Udah lama nggak nulis. Kira-kira setahun lebih dan sepertinya blog ini penuh dengan sarang laba-laba. Yang jelas... aku terlalu lama hibernasi dari dunia blog.

Hidup ini punya banyak macam liku-liku. Hidupku seperti mengendarai mobil untuk menaiki atau menuruni gunung. Kenapa? Jalan gunung benar-benar berliku juga menakutkan. Karena di saat aku lengah sedikit saja, aku akan kehilangan keseimbangan untuk melalui jalan berikutnya.
Bisa saja aku selamat sampai tujuan, terpeleset hampir jatuh ke jurang, atau bahkan aku jatuh ke dalam jurang. Tunggu saja waktu permainannya dan lihat apakah aku sanggup atau tidak.
Kebanyakan orang menyerah di satu titik di mana mereka merasa disisihkan atau bahkan tak dianggap. Dan beberapa lagi bertahan untuk mencapai titik keberhasilan di mana mereka tak menyerah untuk mendapatkannya.
Hidupku memang terlihat biasa. Seorang anak sekolah yang bahkan belum bisa menjadi apa-apa. Tapi aku berharap aku bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Karena sekarang, aku bahkan sudah bangga menjadi diriku sendiri. Menjadi seseorang yang pernah ada di kehidupan orang lain juga berusaha memberikan yang terbaik di kehidupan mereka.
Dan mereka ini memberikan pelajaran penting di dalam hidupku...




Teman-teman SMP yang masih care sampai sekarang dan berharap sampai nanti. Karena hubungan silaturahmi sesama saudara harus dijaga baik-baik, kan? :) 
Beberapa dari mereka adalah...
Icha... orangnya, bisa dibilang terlalu polos. Selalu galau tentang percintaan dan juga selalu ngebahas tentang Dimas Anggara beserta ftv-ftv yang ada Dimas Anggara-nya.
Awanda.... si pinter anak kesayangan para guru yang juga bawelnya ngelebihin dari ibu-ibu di rumah. Anak yang paling bisa diajak gila-gilaan bareng dan suka banget sama boyband SMASH plus ngefans banget sama Bisma.
Nurjanah.... si cewek tomboy yang masih suka sama cowok, tapi entah kenapa, cewek-cewek jatuh cinta sama dia. Si cewek tomboy yang jago banget main sepak bola dan suka ikut pertandingan sepak bola.


Teman-teman SMA, kelas X-6. Beberapa dari mereka udah nggak terjamah lagi karena udah beda sekolah. Tapi mereka juga tetap berkesan di dalam kehidupanku. Walaupun hubungan kita mulai agak renggang, still... kita harus terus berusaha menjaga hubungan silaturahmi kita dengan baik.
Beberapa dari mereka adalah....
Santy... orang yang begitu ke-Ibuan di kelas X-6. Yang paling sering ngomel-ngomel dan juga suka banget bersih-bersih. Si cewek yang galau tapi bilangnya nggak galau.
Dita.... teman sebangku yang kena bully sama anak-anak X-6. Gara-gara terlalu baik sama teman sebangku pas ulangan tengah semester dan memberikan contekan, dia akhirnya kena bully. Cewek yang punya suara bass kayak cowok-cowok.
Radea.... si gendut bawel yang kerjaannya mainin penghapus dan dipeperin ke muka anak-anak lain. Cowok yang kalau udah marah bisa keluar semua jenis hewan yang ada di kebun binatang.
Finsa... si cowok nyebelin yang kerjaannya mintain duit bensin kalau ditumpangin. Si cowok yang jago banget ngelawak sampe guru-guru pada stress gara-gara lawakannya.


SMA IPA, bareng anak-anak gila yang ternyata kadang serius belajar kadang nyeleneh juga. Mereka adalah....
Ghifari... cowok paling iseng, paling jail dan juga paling-paling.... disukain sama cewek-cewek. Entah kenapa mereka suka sama si Gigip, padahal si Gigip ini kalau jail luar biasa nyebelinnya. Cowok yang nangis pas ulang tahun malah dikerjain sama guru PKN tercinta, Bu Cucu.
Satria.... cowok yang paling nggak bisa diem. Bisa diem paling cuma 5 detik doang atau kalau dia lagi tidur. Pengalaman duduk di sebelah dia adalah..... keberisikan. Tapi gara-gara dia pas pelajaran Biologi, gue nggak jadi ngantuk.
Rahma... Mama buat anak-anak, padahal Karlina juga jadi Mama buat anak-anak. Yang jelas kita punya Mama kelas tapi nggak punya Bapak kelas. Paling bawel soal duit baju yang nggak kunjung dilunasin oleh anak-anak.
Rani.... Cewek yang suka bajak hape orang dan akhirnya dia dibajak oleh orang. Cewek yang susah banget ngomong huruf 'R'. Bagian dari anak X-6 juga....



Pokoknya... banyak banget orang yang lewat sana-sini di kehidupan gue. (Tadi ngomongnya udah bagus-bagus pake aku, kenapa sekarang keluar lagi gue-nya (?))
Dan kalau dibahas satu-satu.... banyak banget. Dan nggak mungkin muat di blog ini. Yang jelas, mereka bagian terpenting di hidup ini. Karena tanpa mereka gue nggak akan tahu karakter-karakter orang yang ternyata bener-bener beda dari yang lainnya. Bener-bener bisa memberi inspirasi juga memberikan kenangan yang mungkin teringat sampai tua nanti.
Buat semua yang kalian udah kasih, terimakasih banyak. Dan buat semua kesalahan yang pernah terucap, maaf.
Untuk teman SD dan TK, maaf ya. Jaman dulu, gue nggak punya kamera buat foto-foto. ._.
Thanks all...
Nggak tau kenapa, setiap bikin sesuatu pasti berkaitan dengan "matahari". Ini mungkin karena gue kebanyakan atau terlalu mendalami novel trilogi JDS itu. Dan di saat-saat seperti ini, kegalauanpun masih membekas. Karena nunggu lanjutan terakhir dari itu novel. Kesabaran mulai terkikis. Ini udah dua kali lebaran dan dua kali puasa. Dan hampir dua kali ulang tahun gue. Besok. *smirk* Mbak Esti kayaknya seneng banget bikin para penggemar JDS menunggu dan berharap lebih. Mbak Esti bisa disebut sebagai tukang PHP *eh ._.v Selain karena novel berikutnya, yaitu Jingga Untuk Matahari, merupakan akhir dari kisah, itu cover novel udah muncul aja dari kapan tau. Padahal novelnya belum terbit. Ini menambah ektensitas kegalauan gue menambah. Kangen Ari. Matahari Senja. Cowok cool yang bener-bener bikin melting. Dia satu-satunya penguasa sekolah. Nggak ada yang berani nantang dia. Kalau ada, dijamin, bakalan spechless. Bukan apa-apa, salah dikit aja, dia bisa bikin pucat muka orang. Mungkin Dewa Idenya Mbak Esti lagi berkelana dan belum pulang kayak Bang Toyib. Jadi, gue doakan semoga Dewi Idenya cepet balik. *amin* Mbak Esti berhasil negbuat gue jadi tergila-gila sama matahari. Entah warnanya pas tenggelam, oranye, atau dengan nama-nama yang berkaitan dengan matahari. Seakan ada magnet yang menarik gue buat berbuat sesuatu terhadap nama matahari itu.
Tuh! Gimana nggak galau tuh. Mbak Esti, ntar kalau udah terbit, bikin acara meet and greet lagi ya. Atau nggak lauching peluncuran Jingga Untuk Matahari. Tapi waktunya jangan mepet-mepet sama sekolah. Trus pas aku punya duit ya, ya, ya. Biar bisa ke sana. Sekalian minta tanda tangan novel yang belum ditanda tanganin. Muehehehe. Your Fans, Rinstriwi. :)

Aku tak sebaik yang mereka lihat. Aku tak setegar yang mereka tahu. Aku tak seceria yang mereka kenal. Aku tak sehangat yang mereka mau. Aku bahkan terlalu lemah untuk terus bertahan menghadang badai angin yang terus menerpaku. 
Aku hanya bisa terdiam saat orang mencaciku. Aku hanya mampu menatapnya dengan tatapan kesedihan yang bagi mereka adalah tatapan kebodohan. Aku hanya dapat tertunduk menerima semua. Dan aku rasa, aku bahkan tak mampu melawan mereka. Aku sudah begitu lemah. Rapuh dan aku juga tak berdaya. 
Berkali-kali aku meminta untuk lepaskan aku dari dunia ini. Aku merasa dunia ini cukup kejam. Cukup membuat aku gila karena aku tak menemukan sedikitpun cahaya untuk menemukan jalan keluar. Aku tersesat. Lidahku tak pandai berbicara di depan yang lain. Hanya mampu mengeluarkan kata yang sebenarnya. Tak ingin menyakiti dan tak ingin berbohong. Aku cukup merasakan apa yang mereka rasakan. 
Salahkah aku untuk perlakuanku? Salahkah aku membuka hatiku? Salahkah aku melupakan masa lalu dan mencoba hal yang baru? Salahkah aku hanya diam saat mereka membenciku? 
Kesabaranku terkikis setiap hari. Terkikis hamparan kebencian yang telah merambat dari orang ke orang. 
Biarkanlah aku hidup tenang dengan keabadian. Biarkanlah aku berusaha hidup dengan apa adanya. Biarkanlah aku tak membenci yang lain. Biarkanlah aku hidup seperti ini. Tanpa kalian benci. Atau biarkanlah aku pergi dari dunia ini. Dengan kehendak-Nya. Dengan sejuta perasaan yang bergejolak di hatiku. Dengan tak membuka hatiku dan menutupnya rapat-rapat. 
Tolong biarkan aku damai. Biarkan aku tak menyesal atas keputusanku ini. Biarkan aku untuk sekali lagi hanya melihatnya dan akhirnya melepasnya untuk selamanya. Dengan menutup mataku perlahan dan menghembuskan nafasku pelan.
Embun pagi yang paling aku suka. Ketika matahari bersinar malu-malu dan udara dingin masih menyelimuti kulit. Ketika jejak kaki tertinggal di atas tanah di dekat taman sekolah. Ketika pintu kelas telah di buka oleh salah satu teman dan teman yang lain menyapa di pintu kelas dengan senyuman sumringah. -- Di saat mereka memanggil nama ku dan mengajak ku masuk ke dalam kelas. Berbincang-bincang tentang apa yang mereka lakukan kemarin dan apa yang aku lakukan kemarin. Sama-sama berbagi cerita. -- Keramaian selalu menyelimuti keadaan kelas ini. Di saat murid-murid membuat lelucon lucu yang membuat yang lain tertawa. Bahkan guru sekalipun, meskipun kadang tidak tepat waktunya sehingga guru marah. -- Saat yang paling aku nantikan adalah bangun pagi dan menyambut teman-teman yang lain. Teman-teman yang sudah ku kenal di saat susah dan senang. Di saat kami kehabisan ide untuk mengerjakan tugas. Di saat kami mencari akal untuk menyelesaikan semuanya. Di saat kami memutuskan urat malu kami untuk menghibur satu dengan yang lainnya. -- Dan di saat perpisahan, kami sama-sama tidak secepat itu melepaskannya. Satu tahun penuh makna. Dari MOPD sampai sekarang. Dari awal hingga kini. Dari berbagai macam sekolah. Dari berbagai macam sifat dan akhirnya kami mengenal satu sama lain. Memahami sifat mereka. Mengetahui harus berbuat dan bertindak seperti apa. -- Kami memang tidak akan selalu bersama. Tapi kenangan yang ada selalu menyertai kami. Selalu terbayang. Kadang kita merasa tidak ada semangat karna kita tidak satu lagi, tapi suatu saat nanti, mungkin kita bisa menerimanya. -- Aku tidak menyesal telah mengenal mereka. Meskipun terkadang terjadi perselisihan di antara kami. Itu berarti kami peduli. Kami saling mengenali. -- Kehangatan saat yang lain memerdulikan yang lain dengan cara yang tak kasat mata. Namun dengan tindakan yang mungkin dianggap menyebalkan. Mereka ada. Untukku di saat aku butuh teman. Di saat aku merasa sepi. Di saat aku kehilangan ide. Saat aku berada di ujung batas kesabaran. -- Jika ada bintang jatuh, satu permohonanku. Bisakah kami bersama lagi? Di dalam satu kelas menghabiskan waktu kami bersama? -- Bisakah kita kembali ke masa yang dulu? Atau mempertahankan kebersamaan ini sampai akhir? Bisakah? -- Entah~ karna kita akan terpisah dua tahun untuk selamanya~ Dengan penuh cinta...
Kenapa sih judulnya We're the One and Never Change? Yup! Ini adalah kalimat yang tertera lebar di baju kelas. Kelas X-6, kelas gue. Melihat betapa perjuangan yang kita lewati sebagai kelas dengan predikat terburuk, gue sempet terharu. Dari anak-anak yang lebih banyak bikin huru-hara ada di kelas gue, tapi sesaat sebelum itu semua hilang, huru-hara itu dirindukan. Huru-hara itu menjadi sebuah hiburan yang membuat kita sekelas tersadar, bahwa kita cuma punya satu tahun untuk bersama. Diawali dengan MOS yang super kejam karna ketat banget. Dari hukuman-hukuman yang selalu menerjang kelas kita sebagai kelas yang sangat amat pasif dalam kebaikan dan sangat amat aktif dalam membuat kekacauan. Awalnya, gue merasa gue bener-bener dapet kelas yang WAW ANCUR BANGET! Tapi di balik itu, kelas yang gue anggap ancur itu ternyata lebih baik dari yang gue kira. Mereka nggak pilih-pilih teman~~~ yah, beberapa harus diakui kalau ada yang berteman karna ingin memanfaatkan. Kelas yang penuh canda tawa, luapan kegembiraan, kerja sama, dan berbagai hal yang cukup mampu diacungi jempol. Yeah, waktu MOS kelas kita dapat predikat sebagai kelas TER-KOMPAK! yeah, kompak banget bikin kerisuhan. Di mata guru-guru, mungkin kelas ini seperti kelasnya para evil-evil. Tapi evil imut, hahaha. Yang ini bercanda, oke serius. Kita nggak mungkin dibilang evil imut kayak si maknae Kyu Hyun -_-". Kita disebutnya evil yang benar-benar evil. Istilah kasarnya, setan sih. Kelas ini menyimpan sejuta kenangan, meski kita masih dalam satu sekolah, kita nggak bisa pungkiri kalau kita pasti amat sangat jarang ngobrol. Alasannya pasti satu yang utama, tugas numpuk dan biasanya kita yang selalu bersama untuk menyelesaikannya sekarang nggak bisa bareng-bareng lagi. Hidup ini memang nggak adil. Mau seperti apapun do'a kita buat bersama lagi, kalau jalannya sudah begini, pasti kita juga bakalan pisah. Suatu saat mungkin kita semua bisa bareng lagi. Nggak sekarang, mungkin saat takdir menyatukan kita kembali. Untuk segala perbuatan, segala tingkah laku, tutur kata yang sengaja maupun tak disengaja, maafin ya. Nggak maksud kok buat melakukan hal itu, mungkin karna terbawa emosi sesaat atau semacamnya. Kita nggak benar-benar terpisah kok. Kita nggak terpisah sejauh Negara Indonesia ke Negara Amerika. Kita hanya berbeda jarak beberapa meter. Kita hanya berbeda kelas, berbeda guru dan berbeda hal-hal kecil. Nggak sampai berbeda negara ataupun berbeda presiden. Kita masih bisa bertemu, bertegur sapa, tersenyum dan lain-lain. Kenangan tetap kenangan. Mungkin bagi beberapa orang mudah untuk melupakannya, tapi semoga untuk kita tidak. Meskipun~~ melewati waktu tanpa kalian. Gue pasti kangen celotehan kalian. Yang sering ngebully gue -_-". Yang kompakkan cinloknya juga. Hahaha, untuk yang satu ini saya hanya cukup diam. We're the One and Never Change. With Love, RRP... ":)"
Sesaat aku menatap rumah yang dulu sering kumasuki. Yang sering kulewati. Yang sering kulihat setiap hari. Namun, itu dulu. Berbeda dengan sekarang. Rumah itu sangat amat jarang kulihat seperti dulu. Berubah karena ada sang waktu.

Dan sepertinya pemilik rumah itu ikut berubah, bukan secara fisik, namun secara perasaan. Perasaan yang dulu tercurah akibat pertemanan yang terjalin di antara satu dengan yang lain menimbulkan perasaan tersendiri. Ada yang masih merasa itu adalah persahabatan, namun ada yang menganggapnya itu bukanlah perasaan biasa.

Dulu aku terpaku dalam kebisuan. Memilih di antara dua orang yang dulu kuanggap sebagai teman. Aku diam. Lidah kelu tak mampu mengucapkan satu patah katapun hingga akhirnya aku memang harus benar-benar memilih. Tapi... apa yang kupilih bukan salah. Melainkan ini memang takdirnya.

Aku terlalu buta. Tak seharusnya aku memilih meski aku kini mengharapkan salah satu di antara mereka. Aku buta akan kasih sayang. Aku haus. Aku menginginkannya. Seharusnya aku berkata TIDAK untuk menyelesaikan semua masalah.

Jika aku mengatakannya, mungkin kini kami masih bersama. Bersahabat seperti dulu. Dekat. Bermain bersama. Saling ejek dan tersenyum bahagia. Menyeruakkan nada-nada dari gitar. Menyanyi bersama hingga akhirnya berakhiran bahagia.

Kesalahan yang terletak pada diriku. Kesalahan itu sebenarnya tak harus kusesali, namun harus kuambil hikmahnya. Kini yang terpenting, kepekaanku terhadap perasaan orang lain yang ada di dekatku.

Aku mungkin akan diam untuk menyimpan segala kegundahan yang setiap hari menggerogoti hatiku.
Diberdayakan oleh Blogger.
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride

Daftar Blog Saya

Advertisement

Facebook

Instagram