Sakura Fujiwara


Rasanya wajahku benar-benar merah sekarang. Gila! Tadi aku ngomong apa? Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku. Kalimat itu nggak mungkin keluar dari mulutku, kan? Nggak mungkin. Aku ini Sakura. Nggak mungkin aku jatuh hati pada anak idiot.
Argh... Sepertinya aku yang idiot.
Kenapa juga aku menyadarinya sekarang? Padahal selama ini aku menentang mati-matian semua ledekan juga tuduhan teman-temanku yang mengatakan bahwa aku menyukainya. It's impossible.
Dari jamannya SMP, semenjak aku ditinggal sama cowok yang kutolak (duh emang menyedihkan sekaligus memalukan banget ya) aku tidak bisa jatuh hati pada orang lain. Aku hanya terpaku pada sosok itu. Sosok yang kutolak mentah-mentah demi Fabi. Namanya Sanji.
Zia pasti tahu banget soal Sanji. Dia juga mengenal Sanji dengan baik. Meskipun tidak setinggi Fabi, Sanji punya tampang seperti vokalis band. Hidung mancung, kulit kuning langsatnya dan kedua alis tebal. Gila! Sanji nggak ada duanya.
Aku tahu sekarang Zia pasti syok berat karena aku bilang, argh, aku kayaknya suka sama Badai. Selama ini Zia sering mengungkit-ungkit bahwa Badai mirip banget sama Sanji. Pasti dia merasa bahwa dia telah memengaruhiku dengan cara yang salah. Ini bukan salahnya juga sih. Ini diakibatkan oleh Sherly juga. Dia sering banget membuatku jadi bahan kejailan Badai. Dia juga sering membuatku dan Badai menjalankan tugas berdua. Memang menyebalkan!
Okedeh aku memang idiot. Aku terbiasa sama kejailannya. Obrolannya yang nggak jelas juga senyum manis yang menghiasi wajahnya. Apalagi dia punya lesung pipi kayak Afgan! Argh sial aku muji dia.
Lagian kenapa sih si Badai itu cuma gangguin aku? Kenapa sih setiap kali diledekin sama teman-teman dia malah nyengir ke arahku? Kenapa sih setiap kali dia nyengir ke arahku dia jadi kelihagan kece bangt? Argh tidak itu salah dia. Iya! Salah dia. Dia bikin aku jatuh cinta. Ups. Argh aku sepertinya sudah idiot beneran.
"Sakura?" Zia memegang pundakku dengan erat. "Elo baik-baik aja, kan!?"
Aku terdiam. Bahkan sekarang aku tidak berani menatap wajah Zia. Wajahku pastu merah banget.
"Eng... Lupain aja soal tadi."
"Eh?" Zia menggapai tanganku. "Jadi lo beneran suka sama Badai?"
Sesaat adegan yang kami lakukan seperti yang ada di drama-drama percintaan. Tapi itu kan antara cewek sama cowok! Aku jadi geli. Kulepaskan pegangan tangannya dari tanganku.
Sesaat aku hanya bengong sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak. Nggak mungkin."
Tiba-tiba saja Zia tertawa terbahak-bahak. Aku langsung menengadah dan menyipitkan mataku yang sudah sipit.
"Kok elo ketawa sih!?"
Zia berhenti tertawa. "Gila! Elo suka sama Badai yang ukurannya mini begitu?"
Aku langsung cemberut. Sialan banget si Zia. Dari pada dia, ditaksir sama Bimo. Cowok berkumis yang seram banget. Sampai-sampai Chelsea, teman sekelasku, mengira bahwa si Bimo itu mantan narapidana dan merupakan penculik kelas kakap.
"Iya deh. Gue kayaknya perlu rukiyah atau gimana gitu biar tobat." Aku berkata pasrah.
Tawa Zia langsung meledak. Gila kayaknya aku perlu ngambil tutup botol lalu aku lempar ke mulutnya.
"Gini..." Zia berhenti tertawa. "Gue udah bisa memprediksikan ini. Karena lo..." Zia menunjukku. "Selalu naksir sama cowok aneh bin sableng!"
“Iya deh, gue suka sama cowok sableng.” Aku merenggut.
Kulihat tatapan Zia yang awalnya meledekku langsung berubah menjadi serius. Matanya menatapku lekat tepat di manik mata.
“Elo beneran suka sama dia.” Zia berkata serius padaku. “Kali ini jangan sampai patah hati ya!” peringatnya. “Gue nggak tau harus gimana kalo yang satu ini bikin lo patah hati.”
Aku menatap Zia dengan bingung.
“Pokoknya, elo harus batasin kapasitas suka lo sama dia.” Zia menepuk bahuku.
***
Aku duduk santai di depan teman kecilku. Namanya Hilda. Dia sedang mengajakku untuk bakar-bakar. Maklum, kami sudah jarang bertemu. Gara-gara aku masuk SMA yang berbeda dengannya. Di sekelilingku ada beberapa teman kecilku juga yang datang.
Saat sedang santai-santai membantu Hilda membakar ikan. Tiba-tiba seseorang duduk di sampingku. Aku menoleh dan terkejut luar biasa. Gila! Itu manusia di sampingku?
“Hai.”
Sesaat aku hanya melamun sebelum menjawab dengan terbata-bata. “Ha-Hai.”
Menyadari ada makhluk aneh di sampingku, aku langsung melihat ke sekeliling. Aku menemukan beberapa teman lama yang sangat amat ingin kuhindari. Dan ada satu orang yang datang dan membuatku terpaku cukup lama.
Sanji.
Cowok itu sedang tersenyum dan mengobrol dengan teman di sebelahnya. Hidungnya yang mancung, alis matanya yang tebal, rambutnya sekarang agak gondrong dan kulitnya yang agak menghitam.
Sepertinya cowok itu agak berubah. Tapi tetap saja senyum itu membuat jantungku rasanya ingin keluar saat itu juga.
Sepertinya Sanji sadar bahwa aku memerhatikannya. Jadi ia menoleh dan menatapku. Dia tersenyum.
Gila! Dia tersenyum padaku!
DEG.
Aku merasa seperti ada yang aneh dengan menatap Sanji. Apa yang salah? Aku tidak merasakan bahwa aku sangat berbunga-bunga seperti dulu. Rasanya begitu aneh. Dan tiba-tiba saja aku memikirkan Badai berada di depanku. Oh sial! Aku beneran sudah idiot.
“Apa kabar?”
Sial. Suara di sebelahku menganggu banget. Rasanya aku mau menjotos orang di sebelahku. Apa dia tidak punya muka setelah mengkhianatiku?
Aku menoleh dan tersenyum paksa. “Baik. Kamu?”
“Baik dong.” Fabi tersenyum lebar. “Kamu banyak berubah ya?”
Aku nyengir. “Ah enggak. Aku masih sama kayak dulu kok. Nggak berubah. Perasaan kamu aja kali.”
Fabi malah tertawa. Rasanya aku pingin jotos beneran deh.
“Kamu sekarang cerewet banget ya.” Dia berkata pelan. “Bagaimana dengan hubungan kita yang lalu?”
Aku langsung melotot. Rasanya ada yang nyangkut di tenggorokanku. Dia bilang apa tadi? Apa aku tidak salah dengar?
Gila! Dia cowok yang mengkhianatiku dulu. Meninggalkanku demi seorang cewek yang bohai dan lebih montok dari aku. Dan membuatku menyesali seumur hidup karena telah menelantarkan perasaan Sanji padaku. Dia benar-benar minta dihajar.
“Apa?” Aku bertanya ulang seolah aku ini budek.
Dia menggenggam tanganku dan menunjukkan ekspresi bersalahnya. “Aku minta maaf atas kesalahanku yang lalu. Kamu mau maafin aku, kan?” Dia menatapku dengan tatapan nelangsa. “Ayo kita balikan.”
Sarap! Dia minta aku balikan sama dia? Rasanya aku pingin teriak di depan muka dia kalau aku sudah move on dari hubunganku dengan dia yang lalu. Aku nggak bakalan sudi nangis bombay lagi demi cowok sarap ini.
Lagi pula, aku sudah menemukan tambatan hati yang membuatku bisa melupakan semua hal! Ups.
Aku barusan ngomong apa? Aku lagi nggak ngomongin Badai lagi, kan?
Oh ya ampun! Rasanya aku bakalan jadi idiot beneran. Dan tiba-tiba saja pikiranku dipenuhi nama Badai. Badai. Badai. Badai.
“Maaf, aku nggak bisa.” Aku hanya tersenyum merasa bersalah. “Aku udah suka sama orang lain.”
Dan itu Badai.
Oke bunuh aku sekarang! Aku benar-benar mengakui bahwa aku suka banget sama Badai. Dasar idiot.
***
Sial. Ini gara-gara teman-temanku yang iseng banget ngatain aku dan ngeledek aku terus. Sekarang aku jadi canggung sama Badai. Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk terlihat biasa saja, tapi sepertinya Badai tahu kalau aku naksir dia. Memangnya kelihatan banget ya?
Aduh kalau Badai sampai tahu kalau aku naksir dia, tamatlah riwayatku. Kalau ditaksir balik sih nggak apa-apa, lah kalau enggak? Rasanya aku pingin pindah sekolah sekarang juga.
“Eng, Badai!”
Badai menengadah dan menatapku dengan tampang polosnya.
Gila! Tampang polosnya aja sekarang kelihatan ganteng banget. Gimana kalau dia senyum padaku? Bisa pingsan, kali.
Aku mencoba biasanya saja. Tapi you know-lah, usaha itu akan sia-sia saat tiba-tiba saja teman-temanmu langsung menyorakkan kata-kata norak yang aku benci setengah mati tapi diam-diam kusukai. Kata ‘Ciye’. Sial. Sial. Sial.
“Bisa bantu benerin video ini?” Aku berusaha tidak memerdulikan teman-temanku yang minta dijotos itu. “Tadi malem gue udah edit, tapi tiba-tiba aja rusak. Bisa, kan!?”
Dan seperti biasa, kalau disuruh Badai pasti mau-mau aja. Mungkin dia punya jiwa penurut, sehingga menolak keinginan temannya saja bakalan segan.
“Makasih.”
Setelah mengatakan itu dengan nada dingin, pula, aku langsung pergi ke tempat dudukku dan berlagak bahwa yang barus saja aku lakukan adalah hal biasa antar teman. Tapi efek di jantungku sama sekali tidak. Aku memang idiot! Kenapa tiba-tiba jantungku jadi berdegup kencang begini? Hanya karena ngomong sama Badai si cecurut yang biasanya gangguin aku? Oh tidak. Aku beneran idiot!
***
Mulai besok, sekolah tidak begitu aktif lantaran kami sudah mengerjakan UAS kami seminggu yang lalu. Minggu ini kami hanya melakukan beberapa praktek yang melelahkan.
Pagi ini aku bangun dengan perasaan nyaman. Meskipun harus berkali-kali mengerjakan tugas, tapi kemarin merupakan akhir dari penderitaanku. Pagi ini aku cukup berangkat istirahat, besok aku harus ke sekolah dan merapikan semua peralatan yang kupakai. Lalu lusa aku menunggu daftar murid-murid yang harus remedial.
Entah ini bagus atau tidak, tapi pergantian kepala sekolah membuat peraturan baru. Ini tentang penjurusan yang sudah kami lakukan sejak awal. Kepala sekolahku yang bernama Pak Rhoma itu ternyata aneh banget. Dia mengatakan akan melakukan penjurusan ulang. Siapa yang nggak bakalan mencak-mencak coba?
Dia mengatakan akan melihat ulang dari ujian-ujian yang telah kami lakukan, tes kemampuan potensi akademik dan segala tetek bengek yang membuatku jadi pusing sendiri.
Kembali ke kondisi pagiku. Aku menatap layar ponsel kerenku dan membuka twitter. Jejaring sosial yang belakangan ini aku gunakan untuk mejeng. Hahaha, dari dulu aku memang suka mejeng di jejaring sosial. Dulu aku aktif banget di facebook. Update sana sini dan upload fotoku.
Tidak keberuntungan yang kudapat karena aku keturunan Jepang adalah cowok yang menaksirku bejibun. Aku bukannya mau sombong, tapi itu kenyataan loh. Makanya waktu SMP aku sudah beberapa kali pacaran. Dan bagi orang-orang yang mengetahui siapa saja mantan pacarku, mereka pasti akan mengatakan bahwa mereka ganteng.
Oke, kecuali Fabi. Dia nggak terlalu ganteng. Dan sialnya kalau dulu sepertinya aku cinta monyet banget sama dia, sekarang aku bete banget sama dia. Apalagi kalau bukan karena waktu itu dia datang lagi di kehidupanku dan mengatakan bahwa ia menyesal telah putus dariku. Rasanya ingin aku tendang saja dia ke bulan atau mungkin ke matahari agar dia gosong sekalian!
Cukup. Aku nggak mau bahas si Fabi sarap itu lagi.
Aku melihat beberapa direct message yang masuk ke dalam pesan twitterku. Aku membukanya dengans santai. Rata-rata pesan dari cowok-cowok yang meminta kenalan atau bahkan minta nomor telfonku. Sori-sori aja, aku nggak bakalan bisa ngasih nomorku sembarangan. Lagi pula, aku nggak berminat sama mereka. Karena...
Fiyuh... kenapa sih semua hal disangkut pautkan dengan Badai?
Ada satu pesan yang membuat mataku terganggu. Pesan itu dari seorang cewek dan tulisannya kapital semua. Bagaimana tidak mengganggu?
Jadi kuputuskan untuk membukanya dan membacanya dengan seksama.

HEH PEREMPUAN DIAM-DIAM MENGHANYUTKAN! GUE TAU ELO BERUSAHA MENGAMBIL AWAN DARI GUE, KAN!? NGAKU AJA LO!
KENAPA SIH ELO KECENTILAN DAN NGEDEKETIN AWAN? ELO TAU KAN KALAU AWAN UDAH PUNYA PACAR! YAITU GUE! JADI LEBIH BAIK ELO JAUH-JAUH DARI AWAN. KALAU SAMPAI ELO BERANI-BERANINYA DI DEKET AWAN, GUE LABRAK LO!

Rasanya aku syok bukan main. Gila! Ini barusan dia ngancam aku? Serius?
Salahku apa? Aku jadi pingin nangis. Selama ini aku dekat sama semua orang. Tidak melihat batas gender, usia dan harta. Aku cukup adil dalam berteman kok. Nggak terlalu pilih-pilih. Dan... ya ampun! Kapan aku ngedeketin Awan sih? Dari jamannya masih orok, enggak deng bohong, maksudnya dari awal aku memang dekat sama Awan. Tapi di kelasku banyak kok yang dekat dengan Awan. Malah lebih dekat dari pada aku.
Aku terlalu sibuk pedekate sama si Badai nyebelin. Aku terlalu sibuk ngadepin keusilan dia dan juga malah jatuh cinta sama dia. Ups. Aku ngaku lagi.
Tanpa basa-basi, aku langsung menelfon Zia. Dan ketika sambungan diangkat aku langsung berteriak. “ZIAAAAAAA....” Lalu aku menangis.
***
Aku tidak tahu harus bersyukur atau tidak. Ini tugas benar-benar akan membuatku mati di jalan! Teman-temanku memang luar biasa nyebelin. Kalau saja ini bukan karena semua barang-barang ini milikku, aku pasti akan menolak mentah-mentah perintah ini dan memilih untuk membantu teman-teman yang lain. Membantu angkat-angkat juga tidak apa-apa. Toh aku sudah memiliki julukan cewek ganteng, yang otomatis angkat-angkat merupakan hal biasa untukku.
Sekarang aku berjalan dengan perlahan dan jantungku rasanya mau copot. Apalagi saat berpapasan dengan Zia yang sialnya malah nyengir ke arahku.
“Hei, mau ke mana?”
“Mau balikin barang-barang ini.”                                                          
Zia mengangguk-angguk. Aku lihat di tangan kirinya ia memegang sebotol air mineral dan di tangan kanannya ia memegang batagor, somay dan roti. Aku yakin dia sedang kelaparan setengah mati. Makanannya mantap surantap.
“Sama siapa? Emang elo bawa motor?”
Aku menggeleng dan hanya menunjuk dengan daguku bahwa ada orang yang akan mengantarku. Zia otomatis menoleh dan mendapati Badai sedang naik motor gedenya.
“GILA! ELO...”
Aku langsung membekap mulut Zia. Sial. Dia ember banget. Kalau Badai dengar, aku makin malu-maluin.
Zia nyengir setelah aku melepaskan tanganku. Lalu ia menowelku. “Eh... ada Via.” Ia melirik ke tukang bakso.
Aku langsung menyadari bahwa Via sedang memerhatikanku.
Padahal semenjak hari di mana dia mengirimiku pesan ancaman, aku langsung ciut dan nggak dekat-dekat dengan Awan. Kalau Awan mengajak ngobrol atau menanyakan sesuatu, aku langsung mengajak ngobrol Badai. Parah banget ya? Habis aku kan takut dilabrak. Lagi pula aku kan nggak suka Awan. Hiks.
“Gue pergi dulu ya.” Aku menepuk pundak Zia dan langsung mendekati Badai.
Aku sadar sepenuhnya bahwa kedua mata Via masih mengikuti pergerakanku. Jadi, tanpa basa-basi, aku langsung memegang pundak Badai dengan gaya sok akrab.
“Ayo berangkat!”
Setelah yakin melihat adegan yang cukup ekstrem itu, Via langsung mengalihkan pandangannya. Mungkin dia menyadari sedikit bahwa aku nggak naksir sama pacarnya itu.
Gila! Barusan aku sok deket gitu? Sama Badai? Walaupun aku memang dekat sama Badai dan dulu suka berantem. Tapi sekarang suasananya berbeda. Sepertinya Badai memang sudah mendengar desas-desus bahwa aku menyukainya.
Aku memegang dadaku. Memastikan agar jantungku nggak keluar dari tempatnya.
***
Mataku memerhatikan setiap nama yang berjejer di papan pengumuman. Hasil dari pemindahan jurusan sudah keluar. Aku mencari namaku. Sakura Fujiwara. Saat jariku berhenti di namaku, aku melihat bahwa aku masuk kelas 11-IPA 2.
Zia sudah menungguku di ujung koridor. Jadi setelah mengetahui aku masuk kelas mana, aku langsung menghampirinya.
“Hei, elo masuk mana?”
Wajah Zia suram banget. Sepertinya dia lagi bete total. “11-IPS 1.” Lalu melirikku dengan tatapan prihatin. “Lo udah liat Badai masuk mana?”
Aku menggeleng. Aku baru tersadar bahwa aku tidak memeriksa nama Badai tadi. Secepat mungkin aku kembali ke mading dan mencari nama Badai Kusuma Putra. Saat menemukan namanya, betapa terkejutnya aku mendapati Badai masuk 11-IPA 4. Ah sial, aku harus berpisah dengannya.
Tanpa sadar, aku mengambil ponsel dari kantong seragamku dan memencet nomor Badai yang sudah kuhapal.
“Halo.”
“Badai... elo nggak masuk sekolah hari ini?”
Terdengar suara bising di seberang. “Belom berangkat. Ada apa emang?”
Sepertinya suaraku terdengar serak dan seperti ingin menangis. “Elo.. elo masuk kelas 11-IPA 4.”
“Kalo elo?”
“11-IPA 2.” Aku merasakan sesuatu di tenggorokanku menahanku untuk bersuara.
“Wah, bagus dong!” Suara di seberang sana terdengar ceria. “Seenggaknya gue masih bisa ngerjain elo, kan?”
Sumpah! Rasanya aku mau menangis saat ini juga. “Ce-cepet ke sekolah ya. Oh ya, tadi ada beberapa pelajaran lo yang mesti diremedial.”
“Oke.”
“Ya ampun!” Suara di sebelahku mengagetkanku. Sial. Zia memang hobi mengangetkan orang. “Ternyata elo beneran suka sama Badai ya?”
Aku hanya memalingkan wajah.
“Elo nggak mau menghibur gue nih yang tetep di IPS?”
Aku melirik Zia. Merasa bersalah karena aku jadi cuek padanya. Kurangkul pundaknya dan kuacak-acak rambutnya yang sebahu,
“Sori, Zi.” Aku tersenyum prihatin. “Setidaknya elo nggak kehilangan Bimo, kan?”
“Sial.” Zia mengumpat. “Mentang-mentang Bimo sama gue masih satu jurusan, elo bisa berkata dengan seenak jidat lo?”
Aku nyengir. Lalu menggeret Zia ke kantin. Aku perlu menraktir cewek pecicilan ini supaya dia terhibur. Tentu saja saat kubilang aku akan mentraktirnya, Zia langsung senang bukan main. Ia langsung memesan banyak makanan dan minuman. Membuatku tersadar bahwa Zia ini doyan makan dan sangat memanfaatkan waktu jika sedang ditraktir.
By the way, gue liat Awan ada di jurusan 11-IPS 1. Sekelas sama gue.”
Aku hanya mengangguk. “Baguslah. Semoga mantan pacarnya itu nggak menganggu gue lagi. Berikut dengan Awan.”
“Mereka udah putus?” tanya Zia dengan mata melebar.
Aku mengangguk. “Beberapa hari lalu.”


Ardyanti Zia


Perkenalkan. Namaku Zia. Siswi kelas 10-IPS 2 dan sekarang aku berada di semester kedua. Aku bersekolah di SMA Angkasa yang sudah terkenal seantreo jagat raya. Mungkin aku terlihat berlebihan, tapi serius deh sekolah ini beneran terkenal.
Oh ya, aku punya sahabat yang kukenal sejak jaman orok karena kedua orang tua kami sempat tetanggaan sampai kami lulus SD. Nama sahabatku adalah Sakura. Kalian pasti pikir dia merupakan orang Jepang. Dia memang masih ada keturunan Jepang dari nenek buyutnya, tapi dia benar-benar bukan orang Jepang juga tidak begitu bisa Bahasa Jepang.
Oke. Aku terpisah oleh Sakura karena Sakura berada di kelas 10-IPA 3. Pasti kalian pikir aku ini bodoh banget sampai-sampai masuk IPS. Tapi kalian salah besar. Aku bukannya bodoh, tapi karena waktu pengisian minat jurusan aku terbius oleh omongan orang. Orang-orang mengatakan jika aku memilih IPS sebagai minat jurusanku maka aku bisa masuk IPA. Pasti kedengarannya bodoh dan aneh sekali kan? Ya, aku akui aku sedikit agak blo'on waktu itu. Bukan, bukan. Tapi aku terlalu polos. Bukan blo'on. Mana mungkin seorang Zia yang punya tatapan setajam elang bisa blo'on!?
Sekolah merupakan hal yang membosankan bagiku. Kenapa? Ya karena nggak menantang sama sekali! Aku heran dengan orang-orang yang begitu mengejar nilai bagus agar bisa dipandang baik oleh orang lain. Aku sih tidak masalah jika mereka melakukannya dengan usaha keras. Tapi bayangkan jika mereka yang bertampang sok polos itu ternyata busuk banget! Mereka melakukan segala hal agar unggul. Di SMA Angkasa banyak yang begitu. Tapi siapa pun yang melakukan hal curang di SMA Angkasa bakalan cepat lengser.
Itu karena aku mendengar gosip bahwa guru-guru SMA Angkasa sangat protektif terhadap anak pintar, anak yang tiba-tiba pintar dan anak yang biasa aja tapi nilainya gede banget. Mereka sadar sekali bahwa kecurangan di dalam hal nilai masih banyak dilakukan di kalangan pelajar, makanya mereka sangat jeli terhadap murid-murid SMA Angkasa.
"Hei!"
Ah lamunanku langsung buyar saat Sakura melemparkan buku biologinya yang tebal banget ke atas meja.
"Bisa lembut sedikit nggak sih?" Aku mendumel karena dia sebenarnya hanya kelihatan lembut padahal hatinya busuk.
Sakura nyengir. "Mau liat ramalan hari ini?" Cewek itu mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya.
"Coba liat bintang gue."
"Minggu ini..." Kedua alis Sakura menyatu. "Keuangan lagi nggak stabil."
Aku mendengus. "Tau aja kalo gue lagi bokek."
"Asmara... Minggu ini drama percintaan lo baru dimulai."
Mendengar itu aku langsung tertarik. Bukannya aku nggak laku, tapi dari jaman SMP aku hanya mau naksir-naksiran aja. Aku tidak suka hubungan yang terlalu serius dan membuat aku mengeluarkan air mata. Muak banget deh.
Beda dengan Sakura. Dia udah beberapa kali pacaran. Jadi dia udah berpengalaman. Aku juga udah sering mendengar drama percintaannya.
Waktu itu dia pertama kali pacaran. Nama cowoknya adalah Fabi. Tapi karena matanya belo banget, aku sering memanggilnya Beto. Kenapa bukan Belo? Itu karena aku salah ngomong dari Belo menjadi Beto. Yah semacam spiko gitu deh. Hahaha.
Oke balik ke si Fabi. Jadi sebenarnya Fabi ini menurutku biasa aja. Tidak tampan sama sekali. Kecuali hidungnya yang mancung itu. Aku heran, kenapa Sakura mau saja berpacaran dengan Fabi yang biasa banget. Padahal Sakura kan lumayan. Aku akui deh kalau dia sebenarnya manis. Cowok-cowok mungkin nggak akan nolak kalau dia tembak.
"Jadi... Berita besar apa ya yang bakalan gue denger." Sakura menunjukkan wajah sok berfikirnya.
Aku langsung menoyor kepalanya. Gini-gini sebenarnya aku lebih muda dari dia, tapi karena aku sudah terbiasa bercanda seperti itu jadi santai sajalah.
Sakura menatapku dengan bibir maju. "Jadi cewek tuh lembut dikit dong!"
"Emang lo lembut?" Aku mendelik kesal. Enak saja dia menyuruhku berprilaku sok lembut padahal dia sendiri nggak ada lembut-lembutnya.
Sakura mencibir tapi raut wajahnya kembali serius. "Lo lagi naksir orang ya?"
Aku yang sedang minum es jeruk tentu saja langsung tersedak. Mataku yang besar menatapnya dengan kesal. "Asal ngomong lo!"
"Kalo lagi naksir orang juga nggak apa-apa. Itu kan manusiawi." Sakura menyomot tahu goreng di depannya dan satu cabe rawit yang cukup montok. Lalu melahapnya seperti tukang kuli bangunan.
Iya deh si Sakura ini denger-denger dipanggil cewek ganteng sama teman-teman satu kelasnya. Lantaran punya kekuatan yang menyamai dengan kekuatan cowok. Aku juga percaya hal itu karena aku pernah jadi korban gebokannya waktu itu. Benar-benar kuat banget deh tu cewek.
"Maksud lo, gue nggak manusiawi gitu?"
Kelihatannya aku sensi banget. Padahal aku sebenarnya nggak sensi seperti ini. Mungkin karena aku lagi PMS.
"Enggak, Zi. Siapa yang bilang gitu? Elo yang bilang sendiri, kan?"
Okedeh aku ngaku kalah kalau debat sama Sakura. Jadi aku hanya diam saja sambil memakan mie goreng buatan Bu Parmi.
By the way, gimana dengan Badai?”
Aku melihat Sakura mengernyit kesal. Lalu dengan wajah yang bete luar biasa dia mengambil tahu lagi dan memakan dua cabe sekaligus. Akibatnya dia langsung kepedesan dan meraung-raung minta minum padaku.
“Nih.” Aku menyodorkan minum padanya. “Kenapa sih? Sensi banget sama Badai? Dikerjain lagi?”
Sakura memasang tampang keji ala pembunuh. “Lo tau nggak sih, kemaren gue disiram pake air? Mending kalau air bersih. Ini air es jeruk yang bekas dia minum!” Sakura bercerita dengan histeris. “Gila nggak tu anak!? Minta gue gebok! Gue kejar-kejar dia sampe dapet, alhasil gue malah nabrak dia. And you know how the ending happened...”
Aku langsung tertawa. “Pasti elo diledekin satu kelas. Iya, kan!?”
“Yaps. Dan parahnya, dia malah nyengir ke gue dan bilang dengan wajah polosnya kalau jalan liat-liat.” Wajah Sakura sudah merah padam. “Awas aja kalo tu anak berani gangguin gue lagi!”
“Ketulah loh, Ra.” Aku berkata dengan nada yang sok serius. Akibatnya Sakura malah menunjukkan ekspresi mau muntahnya. “Lagian dipikir-pikir, dia tuh mirip Sanji.”
Sakura langsung mengibaskan tangannya. “Beda jauh!” ketusnya. “Sanji itu ganteng, pinter nyanyi, baik hati dan lemah lembut! Beda sama si Badai yang nggak jelas, suka gangguin orang dan ganteng juga enggak!”
“Dia ganteng kali.”
Kulihat Sakura memanyunkan bibirnya. Menunduk dengan gaya pasrah. “Iya deh. Badai emang ganteng. Mata gue aja rada-rada soak.”
Dasar si Sakura. Dia selalu mengatai bahwa Badai tuh biasa aja. Padahl semua orang yang mendenga pernyataan Sakura langsung menjitak kepalanya lantaran dia bilang begitu. Aku juga sudah pasti menjitak kepalanya. Meski nggak seganteng Robert Pattinson, yang jelas Badai masih dalam kategori aman untuk ditaksir oleh cewek-cewek.
"Eh, Zi. Gue balik duluan ya." Sakura berdiri. "Gue ada tugas yang belum selesai nih. Sekalian mau ngegosip sama anak-anak." Sakura nyengir. "Nanti pulang bareng ya!"
Belum sempat kukatakan sesuatu, Sakura sudah ngeloyor pergi begitu saja. Dasar cewek tidak berperasaan. Kuli bangunan, lagi! Pokoknya jangan tertipu deh dengan tampangnya yang sok polos itu.
Lalu mataku menatap buku bilogi yang bertengger di atas meja. Oh sial! Tu cewek kuli ninggalin bukunya seenak jidat.
***
Pukul 06:25. Uh sial banget deh. Aku kepagian. Ini gara-gara Sakura yang ngajak bareng dan selalu datang sebelum waktunya. Cewek itu memang freak bangun pagi kayaknya.
Saat aku masih memakai seragamku dengan perlahan dan aku hayati dengan sepenuh hati, tu cewek mengirimkan sms dan mengatakan bahwa dia sudah ada di depan kompleks perumahanku. Gila aja! Itu masih jam 06:15, bro! Sementara jarak dari rumahnya ke rumahku memakan waktu sekitar 25 menit. Itu pun kalau nggak macet dan menaiki angkot super duper cepat yang supirnya adalah mantan pembalap internasional. Bayangkan saja jam berapa Sakura bangun!?
Kepagian ini dibuktikan dengan tidak adanya satu orang pun di dalam kelasku. Jadi dari pada bete karena nggak punya teman, aku langsung ngeloyor ke kelas Sakura. Untung kelasnya nggak begitu jauh. Jadi aku nggak bertambah bete karena kelasnya jauh banget.
Di 10-IPA 3 terlihat tiga orang yang sudah datang. Aku mengenali mereka sebagai Ify, Badai dan Sakura tentunya.
Di depan mataku, aku melihat Sakura sedang asik dengan buku novelnya, sementara di belakangnya terlihat Badai yang sedang mengacungkan gunting tinggi-tinggi dengan seringai lebar. Aku menyadari bahwa cowok itu kemungkinan besar akan mengerjai Sakura. Jadi aku buru-buru teriak...
"Ara! Badai mau motong rambut lo!"
Ketiga orang yang ada di kelas itu langsung menoleh ke arahku. Dan otomatis dua di antara mereka langsung menoleh ke arah Badai yang hanya nyengir kuda.
Mata Sakura yang udah sipit makin sipit saat menatap Badai. Dari raut wajahnya kelihatan banget kalau Sakura mau membunuh lalu memutilasi tubuh Badai dengan keji. Lalu dengan ancang-ancang mengejar penjahat, Sakura langsung berlari mengejar Badai yang udah lari duluan.
Aku jadi tambah bete. Jadi aku duduk di tempat duduk Sakura. Tepat di belakang Ify.
"Mereka berantem terus."
"Bukan berantem." Ify mengatakannya pelan. "Itu namanya bentuk perhatian."
Kedua bola mataku membelalak lebar. "Hah? Apaan? Gue kok nggak ngerti ya."
Ify hanya tersenyum. "Badai emang jail banget. Tapi itu dilakukannya supaya orang-orang tertentu memerhatikannya."
Aku hanya manggut-manggut.
"Gue sama Badai tetanggaan dari kecil. Jadi jangan berfikir kalau gue ini ternyata ada apa-apa sama Badai."
"Gue nggak nuduh lo punya hubungan sama Badai kok." Aku langsung membelalakkan kedua mataku. Heran deh. Padahal kan aku cuma mendengarkan ceritanya.
Ify mendesah. "Itu dia. Waktu itu, karena anak-anak tahu gue tetanggan sama Badai, mereka langsung ngatain gue naksir-naksiran sama Badai. Bete banget sumpah."
Pantes aja dia sensi begitu. By the way, aku udah nggak terlalu sensi karena PMSku sebentar lagi berakhir. Hahaha senangnya.
"Pelopornya Sakura." Ify melanjutkan ceritanya. "Setelah kejadian itu malah Sakura sama Badai yang jadi deket."
"Jadi sering berantem kali maksud lo!?" Aku melaratnya. Deket darimana? Berantem melulu sih iya. Tapi memang karena mereka sering berantem makanya mereka jadi makin dekat.
"Mata lo aja yang salah." Ify mengibaskan tangannya. "Anak-anak juga udah sadar kok kalau hubungan mereka nggak wajar." Ify mengecilkan suaranya. "Waktu kemarin... Anak kelas sebelah, Jennet, main ke sini. Dia terkenal karena bisa ngeramal."
"Iya. Itu gue juga udah tau kok."
"Anak-anak cewek yang suka ngegosip pada minta ramalan cinta dari dia. Mereka request tentang cowok-cowok di kelas yang kena cinlok."
Aku jadi semakin tertarik. Kenapa kemarin Sakura tidak menceritakannya padaku ya?
"Dan salah satu di antara mereka naksir Sakura. You know who."
"Tapi ramalan itu belum tentu benar, kan?"
Ify mengangkat bahu.
Tap. Tap. Tap.
Aku dan Ify langsung menoleh ke arah pintu. Ah aku kenal dia sebagai teman sebangku Badai. Namanya Awan. Pacarnya cantik. Anak kelas sebelah yang alim.
Lalu muncul lagi seorang cowok dengan rambut keritingnya. Tubuhnya menjulang tinggi dengan otot-otot yang besar. Dia pasti atlit. Tapi aku lupa namanya. Yang jelas dia cowok charming yang ditaksir banyak cewek di sekolah. By the way pacarnya itu kakak kelas yang pernah masuk tv. Ya semacam figuran gitu deh.
***
"Zi, boleh pinjem pulpen?"
Aku mendongak dan mendapati Raja berdiri menjulanh di depanku. Uh ganteng banget sih dia.
"Boleh." Aku mengangguk. "Ah elo biasanya juga ngambil tanpa permisi!"
Ups. Sifat asal cerocosku langsung kumat lagi. Aku emang nggak bisa jaga image di depan cowok-cowok ganteng supaya kelihatan lemah lembut. Aku kan bukan Sakura yang jago banget akting!
Raja langsung nyengir. "Kan harus baik-baikin yang punya. Biar acara pinjam meminjamnya berjalan dengan lancar."
Aduh gila Raja ganteng banget hari ini. Kacamata hitam membingkai kedua matanya yang tajam juga senyum manis yang menghiasi wajahnya. Sumpah! Dia kayak malaikat.
Okedeh aku ngaku. Raja ini teman sekelasku yang kutaksir. Siapa juga yang nggak naksir cowok seganteng itu? Sakura juga sebenarnya tahu kalau aku naksir Raja dan dia juga nggak heran kalau aku naksir cowok itu. Ya iyalah! Aku kan bukan Sakura yang suka naksir cowok-cowok aneh bin sableng.
"Kalo ada maunya pasti gitu!" cibirku.
"Thanks ya." Raja menepuk pundakku pelan dan langsung ngeloyor pergi.
Gini deh jadi cewek paling bawel di kelas. Nggak ada manis-manisnya. Jadi cowok-cowok yang deket sama aku kudu mikir berulang kali buat jadiin aku pacar. Udah gitu kata mereka prilakuku condong ke sifar cowok. Makin jauh deh cowok ganteng dari jangkauanku.
"Hai, Zi. Bengong aja..."
Aku langsung tersadar dari lamunanku saat sebuah tangan berwarna hitam berjalan-jalan di depan wajahku. Gila! Serem banget.
Orang yang ada di depanku saat ini adalah cowok paling menyebalkan dan pingin banget aku hindari. Sekalinya ada cowok yang berani deket sama aku, ya cuma cowok aneh bin sableng inilah yang berani deket sama aku. Udah gitu dia pernah menelfonku dan mengatakan bahwa dia mau ke rumah. Duh! Gawat banget, kan!?
Asal kalian tahu saja. Ayahku itu super duper menyeramkan. Dia paling anti sama yang namanya pacaran. Makanya dari SMP aku cuma berani naksir cowok, tidak sampai tahap berpacaran.
Balik ke cowok sableng di depanku. Namanya Bimo. Badannya nggak terlalu tinggi untuk ukuran cowok. Kulinya hitam dan dia punya kumis! Ajigile! Siapa yang nggak pingsan sama mencak-mencak kalau ditaksir makhluk sableng seperti itu!?
"Ngapain sih di sini?" Aku mulai melemparkan bom. "Sana urusin urusan lo aja."
"Ih, Zi, galak banget sih." Wajah cowok itu berubah memelas. "Niat gue kan baik. Menemani elo gitu. Apa mau gue nyanyiin lagu?"
Oke aku sadar banget kalau Bimo bisa main gitar dan suaranya nggak jelek-jelek banget. Apalagi aku anak padus yang otomatis suka musik. Tapi plis deh, ini Bimo bukan Raja!
"Nggak usah. Thank you. Pergi sana!"
Dan dengan wajah memelas dan rada-rada broken heart gitu Bimo.meninggalkanku sendiri.
***
Istirahat aku berkumpul dengan teman-temanku. Dora dan Vera. Aku memang paling dekat dengan kedua orang ini dan aku berharap pertemanan kami akan terus lanjut sampai nanti kami lulus SMA.
Seperti biasa, kalau cewek memang mulutnya nggak bisa untuk nggak bergosip. Mungkin kami bisa mati kalau nggak bergosip, atau hidup dalam kesuraman dan keterdiaman. Hahaha, lebay banget aku ini.
“Eh, tau nggak Badai? Anak 10-IPA 3 itu loh.”
Mendengar nama Badai, aku langsung menoleh. Itu teman sekelasku, namanya Cessa. Dia terlihat biasa saja menurutku, tapi dia memang nggak punya muka. Sudah tau tampangnya biasa saja, tapi dia naksir sama cowok-cowok ganteng di sekolah. Aku sampai heran padanya. Mending kalau ditaksir balik, kalau dilepehin kayak permen karet yang sudah tidak manis lagi gimana? Iyuh... aku jadi jijik.
“Kenapa?”
Di sebelah Cessa merupakan teman sekelasku juga. Namanya Amboi. Badannya pendek, yang otomatis tidak setinggi aku.
“Dia ganteng. Gue jadi naksir sama dia.”
“Yang rambutnya ke atas gitu, kan?”
Cessa mengangguk sambil tertawa seperti nenek sihir. “Ganteng, kan, dia?” Dia mengangkat kedua alisnya ke atas dengan raut wajah sombong.
“Eh, tapi bukannya dia deket sama Sakura ya?”
Raut wajah Cessa yang tadinya sombong banget langsung berubah menjadi wajah bengis. Membuatku jadi takut sendiri. Ajigile! Wajahnya kayak psikopat.
“Liat aja nanti! Siapa yang bakalan dapetin Badai. Dan siapa yang bakalan ngalahin siapa.” Lalu dia tertawa cekikian seperti nenek sihir lagi.
Setelah keduanya pergi menjauh, aku menoleh pada kedua temanku yang pastinya mendengarkan kedua orang tadi diam-diam.
“Cessa suka sama Badai?” tanyaku dengan bloon. Padahal tadi aku sudah mendengarnya langsung dari Cessa. Jadi, seharusnya aku tidak menanyakannya lagi.
Dora hanya mengangkat bahunya. “Dia kan emang begitu. Wajar aja kalau dia naksir Badai. Toh, Badai emang lagi terkenal belakangan ini.”
“Terkenal satu angkatan sih.” Vera mendesah. “Tapi kasian juga Sakura jadi kena imbasnya. Padahal dia kan nggak tau apa-apa. Cuma deket aja, belum tentu bakalan jadian, kan!?” Vera mengaduk minumannya dengan raut wajah prihatinnya. “Elo sahabatan sama Sakura dari kecil, kan?”
Aku mengangguk.
“Peringatin dia buat hati-hati. Banyak yang bakalan jadi musuh dia nanti.” Vera mnyedot jus jeruk di depannya.
“Bener tuh!” Dora mengangguk setuju. Badannya yang rada gembul dan pipinya yang tembem mebuatnya jadi lucu. “Belakangan ini, penggemar bisa berubah jadi psikopat loh.”
“Hush!” Aku langsung mengibaskan tanganku. “Jaman sekarang mana ada psikopat!?”
“Ada, tau!” Dora berkata ngeyel. “Sekarang turunannya Sumanto banyak di mana-mana. Hati-hati aja diterkam... KHAUUUWK.” Dora menirukan gaya harimau yang mengaung. Aku jadi tertawa lebar.
Tiba-tiba tawaku terhenti saat melihat sosok cowok yang menjadi teman satu kelas Sakura. Si atlit bertubuh kekar dengan wajah khasnya. Hidung mancung dan rambutnya agak keriting.
Kulihat dia sedang berjalan menuju mas-mas kantin yang umurnya masih agak muda. Dia memesan ketoprak ekstra pedas dan mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas. Lalu dia duduk sendirian padahal teman-temannya menganggil untuk duduk bersama.
***
Di parkiran aku melihat Sakura dengan wajah anehnya. Entah kenapa aku merasa wajah Sakura agak memerah. Apa itu hanya perasaanku saja?
"Hei, Ra. Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" tanya Sakura dengan raut wajah bingung.
Ih aku jadi gemas. Jelas-jelas Sakira tidak seperti biasanya. Pasti ada sesuatu yang cewek itu pendam sendirian.
"Itu wajah lo udah kayak kepiting rebus." Aku menunjuk wajahnya dengan daguku.
Sakura seakan tersadar. Dia memegangi wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu menggeleng padaku. "Nggak apa-apa kok."
"Yakin?"
Tiba-tiba Sakura mendekat. Suaranya berubah mengecil dan wajahnya semakin memerah. "Kayaknya gue suka sama Badai deh."
Hah? Aku langsung melongo.
Hmmm...
I just wanna tell about something that make me feel bad.
Yaaah... I really miss someone in my life. She's my teacher. My english course teacher. I don't know how to say it, but I really don't believe that she was pass away. That she wasn't in this life.
Bicara tentang dia... banyak banget hal yang nggak bisa diungkapin. Karena dia seperti hero buat gue. Dia itu adalah motivator gue dalam menjalani kehidupan yang keras ini. Seperti apa pun kita berusaha, kalau kita sendiri dan nggak punya motivasi, itu nggak akan ada gunanya.

Banyak hal yang gue laluin sama dia. Dia tuh udah kayak kakak kandung gue. Cerita apa-apa ya sama dia. Cerita lagi ada masalah di sekolah atau masalah percintaan, kadang gue cerita sama dia. Tahun ini ternyata dia ninggalin gue bersama kenangan manisnya. Gue nggak nyangka banget. Apalagi gue ngerasa baru kenal dia kemaren.

Berhari-hari gue masih merasakan bahwa dia tuh masih ada. Dia tuh masih bisa nyapa gue. Tapi dari sekian, nggak deh maksudnya dari dua orang terpercaya, gue dikasih tau bahwa dia benar-benar udah nggak ada. Waktu denger itu gue pingin nangis. Tapi karena Vivi lagi bernongkrong ria di kamar gue, gue telen-telen tuh air mata biar nggak tumpah. Nggak enak juga nangis di depan orang yang lagi habis broken-hearted gitu. Yang ada kita bakalan nangis massal.

Akhirnya gue coba buat tegar. Tapi gue selalu keinget sama dia. Sama tawa candanya. Sama acara perjodohan yang katanya buat silaturahmi. Sama ajakannya jalan-jalan. Mrs... hello, dikau belum melihatku sukses :( Gue pingin sukses dulu. Pingin nunjukin bahwa gue bisa jadi orang di depan dia. Bahwa didikkan dia selama ini sangat bermanfaat buat gue. Bahwa gue keluar dari tempat les karena bukan dia yang ngajar. Karena... Ya Allah... :( dia masih muda. Beliau tuh baru aja mendapatkan kebahagiaan tahun lalu. Tapi kenapa Beliau udah nggak di sini lagi? Kenapa? Padahal terakhir gue ketemu dia itu pas satu tahun lalu. Lama banget gue nggak ketemu dia gara-gara gue kelas dua belas dan harus menghadapi UN.

Pokoknya, pesan gue untuk dikau yang ada di sana, semoga dikau bahagia. Mendapatkan tempat di sisi Allah. Dan semua kesalahan diampuni. Miss you badly :(


Sincerely,
your little sister

Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram