan suara yang ia keluarkan dengan susah payah, akhirnya ia bisa menyapa kakak kelasnya ini.
Ari menengadah, lalu mendapati cewek dengan sekotak cokelat di hapannya. Sedang berdiri menatapnya dengan mata yang berbinar.
“Hai,” balas Ari dengan tatapan datarnya. Ditatapnya cewek yang memiliki rambut panjang bak artis shampo ini.
“Aku... Anggun,” Anggun mengulurkan tangan kanannya.
Ari menjabat tangannya, “Udah tau nama gue kan?” keningnya berkerut dengan kepalanya yang agak miring ke kanan.
Anggun mengangguk malu, “Aku mau kasih ini sama Kakak...” ia mengulurkan kotak yang ia pegang tadi pada Ari dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
“Oh, Thanks...” Ari menerima cokelat itu dengan senyum.
“Aku permisi ya, Kak...,” pamitnya lalu pergi meninggalkan kelas yang hanya berisi Ari saja.
Di luar, Anggun melihat dari kaca jendela kelas Ari. Ia melihat Ari memakan cokelat itu sambil melihat buku-buku yang ada di hadapannya tadi. Tanpa ia sadari, semburat merah menghiasi wajahnya. Lalu ia sunggingkan senyum manis di wajahnya.
***
Besoknya Anggun memiliki rencana untuk pedekate lagi sama kakak kelasnya itu. Ia membeli setangkai bunga mawar merah. Ditemani Angga yang mengumpat di balik pintu, Anggun kembali memasuki ruangan kelas Ari. Kali ini ada beberapa temannya yang ada disana.
Tegang. Anggun was-was bunganya itu takkan diterima oleh Ari. Apalagi didepan teman-temannya. Degup jantungnya berdegup tak menentu, berdetak dengan cepat.
Dari kejauhan Ari menatapnya dengan kening berkerut. Kakinya ia taikkan satu keatas kursi.
“Kak... masih inget aku?” tanya Anggun ketika dirinya sudah sampai dihadapan pentolan sekolah itu.
Ari mengangguk, “Elo yang kemaren itu kan!? Yang namanya...”
“Anggun,” ucap Anggun ketika kakak kelasnya itu tak jua mengingat namanya.
“Ya... Anggun. Ada apa?” tanyanya datar dengan raut wajah yang sama datarnya.
Anggun menghela nafas panjangnya, lalu mengeluarkan setangkai bunga mawar  merah itu di hadapan Ari. Kontan satu isi kelas bersorak riuh. Sering sih ada kejadian seperti ini di kelas mereka, hanya yang kali ini lebih spesial. Karena cewek itu satu-satunya cewek yang mendapat tanggapan dari Ari. Seperti cokelat yang kemarin.
“Buat Kakak,” ucapnya pelan dan kalem.
“Oh... thanks ya...” Ari tersenyum tipis sambil menerima bunga mawar itu. Lalu dengan tangannya ia simpan bunga itu ke dalam tasnya. “Oh ya... lo kelas berapa?”
Anggun tersenyum malu, semburat merah tampak disekitar wajahnya. “Masih kelas delapan, Kak. Saya pindahan,”Anggun memundurkan langkahnya. “Saya permisi ya, Kak!” pamitnya lalu membalikkan badannya.
Di luar kelas, Angga menyetop langkah Anggun. Anggun yang menunduk langsung menengadah, menatap Angga.
“SUKSES!!!” serunya dengan senyuman yang mengembang diwajah.
Dengan kedua tangannya, Angga memeluk Anggun. Membiarkan rasa bahagia yang Anggun rasakan, juga ia rasakan. Membiarkan setiap senyuman di wajah cewek ini terus terlihat. Karena saat Anggun bahagia, dia juga bahagia. Di saat Anggun butuhkannya, ia akan selalu ada.
***
Dan hari-hari berikutnya. Anggun melakukan hal yang sama. Memberikan cokelat atau mawar merah. Kadang ia memberikan kue buatannya sendiri. Kadang juga ai memberikan kado boneka untuk Ari. Semuanya ia berikan untuk Ari. Semua hal. Dari kesabarannya. Dai senyumnya. Dari perhatiannya. Dari segala hal yang ada, ia berikan hanya untuk cowok yang menyandang nama matahari itu.
Semua hal. Tak ada yang tak Anggun suka. Dia suka Ari, sayang Ari bahkan kini cinta sama Ari. Dia nggak peduli sama tingkah bandel Ari di sekolah. Dia nggak peduli sama prilaku cuek Ari belakangan ini sama dia. Karena Ari pasti bosan dengan segala hal yang Anggun berikan. Cowok itu jenuh.
Tapi Anggun tak pernah menyerah. Karena kesabarannya masih ada hanya untuk cowok itu. untuk kakak kelas yang ia cintai setengah mati.
Hingga suatu saat, Anggun akan memberikan cokelatnya yang ke-seratus. Angga memperingatkan Anggun akan satu hal.
“Kemaren aja dia nggak makan cokelat lo. Dia kasih sama temen-temennya! Lo ngeliat sendiri kan!? Lo masih yakin mau ngasih ini cokelat sama dia?” Angga menatap Anggun tak yakin.
Anggun malah tersenyum manis, “Anggun yakin kok, Kak. Meskipun dia nggak makan atau nyimpen apa yang Anggun kasih, yang penting dia nerima semuanya. Dia nggak nolak,” ucapnya kalem.
Lalu ia langkahkan kakinya menuju kelas Ari. Disana ramai. Tak seperti biasanya. Sepertinya semua orang di kelas Ari sudah datang semua. Kali ini ia bisa mengatur detak jantung yang berdegup kencang di hatinya. Ia menarik nafas panjang, lalu mendekati Ari.
“Hai, Kak...,” sapanya dengan senyum yang sama. Senyum yang manis, semanis gula.
“Hai...,” jawab Ari dengan nada malasnya.
Semua terdiam. Mata mereka menatap Anggun yang kini memegang satu otak cokelat. Ada yang menatapnya dengan tatapan ngeri. Ada juga yang mengerutkan keningnya. Ada yang langsung mau ngabur dari tempat itu.
“Aku bawa ini buat kakak...,” Anggun memberikan cokelat pada Ari.
Ari berdiri. Ia tatap cewek itu dengan tatapan tajam. Seketika Anggun tersadar. Hari ini, detik ini juga ia melakukan kesalahan. Ari sedang marah dan dia lagi-lagi membuatnya bosan.
Ari mendekat, kontan cewek itu memundurkan langkahnya hingga punggungnya menyentuh tembok. Kedua tangan Ari terbuka, mengurung cewek ini didalamnya.
“Lo kira gue nggak punya kesabaran?” desis Ari tepat di depan wajah cewek ini
Seketika Anggun tertegun mendengar kalimat Ari. Cowok itu terlalu bosan menghadapi sikap Anggun. Cowok itu telah menelah semua kesabarannya yang tercurah untuk cewek yang kini berada di dalam kurungannya itu.
Tangan Anggun meremas jari-jemarinya. Dingin. Ia rasakan peluh mulai keluar dari keningnya. Matanya tak berani untuk menatap mata Ari yang tajam. Ia menunduk dalam-dalam dalam kebisuan. Tak mampu dirinya untuk mengatakan satu kalimat saja. Bahkan satu kata pun tak dapat ia ucapkan.
Suasana menjadi tegang. Semua orang terdiam dari kesibukan mereka. Semua mata menatap kearah Ari yang mengurung cewek itu.
“Gue harus ngomong apa sama lo agar lo ngerti? Hmm?”
“Ma... af... Kak,” ucapnya terbata-bata. Seketika tenggorokannya mengering, membuat dua kata yang ia keluarkan dengan susah payah itu seakan membunuhnya.
“Cokelat? Lo kira gue suka sama pemberian lo tiap hari itu? Ck... sama sekali enggak!” tegasnya dengan nada yang meninggi. “Sadar dong! Gue bukan anak kecil yang tiap hari mempan di beliin cokelat!!!” sentaknya kasar.
Ari semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Anggun, membuat Anggun terpaksa menyenderkan kepalanya pada dinding sekolahnya.
“Jangan pernah lo kasih gue apa-apa lagi! Gue muak!” ucapnya sengit.
Lalu dijauhkannya tubuhnya dengan tubuh Anggun. Cewek itu tampak masih syok, dia masih diam mematung sementara Ari sudah pergi keluar kelas.
***
Air bening itu berjatuhan, seiring isakan yang dirasakannya menyesakkan dadanya. Tangis itu ia tumpahkan di pundak Angga. Di pundak seseorang yang selama ini mendukungnya. Seseorang yang mengerti akan perasaannya.
Sakitnya menyayat hati. Menggoreskan setiap luka di tempat yang paling dalam. Di tempat dimana ia menyimpan perasaannya itu. Perasaan yang dalam bahkan teramat dalam untuk seseorang itu, namun orang itu pula yang menghancurkannya. Menghancurkan tempat yang paling dalam itu. tempatnya menyimpan perasaan itu.
Angga menatap Anggun dengan iba, “Gue hajar tu anak!” desisnya kesal.
Dengan sigap, Anggun langsung menarik tangan Angga. “Jangan, Kak! Ini emang salah Anggun,” ucapnya lirih. Selirih hembusan angin yang baru saja lewat dihadapannya.
“Dia udah bikin lo nangis kayak gini! Mana mungkin gue bisa diem aja,” ucapnya kesal dan penuh kebencian.
“Kak... ini salah aku. Tadi, Kakak sendiri yang udah meringatin aku. Akunya aja yang bandel,” senyum tampak diwajahnya. Meskipun sangat diketahuinya, senyum itu penuh luka dan paksaan.
Angga tertegun. Cewek ini masih bisa mengusahakan untuk tersenyum, meskipun harapannya hancur. Meskipun setiap lekuk hatinya telah tersobek oleh kata-kata yang dikeluarkan Ari untuknya. Muak?
Tangannya menggepal. Menahan amarah. Dia hanya ingat pada sosok perempuan dihadapannya ini. Hatinya seputih salju dan sebaaik peri. Takkan ia biarkan Ari menyakiti cewek ini lagi. Ia akan berikan perhitungan. Tidak sekarang, namun nanti. Disaat waktu yang tepat.
“Jangan simpan dendam itu dalam-dalam, Kak. Aku nggak mau Kakak nyakitin dia,”
Angga menoleh, “Lo masih bisa belain dia?” desisnya tajam.
“Kak... kalo Kakak masih sayang sama aku. Tolong... jangan pernah dendam sama dia. Mungkin tadi dia lagi emosi dan aku malah bikin dia tambah emosi,”
Helaan nafas panjang Angga terdengar jelas. Melelahkan. Cewek ini terlalu tabah, sangat berbeda dengannya yang lebih suka bertindak frontal. Dia tak setabah cewek yang ada di hadapannya ini.
Dengan kedua tangannya, ia peluk Anggun erat. Ia tenggelamkan kepala Anggun di dadanya. Ia biarkan tangis itu membasahi seragam putihnya. Yang ia rasakan adalah sakit. Karena cewek ini menyimpan rasa sakit itu, sehingga Angga dapat merasakannya.
“Jangan bertindak bodoh!”
Angga mengurai pelukannya. Di tatapnya Anggun dengan tatapan nanar. “Apa yang lo lakuin sekarang aja udah bodoh! Kenapa elo ngelarang gue?” alisnya terangkat satu.
Cewek itu tersenyum manis. Manis seperti madu. Senyum yang mampu membuat hati Angga tenang dan terasa hangat.
***
Dengan kedua tangannya, Anggun membawa dua gelas es jeruk. Di hampirinya Angga yang duduk dipojok kantin. Tapi, dengan satu kecerobohan. Kakinya menyandung sesuatu, hingga akhirnya kedua es itu tumpah.
Anggun tidak terjatuh bahkan dirinya sama sekali tidak lecet. Namun, yang Anggun khawatirkan adalah keadaan orang yang tengah berdiri di hadapannya dengan seragam yang basah akibat tumpahan air es tersebut.
“Ma... af,” ucap Anggun terbata-bata saat di ketahuinya bahwa orang itu adalah Ari!
Ari mengatupkan gerahamnya kuat-kuat. BRAKKK... ia pukul meja kantin dengan tangan kanannya. Matanya menatap Anggun, marah. Seketika Anggun tertegun.
Semua mata kini tertuju pada kedua orang itu. Aktifitas semua murid terhenti seketika. Membuat sebuah keheningan yang mulai merambat di dalam pikiran Anggun, sebelum Ari mengucapkan kata-katanya.
“Kenapa elo selalu bikin gue marah? Ha!?”
Cewek itu terdiam, ia menunduk dalam-dalam. Dalam dirinya sama sekali ia tak berniat untuk melawan. Ia terlalu mencintai cowok yang berada dihadapannya ini. Lalu Anggun menengadah, bukan untuk menatap mata garang Ari. namun, untuk melihat Angga yang berada dipojok kantin. Mata Angga menatap Ari dari belakang, tajam. Cowok itu berdiri dari kursinya, menggepal kedua tangannya.
Dengan matanya, Anggun mentgisyaratkan Angga agar tak berbuat apa-apa. Agar Angga tetap diam, walaupun Ari marah-marah lagi pada dirinya. Karena Anggun sama sekali tak ingin Ari malah tersakiti nantinya.
Angga terdiam, namun masih berdiri di tempat awalnya. Ia tatap Anggun dari kejauhan dengan tatapan tak mengerti. Cewek ini terlalu baik. Terlalu baik sehingga ia malah jatuh sendiri akibat kebaikannya. Angga masih saja tak percaya, cewek itu benar-benar mencintai Ari. Namun Ari sama sekali tak melihatnya. Ari buta akan hal itu.
“Jangan pernah elo berani deket gue!” desis Ari tajam. Lalu meninggalkan Anggun yang kini tertunduk lemas.
Setelah kepergian Ari. Semua kembali normal. Seakan tak pernah ada kejadian yang baru saja terjadi itu. Tubuh Anggun lemas, lalu tubuhnya terhempas disalah satu kursi yang berada di kantin itu.
Angga mendekatinya perlahan. Lalu duduk disebelah Anggun. Di pegangnya pundak cewek yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya itu.
“Kenapa lo larang gue?” tanyanya dengan nada yang tak mengerti. “Dia udah keterlaluan. Dia nyakitin elo. Kenapa sih elo malah bertindak bego kayak gini!?”
Kepala Anggun menyender ke bahu Angga. Air matanya mulai menetes turun kepipinya. Membasahi wajahnya yang pucat pasi akibat bentakan Ari.
“Aku sayang dia, Kak. Aku sayang sama dia. Aku nggak bisa bohong sama perasaan aku sendiri. Dia terlalu berharga untuk disakiti. Kalau dia sakit, aku juga.”
Lagi-lagi Angga harus menghela nafas kesabaran yang luar biasa. Ia tak ingin cewek ini tersakiti hanya karena satu orang cowok yang menurutnya sama sekali tak penting itu. Menyayanginya sama saja menyakiti hati cewek ini.
Dengan kedua tangannya, ia rengkuh cewek ini jatuh ke dalam pelukan dalam yang bermakna seribu arti.
***
Ari berjalan bersama teman-temannya disekitar sekolah. Suasananya ramai akibat waktu yang menunjukkan waktu untuk para murid pulang. Bersama teman-temannya, ia tertawa lepas. Berhaha-hihi bersama.
Saat Ari terpisah dengan yang lainnya. Ia berjalan sendiri. Menyusuri trotoar jalan yang lenggang. Dengan rokok yang terselip di mulutnya.
Namun, satu hal yang tak ia sadari. Saat ia hendak menyebrang jalan aspal yang ia kira lenggang itu. Satu buah mobil besar akan melintas disana. Mobil itu melaju dengan cepat. Kekuatan maksimal yang tak mungkin lagi di kurangi dalam waktu singkat.
Dan… BRAKKK… mobil itu menabrak satu orang yang tak bersalah. Tulangnya bersentuhan dengan jalan kasar yang terbuat dari semen itu. Ari terhuyung jatuh. Bukan. Bukan dia yang tertabrak. Namun, cewek yang menyelamatkannya dari maut yang menjemput itu. Cewek itu mendorongnya dan membiarkan tubuhnya yang terhentak jatuh.
Kepala Ari membentur batu yang berada di dekat pinggir jalan. Berdarah. Cukup banyak. Namun tak sebanyak darah yang dikeluarkan cewek itu. Mata Ari terpejam akibat pening yang iba-tiba menyergapnya akibat benturan hebat tadi.
Mata Angga menatap ke ruas jalan tak percaya. Matanya sama sekali tak berkedip. Terus menatap kearah orang yang bersimbah darah. Luka parah. Lebih parah. Cewek itu tergeletak lemah begitu saja disana. Tanpa dosa. Tanpa sama sekali rasa pamrih. Tanpa rasa benci. Namun dengan rasa sayang yang tulus dan sebuah keikhlasan.
Dengan cepat, ia hampiri Anggun. Adik satu-satunya yang ia miliki. Adik yang sudah menjadi dunia untuknya. Adik yang selama ini membantu Angga untuk tersenyum secerah sinar mentari pagi. Kini, senyum itu lenyap. Hilang. Entah kemana. Mungkin pergi bersamanya.
Ia guncang tubuh kecil itu, yang penuh dengan darah segar. Air mata Angga terjatuh. Membasahi bagian tangan Anggun.
“Gue janji! Gue nggak akan bikin lo sedih lagi! Tapi, please. Jangan tinggalin gue,” ucapnya serak. Ia benar-benar tercekat. Dipeluknya manusia yang kini tak lagi mampu bernafas. Dan tak mampu lagi bergerak.
Jika ini memang kelalaian, jika ini memanglah sebuah takdir buruk yang harus diterima semua orang yang kenal dengannya. Jika ini memang jalan terbaik untuk mereka pulang. Jika ini memanglah satu kebaikan untuk masa yang akan datang. Seharusnya, ia melepas semua dengan satu kata. Keikhlasan.
Dari ujung matanya, dapat ia ketahui. Tubuh Ari sedang di gotong menuju rumah sakit.
“Gue janji! Gue nggak akan biarin dia! Dia udah bikin lo harus menyerahkan segalanya! Air mata lo, kesabaran lo, kebaikan lo, kepasrahan lo dan kini… darah lo bahkan nyawa lo!” tegasnya dengan mata yang sudah memerah akibat tangis luar biasa.
Tak lama. Tubuh lemah itu di bawa oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Mereka biarkan Angga tetap ditempat. Membiarkan Kakak dari cewek ini menangis dengan segala rasa pedih terpendamnya. Rasa kecewa dan juga amarahnya.
“Gue… bener-bener harus terpaksa bikin cowok lo itu terluka! Karena gue nggak mau elo yang tersiksa sendirian. Kalo perlu… gue bawa dia ketempat lo,”
***
Hilang. Lenyap.
Tak terlihat. Tak bernyawa.
Air mata. Darah.
Luka. Pedih. Perih. Sakit.
Angga memandang kesana. Kearah makam yang telah dihiasi berbagai macam bunga. Disana. Tepat disana. Terletak satu tubuh yang tak bernyawa dengan semua kenangan yang ada. Pemakaman ini mematikan untuk Angga. Matanya melirik kedua orang tuanya yang menampilakn raut wajah kesedihan yang dalam.
Kering. Tak dapat lagi ia menangis. Rasanya belum cukup ia menangis semalaman tadi. Ia butuh air mata lagi. Ia ingin luapkan emosi yang menyesakkan dada dan jiwa itu. Ingin ia bawa Ari kedepan makam ini. Lalu membawanya bersama Anggun. Adiknya. Disana.
Namun, Ari masih luka parah. Dia masih dirawat di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang menjadi tempat Anggun “pergi”.
Tubuh Angga terjatuh. Lututnya menyentuh tanah merah yang masih basah itu. Dengan kedua tangannya, ia ambil sebagian tanah merah itu, lalu ia cengkram dengan kuat. Sekuat tenaganya. Hingga akhirnya, ia tanah itu berjatuhan dengan kejatuhan yang ia rasakan.
“AAARRRGGGHHH…” teriaknya sesak.

Nyata namun tak dipercaya. Pergi namun terasa ada. Cinta, sayang, suka, rindu, bercampur menjadi satu. Dari seorang Kakak untuk adiknya. Untuk dirinya… untuk Anggun.
Dia adalah cowok teriseng yang pernah Vivi kenal. Dia adalah cowok berbadan besar yang takut sama binatang yang pernah Vivi kenal. Dia adalah cowok berambut ikal dengan wajah tampan yang sanggup membuat jantung Vivi berdebar-debar tak keruan karena keisengannya membuat Vivi jadi keki sendiri.
Selama hidupnya, ia tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta pada sosok itu. Sosok tampan yang digilai oleh cewek-cewek ganjen di sekolah.
Setiap sholat, Vivi akan berdoa dengan khusyuk agar perasaannya pada cowok itu hanyalah untuk sementara. Tapi lama kelamaan perasaan itu tetap ada dan malah membesar. Apalagi di saat-saat mendekati Ujian Nasional. Dia makin ketar-ketir dengan sikap cowok itu kepadanya.
Meskipun jail, cowok itu perhatian padanya. Di setiap ada tugas, cowok itu pasti bertanya padanya. Setiap kali mau nyari kunci jawaban, cowok itu akan mencarinya.
Namanya Vaji.
Cita-citanya sama dengan Vivi. Sama-sama ingin masuk akademi kepolisian. Sama-sama punya suara berat. Pokoknya mereka seperti takdir.
“Lo bawa jaket nggak?”
“Enggak. Buat apa emangnya?” tanya Bevla, teman dekatnya.
“Gue mau ngajuin berkas nih ke kepolisian. Tapi lupa bawa jaket. Mana jauh banget, lagi.” Vivi mendesah panjang.
BLASH.
Tiba-tiba saja sebuah jaket menutupi wajahnya. Ia menarik jaket itu dengan kesal. lalu dilihatnya orang yang berani-beraninya melemparkan jaket lusuh itu ke wajahnya. Vaji.
“Pake gih! Nanti lo masuk angin.”
Vivi langsung mencibir. “Minjemin sih minjemin, tapi nggak usah dilempar juga, kali! Bau, tau!”
Vaji melotot. “Kok songong? Balikin sini. Masih mending gue pinjemin, bukannya terimakasih malah ngatain jaket gue bau, lagi. Mau gue sate lo?”
Dalam hati Vivi berteriak senang karena Vaji perhatian padanya. Tapi Vivi nggak mau kegeeran dulu. Siapa tahu ternyata Vaji hanya menganggapnya sebagai teman dekat yang perlu dibantu.
“Iya deh, iya, maaf. Maakasih ya.”
“Nah gitu dong!”
“Kalian ini. Berantem mulu kayak orang pacaran!” komen Bevla sambil geleng-geleng. Lalu meninggalkan keduanya begitu saja.
“Eh... trus lo gimana? Lo nggak ngumpulin berkas ke kepolisian?”
Vaji nyengir. “Sekalian ya. Gue lagi ada perlu nih jadi nggak bisa ke sana. Gue nitip berkasnya sama elo yak.”
Vivi melengos. Pantas saja cowok itu mau meminjamkan jaketnya. Ternyata ada niat terselubung juga.
“Pantes ya lo jadi baik gitu sama gue.”
“Gue biasanya juga baik kok sama lo.” Vaji menyeringai lebar. “Gue baik. Setiap kali lo makan, gue bantuin abisin. Setiap kali buku tugas lo nganggur, pasti gue contekin. Baik, kan?”
Mendengar itu Vivi jadi naik darah. Apanya yang baik kalau begitu? Ia melotot dan bertolak pinggang. Sementara Vaji masih dengan seringai lebarnya.
Emang dasar cowok nyebelin yang sialnya ganteng banget!
***
“Ji, lo putus sama pacar lo? Yang anak kelas sepuluh itu?”
Bukannya menjawab, Vaji malah memalingkan wajah. Dari reaksinya, semua orang langsung tahu bahwa Vaji mengiyakan pertanyaan itu.
Vivi tahu ini bukan saatnya untuk bersenang-senang karena Vaji baru saja putus dari ceweknya. Tapi bagaimanapun juga Vivi merasa lega akhirnya Vaji bisa putus dari cewek ganjen yang masih kelas sepuluh itu.
“Kenapa putus?” Reno masih saja menyemburkan pertanyaan-pertanyaan yang pastinya akan membuka luka untuk Vaji.
“Ya gitulah. Dianya over protective tapi masih suka tebar pesona dengan cowok lain.”
Dasar cewek ganjen! Kasian kan Vaji disakitin kayak gitu, batin Vivi sambil memandang Vaji.
“Eh, Vi, gue denger-denger lo pernah suka sama Vaji ya?” Reno, si cowok nyebelin yang mulutnya nggak bisa berhenti ngomong itu, bertanya.
Seketika Vivi tersentak. Bagaimana bisa Reno tahu bahwa ia pernah menyukai Vaji. Tidak, ralat. Vivi menyukai Vaji, bukannya pernah. Dulu sekali dia tak pernah memikirkan tentang Vaji, dia malah memikirkan perasaannya dengan cowok lain yang ternyata satu kelas dengannya. Namanya Eros.
Gara-gara Eros berubah dan jadi nyebelin banget, Vivi jadi ogah naksir sama cowok itu lagi. Masalahnya, Eros itu selalu tebar pesona dengan cewek lain dan selalu saja bersikap sok keren. Berbeda dengan Eros yang dulu yang bisa membuatnya senyum-senyum sendiri.
Kalau untuk Vaji sendiri, gara-gara cowok itu selalu di dekatnya, selalu meminta bantuannya, selalu menjahilinya, lama-lama perasaan yang tak disangkanya muncul.
Vaji itu... meskipun kelihatan bandel, sebenarnya dia nggak bandel kok. Meskipun cowok itu punya perawakan preman, dia nggak seperti preman. Nyatanya dia cowok manis yang nggak pernah tega nyaikitin hati cewek. Kecuali hati Vivi, tentunya.
Kalau Vaji tahu perasaan Vivi kepadanya, apakah Vaji tidak akan menyakiti perasaan Vivi juga?
“Serius lo pernah suka sama gue?” Vaji malah terlihat terkejut.
“Eng... enggak kok.” Vivi menjawabnya dengan tergeragap.
Dia jujur. Dulu dia sukanya sama Eros, bukan sama Vaji. Tapi kalau sekarang sih... jangan tanya deh.
“Oh, kirain lo pernah suka sama gue.” Vaji nyengir.
***
Ting...
Vi, besok terakhir pengumpulan berkas ke kepolisian.
Seketika kedua mata Vivi langsung melotot. Dia kaget bukan main. Semua yang dipelajarinya untuk Ujian Nasional besok jadi hancur lebur seketika.
Pikirannya jadi nggak fokus dan rasanya Vivi mau menangis saat itu juga.
Waktu itu, Vivi ditelfon mamanya dan menyuruhnya untuk pulang segera. Jadilah Vivi tidak mengirimkan berkas itu ke kepolisian. Dan jika besok adalah hari terakhir pengumpulan berkas, Vivi harus pergi ke sana sepulang sekolah dan itu adalah hal mustahil.
Kantor kepolisian di Pemda tutup jam 3 sore. Sementara ia baru keluar dari ruangan Ujian Nasional sekitar jam setengah dua siang. Perjalanan ke sana menghabiskan waktu dua jam dan jika Vivi nekat, yang ada dia akan melihat pintu kepolisian sudah tertutup rapat.
Ji, lo nggak serius kan? Lo bercanda, kan?
Ting...
Ngapain gue bohong? Gue jujur lho. Gue baik ngasih tau lo nih.
Vivi mendesah panjang dan dia sudah tidak bernafsu untuk belajar apalagi makan. Cita-citanya untuk menjadi seorang Polisi Wanita kandas sudah.
Trus lo udah ngirim berkas emangnya?
Ting...
Belom sih. Hehehe...
Vivi mengernyitkan keningnya.
Kok lo santai begitu sih?
Oi!
Ji!
Bales dong!
Vaji!!!
Gue gorok lo besok kalo sampe bohong!
VAJI!!!
Vaji! Sumpah ya kalo lo ngerjain gue, gue doain lo nggak lulus ujian!
VAJI! Hiks :’(
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Vivi juga belum menyelesaikan pelajaran yang dibacanya untuk besok Ujian Nasional. Ini menyakut hidup dan matinya. Dia tidak akan bisa berkonsentrasi untuk Ujian Nasional.
“Mamaaaaaaa....” Akhirnya Vivi menangis sekencang-kencangnya.
***
“Udahlah, paling juga si Vaji bohong.” Bevla menenangkan. “Lagian gue kan juga mau daftar kepolisian bareng elo. Gue malah nggak denger pemberitahuan kalo tutupnya hari ini.”
Raut wajah Vivi sudah suram sejak semalam. Ada lingkaran hitam di matanya dan dia yakin seratus persen bahwa matanya bengkak gara-gara menangis.
“Vi, gimana? Lo mau ngumpulin entar pulang sekolah?”
Tiba-tiba Vaji sudah ada di depannya begitu saja.
“Nggak tau.” Vivi menggeleng sedih. “Nggak bakalan sempet.”
“Sabar ya.” Vaji tersenyum sambil menepuk bahu Vivi. “Tahun depan bisa daftar kok.”
Vivi memanyunkan bibirnya. “Nggak bisa. Tahun ini nggak boleh nggak kuliah. Jadi kalo gue nggak masuk kepolisian, gue bakalan masuk universitas.”
“Ya udah. Jangan dipikirin dulu.” Bevla menenangkan. “Hari ini kita harus fokus ujian.”
“Gue nggak belajar semalem gara-gara ini, tau!” ketus Vivi kesal. “Gue kepikiran. Mana bisa ujian dengan tenang. Hiks...”
***
“Gue bohong.”
Kedua mata Vivi melebar. Vaji memang sialan nyebelin banget. Bisa-bisanya dia bohong di saat-saat seperti ini?
“Sori, Vi.” Vaji menatapnya dengan raut wajah bersalah. “Nih gue kasih permen.” Vaji mengulurkan lolipop berwarna-warni ke arah Vivi. “Sekali lagi sori banget ya.”
“Lo kira gue mempan di kasih permen!?” desis Vivi kesal.
“Gue tau lo bukan anak kecil. Tapi gue beneran minta maaf. Gue nggak nyangka sampe bikin lo nggak konsentrasi belajar buat ujian.” Vaji menghembuskan nafas beratnya. “Hari ini ujian terakhir, gue rasa besok-besok nggak bakalan bisa ketemu lo lagi. Yaaah... kecuali perpisahan nanti.”
Rasa kesalnya berubah menjadi rasa bingung. Mendengar Vaji mengatakan bahwa dia tidak akan bertemu dengannya lagi itu rasanya aneh banget. Sepertinya ada rasa ngilu di dadanya.
“Maafin gue ya,” pintanya dengan nada memelas.
Vivi terdiam dan akhirnya mengangguk pasrah.
“Makasih.” Vaji tersenyum simpul. “Kalo nanti lo lulus ujian kepolisian, kasih tau gue ya. Gue akan selalu menunggu kabar dari lo.”
“Emang lo mau ke mana sih!?” tanya Vivi penasaran. “Lo ngomong udah kayak mau pergi jauh banget gitu.”
Vaji hanya menggeleng. “Nggak ke mana-mana kok. Gue tetep di sini.”
Vivi mengernyitkan keningnya. Ia tambah bingung dengan arah pembicaraan Vaji.
“Eng... kalo gitu gue pulang dulu ya...” Vivi berbalik badan meninggalkan Vaji di lorong sekolah.
Namun baru saja beberapa langkah, sebuah tangan menahannya untuk berjalan. Vivi menoleh dan mendapati Vaji di belakangnya.
“Kenapa?” tanyanya bingung.
Vaji memberikan lolipop itu ke tangan Vivi. Cowok itu tersenyum seakan tak ada hari esok. “Lolipopnya.... jangan lupa.”
***
Sudah setengah jam Vivi berguling-guling di kasurnya. Pikirannya melayang ke mana-mana memikirkan tentang pembicaraannya dengan Vaji yang agak aneh itu.
Lalu ia berenti berguling. Matanya menatap sebuah lolipop yang ia letakkan di sebuah gelas kaca di meja belajarnya.
Mau makan permen itu, tapi kok rasanya sayang banget ya. Kalau dimakan nanti nggak ada kenang-kenangan lagi dong dari Vaji.
“Duh... tanya siapa ya? Apa tanya Bevla aja ya?” Vivi menggumam sendirian. “Duh! Tapi Bevla kan... duh gimana ya? Jangan Bevla deh.” Vivi memutar otaknya. Lalu terlintas sebuah ide. Tangannya meraih ponsel di kasur lalu mencari-cari nama yang dicarinya. “Hubungin Mbak Rindang deh.”
***
5 Tahun kemudian...
Suasana di sebuah gedung penuh dengan ingar-bingar. Di dalamnya ada ratusan murid SMA yang bertemu kembali setelah sekian lama. Di depan gedung terdapat banner yang bertuliskan, “Reuni SMA Angkasa Angkatan 2011-2014”.
Sebuah mobil sport berwarna merah melintasi jalan di sana. Lalu berhenti di antara mobil-mobil yang lain untuk parkir.
“Kamu yakin nih masuk ke dalam?” tanya Rindang sambil melepaskan seatbelt.
Vivi mengangguk ragu-ragu.
“Jangan masuk kalau kamu ragu.”
“Tapi kalau aku nggak masuk, aku nggak ketemu dia dong.” Vivi memanyunkan bibirnya.
Rindang mendesah panjang. “Nanti kamu sakit lagi loh. Udah lima tahun nunggu dia dan kalau ternyata dia berubah gimana?”
Mendnegar itu, Vivi jadi ngeri juga. Bagaimana kalau ternyata Vaji berubah seperti yang terjadi pada Eros? Bagaimana jika Vaji menjadi orang yang menyebalkan dan aneh? Bagaimana kalau Vaji.... Vivi langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha untuk mengenyahkan pikiran itu.
“Ya udah yuk masuk!” Rindang langsung turun dari mobil, diikuti Vivi dari sebelah kiri.
Keduanya melenggang masuk ke dalam dengan gaya anggun.
Sebuah kerudung cantik berwarna hijau tua dipadukan dengan warna merah muda melilit di kepala Vivi. Tubuhnya memakai gaun berwarna hijau tua yang sama dengan model yang eye-catching dan kakina dihiasi high heels berwarna perak.
“Aku ke sana dulu ya, Vi.” Rindang menunjuk ke arah teman-teman lamanya.
Vivi hanya mengangguk.
Setelah Rindang pergi, Vivi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mencari-cari sosok itu atau setidaknya teman dekat yang dikenalnya saat SMA.
“Vivi?”
Vivi menoleh dan mendapai Reno bersama Bevla berada di belakanganya.
“Hei, apa kabar?”
“Baik dong!” Bevla tersenyum senang. Lalu memeluk Vivi untuk melepaskan rasa rindu. “Lo tambah cantik deh.”
“Makasih. Lo juga.” Vivi tersenyum membalas.
“Waaaah!!! Teman kita yang buruk rupa ini berubah jadi angsa yang cantik yaaaa?” Reno nyengir dan langsung dapat sikutan dari Bevla.
“Sialan! Lo dari dulu nggak pernah berubah ya?” Vivi mencibir kesal. Lalu kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sosok itu di antara kedua temannya.
“Nyari siapa sih?” tanya Bevla penasaran. “Eros?”
Vivi mengernyitkan keningnya. “Enggak dong! Eros sih ke laut aja sana.”
Bevla tertawa. “Trus nyari siapa dong?”
“Nyariin siapa sih? Cowok ganteng udah di sini nih.” Reno malah menyombongkan diri.
Tapi Reno memang nggak salah. Dia termasuk tampan hari ini. Karena tampilannya jauh berbeda dari 5 tahun yang lalu. Reno terlihat lebih maskulin dan dewasa.
“Dia nyariin gue...”
Vivi menoleh dan mendapati sosok cowok yang dicarinya sejak tadi. Cowok itu tersenyum semanis permen. Cowok itu menatapnya hangat seperti mentari pagi. Cowok itu... cowok yang memberikannya lolipop yang masih disimpannya sampai sekarang.
Sekian tahun mencarinya, sekian tahun berusaha untuk bertemu dengannya, tapi ia tak pernah bisa.
Apa cowok itu masuk angkatan? Vivi tak pernah tahu. Cowok itu mungkin juga tak tahu juga bahwa Vivi masuk universitas dan gagal masuk akademi kepolisian.
“Selamat ya... gue denger sekarang lo kerja di bank swasta.”
Dia tahu. Dia tahu. Dia tahu. DIA TAHU.
Vivi menahan nafasnya sebentar saat cowok itu mendekat ke arahnya. Dia berharap bahwa hari ini bukanlah mimpi. Karena cowok itu... yang membuat kehidupan SMA-nya semanis permen.

Dedicated to Vivi, my precious and lovely cousin. Happy birthday, October, 3rd 2014. Sorry I’m late, sengaja. Mau nyiapain beragam kado, ciyeilah, baru deh ngucapin. Selamat ulang tahun yang ke 18 ya, ciye udah tua aja.
More wise, more beautifull, more diligent, be a good student, be a good people, don’t be lazy and always study for your future. We should meet after 11 months, okay? If you come back home, you should call me to meet J I hope all the things that you want become true. Love you more than ever you know...

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram